
Leira dan Nicholas saling berpandangan, mereka berdua sama-sama di kejutkan oleh pernyataan yang tertulis di catatan Crishtian.
Mereka sangat beruntung menemukan buka catatan ini sekarang, karena buku ini akan sangat membantu pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan.
"Ayo baca lagi, Ra. Siapa tahu, Ayahmu akan menyebutkan, siapa-siapa saja orang yang telah mengancamnya." Kata Nicholas membuyarkan lamunan Leira.
"Um ... kau benar, Nichol. Dengan begitu, orang-orang jahat itu akan segera di tangkap." Leira juga merasa bersemangat setelah mendengar perkataan dari Nicholas.
Nicholas mengangguk dan mereka kembali membaca buku catatan tersebut.
Di lembar terakhir, beberapa baris kalimat yang di tuliskan Crishtian sontak membuat keduanya membelalakkan mata.
'Aku tidak menyangka jika di lingkup pemerintahan yang aku pimpin sekarang, akan ada orang-orang yang menggunakan kekuasaan demi untuk mengeruk keuntungan. Dan orang itu ternyata adalah teman-temanku sendiri, mereka tega melakukan itu semua hanya untuk kepuasan. Bahkan mereka juga tega, mengorbankan pertemanan yang telah lama terjalin demi kekayaan. Tapi aku tidak akan membiarkan keserakahan terus membutakan kalian, aku akan melaporkan kelakuan kalian kepada pihak yang berwenang jika kalian tidak menghentikan aksi bejat kalian. Bukti kejahatan kalian sudah aku siapkan, dan kalian tidak akan pernah bisa lari dari tanggung jawab itu. Meskipun kalian sering melayangkan ancaman, aku tidak akan gentar menyeruakkan kebenaran.'
"Astaga!" Seru Leira setelah selesai membaca catatan Ayahnya.
Leira tidak kuasa menahan derai airmatanya, ia tak menyangka jika Ayahnya akan menyimpan rahasia sebesar itu sendirian.
Nicholas seakan mengerti kesedihan yang di rasakan sahabatnya, ia mengelus-elus bahu Leira untuk menguatkan dirinya.
"Sabar, Ra ... mungkin ini sudah jalan takdir untuk Ayahmu yang sudah tiada, ke depannya, kita harus bisa membongkar kebusukan mereka.
Leira mengangguk, ia sungguh tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata.
Cobaan itu terlalu berat baginya, bukan hanya kehilangan. Namun dia juga harus menghadapi kenyataan jika kedua orangtuanya harus mati dengan cara yang tidak wajar.
Hanya karena gelap mata, orang-orang itu tega membunuh kedua orangtuanya.
"Kita harus bagaimana sekarang, Nichol?" Leira bertanya sembari terisak menahan tangisnya.
"Kita harus mencari bukti-bukti yang di tinggalkan Ayahmu, bukankah di sini tertulis jika dia sudah menyiapkan itu semua." Kata Nichol tegas, sebagai seorang Polisi dia memang sudah terlatih untuk menyimpulkan petunjuk apapun.
"Tapi, dari mana kita akan mulai mencarinya?" Ucap Leira dengan bimbang.
Ayahnya hanya menulis soal mengumpulkan bukti, namun dia tidak menuliskan, di mana dia akan menyimpan bukti tersebut.
"Kita mulai dari tempat ini saja, siapa tahu, Ayahmu menyimpannya di sini untuk berjaga-jaga. Apalagi seperti yang kamu bilang tadi, jika Ayahmu tidak pernah membiarkan siapapun untuk masuk ke tempat ini. Itu berarti, dia tidak ingin tempat ini di ketahui oleh orang-orang."
Nicholas berbicara panjang lebar, dan semua yang di ucapkannya memang masuk akal. Bisa saja yang di ucapkannya itu benar, karena Crishtian sangat menjaga ruang bacanya ini.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan memulainya di sini. Dan sebaiknya kita berpencar, kau kesana dan aku kesini." Ucap Leira seraya membagi tugas kepada Nicholas, agar barang yang mereka cari cepat di temukan.
Mereka berdua bergerak cepat, dan akan membaca semua berkas dan dokumen yang mereka anggap mencurigakan.
Beberapa jam pun berlalu, namun mereka belum mendapatkan apapun juga di situ.
"Hahhh ... bagaimana ini, kita belum mendapatkan apa yang kita cari. Jangankan barang bukti, serangga saja tidak kita temukan di sini." Keluh Leira dengan putus asa.
