Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
67. Alex sadar.


__ADS_3

"Alex!" teriak Wibowo dengan penuh amarah.


Bagaimana tidak, Alex telah mencoreng mukanya hingga harus menundukkan kepala di hadapan orang lain. Hal yang tak pernah di lakukan Wibowo selama hidupnya, kini terpaksa dia lakukan karena sebuah kesalahan yang di lakukan Anaknya tersebut.


"Pah, sabar, Pah!" ucap Jessica panik.


Suaminya yang selalu bersikap ramah, dan juga selalu berpikir dengan bijaksana tersebut, tampak seperti seekor harimau ganas yang ingin menerkam mangsanya.


Mata Wibowo memerah, gigi gemeretak, kedua tangannya mengepal dengan erat.


"Alex, keluar!" teriak Wibowo sekali lagi.


Klikk~


Suara pegangan pintu di putar terdengar, kemudian di susul dengan kemunculan Alex yang berjalan dengan menundukkan kepalanya.


"Maafin Alex, Pah! Alex cuma ingin bertemu dan berbicara kepada Leira, itu saja!"


Bugghhh!


Tanpa basa-basi, Wibowo langsung memberikan bogem mentahnya kepada Alex.


"Paahhh!" teriak Jessica histeris.


"Sekali-kali, bocah tengil ini harus di beri pelajaran, Mah!" ucap Wibowo penuh emosi.


Alex tertunduk lesu, dia tidak membantah ucapan sang Ayah meskipun di hatinya kini sedang terjadi pergolakan batin.


Dia sadar, apa yang sudah di lakukannya memang sudah membuat malu keluarga. Tapi hatinya, menolak untuk mengakui jika dirinya bersalah.


Alex hanya ingin memperjuangkan cintanya kepada Leira, itu saja!


"Sudah, Pah. Kasihan Alex!" ucap Jessica sambil memegangi tangan Wibowo dengan erat. Jessica takut, jika Suaminya akan kembali memukuli Alex.


Wibowo mendengus kasar, jujur saja, di dalam hatinya Wibowo juga merasa menyesal karena telah memukul Alex.


Namun, Putranya itu harus di beri pengertian. Leira sudah bukan tunangannya lagi, tunangannya Alex saat ini adalah Amoora. Bukan Leira!


"Papah mau, kamu jangan lagi mengganggu kehidupannya Leira. Dia sekarang sudah memiliki calon Suami yang baru dari keluarga Mahendra. Jadi stop, stop kamu mempermalukan diri kamu sendiri seperti itu, Alex!" bentak Wibowo penuh emosi.


"Tapi, Pah ...,"


"Cukup! Papah tidak mau mendengar alasan kamu! Jauhi kediaman keluarga Mahendra! Jauhi juga Leira! Mengerti?!" tegas Wibowo.

__ADS_1


Saat berbicara, tubuh Wibowo tampak bergetar saking emosinya dia.


"Sudah, Lex. Turutin saja semua perkataan Ayahmu, Nak!" ucap Jessica dengan berderaian airmata.


"Kalau kamu masih tidak bisa berubah, sebaiknya, Papah kirim kamu ke luar negeri!" ancam Wibowo yang membuat Jessica semakin merasa sesak karena takut berpisah dengan Putranya.


"Pah, sudah Pah! Alex pasti berubah, dia tidak akan lagi mendekati kediaman keluarga Mahendra. Iya 'kan, Nak?" ucap Jessica meratap.


Alex tetap bungkam, tatapannya tampak sendu. Dia tidak bisa membuat janji untuk tidak mendekati Leira. Alex tidak bisa, jika harus merelakan Leira jatuh ke pelukan pria lain selain dirinya.


Tidak, dia tidak bisa!


"Maaf, Pah. Alex masih ingin menemui Leira, dan berbicara dengannya." ucap Alex datar.


Raut wajah Wibowo berubah kelam, tatapan matanya lurus menatap Alex dengan tajam.


"Anak kurang ajar! Di ajak bicara baik-baik malah begini, kamu!" bentak Wibowo kasar.


"Pah, sudaahhh!" Jessica berusaha menahan tangan Wibowo yang ingin kembali memukul Putranya.


Bugghhh!


Karena di tarik dengan sangat keras, tangan Wibowo yang tadinya ingin memukul Alex, malah berbalik arah jadi memukul kepala Jessica.


Wibowo dan Alex berlomba untuk menangkap tubuh Jessica yang meluruh ke atas lantai.


Jessica pingsan, setelah bogeman keras dari Wibowo telak menimpa kepalanya.


