
"Leira?!" ucap Nicholas setengah berteriak sambil melirik ke arah kedua orangtuanya meminta jawaban
Alissa mengangkat bahunya sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Sedangkan Niko, berpura-pura tidak menghiraukan ucapan Putranya tersebut.
Tak menunggu lebih lama lagi, Nicholas langsung berlari ke arah asal suara.
"Leira!" panggil Nicholas.
Namun, dia harus menelan kekecewaan yang sangat besar, karena tak dapat menemukan sosok orang yang di carinya.
Tubuh Nicholas terkulai lemas saat dirinya mengingat semua kenangan kebersamaannya bersama Leira, orang yang dia sukai selama ini.
Saat Nicholas mulai merasa putus asa, terdengar suara orang yang sangat di rindukannya dari arah belakang.
"Kenapa duduk di lantai?"
Nicholas terkejut dan langsung menoleh ke arah orang yang menegurnya.
"Leira!" teriak Nicholas dengan hati riang.
"Kamu kapan berangkat ke Surabaya, Ra?" tanya Nicholas dengan hati yang berbunga-bunga.
Leira tersenyum, lalu menyimpan terlebih dahulu piring yang ada di tangannya.
"Aku berangkat jam dua pagi." balas Leira dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Kenapa kamu gak bilang dulu sama aku, Ra?" ucap Nicholas sambil membantu Leira menyusun sendok dan garpu di atas meja.
"Aku sudah bilang, sudah pamitan juga." jawab Leira hingga membuat Nicholas heran.
"Pamitan? Kapan? Sama siapa?"
"Pamitan sama Mamah, Papah, dan aku!" suara Elena terdengar cempreng di belakang mereka.
"Kamu pamitan sama mereka, Ra?" tanya Nicholas sambil menunjuk ke arah Adik perempuannya.
Elena mengerucutkan bibirnya, ketika Nicholas menunjuknya tepat ke arah hidung.
"Wah, parah!" celetuk Nicholas saat melihat Leira mengangguk ke arahnya.
"Apanya yang parah?" tanya Alissa yang datang ke ruang makan bersama Mila, dan Suaminya.
Nicholas menoleh, dan kembali terkejut dengan adanya Mila di antara keluarganya.
"Ini sebenarnya ada acara apa sih, Mah? Kenapa Leira dan Tante Mila ada di rumah kita? Udah gitu, aku gak di kasih tahu apa-apa lagi, sama kalian." protes Nicholas kepada Ibunya.
__ADS_1
"Maaf ya, Nichol. Tante dan Leira datang ke Surabaya tanpa pamitan dulu sama kamu." ucap Mila sambil tersenyum canggung.
Alissa menggeser kursi untuk di dudukinya, dan mempersilahkan Mila duduk di kursi sebelahnya.
"Jangan terlalu di pikirkan, Mbak. Sebaiknya kita makan saja, sayang 'kan, Leira sudah capek-capek masak, tapi kita tidak memakannya." ucap Alissa sambil menyendok nasi dari tempatnya.
"Mah ...,"
Nicholas berusaha memprotes kembali ucapan Ibunya, Alissa. Namun Niko langsung menghentikan niatnya, dan malah menyuruh Nicholas untuk duduk dan makan bersama mereka semua.
"Bagaimana? Enakkan?" tanya Alissa sambil menambahkan sepotong paha ayam di piring milik Nicholas yang membalasnya dengan anggukkan.
"Ya sudah, habiskan. Kalau kamu suka, Leira bisa siapin untuk kamu setiap hari." ucap Alissa lagi yang membuat Nicholas menghentikan kegiatan makannya.
"Maksud Mamah, apa? Memangnya bisa, Leira masak buat Nichol setiap harinya? Rumah Leira mau pindah ke Surabaya?" tanya Nicholas sambil melirik ke arah Leira yang kini menunduk malu di kursinya.
"Bukan rumahnya yang pindah, tapi orangnya." ujar Elena sambil mengelap mulutnya dengan tissu.
Nicholas melirik ke arah Leira, lalu berpindah melirik Mila yang tampak tersenyum ke arahnya.
"Ini ada apa sih, Mah?" tanya Nicholas sambil mengerutkan kening.
"Nanti Mamah jelasin, setelah selesai makan ya, Sayang.'' jawab Alissa sambil mengelus pipi Putranya penuh kelembutan.
Setelah acara makan selesai, semua orang berkumpul di ruang keluarga dengan bermacam-macam ekspresi di wajah mereka.
"Katanya, ada yang ingin Mamah jelaskan. Kira-kira, apa itu, Mah?" tanya Nicholas dengan tidak sabar.
