Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
17. Mario patah hati.


__ADS_3

Amoora merasa bingung, ketika namanya di sebut-sebut dalam pembicaraan kedua orang Tante dan ponakan itu.


Sedangkan Mario menepuk keningnya sendiri, karena merasa malu dengan ucapan Tantenya Jessica yang salah ucap.


"Ini Amoora, maksud Tante ...,"


"Maksud Tante itu 'kan lagi ada tamu, dan tamunya itu adalah kamu, Amoora." Mario langsung memotong ucapan Jessica, ia takut, jika Tantenya itu akan salah ucap kembali.


Sementara Amoora, kini hanya mengangguk-anggukkan kepala. Meskipun ia tidak paham, tapi ia tidak mau memperpanjang masalah tersebut.


"Mario benar, kamu itu adalah tamu." Jessica akhirnya bersuara guna menenangkan suasana.


"Tuh, kamu dengar sendiri 'kan, Moor." Imbuh Mario lagi menegaskan kata-katanya tadi.


"Iya, aku paham, Mar." Balas Amoora cepat.


Kini ia mulai paham ucapan dari Mario dan Tantenya Jessica, soal perbincangan mereka tadi.


"Bagus kalau kamu sudah paham, sebaiknya kita masuk ke dapur untuk cari makan. Soalnya, Tuan rumah di sini, tidak menjamu tamunya dengan baik. Jadi terpaksa deh, kita harus cari makan sendiri." Sindir Mario yang membuat Jessica memelototkan mata ke arahnya.


Sedangkan Amoora hanya terkekeh, melihat interaksi antara kedua orang tersebut.


Tante Jessica benar-benar baik ya, pantas saja Mario merasa senang ketika membicarakan tentangnya, batin Amoora.


Mario sendiri, kini sedang di marahi habis-habisan oleh Jessica.


"Kamu ini ya, Mar. Bisa-bisanya bilang Tante seperti itu, awas ya kamu." Ucap Jessica seraya melotot ke arah Mario.


Mario hanya tertawa mendapat makian seperti itu dari Jessica, mereka sudah terbiasa bertengkar layaknya ibu dan anak. Sayangnya, kedua orangtua Mario tidak pernah memperhatikan dirinya, sehingga Mario lebih dekat dengan Jessica.


"Tante! Mario minta maaf, sumpah! Mario tidak akan berkata seperti itu lagi, lain kali." Janji Mario yang melihat Jessica sudah mulai mendekatinya.


Jessica mengurungkan niatnya untuk menjewer kuping Mario, saat ini, ia lebih fokus kepada Amoora yang tersenyum ke arahnya.


"Kamu ini benar, temannya Mario, Amoora?" Tanya Jessica dengan lembut.


Amoora tersipu di perlakukan seramah itu, ia-pun mengangguk dan menjawab ucapan dari Jessica.


"Iya Tante, aku temannya Mario, waktu kuliah di Jakarta." Balas Amoora dengan masih mempertahankan senyumannya yang manis.


"Oh begitu ... Tante pikir tadi, kalian itu pacaran loh, he-he!" Kekeh Jessica geli.

__ADS_1


Mario memutar bola mata, ketika mendengar ucapan Tantenya. Dia bukannya tidak mau menjadi pacar Amoora. Tapi Amoora yang tidak peka dengan perasaan, dan juga perhatian dari Mario selama ini kepadanya.


Kalau Amoora-nya mau mah, Mario juga pasti bakalan dengan senang hati, menyambut cintanya Amoora.


"Bukan kok Tan, lagian, aku juga sudah menyukai pria lain." Balas Amoora yang langsung tertunduk malu di hadapan Jessica.


Seandainya saja Amoora berani, dia akan bilang kepada Jessica, bahwa hatinya sudah di berikan kepada Alex, anak Jessica sendiri.


Jessica yang mendengar pengakuan Amoora, langsung melirik ke arah ponakannya, Mario.


Jessica tahu, jika keponakannya itu, menyukai gadis yang di hadapannya ini sekarang.


Jessica jadi bersimpati kepada keponakannya itu, hati Mario pasti sedang sedih sekarang, pikir Jessica.


Mario sekarang ini sedang tertunduk lesu, semangatnya yang semula menggebu-gebu, jadi ciut setelah mendengar pengakuan dari Amoora.


"Beruntung ya, pria yang kamu sukai, Amoora." Ucap Jessica seraya mengelus punggung Mario untuk menguatkan hati keponakannya itu.


"Terima kasih, Tante." Balas Amoora malu-malu.