Nicholas hanya terkekeh mendengar keluhan dari sahabatnya tersebut, "Sabar dan tetap tenang, itulah kunci keberhasilan."
"Tenang bagaimana, orang aku sudah acak-acak semuanya, masih saja bilang begitu." Ketus Leira, ia memang sudah mencari bukti itu kemana-mana. Bahkan buku yang tersusun rapih pun sudah ia berantakin semua.
"He-he ... kamu sudah banyak berubah ya, tidak seperti dulu, yang semangatnya selalu menggebu-gebu." Ejek Nicholas kepada sahabatnya itu.
"Kalau ngomong jangan sembarangan ya, Nichol." Ucap Leira seraya melempar buku ke arah Nicholas.
Nicholas yang di lempar buku seperti itu, langsung mengelak, tapi nahas, dia malah tersandung oleh buku yang berserakan di lantai sehingga ia terjerembab dan jatuh menimpa rak yang ada di belakangnya.
KLIK~
Woosshhhh....
"Nichol, lihat!" Leira berseru karena rasa terkejutnya setelah rak buku itu bergeser.
"Iya ... ternyata, ada tempat rahasia di belakangnya." Nicholas pun tak kalah terkejutnya dengan Leira.
"Ayo, kita masuk!" Ajak Leira tanpa merasa takut sekalipun.
"Ayo!" Nicholas pun tanpa ragu langsung menerima ajakan dari Leira.
Setelah berada di ruang rahasia tersebut, Nicholas dan Leira melihat pemandangan yang sama dengan ruangan sebelumnya.
"Tidak ada apa-apa, sama saja dengan ruangan yang tadi." Ucap Leira sembari memperhatikan sekelilingnya, ia sedikit merasa kecewa karena harapannya untuk menemukan barang bukti, tidak semudah yang di bayangkan.
"Kita cari saja dulu." Ucap Nicholas seraya melangkah maju.
Dia pun dengan cekatan mulai membuka beberapa laci dan membolak-balik buku di ruangan tersebut.
Leira pun tak tinggal diam, dia langsung turun tangan menyusul Nicholas yang sudah terlebih dahulu mengobrak-abrik tempat itu.
__ADS_1
Dalam hitungan puluhan menit saja, tempat yang tadinya rapih sudah acak-acakan.
Mereka memang mencarinya dengan sengaja mengumpulkan barang yang sudah di periksa secara asal, agar barang yang belum terjamah akan mudah terlihat.
"Apa sudah selesai di sana?" Tanya Nicholas kepada Leira yang sedang membongkar rak di samping kirinya.
"Belum, sedikit lagi." Sahut Leira yang masih sibuk membolak-balik sebuah buku.
"Baik, aku mau periksa sebelah sini dulu." Kata Nicholas seraya maju ke arah sebaliknya.
"Ok!" Jawab Leira singkat.
Sesaat kemudian...
"Nichol!" Panggil Leira dengan sangat kencang.
"Apa? ada apa?" Nicholas terlihat panik sembari berlari menghampiri Leira.
"Lihat ini!" Tunjuk Leira ke salah satu dokumen yang di hadapannya.
"Mana?" Nicholas segera meraih dokumen tersebut dan segera membukanya.
Dokumen itu terbagi dua bagian, dengan data yang sama dan jumlah anggaran yang berbeda.
Data yang pertama, menuliskan tentang apa-apa saja program dari pemerintah untuk pembangunan di kota yang di pimpin oleh Ayah Leira, Cristhian.
Data yang kedua pun sama, namun yang membedakan di antara keduanya adalah, jumlah anggaran yang tertera di datanya.
Data yang pertama, jumlah anggarannya mencapai jumlah 3,6 triliun rupiah.
Sedangkan anggaran yang kedua, mencapai jumlah 6,6 triliun rupiah. Di sini jelas, jika ada dana yang telah di selewengkan.
Pantas saja orang-orang itu berusaha menyingkirkan keluarga Raharja mati-matian, mereka melakukan itu semua karena takut, jika kebusukan mereka tercium oleh pihak berwenang.
"Parah ini, Ra. Ternyata, orangtua kamu sengaja di lenyapkan hanya untuk menutupi kejahatan mereka ini. DASAR PENGECUT!" Ucap Nicholas geram.
Tubuh Leira luruh ke lantai, ia mengeluarkan lagi airmatanya yang sempat tertahan.
"Ayah, Ibu ...," Lirih Leira yang membuat hati Nicholas ikut terhanyut dalam kesedihan Leira.
__ADS_1