"Mah, maafin Alex Mah!" tangisan Alex terdengar memilukan.


Dia jatuh berlutut sambil mendekap mukanya sendiri menyaksikan Ibunya kini di boyong di bawa masuk ke dalam kamar oleh Wibowo.


"Hallo, Dok! Istri saya pingsan, tolong datang kesini secepatnya." ucap Wibowo lewat sambungan via telepon.


Sepuluh menit kemudian, Dokter yang di hubungi Wibowo 'pun telah tiba dengan cepat dan langsung memeriksa keadaan Jessica.


"Bagaimana, Dok?" tanya Wibowo cemas.


"Bapak tidak perlu khawatir, sebentar lagi Ibu Jessica siuman. Berikan saja obat ini kepadanya, di minum sekali sehari saja ya, Pak." tutur Dokter sambil menyerahkan toples obat kepada Wibowo.


Wibowo mengantar Dokter keluarganya hingga menaiki mobil. Setelah itu, Wibowo kembali ke dalam kamarnya untuk menemani sang Istri.


"Mah, bangun Mah!" ucap Alex perlahan di samping tempat tidurnya Jessica.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kamu, Alex!" bentak Wibowo saat memasuki kamar.


"Pahh!" panggil Jessica lemah.


Wibowo langsung dengan sigap membantu sang Istri untuk bersandar di bantalan tempat tidur.


"Mamah jangan memaksakan diri untuk bangun." ucap Wibowo dengan lembut.


"Pah! Papah maafin Alex, ya. Kasihan Alex Pah, jangan di pukul lagi." ucap Jessica dengan nada yang memelas.


Wibowo merapikan rambut Istrinya yang tampak berantakan. Dia lalu kembali berbicara dengan penuh kelembutan, tidak menggebu-gebu seperti tadi ketika memarahi Putranya.


"Papah juga melakukan semuanya demi Alex, Mah! Apa Mamah mau, Alex masuk penjara karena telah membuat keributan di kediaman orang lain? Atau karena dia memaksakan diri, untuk menemui Leira. Mamah tidak mau itu terjadi, 'kan?"


Jessica melirik ke arah Alex yang kini sedang tertunduk lesu di sampingnya.


"Kamu dengar itu 'kan, Sayang? Papah kamu tidak ingin kamu masuk penjara, kamu itu kebanggaan keluarga. Putra kami satu-satunya! Tolong mengertilah, Nak. Ibu mohon!" ucap Jessica sambil melipat tangan di depan dada.


Alex menangis melihat sikap Ibunya yang seperti itu. Walaupun dia masih belum bisa melupakan Leira, namun Alex berjanji, untuk tidak lagi berusaha menemui Leira kapanpun juga.


"Jangan begitu Mah, Alex janji, Alex akan menuruti semua keinginan Mamah." ucap Alex dengan penuh airmata.


Wibowo akhirnya merasa lega, dia lalu beranjak mendekati Alex dan merangkulnya.


"Papah yakin kamu bisa, Lex!" ucap Wibowo sambil mengeratkan rangkulannya.


Jessica mengucap syukur, kemarahan Suaminya akhirnya reda juga. Dan Putranya, hatinya telah luluh dan berjanji untuk menerima kenyataan hidupnya.


Keesokan harinya, Alex tampak gagah dengan stelan jas warna hitam dengan memakai kacamata yang berwarna senada.


"Pah, mulai hari ini Alex akan ikut dengan Papah ke kantor." ucap Alex saat Wibowo sudah keluar dari kamarnya.


"Bagus, Lex! Papah sangat senang, kamu mempunyai pemikiran seperti itu." balas Wibowo dengan bangga.


"Eh, mau kemana kamu Sayang?" tanya Jessica dengan heran.


Tidak seperti biasanya, Alex menunggu mereka berdua di depan pintu kamar.


Biasanya, jika Wibowo ingin mengajak Alex ke kantor, Jessica harus ekstra keras untuk membujuknya. Tapi sekarang, justru Alex-lah yang selesai bersiap lebih awal.


"Alex ingin memulai hidup baru, Mah. Alex ingin menyibukkan diri sendiri dengan pekerjaan, dengan begitu, Alex bisa dengan cepat melupakan Leira." balas Alex hingga membuat hati Jessica menjadi terharu setelah mendengarnya.


"Kami berdua bangga kepadamu, Lex!" ucap Wibowo sambil menepuk bahu Putranya.

__ADS_1


Jessica memandangi kedua pria yang sangat berarti di hidupnya tersebut. Jessica berharap, keluarganya akan terus di limpahi kebahagiaan selamanya.


__ADS_2