Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
10. Penyerangan.


__ADS_3

Bugghhh...


Seseorang memukul bagian belakang kepala si pria bertopeng.


Klannggg~


Pisau yang di pakai untuk mengancam Bi Nenah terjatuh dari tangan si pria bertopeng.


Kesempatan ini di gunakan Bi Nenah untuk melarikan diri, ia menginjak kaki si pria dan langsung lari ke arah Suaminya, Mang Ujang.


"Aduhhh!" Teriak si pria bertopeng.


Ia merasa kesakitan, karena kakinya di injak Bi Nenah dengan sangat keras.


Kesempatan ini juga, tidak di sia-siakan oleh Nicholas. Ia langsung bergerak untuk memukul si pria bertopeng.


Bugh..


Bugh...


Bugh...


Bogem mentah Nicholas terus menghantam ke arah si pria bertopeng tersebut hingga ia jatuh tersungkur ke bawah.


Setelah pria itu tumbang, Nicholas langsung meringkusnya dan mengikat si pria dengan tali seadanya.


"Cepat! Cari mbak Leira!" Nicholas meminta Bi Nenah mencari keberadaan Leira.


Bi Nenah dan Mang Ujang langsung berlari ke kamar Leira, dan langsung terkejut mendapati kamar yang sudah dalam kondisi berantakan dan Leira tak di temukan di dalamnya.


"Bagaimana?" Tanya Nicholas yang melihat kedatangan Bi Nenah dan Mang Ujang.


"Gawat, Pak! Non Leira enggak ada, terus kamar juga sudah acak-acakan." Jawab Bi Nenah panik.


Tanpa menunggu lama lagi, Nicholas langsung berlari keluar.


"Letnan! Hubungi markas untuk meminta bantuan! Nona Leira hilang!" Perintah Nicholas.


Anggota yang baru saja bernafas lega karena telah mengalahkan para penjahat, kini harus merasa panik kembali dengan berita kehilangan Leira.


Setelah memberikan perintah, Nicholas kembali ke dalam rumah.


Ia harus menyusuri setiap sudut rumah untuk menemukan jejak keberadaan Leira.


"Bagaimana ini, Pak. Kasian Non Leira ...," Bi Nenah mengutarakan kegelisahannya kepada Nicholas.


Nicholas sendiri saat ini terlihat cemas, ia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Leira.


Saat semua orang sedang di landa kekhawatiran yang sama.


Cklekk~


Pintu ruang baca Cristhian terbuka, dan Leira keluar dari sana.


"Leira!" Nicholas langsung berlari dan memeluk erat teman masa kecilnya.


Leira yang terkejut, hanya bisa berdiri mematung di sana.


Bi Nenah dan Mang Ujang juga terlihat syok dan juga bahagia secara bersama-sama.

__ADS_1


"Non Leira!" Bi Nenah berseru keras.


Seruan Bi Nenah sekaligus menyadarkan Nicholas yang saat ini masih memeluk Leira.


Dengan sangat terpaksa, Nicholas melepaskan pelukannya.


"Maaf, Mbak." Ucapnya seraya mundur.


Leira sedikit canggung dengan Nicholas, karena ini pertama kalinya Leira di peluk oleh seorang pria. Bahkan Alex yang merupakan tunangannya pun, belum pernah memeluknya.


"Non Leira, syukurlah Non baik-baik saja." Bi Nenah berkata dengan di selingi isak tangisnya.


Leira kebingungan dengan perkataan Bi Nenah, "Memangnya, aku kenapa Bi?"


Bi Nenah menatap Leira heran, bagaimana mungkin majikannya ini tidak mengetahui kejadian di rumahnya sendiri.


"Non tidak tahu? Ada orang-orang jahat yang menyerang rumah ini, Non. Bahkan Bibi jadi korban kejahatan mereka, ini ... ini lihat, Non." Tutur Bi Nenah seraya memperlihatkan luka di lehernya.


Leira terkejut, ia tak mendengar apapun selama di dalam sana.


"Astaga! Maaf Bi, Leira benar-benar enggak tahu." Ujar Leira seraya memeluk Bi Nenah.


"Enggak apa-apa, Non. Justru Bibi merasa bersyukur, Non Leira baik-baik saja di dalam sana."


Leira terus memeluk Bi Nenah karena rasa bersalahnya.


"Maaf ya Bi ...," Ucap Leira perlahan.


Setelah bala bantuan datang, para penjahat yang telah di ringkus kini telah di angkut dan di bawa ke Markas Kepolisian untuk melakukan pemeriksaan.


Atas kejadian ini, penjagaan di rumah Leira semakin di perketat keamanannya.


