Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
11. Catatan Crishtian.


__ADS_3

Leira mengerutkan alisnya, sejak tadi Nicholas hanya diam saja dan tak mengucapkan apa-apa.


"Pak Nicholas ini mau bilang apa?" Leira memberanikan diri untuk bertanya.


Nicholas yang di tanya, menundukkan kepalanya. Dia takut Leira tidak mengenalnya lagi, karena pertemanan mereka sudah terjadi begitu lama.


"Sebenarnya, saya itu Nichol teman sekolah dasar Mbak dulu." Nicholas langsung membuka identitasnya.


"Nichol! ... Nichol yang cengeng itu?" Kata Leira seraya mengernyitkan dahinya.


Meskipun sedikit tersipu, Nicholas tetap menganggukkan kepalanya.


"Astaga! Kamu beneran Nichol?" Tanya Leira memastikan.


Sekali lagi, Nicholas menganggukkan kepalanya.


"Kamu pergi kemana waktu itu? Aku sampai nyariin kamu kemana-mana, tapi tidak ketemu juga." Ujar Leira sambil berderaian air mata.


Nicholas yang melihatnya jadi terharu, dia pikir Leira sudah melupakan pertemanan mereka.


"Ayahku di pindah tugaskan, jadi mau tak mau aku harus ikut kesana." Jelas Nicholas.


"Tapi kan kamu bisa pamitan dulu, tidak harus langsung pergi begitu." Protes Leira kesal.


Nicholas merasa bersalah, tapi semua sudah terjadi dan tak mungkin di ulang kembali.


"Maaf!" Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.


"Iya, tidak apa-apa. Lagian, kejadian itu juga sudah lama." Ujar Leira seraya mengusap airmatanya.


Leira merasa senang, teman lama yang sering ia rindukan kini sudah kembali dan berada di hadapannya.


"Jadi kamu tidak marah, Mbak?" Tanya Nicholas yang masih saja memanggil Leira dengan segan.


"Um ...," Leira menggeleng lalu melanjutkan. "Jangan panggil lagi Mbak, kita kan seumuran. He-he!"


"Ehh ... iya. He-he!" Kini Nicholas ikut terkekeh bersama Leira.


Suara candaan mereka terdengar oleh Bi Nenah dan Mang Ujang yang sedang berjalan menuju dapur.


"Non Leira kayanya semakin akrab saja sama Pak Polisi." Celetuk Mang Ujang yang berjalan di belakang Bi Nenah.


Mendengar celotehan Suaminya, Bi Nenah kembali meluapkan kekesalannya. "Bae atuh Surjang, kan Pak Polisi berjasa buat Non Leira. Heunteu kaya maneh, anu bikin urang celaka."

__ADS_1


"Euleuh-euleuh eta si Nenah, kan saya udah bilang maaf. kenapa atuh, masih saja marah ari kamu teh. Emang belum cukup ucapan maaf saya." Ucap Mang Ujang berusaha membela diri.


"Kumaha maneh we Surjang! anu penting mah, tidur urang misah!" Ancam Bi Nenah yang langsung membuat Mang Ujang salah tingkah.


"Ulah kitu Nenah, dosa!" Tolak Mang Ujang.


"Sabodo, teuing!" Balas Bi Nenah seraya pergi meninggalkan Mang Ujang yang sedang garuk-garuk kepala.


Di ruang tengah, Leira yang baru menyelesaikan acara makan malamnya bersama Nicholas, kembali bertanya. "Jadi kamu berada di kota ini sudah 3 tahun?"


"Iya ... dan selama 3 tahun itu, aku berusaha mencari informasi tentang kamu, Ra." Sahut Nicholas, lalu ia menceritakan tentang perjuangannya mencari tentang keberadaan Leira.


"Kamu bilang, pihak sekolah menolak memberikan informasi tentang aku?" Tanya Leira heran.


"Iya ... mereka juga menolak ketika aku bertanya tentang teman-teman seangkatan kita." Balas Nicholas lagi.


"Oh, jadi begitu ... aku pikir, kamu sudah tidak mau bertemu denganku lagi. He-he!" Leira kembali terkekeh menggoda Nicholas.


"Sembarangan! Aku itu selalu ingin bertemu denganmu, Ra. Bahkan foto kita berdua saja selalu aku bawa. Ini ...," Ucap Nicholas seraya menunjukkan foto mereka di dompetnya.


"Eh, si cengeng!" Ejek Leira sambil menunjuk foto kecil Nicholas.


