
Yatno yang di tanya, malah cengar-cengir di hadapan Dante.
"No, kamu kenapa? Apa jangan-jangan kerasukan hantu Crishtian?" Dante yang melihat sikap Yatno, langsung merasa panik.
Yatno jadi berang, dia hanya malu mengungkapkan isi hatinya. Dante malah menudingnya kerasukan.
"Jaga mulutmu ya, Dante." Ujar Yatno dengan kesal.
Dante menghela nafas lega, karena Yatno masih bisa merespon ucapannya dengan benar. Itu berarti, Yatno tidak benar-benar kerasukan.
"Syukurlah kalau kau masih sadar, No!" Ucap Dante dengan perasaan lega.
"Memangnya, siapa yang tidak sadar? Jangan asal-asalan kalau berbicara!" Yatno yang memang aslinya tempramental, langsung tersulut emosinya begitu mendengar ucapan Dante.
"Sabar, aku bukan asal-asalan bicara. Kamu sendiri yang cengar-cengir tidak jelas tadi, makanya aku pikir kamu itu kerasukan hantu Crishtian." Tutur Dante yang membuat Yatno kembali mesam-mesem.
"Oh itu ... he-he!" Ujar Yatno kembali bertingkah aneh.
Dante semakin merasa depresi dengan sikap Yatno yang berubah-ubah itu.
"Kamu sebenarnya, kenapa sih, Yatno?" Tanya Dante penasaran.
Yatno terlihat malu-malu ketika di tanya soal itu oleh sahabat sekaligus partnernya itu.
"Aku suka, sama Anaknya si Crishtian." Ujar Yatno jujur kepada Dante.
"Setan!" Teriak Dante saking terkejutnya dengan pengakuan Yatno.
"Gila, kamu benar-benar gila, Yatno!" Ucap Dante lagi.
Dante seakan tidak percaya dengan ucapan Yatno hari ini. Bisa-bisanya, tua bangka seperti Yatno menyukai gadis yang hampir seumuran dengan Anaknya.
Bahaya! Yatno benar-benar berbahaya!
Yatno yang marah dengan ucapan dari Dante, langsung membanting setir dan menghentikan laju mobilnya.
"Sialan kamu, Dante! Berani-beraninya bilang aku setan, dan gila segala." Bentak Yatno dengan geram.
Jika dia di sebut setan, lalu bagaimana dengan Dante? Apa dia siluman?
"Kau ini memang gila, Yatno. Bisa-bisanya suka sama gadis uang seumuran dengan Anakmu!" Bentak Dante tak mau kalah.
"Memangnya kenapa?" Teriak Yatno dengan keras.
__ADS_1
Dante yang tak terima di bentak pun, langsung membalas teriakan Yatno.
"Salah! Yang kamu lakukan itu salah! Kita berdua sudah membunuh kedua orangtuanya, lalu sekarang kamu bilang menyukai gadis itu! Kamu salah! saya salah! kita berdua salah!" Teriak Dante histeris.
Yatno kembali geram, bisa-bisanya Dante berbicara seperti itu saat ini.
"Diam kau! Yang membunuh Crishtian dan Istrinya itu kamu, bukan aku!" Bentak Yatno yang sudah tak bisa menahan emosinya.
"Tapi kau yang menyuruhku melakukan itu!" Bentak Dante tak kalah sengitnya.
Perdebatan antara dua sahabat itu tak terelakkan lagi. Mereka saling menyerang satu sama lain, dan saling membuka borok mereka sendiri.
Mereka tidak menyadari, jika perdebatan mereka saat ini, telah tersambung langsung dengan pihak kepolisian. Karena sebelumnya, Nicholas telah meminta Anggotanya untuk memasang alat penyadap di mobil mini bus milik Yatno.
Yatno dan Dante terus berdebat seputar permasalahan mereka. Dari sini di ketahui, jika Yatno memanfaatkan Dante untuk menuntaskan masalah dendam pribadinya.
"Brengsek kau, Yatno! Jadi selama ini, kamu memanfaatkanku untuk membunuh Crishtian?" Tanya Dante yang terkejut ketika mengetahui kebenaran tentang motif Yatno selama ini.
"Ha-ha! Iya, kenapa?" Cibir Yatno yang membuat Dante geram dan melayangkan pukulan ke wajah Yatno.
"Brengsek kau!"
Bughh...
Yatno tidak membalas, dia hanya menyeringai dan mengucapkan kata-kata yang membuat Dante semakin marah.