Nicholas sengaja mengumpulkan semua Anggotanya.


Tujuannya sangat jelas, untuk membahas tentang keselamatan penghuni rumah.


"Kita tidak boleh kecolongan lagi, dan kejadian hari ini tidak boleh terulang kembali." Ucap Nicholas tegas.


Para Anggota menunduk, mereka sadar akan kelalaian mereka hari ini.


Nicholas kembali melanjutkan ucapannya. "Kita akan menjaga rumah ini dari setiap sudut, jangan sampai ada celah sekecil apapun."


"Siap, Pak!" Ucap para Anggotanya serempak.


Setelah memberi arahan, barulah Nicholas kembali ke tempatnya.


Di ruang tengah, kini Leira sedang berkumpul bersama Bi Nenah dan Mang Ujang.


"Non, tadi Bibi benar-benar ketakutan." Ujar Bi Nenah mengungkapkan perasaannya.


"Awalnya gimana Bi? kok, Bibi bisa di sandra kaya gitu?" Kata Leira penasaran.


Setahu Leira, rumahnya udah di jaga ketat selama 24 jam.


"Ini semua salah Mamang, Non." Ujar Mang Ujang sembari menunduk lesu.


Leira menoleh ke arah Mang Ujang, "Salah gimana maksudnya, Mang?"


"Mamang tadi pergi ke warung, jalannya lewat pagar belakang. Terus kayanya, Mamang lupa ngunci pintunya lagi." Ujar Mang Ujang mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"Jadi maneh Surjang! Gara-gara maneh siah, urang teh rek di bunuh ku penjahat!"


Bi Nenah langsung marah begitu mendengar pengakuan dari Mang Ujang.


Saking kesalnya Bi Nenah sampai memukul-mukul punggung Mang Ujang.


"Bi, udah dong ... kasian Mang Ujang." Ujar Leira berusaha melerai mereka.


"Kesel Non, Bibi sama si Surjang. Gara-gara dia, kita semua jadi kena imbasnya." Umpat Bi Nenah masih dengan tatapan ganasnya ke arah Suaminya.


"Iya maafin atuh, Nenah." Kata Mang Ujang menghiba.


Nicholas yang baru masuk, tak tahu menahu tentang masalah itu.


"Wahh ... lagi pada ngobrol seru kayanya." Celetuk Nicholas.


Dia lalu mendekat dan bergabung bersama mereka bertiga.


Baru saja Nicholas mendudukkan dirinya di kursi, Nicholas langsung di suguhi perang dingin antara pasangan Suami-Istri.


Nicholas jadi menyesali keputusannya untuk bergabung di sana, namun dia tak bisa mundur lagi dan terpaksa harus duduk bersama mereka.


Leira yang menyadari kecanggungan Nicholas, langsung membuka suara. "Pak Nicholas sudah makan malam?"


"Belum, Mbak." Jawab Nicholas pelan.


"Mau saya temani?" Tawar Leira.


"Kalau enggak merepotkan sih, boleh." Balas Nicholas canggung.


"Enggak sama sekali pak, silahkan!" Ujar Leira seraya beranjak dari duduknya.


Nicholas pun sama, dia langsung berdiri mengikuti Leira ke ruang makan. Meninggalkan Bi Nenah dan Mang Ujang, yang lagi perang dingin.


Bi Nenah memelototi Mang Ujang. "Semua gara-gara kamu ya, Surjang."


"Ehh ... ari kamu Nenah, kan saya teh udah minta maaf." Kata Mang Ujang tak mau kalah.


Di ruang makan...


Nicholas yang masih penasaran, langsung bertanya kepada Leira. "Tadi ada apa ya? Kok, suasananya horor banget sih!"


"Biasa, Bi Nenah sama Mang Ujang memang suka gitu." Jelas Leira seraya terkekeh.


Entah kenapa, jika sedang bersama Nicholas Leira sering merasa nyaman.


Melihat Leira yang seperti ini, hati Nicholas menjadi berdesir. "Mbak Leira!"


"Hem ...," Gumam Leira seraya menoleh ke arah Nicholas.


"Saya ... Saya ingin jujur, Mbak." Ungkap Nicholas.


Mendengar kata jujur, membuat perasaan Leira menjadi tak karuan.


"Jujur masalah apa, Pak?" Balas Leira jadi salah tingkah.


Di tanya seperti itu, Nicholas menjadi kikuk. "Saya, sebenarnya ...."


Ucapan Nicholas terhenti sampai di situ, ia masih bingung untuk mengungkapkan identitasnya.

__ADS_1


__ADS_2