"Jangan sembarangan ya ... aku itu 'Ajun Komisaris Polisi' sekarang, Aku sudah tidak cengeng lagi, aku bahkan bisa mengalahkan penjahat dengan sekali pukulan saja." Ucap Nicholas dengan bangganya membalas ejekan dari Leira.


Leira terkekeh geli dengan kelakuan teman masa kecilnya itu, usianya sudah berubah namun kelakuannya tetap sama seperti dulu, tengil.


Mengingat kata penjahat, Leira jadi teringat kejadian tadi siang.


"Nichol, sebenarnya, aku masih bingung dengan maksud para penjahat tadi. Memangnya, apa yang mereka mau dariku?" Ucap Leira mengungkapkan ke penasarannya.


"Itu yang kita semua coba selidiki, Ra." Balas Nicholas dengan tarikan nafas beratnya.


Dia dan pihak kepolisian, memang belum menemukan titik terang tentang motif si pelaku terkait penyerangan terhadap keluarga Raharja. Yang bisa mereka lakukan sekarang adalah, melindungi Leira dari kekejaman mereka.


"Oh iya, Ra. Tadi siang, kamu ngapain aja di dalam? Memangnya benar ya, kamu tidak mendengarkan keributan sama sekali di luar?" Tanya Nicholas dengan serius.


Dia penasaran dengan yang di lakukan Leira di dalam ruangan tadi siang.


"Benar, aku tidak mendengar sedikitpun suara di dalam sana. Mungkin, Ayahku membuat ruangan itu menjadi kedap suara dari luar dan dalam." Ujar Leira mengungkapkan pendapatnya.


"Bisa jadi, sih." Sahut Nicholas seraya mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan jari.


"Kamu mau masuk kesana?" Tanya Leira.

__ADS_1


"Boleh?" Nicholas balik bertanya.


"Boleh, ayo!" Ajak Leira seraya meraih tangan Nicholas.


Mereka berdua berjalan menuju ruang baca milik Ayah Leira, Crishtian.


Setelah berada di dalam ruangan, Nicholas terkesima melihat isi di dalamnya.


"Wow ... menakjubkan!" Gumamnya perlahan.


Ruangan itu, di penuhi oleh koleksi-koleksi buku yang lengkap dan tersusun rapi di atas rak. Bahkan cara penyusunannya sangatlah rapi, berdasarkan warna dari setiap sampulnya.


"Pantas saja kamu betah di sini, Ra." Ujar Nicholas yang masih terlihat takjub dengan suasana di sana.


"Iya, aku juga baru pertama kali memasukinya hari ini." Celetuk Leira.


"What?" Nicholas terkejut mendengar perkataan dari Leira.


"He-he ... kenapa? kaget ya?" Ujar Leira seraya terkekeh geli.


"Pastilah, bagaimana bisa, kamu baru pertama kali memasuki ruangan ini." Balas Nicholas dengan rasa tidak percaya.


"Tentu saja bisa, karena Ayah yang melarangku untuk memasukinya." Jelas Leira datar.


Nicholas mengernyitkan dahinya mendengar alasan Ayah sahabatnya itu.


"Mungkin, mendiang pak Walikota tidak ingin kamu merusak koleksi bukunya." Kata Nicholas yang sontak membuat Leira memicingkan mata ke arahnya.


"Jangan marah, aku hanya asal nebak saja." Ujar Nicholas mengoreksi kembali kata-katanya.


"Dasar!" Gerutu Leira, namun dia malah tersenyum melihat kepanikan Nicholas sekarang.


Leira berjalan ke sudut ruangan tempat meja Ayahnya berada. "Nichol, sini!"


Nicholas yang namanya di panggil, langsung menghampiri Leira. "Ada apa?"


"Aku tadi lagi memeriksa buku catatan ini." Ucap Leira seraya menunjukkan buku catatan milik Ayahnya.


"Memangnya kenapa kamu memeriksanya, Ra?" Tanya Nicholas heran.


Leira duduk di kursi terlebih dahulu sebelum akhirnya menjelaskan. "Aku merasa ada yang aneh di buku catatan Ayah. Di sini, Ayah menuliskan jika Ayah merasa tidak senang dengan kelakuan beberapa temannya yang telah melakukan kesalahan."


"Oh ... Mana?" Nicholas merasa tertarik dengan cerita Leira dan ingin melihat langsung bukunya, siapa tahu dia menemukan petunjuk tentang penyerangan yang terjadi kepada keluarga Raharja beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


"Ini ...," Leira menyodorkan buku yang di pegangnya.


"Eh, iya benar. Ayahmu juga menyebutkan, jika teman-temannya itu berusaha mencelakai dirinya."


__ADS_2