Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Perasaan Nathan


__ADS_3

Happy Reading!😊


Seperti yang sudah direncanakan, Vira dan teman-temannya sepulang sekolah main di rumah Vira. Semenjak ada Vira, Rendi, Roy dan Nathan jadi lebih sering main ke rumah Bima. Bima tidak marah jika mereka main ke rumahnya. Alasan Bima tidak marah, karna ada Vira. Bima senang karna Rendi, Roy dan Nathan mau berteman dengan Vira.


"Gue ke atas ganti baju" ucap Vira.


Teman-temannya menganggukki perkataan Vira.


Rendi, Roy dan Nathan sudah menganggap rumah Vira adalah rumah mereka.


Kita beralih pada Vira. Vira masuk ke kamarnya. Vira berbaring sebentar di atas tempat tidurnya. pikiran Vira melayang-layang di angkasa. Vira memendam hasratnya yang masih tidak terpenuhi.


"Heheh,, Mina, besok adalah hari terakhirmu. Jadi bersiap-siaplah" gumam Vira sambil tersenyum.


Vira begitu tidak sabar menunggu hari esok. Setelah cukup lama berbaring, Vira bangun dan pergi ke kamar mandi. Vira ingin mandi, tubuh Vira terasa sangat lengket.


20 menit kemudian, Vira sudah turun ke bawah. Dilihatnya teman-teman yang sedang memakan cemilan sambil menonton tv. Vira berjalan melewati mereka. Vira masuk ke dapur.


Vira merasakan lapar di perutnya. Jika Vira hanya memakan cemilan, itu tidak akan membuat dia kenyang. Vira menyiapkan bumbu untuk nasi goreng.


"Vir, masak apa?" tanya Rendi yang masuk ke dapur.


"Nasi goreng" jawab Vira tanpa menoleh.


"Wah,, mau dong" ujar Rendi.


Vira menganggukkan kepalanya.


"Gue juga mau" teriak Roy.


"Gue juga" timpal Nathan.


Vira heran, jarak antara ruang tengah dan dapur cukup jauh. Namun mereka bisa mendengar percakapn Vira dengan Rendi. Memanglah, kalo soal makanan mereka paling gercep.


10 menit kemudian, sepiring nasi goreng sudah ada di tangan masing-masing. Mereka memakan nasi goreng dengan lahap. 5 Menit kemudian, nasi goreng sudah ludes dimakan oleh ke-4 orang itu.


"Vir, gue gak tau kalo lo pinter masak" ujar Roy.


"Iya, gue juga baru tau" timpal Rendi.


"Gue dulu sering masak buat.." Vira menggantungkan perkataannya.


"Buat siapa lo masak?" tanya Rendi penasaran.


"Gak penting" jawab Vira.


Vira membawa piring bekas teman-temannya dan dirinya ke dapur. Vira menyimpannya di tempat cuci piring.


Nafas Vira bergemuruh. Dia teringat masalalunya saat Devan masih hidup. Tatapan Vira berubah tajam. Vira mengepalkan tangannya dan mengatur nafasnya agar stabil.


"Lo kenapa?" tanya Nathan yang tiba-tiba berdiri di samping Vira


Vira menatap Nathan dengan tajam karna terkejut. Sedetik kemudian, Vira membuang wajahnya.

__ADS_1


"Gak papa" jawab Vira mencoba menetralkan wajahnya. "Lo mau apa ke sini?" tanya Vira.


"Gue mau bantuin lo" jawab Nathan.


"Gak usah, gue bisa sendiri kok" tolak Vira.


"Tapi gue maksa" kekeh Nathan.


"Baiklah" setuju Vira.


Nathan yang mencuci piring dan Vira yang membersihkannya.


"Lo tau, lo itu gadis paling misterius yang pernah gue kenal" ujar Nathan disela- sela kegiatan mereka.


"Maksud lo?" tanya Vira.


"Lo itu sering nyembunyiin masalah lo. Lo gak mau orang lain ikut campur masalah lo" jawab Nathan.


"Ya,, karna gue gak mau bergantung sama orang lain" ucap Vira.


"Itu yang buat gue suka sama lo" ujar Nathan.


Vira melirik Nathan dengan tatapan tanda tanya.


"Iya, gue suka sama lo" ucap Nathan menjawab perntanyaan Vira yang tidak terucap.


"Heh toil, lo masih kecil" Vira mencipratkan air pada Nathan.


"Iya, kita masih kecil" ralat Vira.


"Kalo udah gede, berarti boleh dong" ujar Nathan.


Vira mem*kul tangan Nathan.


"Aww.." Nathan mengelus tangannya yang tidak terasa sakit.


Vira melanjutkan aktivitasnya. Tampaknya Vira marah pada Nathan.


"Vir, lo marah?" tanya Nathan.


"..." Vira tidak menjawab.


"Vira, lo marah?" tanya Nathan lagi.


"..." Vira masih tidak menjawab.


"Vir,, ayolah.." Nathan menyenggel bahu Vira dengan bahunya.


Prang,,


Piring yang dipegang Vira jatuh ke atas wetapel.


"Ah,, Vir gue minta maaf. Gue gak sengaja" ucap Nathan.

__ADS_1


"Iya gak papa" balas Viran.


Vira mengambil satu persatu pecahan piring.


"Biar gue aja" ucap Nathan.


"Gak usah, gue aja" tolak Vira.


"Sepertinya dia masih marah" gumam Nathan dalam hati.


"Aww.." Vira meringis kesakitan saat jarinya tergores pecahan beling.


Dar*h segar keluar dari jari Vira.


"Vir, tangan lo" ujar Nathan.


Nathan menarik tangan Vira. Nathan menyesap jari Vira yang keluar dar*h. Vira terkejut dengan tindakan Nathan.


Nathan membuang darah dari mulutnya.


"Gue bilang juga apa, biar gue aja yang lakuin. Lo ngeyel si, jadi gini nih jadinya" Nathan memarahi Vira.


"Aelah,, cuma gini doang" ujar Vira.


Nathan menekan jari Vira yang terluka.


"Aa,, sakit aj*g" jerit Vira.


"Dar*hnya harus di keluarin. Kalau gak nanti infeksi" ucap Nathan.


Nathan membersihkan tangan Vira di atas wetapel.


"Ada apa ni?" tanya Rendi dan Roy yang masuk ke dapur.


"Vir, tangan lo kenapa?" tanya Roy.


"Digigit Nathan" jawab Vira.


Nathan menatap Vira. Sementara Vira membuang mata kesembarang arah.


"Eh, lo berdua lajutin tuh" titah Nathan melirik ke arah wetapel.


"Gak mau ah" tolak Rendi.


"Cepet" tegas Nathan.


"Iya,, iya,, dasar bawel" ujar Rendi.


Terima kasih sudah mampir😊


Jangan lupa tinggalkan jejak😆


Tbc..

__ADS_1


__ADS_2