
Happy Reading!😊
Vira membersihkan wajah yang terkena dar*h Robi dengan air minum yang bawanya.
Vira pulang ke rumahnya tanpa memperdulikan tubuh Robi yang sudah tidak bernyawa. Seperti biasa, Vira pulang dengan wajah dinginnya.
Vira masuk tanpa memberi salam, atau mengetuk pintu terlebih dahulu. Vira berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Dari mana kamu?" tanya seseorang di belakang Vira.
Vira membalikan badannya. Sesaat kemudian, tanpa menjawab pertanyaan dari orang itu Vira kembali melanjutkan jalannya.
"Hey! Apa kau tidak dengar?" orang itu menj*mb*k rambut Vira dengan keras.
Vira memejamkan matanya menahan sakit di area kepalanya.
Beberapa detik kemudian, Vira membalikan keadaan dengan menarik tangan orang itu dan memplint*rnya ke belakang.
Apa kalian tau siapa orang itu? Orang itu adalah Indri.
"Adu-du-duh,, sakit,, Vira lepasin..!" Indri meringis kesakitan.
Vira memplint*r tangan Indri lebih keras.
"Ahk,, Vira,, lepasin!" ucap Indri.
"Hey! Lepaskan tanganmu dari adikku!" teriak Indra pada Vira.
Melihat kedatangan Indra, Vira segera melepaskan plint*rannya pada Indri. Bukan karna Vira takut, tapi karna Vira memang sudah ingin melepaskan tangannya.
"Ah,, Indra liat.." Indri mengadu pada Indra.
Pergelangan tangan Indri me-merah karna Vira.
"Sakit.." rengek Indri pada Indra.
Indra mengusap tangan Indri.
"Berani sekali kau.." Indra mengangkat telunjuknya di depan wajah Vira. "Berani sekali kau melukai tangan adikku Indri. Apa kau tidak takut padaku?" tanya Indra.
__ADS_1
Vira memperhatikan telunjuk Indra yang berada di depan wajahnya. Ingin rasanya Vira mem*t*skan jari milik Indra.
Krek,, Vira mem*t*hkan telunjuk Indra yang berada di depan wajahnya.
"Aa.." teriak Indra menggema diseluruh ruangan.
Indra memundurkan badannya dari Vira. Dia memegang tangannya yang sakit. Indri segera menghampiri Indra.
"Dra, kamu gak papa?" tanya Indri.
"Tangan aku sakit.." jawab Indra sambil menahan sakit.
"Ayo kita aduin ke mama" ucap Indri.
Indra menganggukkan kepalanya.
Indra dan Indri pergi menemui Dewi untuk mengadukan perbuatan Vira.
Vira menatap kepergian Indra dan Indri dengan senyum mengerikan. Untuk kedua kalinya Vira merasa puas meliat saudara kembar itu mend*r*ta karna ulahnya.
Vira masuk ke dalam kamarnya.
"Vira! Buka pintunya!" titah Dewi dengan suara lantang.
Vira mendengus kesal. Dengan terpaksa Vira membuka pintu kamarnya.
"Kenapa gak langsung masuk aja sih? Padahal gak dikunci juga kok" ucap Vira pada Dewi dengan kesal. Vira kembali ke tempat semua dia duduk.
Dewi, Indra dan Indri kaget dengan ucapan Vira. Biasanya Vira akan bersikap kas*r apabila dikas*ri duluan oleh mereka. Tapi kali ini berbeda, merekalah yang dikas*ri duluan oleh Vira.
"Vira! Apa yang kamu lakukan pada kedua anak saya?" tanya Dewi marah.
Vira menatap Dewi sekilas, kemudian dia memutar bola matanya jengah.
"Apa maksud kamu begitu? Rupanya sudah berani ya kamu melawan saya" Dewi menggenggam tangan Vira dengan kuat.
Dewi dan Vira beradu mata. Mereka saling menatap dengan sengit. Vira memegang tangan dewi yang sedang memegang tangannya.
Vira melakukan hal yang dilakukan Dewi kepadanya. Dewi merasakan sakit pada tangannya. Dewi segera melepaskan tangannya yang sedang menggenggam tangan Vira. Namun Vira tidak melepaskan genggamannya pada tangan Dewi.
__ADS_1
"Vira, lepaskan tangan saya" titah Dewi.
Vira tidak mendengarkan perintah Dewi. Vira malah lebih menguatkan genggamannya.
"Vira, lepaskan tangan mamaku!" titah Indra dan Indri.
Indra dan Indri memegang tangan Dewi yang masih digenggam oleh Vira.
Vira terseyum lalu melepaskan genggamannya.
"Baru begitu saja sudah sakit. Dasar ibu dan anak, sama-sama lemah" ejek Vira tersenyum miring.
Dewi, Indra dan Indri menatap Vira dengan marah.
"Dasar anak si*l*n!" ucap Dewi.
Dewi hendak mem*k*l Vira, namun dicegah oleh Indri.
"Ma,, udah ma. Ayo kita pergi aja" cegah Indri.
"Iya ma, ayo.." timpal Indra.
Dewi menuruti perkataan Indra dan Indri. Ibu dan anak itu pergi dari kamar Vira. Mereka masuj ke kamar Dewi.
"Dasar anak tidak berg*na!" ucap Dewi.
"Ma,, sabar ma" Indri menenangkan Dewi dari amarahnya.
"Gimana mama bisa sabar coba? Anak si*l*n itu sudah berani melawan mama!" ucap Dewi. "Mama harus kasih dia pelajaran" lanjut Dewi.
"Iya ma. Kita harus kasih dia pelajaran yang setimpal. Bahkan lebih berat" setuju Indra dan Indri.
Ibu dan anak itu merencanakan sesuatu untuk Vira. Entah apa rencananya, hanya mereka yang tau.
Terima kasih sudah mampir😊
Silahkan tinggalkan jejak😆
Tbc..
__ADS_1