Jessica menghentikan basa-basinya, ia tidak ingin lebih banyak lagi menyinggung perasaan Mario yang telah hancur saat ini.


"Iya, Tante." Balas Mario yang tampak tak bergairah.


Sementara Jessica menyiapkan makanan, Mario kini berjalan dengan Amoora di halaman belakang mansion keluarga Alex.


"Aku gak nyangka, keluarga Alex sekaya ini, Mar." Mata Amoora berbinar ketika melihat suasana sekelilingnya yang tampak indah dan mewah itu.


Mario mengangguk perlahan, rasa semangatnya yang tadi menggebu-gebu telah hilang.


"Iya ...," Sahutnya lirih.


Amoora tidak terganggu sama sekali dengan perubahan ekspresi dari Mario, dia kini sedang asik menikmati keindahan di sekelilingnya, dan juga, Amoora sedang sibuk mencari keberadaan Alex.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Alex yang baru datang dari luar.


"Alex!" Seru Amoora dengan sumringah.


Amoora senang, akhirnya bisa menemukan keberadaan Alex. Dia sudah mencari sedari tadi, namun baru saat inilah, Alex muncul di hadapannya.


"Kamu sudah pulang, Nak." Jessica datang membawakan makanan dan minuman untuk Mario dan Amoora kesana, langsung menyapa putranya yang baru datang.

__ADS_1


"Iya, Alex baru datang Mah, tapi kayanya, Alex bakalan pergi lagi." Alex yang masih merasa kesal dengan Mario, tidak ingin berlama-lama tinggal di rumah.


"Lohhh ... kamu mau kemana lagi, Lex?" Tanya Jessica heran, baru saja datang udah pamit lagi, pikir Jessica.


Biasanya, Putranya ini sangat kerasan tinggal di rumah. Tapi kenapa sekarang, seperti tak betah saja berada di sana.


"Alex lagi pengen cari angin saja, Mah." Balas Alex singkat, tanpa menyinggung rasa kesalnya kepada Mario.


"Emm ... aku boleh ikut gak, Lex?" Amoora memberanikan diri bertanya.


Dia selalu ingin berada di sisi Alex, pria yang di sukainya saat ini.


Sedangkan Mario, dia hanya diam saja sedari tadi. Rasa sakit hatinya belum hilang, bahkan menjadi bertambah ketika melihat Amoora memperhatikan Alex ketimbang dirinya.


"Aku tidak bisa, Moora. Maaf!" Ucap Alex seraya membalikkan badan dan pergi dari tempat itu.


Amoora terlihat terpukul oleh penolakan Alex, dan Jessica melihat itu semua dari wajah Amoora yang terlihat kecewa.


Namun, Jessica tidak berani berpikir macam-macam. Dia hanya menganggap, jika Amoora menyukai Alex, hanya sebatas teman saja.


"Maafkan, Putra Tante ya, Amoora." Ucap Jessica yang merasa tak enak dengan sikap Putranya di depan Amoora.


"Tidak apa-apa, Tante." Jawab Amoora yang terlihat sedih.


"Ya sudah, biarin saja Alex. Mending kalian makan dulu, ini ... Tante udah bikinin kalian hidangan spesial." Ujar Jessica seraya menyodorkan nampan yang di bawa olehnya.


Tapi, kedua anak muda yang di hadapannya sudah kehilangan semangat mereka dari tadi. Dan sudah tidak tertarik lagi, dengan makanan ataupun minuman yang terenak di dunia sekalipun.


Bagi mereka, urusan hati adalah segalanya. Makan dan minum hanyalah penunjang saja, bagi masa depan kehidupan mereka.


"Mario!" Panggil Jessica yang melihat Mario hanya diam saja.


"Aku tidak lapar, ataupun haus, Tante." Sahut Mario.


Jessica menoleh ke arah Amoora, lalu menyodorkan makanannya. "Kamu saja, Amoora. Mario sepertinya keburu kenyang, karena Tante terlalu lama masaknya."


"Aku juga tidak lapar, Tante." Tolak Amoora lirih.


Jessica menggelengkan kepala, ia tidak mengerti dengan yang di pikirkan anak muda yang ada di hadapannya ini. Tadi bilang lapar, dan sekarang bilang tidak lapar. Benar-benar membuat Jessica kewalahan, di buatnya.


"Kalian ini kenapa sih? padahal Tante udah cape-cape loh, masakin ini ...," Ujar Jessica sedikit menggoda keduanya dengan wangi hidangan yang di bawanya.

__ADS_1


__ADS_2