Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
29. Pergi ke Surabaya.


__ADS_3

Leira tertegun begitu Alex menutup telponnya dengan perasaan marah.


Leira menjadi tidak nyaman setelah berbicara dengan Alex saat ini.


Bi Nenah yang melihat majikannya berubah sedih, langsung bergegas menghampirinya.


''Ada apa, Non? Kok mukanya berubah sedih seperti itu?" Tanya Bi Nenah yang melihat Leira tampak murung.


"Alex marah sama aku, Bi." Sahut Leira pelan.


Bi Nenah merasa heran, lalu kembali bertanya kepada Leira. "Den Alex marah kenapa?"


"Alex marah karena ponsel aku gak aktif-aktif. Terus dia marah juga, karena aku gk ngabarin dia tentang situasi di sini." Jelas Leira kepada Bi Nenah.


Bi Nenah manggut-manggut mendengarkan cerita Leira. Sekilas dia sudah mengerti tentang masalah yang sedang di hadapi majikannya.


"Bibi yakin, Den Alex marah karena terlalu mengkhawatirkan Non Leira. Kalau tidak, mungkin dia akan bersikap biasa saja. Bibi juga kalau ada di posisinya Den Alex, pasti akan melakukan hal yang sama, Non." Ujar Bi Nenah mengutarakan pemikirannya.


Leira hanya diam, dia sudah bisa menebak hasil akhirnya akan seperti ini sejak lama.


Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Kejadian kemarin sangatlah tidak terduga. Leira bahkan tidak bisa tidur dengan tenang beberapa hari terakhir ini.


Leira juga bukan tidak mau menghubungi Alex dan yang lainnya.


Namun dari pihak kepolisian melarangnya melakukan hal itu, agar tidak terlalu banyak orang yang terlibat dan menjadi korban.


"Ada apa ini? kok pada bengong, sih?" Tanya Nicholas yang baru menuruni tangga.


Bi Nenah melirik ke arah Leira, seakan ingin mengetahui jawab sang majikan kepada tamunya.


Leira menarik nafas berat, lalu membuka mulutnya untuk bersuara.


"Tadi tunanganku telpon, dia marah karena aku tidak menghubunginya beberapa hari ini." Tutur Leira.


Nicholas terkejut mendengar kata-kata dari Leira.


"Tunangan?" Ucap Nicholas setengah berteriak.


"Iya, tunangan!" Leira mengulang kata-kata Nichol.


Nicholas serasa terpukul mendengar kata-kata itu meluncur dari mulut Leira.


Suara hatinya yang retak, bahkan sampai terdengar oleh Bi Nenah.


"Se-sejak kapan kau bertunangan?" Tanya Nicholas tergagap.


"Sebelum kejadian dan sebelum kedatanganmu ke rumah ini." Tegas Leira.


Nicholas menghela nafas panjang.


Dia terlambat datang, dan keduluan oleh laki-laki yang beruntung karena di pilih langsung oleh Leira.


"Selamat ya, Leira." Ucap Nicholas lirih.

__ADS_1


Meskipun terasa pahit, Nicholas tetap mengucapkan selamat kepada pujaan hatinya itu.


"Terima kasih ya, Nichol." Balas Leira yang entah kenapa, hatinya terasa sakit ketika Nichol mengucapkan kata itu padanya.


"Tadi kamu bilang, tunanganmu itu marah. Kok bisa? Harusnya dia bersyukur, kamu aman sekarang." Kata Nicholas mengganti topik.


"Aku juga berpikir seperti itu, tapi mungkin saja dia marah karena terlalu khawatir denganku di sini." Tutur Leira penuh kelembutan.


Nicholas merasa menyesal, karena datang terlambat menemui Leira.


Gadis selembut dan sebaik Leira, sangat susah di dapatkan di manapun juga.


seribu banding satu di dunia ini!


"Tunanganmu itu, ada di mana sekarang? Kenapa dia tidak datang sendiri dan melihat keadaanmu langsung saat ini?" Tanya Nicholas agak kesal.


Leira terkekeh dengan reaksi Nicholas sekarang.


Di tambah lagi muka Nicholas kalau sedang kesal atau marah, pasti akan sangat menggemaskan.


"He-he ... Di Surabaya!"


Nicholas terlihat girang mengetahui tunangan Leira dari Surabaya.


Besok pagi, dia memang ada urusan untuk pergi kesana mendadak.


Dan hari ini, dia mendengar jika tunangan leira berasal dari sana.


