Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Hanny


__ADS_3

Vira terjun ke laut lepas. Vira tidak memperdulikan nyawanya. Yang jelas, Vira hanya tidak mau tertangkap oleh polisi.


Para polisi hanya bisa menatap Vira yang terjun. Mereka tidak mau ambil resiko seperti Vira. Mereka memilih untuk kembali dan melaporkan pada atasan mereka.


Lautan itu sangat dalam, ombaknya juga sedang tidak bersahabat, apalagi saat itu malam hari. Jika para polisi mem*ksakan untuk mencari Vira saat itu juga, maka mereka akan langsung bertemu dengan tuhan mereka.


Vira tenggelam cukup dalam di laut. Vira berhasil mengambang ke atas, namun dengan keadaan pingsan. Ombak membawanya entah ke mana. Kepala Vira terluka karna berbent*ran dengan karang saat dia terbawa ombak.


...***...


Vira membuka matanya. Dilihatnya langit-langit yang berwarna coklat. Vira merasakan sakit di kepalanya. Dengan susah payang, Vira mencoba mendudukkan tubuhnya yang terasa sangat lemah.


"Ststst.." Vira menahan rasa sakitnya.


Saat sudah berhasil duduk, Vira menatap pada tempat yang dia dudukki. Rupanya Vira berada di sebuah kamar. Vira bertanya-tanya, kamar siapa yang dia tempati.


"Kau sudah sadar?" tanya seorang wanita masuk ke dalam kamar sambil membawa teh hangat.


Vira menatap wanita yang berjalan ke arahnya.


Wanita itu menaruh tehnya di atas nakas sebelah tempat tidur. Wanita itu duduk di sebelah Vira.


"Vira, namamu adalah Vira kan?" tanya Wanita itu dengan berbasa Indonesi.


Vira menegerutkan keningnya.


"Aku tau dari kartu namamu" ucap wanita itu menjawab pertanyaan yang tidak tersampaikan dalam kepala Vira.


"Terima kasih" ucap Vira.


"Tidak perlu berterima kasih. Dulu sudah membantuku. Ya,, meskipun sebenarnya aku tidak butuh bantuanmu. Tapi kau cukup membantuku" balas wanita itu.


"Apa yang dia katakan? Aku sudah membantunya, meskipun sebenarnya dia tidak butuh bantuanku. Tapi aku cukup membantunya. Aneh sekali wanita ini. Siapa wanita ini? Kapan aku membantunya? Kepalaku yang terbentur, tapi dia yang hilang akal. Mungkin dia wanita gil* yang kaya" pikir Vira dalam hati.


"Siapa kau? Kapan aku pernah membantumu? Aku tidak pernah pertemu denganmu" tanya Vira.


"Sudah ku duga. Kau pasti lupa. Maklum sih lupa, soalnya ini sudah betahun-tahun lamanya" balas wanita itu.


Vira menatap datar wanita itu.


"Namaku Hanny" ucap wanita itu mengulurkan tangannya.


Vira diam tanpa mau membalas uluran tangan wanita itu.

__ADS_1


Ya, wanita itu bernama Hanny.


"Aku tidak kenal dengamu. Aku tidak pernah bertemu denganmu" ucap Vira.


"Hah,, kita pernah bertemu di hutan belakang sekolah xx" balas Hanny meyakinkan Vira.


Vira mencoba mengingat masalalu. Tapi dia tidak ingat.


"Kau masih tidak ingat?" tanya Hanny.


Vira diam sebagai jawabannya.


"Di hutan belakanga sekolah. Disebuah gubuk kecil. Kamu menyelematakan gadis remaja yang sedang dis*t*buhi secara *aksa. Dan di sana pula, kamu memb*n*h pria yang mem*ksa remaja itu" jelas Hanny.


Vira mengerutkan keningnya mengingat sesuatu.


"Hani" ujar Vira.


"No, bukan Hani. Panggil aku Hanny" ralat Hanny.


"Apa bedanya? Sama-sama dibaca Hani" ucap Vira.


"No,, buka Hani. Tapi Hanny" ralat Hanny dengan geram.


"Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik" ucap Hanny mengelus ujung rambut Vira.


Plak,, Vira menepis tangan Hanny.


"Jangan sentuh gue" tegas Vira.


"Uh,, maaf. Tadi malah aku mengganti pakaianmu. Aku sudah melihat seluruh tubuhmu" ucap Hanny.


Hanny menjauh dan duduk di kursi yang tak tauh dari tempat tidur.


Vira melihat tubuhnya. Benar saja, Vira memakai pakaian yang bukan miliknya.


"Kurang ajar kau. Berani sekali kau" geram Vira.


"Hei,, jangan marah. Aku melakukan itu karna aku kasian padamu. Aku tidak mau kau mat* kedinginan" balas Hanny.


Vira diam menatap Hanny dengan kesal.


"Apa kau tidak sadar? Sekarang sudah siang. Kau terombang-ambing di lautan semalaman. Untuk anak buahku menemukanmu. Jika tidak, mungkin kau sudah berada di perut ikan hiu saat ini" ucap Hanny.

__ADS_1


Vira mendengus kesal. Dia tidak bisa menyangkal akan hal itu. Tapi dia tidak suka dengan tindakan Hanny.


"Tapi maaf. Aku tidak bisa menahan diriku" ujar Hanny.


"Apa maksudmu?" tanya Vira.


"Aku tidak tahan melihat tubuh indahmu. Jadi aku meninggalkan jejakku padamu" jawab Hanny sambil melihat ke arah tengkuk Vira.


Vira membuka matanya lebar-lebar. Vira melihat tengkuknya. Di tengkuknya terdapat bekas merah keunguan. Vira tau bekas apa itu.


"Br*ngs*k" ucap Vira.


Vira bangun dari duduknya dan langsung mendekati Hanny yang sedang duduk tak jauh darinya.


Bruk,,


Baru satu langkah, Vira sudah ambruk ke lantai. Tubuh Vira tidak kuat untuk berjalan. Maklum saja, setelah semalaman berlari, kemudian dia terjun ke laut, terb*ntur batu karang, serta pingsan, dia kehilangan banyak tenaga.


Hanny membantu Vira untuk berdiri. Namun tangan Hani ditepis kas*r oleh Vira.


"Jangan pegang gue" tegas Vira.


Hanny melepaskan tangannya. Dia membiarkan Vira bangun sendiri. Tapi berkali-kali Vira mencoba, dia tetap gagal.


Hanny membantu Vira duduk kembali meskipun Vira sudah menolaknya.


"Kau itu tidak sadar diri. Sudah tau kau itu masih lemah. Tetap saja keras kepala" cerc* Hanny.


"Diam kau" sent*k Vira.


Hanny mengambil teh dari atas nakas, dan memberikannya pada Vira.


"Minum tehmu. Nanti keburu dingin" ucap Hanny.


Vira menerima teh dari Hanny dan meminumnya.


Terima kasih sudah mampir😊


Jangan lupa tinggalkan jejak😆


Terus dukung author😉


Tbc..

__ADS_1


__ADS_2