"Bahkan aku juga, yang dulu merusak rem mobilmu dan bukan Crishtian. Aku hanya ingin, membunuh Crishtian dengan tangan sahabatnya sendiri. Aku ingin si bajingan itu merasakan, sakitnya di khianati."
"Bajingan kau, Yatno!" Lagi dan lagi, Dante melayangkan pukulan ke arah wajah Yatno.
Bughh...
Bughh...
Bughh...
"Ha-ha-ha! Mau kau pukul aku sampai matipun, Crishtian tidak akan hidup lagi. Dan kau! Kau akan tetap di cap sebagai pembunuh sahabatnya sendiri!"
Yatno semakin bersemangat mengucapkan kata-kata hinaan kepada Dante. Meskipun saat ini dirinya di pukuli, namun rasa sakitnya tidak sebanding dengan perasaan bersalah Dante kepada Crishtian. Dan Yatno sangat menikmati keadaan seperti itu.
Tujuan Yatno sangat sederhana, ia ingin menghancurkan orang-orang terdekat Crishtian. Termasuk Dante, yang saat ini sedang memukulinya.
Yatno merasa dendam kepada Crishtian, karena telah merebut pujaan hatinya semasa SMA dulu.
__ADS_1
Hani, yang saat itu adalah sahabat dekat Yatno, lebih memilih menikah dengan Crishtian, di bandingkan menerima lamaran dari Yatno. Alasan Hani menolaknya saat itu sangat menyakitkan, karena Hani menganggap Yatno hanya sebatas sahabat. Lalu Hani menikah, dengan orang yang sudah di jodohkan oleh kedua orangtuanya, yaitu Crishtian.
Crishtian sendiri sebenarnya masih saudara jauh dari Yatno, cuma Yatno tidak mau mengakuinya dan lebih memilih untuk membencinya.
Setelah Hani menikah dengan Crishtian, Yatno memendam kebenciannya sendiri. Namun dia bersikap pasrah, dan lebih memilih pergi ke kota lain untuk meneruskan pendidikan dan kehidupannya di tempat baru.
Yatno sukses di tempat lain, dan menjabat sebagai pejabat daerah di sana. Dia juga menikah dengan seorang perempuan yang menyukai dirinya, dan juga telah di karuniai seorang Putra.
Suatu hari, Yatno mendapat tugas untuk melakukan kunjungan ke kota lain. Dan kota lain itu adalah, tempat Crishtian menjabat sebagai Wali Kota.
Dari situlah, dendam Yatno muncul kembali, setelah sekian lama dia berusaha menyingkirkannya.
Ide-ide jahat Yatno pun muncul, dan tersiratlah niat untuk membunuh Cristhian lewat tangan sahabatnya sendiri, yaitu Dante.
"Bajingan! Brengsek!" Dante masih merasa geram dengan sahabat yang baru beberapa tahun di kenalnya itu.
Dante menyesal! Menyesal telah membunuh sahabat lamanya, karena hasutan sahabat baru yang menyesatkannya.
"JANGAN BERGERAK!" Teriak seseorang dari luar mobil.
Dante menghentikan tangannya yang sudah terangkat kembali untuk memukul wajah Yatno.
Begitu menoleh, Dante terkejut karena mereka telah di kepung oleh Anggota kepolisian.
Namun Dante tidak melawan, dia sudah sadar dan juga telah menyesali semua perbuatannya.
Dante berniat menyerahkan diri kepada Polisi, daripada harus hidup bebas tapi di kejar-kejar rasa bersalahnya.
Yatno juga sekarang terlihat pasrah, dan tak lagi melakukan provokasi kepada Dante.
Dia sudah jauh lebih puas sekarang. Karena satu-satunya sahabat Crishtian, telah hancur bersamanya saat ini.
Tak ada lagi dendam, tak ada lagi kebencian di mata Yatno saat ini.
Dia akhirnya telah sukses sepenuhnya, menghancurkan Crishtian.
Satu-satunya kegagalan Yatno adalah, kehilangan Hani di penyerangan Crishtian waktu itu.
"Cepat keluar dari dalam mobil!" Perintah Anggota Polisi yang bertindak sebagai pemimpin.
Dante dan Yatno keluar dari dalam mobil tanpa perlawanan sama sekali. Mereka sama-sama mengangkat tangan di atas kepala.
"Cepat berbalik!" Perintah Pemimpin Polisi lagi.
__ADS_1