Bukankah ini sebuah kebetulan!


Nicholas bisa terus bersama-sama dengan Leira dengan mengajaknya pergi ke Surabaya.


Yang Penting sekarang, Nicholas harus bisa membujuk Leira untuk pergi bersamanya besok.


"Kebetulan sekali ya, Ra!" Kata Nicholas girang.


"Kebetulan apa?" Tanya Leira dengan heran.


Nicholas tersenyum penuh arti, lalu menjawab pertanyaan dari sahabatnya.


"Besok aku mau ke Surabaya! Bagaimana kalau kita pergi kesana saja berdua?"


"Yang benar?" Balas Leira dengan antusias.


Nicholas mengangguk!


Leira semakin senang dengan hal ini.


Dia belum pernah sekalipun pergi ke Surabaya. Dan ini adalah kesempatan langka untuknya.


Selain bisa bertemu dengan sang kekasih hati. Leira juga bisa sekaligus berlibur di sana. Secara, Leira belum pernah menikmati liburan akhir-akhir ini.


"Baiklah, aku akan bersiap-siap dari sekarang!" Ujar Leira seraya berlari meninggalkan Nicholas yang tersenyum riang.


Keesokan harinya...

__ADS_1


Tok, tok...


"Non! Pak Polisi sudah nungguin Non di ruang makan, katanya di suruh cepet, Non!'' Teriak Bi Nenah dari luar kamar.


Leira yang sedang bersiap, langsung tergesa-gesa keluar dari kamarnya.


Cklekk~


Leira membuka pintu kamar!


Bi Nenah tertegun melihat penampilan Leira yang berbeda dari biasanya.


Rambutnya tergerai indah yang hanya di tutup dengan topi model newsboy.


Leira juga semakin mempesona dengan atasan model ruffled top yang di padu padankan dengan bawahan long skirt. Di tambah lagi dengan tambahan sepatu sneakers putih, yang semakin mempercantik penampilannya sekarang.


"Non Leira! Non Leira mau kemana?" Tanya Bi Nenah yang masih terkesima.


Leira tersenyum dan menjawab pertanyaan Bi Nenah. "Aku mau ke Surabaya Bi ...."


"Surabaya?" Tanya Bi Nenah heran.


"Iya, Leira mau ke Surabaya bersamaku, Bi!" Ujar Nicholas yang memutuskan menyusul Leira karena merasa bosan menunggu di meja makan.


Sebenarnya, Nicholas tak kalah terkejutnya dengan Bi Nenah ketika melihat penampilan Leira yang cantik seperti ini.


Namun Nicholas berusaha tetap tenang, karena tak ingin Leira mengetahui tentang perasaanya.


Biarlah rasa cinta yang Nicholas punya, akan tersimpan selamanya di hati sanubarinya yang paling dalam. Tanpa ada seorangpun yang akan tahu, bahkan Leira sendiri 'pun, tidak boleh mengetahuinya.


"Tapi kenapa kok dadakan, Non?" Tanya Bi Nenah yang masih kebingungan.


"Leira mau ketemu Mas Alex dan meminta maaf Bi ... dan kebetulan juga Nicholas mau kesana, jadi ya sudah, barengan deh kita perginya." Jawab Leira.


Bi nenah merasa alasan majikannya itu masuk akal juga. Semalam memang Leira terlihat galau karena Alex memutuskan sambungan telponnya.


Jadi wajar saja, kalau Leira pergi menyusul kesana untuk memberi penjelasan.


"Ayo cepat kita sarapan, Ra. Aku sudah lapar ini ...," Ajar Nicholas sembari memegangi perutnya.


Leira mengangguk, lalu berjalan di belakang Nicholas bersama Bi Nenah.


Sesampainya di meja makan, Leira hanya mengambil selembar roti gandum dan keju cheedar.


"Ini, minumlah!" Ujar Nicholas sembari memberikan segelas susu kepada Leira.


"Terima kasih!" Ucap Leira sembari menerima susu yang di sodorkan Nicholas.


"Habiskan!" Perintah Nicholas yang di balas anggukkan kepala oleh Leira.


Setelah selesai sarapan, mereka berdua langsung tancap gas menuju bandara.


Di sebuah ruang tamu...


Seorang gadis sedang menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Di hadapan gadis itu, terdapat beberapa orang yang terlihat kebingungan.


Salah satunya adalah Jessica, yang saat ini menatap Putranya dengan raut wajah kecewa.


__ADS_2