"Kamu mau mendengar penjelasan dari siapa? Dari Mamah? Dari Tante Mila? Atau, dari Leira?" Alissa malah balik bertanya kepada Nicholas.
Nicholas menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, saat Alissa bertanya seperti itu kepadanya.
Menurut Nicholas, sang Ibu seperti hanya ingin menguji kesabarannya saja.
"Terserah saja, Mah. Bagi Nichol, semua sama. Entah itu dari Mamah, Tante Mila, atau Leira. Yang penting, Nicholas tidak merasa bingung lagi."
"Baiklah, kalau gitu, biar Papah kamu aja yang bicara." jawab Alissa yang membuat Nicholas semakin merasa frustasi dengan tingkahnya.
Nicholas lalu melirik ke arah sang Ayah, yang tampak serius mendengarkan percakapan mereka.
"Pah!" panggil Nicholas yang langsung di sambut dengan baik oleh Niko.
"Baik, Papah akan jelaskan." balas Niko sambil membenarkan posisi duduknya.
Nicholas memusatkan perhatiannya penuh kepada sang Ayah, agar setiap kata yang keluar dari mulutnya, tidak ada yang terlewatkan.
__ADS_1
"Terima kasih, karena telah memberikan kesempatan untuk Papah, menjelaskan semuanya kepada ananda Nicholas."
"Pftt!" Elena langsung menutup mulut menahan tawanya agar tidak keluar.
Sementara Nicholas kita memutar mata dengan malas, karena sang Ayah seakan sedang mempermainkan perasaannya.
Mila dan Leira, hanya bisa saling melirik satu sama lain dari kejauhan melihat tingkah absurd yang di lakukan oleh Ayahnya Nicholas.
Mila tak menyangka, seorang direktur perusahaan ternama di Surabaya, mampu berbuat sekonyol itu untuk menjaili Putranya, Nicholas.
Bukan hanya Niko saja, Alissa juga memiliki peran yang sama dalam hal tersebut.
"Pah!" tegur Nicholas.
Niko lalu melanjutkan kembali perkataannya karena takut Nicholas akan kembali membuka suara, dan menegurnya.
"He-he! Maaf! Kali ini, Papah serius." ucap Niko yang kembali membenarkan posisi duduknya yang tadi sempat berubah waktu di tegur Nicholas.
"Leira sengaja datang ke Surabaya, untuk menemui calon tunangannya. Dan dalam waktu tiga hari lagi, kami akan mengadakan upacara pertunangannya di rumah ini." ucap Niko yang sontak membuat Nicholas merasa terkejut.
"Apa?! Leira mau tunangan? dengan siapa?" tanya Nicholas setengah berteriak dengan wajah yang menunjukkan kepanikan.
"Untuk itu, kamu bisa tanya langsung kepada orangnya sendiri." balas Niko sambil melirik dan tersenyum ke arah Leira.
Nicholas melirik ke arah Leira yang saat ini masih menundukkan kepalanya.
"Ra, jawab aku! Apa benar, yang Papahku ucapkan tadi?"
Suasana menjadi hening sesaat, setelah semua orang Niko ajak keluar dari ruang keluarga.
"Ra, tolong jawab aku!" ucap Nicholas dengan nada meninggi.
"Itu benar, Nichol! Aku memang akan melangsungkan pertunangan tiga hari lagi, persis sepeti apa yang Om Niko bilang barusan." jawab Leira tanpa mengangkat wajahnya.
Hati Nicholas seakan hancur mendengar akan rencana pertunangan Leira.
Sepertinya, Leira tidak peka dengan perasaan Nicholas yang selama ini mencintainya.
Namun, Nicholas tidak mau menjadi seorang pria yang egois. Leira adalah teman masa kecilnya, teman yang dia cintai, dan dia sayangi sampai detik ini. Nicholas harus tetap mendukung, setiap keputusan yang telah Leira ambil untuk kehidupan di masa depannya.
Nicholas menarik nafas panjang untuk menghilangkan perasaan sesak yang kini seperti menghujam tepat di dadanya.
"Selamat ya, Ra. Aku berharap, kamu akan menemui kebahagiaan bersama orang yang menjadi pilihanmu saat ini." ucap Nicholas dengan hati yang seperti terhiris.
"Kamu juga bisa, menyampaikan ucapan itu langsung kepada calon tunanganku, Nichol." balas Leira sambil mengangkat kepala dan menatap dalam mata Nicholas.
__ADS_1
"Pasti! Aku pasti akan mengatakannya nanti, di pesta pertunanganmu." ujar Nicholas sambil membalas tatapan dari Leira.