Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Pengiriman Vira


__ADS_3

Happy Reading!😊


Semua orang pergi ke hutan belakang sekqolah. Setelah cukup dalam memasuki hutan, mereka menemukan sesosok anak laki-laki yang terbaring dengan keadaan 2 pensil yang men*nc*b di dada kanan dan kiri.


"ROBI!" teriak ibu Robi.


Ya,, sosok anak yang dilihat itu adalah Robi.


Semua orang mendekati tubuh Robi.


"Robi,, kamu kenapa sayang? Hiks,, hiks,, hiks.." ibu Robi menangis histeris sambil memeluk tubuh Robi.


Ayah Robi menenangkan istrinya. Ayah Robi juga ikut menangis.


Sudah dipastikan kalau Robi sudah meninggal dunia. Mungkin Robi akan selamat jika saja tidak ada pensil yang men*nc*p pada dadanya.


"Pak,, anak saya kenapa pak? Siapa yang sudah tega melalukan ini pada anak saya? Hiks,, hiks,, hiks.." tanya ibu Robi yang masih saja menangis.


"Maaf bu, saya juga tidak tahu siapa yang melakukan ini pada anak ibu. Tapi saya berjanji akan menyelidiki kasus ini sampai pelaku yang sebenarnya tertangkap" jawab komandan polisi meyakinkan ibunya Robi.


Jasad Robi dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi. Butuh waktu sekitar 7 hari untuk mendapatkan hasil autopsi yang lengkap.


Polisi mencari petunjuk di TKP. Polisi juga meminta kesaksian dari teman-teman yang dekat dengan Robi, keluarga Robi dan Vira juga masih diminta kesaksiannya. Padahal Vira sudah lelah terus ditanya oleh polisi.


Apa tidak cukup Vira ditanya terus menerus saat kem*tian Devan? Sekarang saat kem*tian Robi, Vira juga diberi banyak pertanyaan.


Polisi mencari orang yang dikatakan oleh Vira. Orang yang mengaku sebagai pamannya. Namun diantara keluarga Robi tidak ada yang mengaku. Iyalah, orang bukan keluarga Robi yang memb*n*h Robi.


Setelah hasil autopsi ke luar, sudah jelas penyebab kem*t*an Robi adalah pensil. Ditambah dengan luka p*kul*n di badan, serta luka benturan yang cukup parah pada kepala Robi.

__ADS_1


Tapi anehnya, tidak ada sidik jadi yang terdeteksi. Hanya ada lumuran minyak pada tubub Robi.


Polisi semakin bingung harus mencari bukti dengan cara apa lagi. Jika kalian bertanya, kenapa gak liat rekaman cctv aja? Jawabannya karna tempatnya di hutan. Siapa orang memasang cctv di hutan?


Meskipun semua orang tidak dapat menemukan bukti siapa pelaku pemb*n*han Robi, tapi semua orang yakin kalau Vira lah pelakunya. Polisi dan keluarga Robi ingin menetapkan Vira sebagai tersangka. Apalagi mengingat beberapa waktu ke belakang, Vira ditetapkan sebagai tersangka pada kasus pemb*n*han ayahnya sendiri, yaitu Devan. Namun mereka tidak mempunyai bukti yang cukup.


Setelah 4 bulan mendalami kasus Robi, polisi menyerah dan memutuskan untuk menutup kasus Robi. Kasus Robi menjadi kasus yang tidak terpecahkan.


Vira baru tau kalau tidak ada sidik jarinya di tubuh Robi. Padahal Vira masih ingit betul kalau tangannya menyentuh tubuh Robi. Ternyata hal itu disebabkan oleh minyak yang ada pada tangan Vira.


...***...


Semua orang di sekolah sudah tau kalau Robi meninggal karna dib*n*h. Dan juga semua orang semakin menjauhi Vira.


Vira tidak mempermasalahkan hal itu. Dia sudah terbiasa dijauhi oleh orang lain. Bahkan tidak ada yang berani mendekati atau membully Vira lagi. Mereka takut nasib mereka sama dengan Robi.


Dewi masih saja membuat rencana untuk membuat Vira pergi selama-lamanya. Tapi Dewi ingin membuat Vira ters*ksa terlebih dahulu.


Vira sedang berada di ruang tamu. Dia sedang memnonton televisi sendirian.


"Heh, cepat kamu beresin barang-barang kamu!" titah Dewi yang tiba-tiba berdiri di hadapan Vira.


Vira menaikan satu alisnya pertanda tidak mengerti.


"Besok kamu harus pergi ke panti asuhan" ucap Dewi menjawab pertanyaan yang tersirat di kepala Vira.


Vira mengerutkan keningnya.


"Apa maksud tante?" tanya Vira.

__ADS_1


"Mulai besok, kamu akan tinggal di panti asuhan. Tante sudah memasukan kamu ke panti asuhan" ucap Dewi lagi.


"Gak tante, aku gak mau" tolak Vira dengan tegas.


"Kamu harus mau!" tekan Dewi.


"Gak tante, aku gak mau. Aku mau tinggal di sini, di rumah ini" tolak Vira lagi.


Vira sudah berdiri berhadapan dengan Dewi.


"Gak ada penolakan" ucap Dewi.


Vira sungguh tidak menyangka kalau Dewi akan mengirimnya ke panti asuhan. Vira memilih dijauhi dan dibully oleh semua orang, dari pada dia harus pergi ke panti asuhan dan meninggalkan rumah yang mengandung kenangan bersama kedua orang tuanya.


Dewi berjalan pergi menuju kamarnya.


"Tante,, tan,, aku gak mau pergi ke panti asuhan tan. Aku mau di sini.." Vira mencoba menentang keinginan Dewi.


Dewi tidak menjawab perkataan Vira. Dia tetap berjalan ke kamarnya. Vira mengejar Dewi, dia masih berusaha untuk membujuk Dewi. Baru kali ini Vira merasa takut lagi setelah sekian lama. Vira takut akan jauh dari kenangan orang tuanya.


Dewi tetap tidak menjawab permohonan Vira. Bujukan Vira berhenti saat Dewi masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar Dewi tersenyum puas melihat ketakutan pada wajah vira. Ekspresi inilah yang ingin dilihat oleh Dewi dari Vira.


Vira berdecak kesal. Bagaimanapun caranya, dia tidak boleh sampai dikirim ke panti asuhan.


Tujuan Dewi mengirim Vira ke panti asuhan, adalah agar Vira merasa tidak dianggap, tidak ada yang menginginkan Vira, tidak ada orang yang menyayangi Vira. Dan juga Dewi ingin Vira merasa kalau dirinya itu sudah dibuang.


Terima kasih sudah mampir😊

__ADS_1


Silahkan tinggalkan jejak😆


Tbc..


__ADS_2