
Amoora tetap menggelengkan kepalanya, di susul Mario yang juga melakukan hal yang sama.
Jessica menghela nafas pasrah, kepribadian anak muda memang susah di tebak, pikirnya.
"Ya sudah kalau kalian tidak mau, Tante tidak akan memaksa lagi." Ujarnya seraya menyimpan nampan yang di bawanya di atas meja taman.
Amoora terlihat murung, kepergian Alex begitu menyinggung perasaannya.
Mario juga sama, ia terlihat murung karena Amoora menyukai pria lain, selain dirinya.
"Eh, iya Moora! Sepertinya, kamu juga mengenal Putra Tante." Kata Jessica yang teringat kejadian tadi ketika Amoora meminta ikut dengan Putranya.
"Iya Tante, kami sudah saling mengenal cukup lama." Balas Amoora sopan.
Jessica mengangguk-angguk, kemudian melanjutkan berbicara. "Jadi begitu, pantas saja, Tante baru lihat kamu hari ini."
"He-he ... iya Tante." Sahut Amoora canggung.
Dia memang terlalu berlebihan tadi ketika Alex datang, dan Amoora merasa malu untuk itu.
Takutnya, semua orang curiga jika ia menyukai Alex. Apalagi Jessica, bisa malu Amoora kalau Ibunya Alex itu mengetahui perasaannya.
"Lalu, kamu di Surabaya ngapain aja? Liburan? Kuliah? atau kerja?" Jessica memberikan banyak pertanyaan kepada Amoora.
"Amoora ada project di sini, Tan. Lebih tepatnya, di kantor Mario." Jelas Amoora yang membuat Jessica melirik ke arah keponakannya yang sedari tadi hanya diam saja.
"Oh, gitu ... Jadi kamu ada kerjaan di tempat berandalan satu ini." Goda Jessica sambil menyikut perut Mario.
Mario hanya tersenyum smirk ke arah Tantenya, dan tak berniat mengatakan sepatah katapun juga.
Amoora yang baru tersadar akan perubahan sikap Mario, langsung mengajukan pertanyaan kepadanya.
"Kamu kenapa, Mar? kok dari tadi, hanya diam saja." Ujar Amoora seraya menatap Mario tajam.
Mario menggeleng dan menjawab, "Aku hanya sedikit kurang enak badan."
__ADS_1
"Aduh, maaf ya Mario, gara-gara aku, kamu jadi sakit begini." Ucap Amoora merasa bersalah.
Jessica melihat ke arah Mario yang kini wajahnya tengah memerah, karena menahan malu.
"Tidak apa-apa Moor, sudah biasa." Balas Mario dengan senyum yang sedikit di paksakan.
"Kalau gitu, sebaiknya aku langsung pergi ke hotel saja, biar kamu bisa pulang dan istirahat." Ucap Amoora yang membuat Mario semakin salah tingkah.
"Aku benar tidak apa-apa, Moor." Sangkalnya lagi.
"Amoora benar, Mar. Sebaiknya kamu pulang, dan beristirahat, lihat, muka kamu sampe merah gitu karena sakit." Ucap Jessica sambil cekikikan karena melihat tingkah ponakannya yang serba salah.
Mario memelotot, ia kesal karena Jessica terus saja menggodanya. Bagaimana kalau Amoora menyadari perubahan mukanya yang kini sudah merah seperti tomat karena rasa malunya.
"Eh ... Tante benar Mar, wajah kamu merah. Mungkin kamu masuk angin atau sakit panas." Amoora sedikit panik ketika melihat wajah Mario yang benar-benar merah itu.
"Tidak, tidak! Moora, kamu jangan dengarkan Tante Jessica, dia memang begitu orangnya." Bantah Mario yang semakin malu karena ulah Jessica.
Jessica bersungut-sungut, ia hanya ingin mendekatkan sang ponakan dengan Amoora. Siapa tahu rencananya berhasil, dan Amoora jadi berubah menyukai Mario.
Mario berdecak kesal, Tantenya itu selalu saja berbuat ulah untuk mengerjainya.
Amoora kembali tak bersuara, namun secara diam-diam Amoora melirik terus ke arah Mario.
Kasihan Mario, dia jadi sakit karena aku. Mungkin dia lelah beberapa hari ini, terus juga sekarang, harus mengantar aku kesana kemari, batin Amoora.
"Kamu tinggal di hotel mana, Amoora?" Tanya Jessica penasaran.
"Dia tinggal di hotel ** selama dua hari, Tante. Dan untuk selanjutnya, aku bingung dia harus tinggal di mana." Mario mendahului Amoora untuk menjawab pertanyaan Jessica.
"Ish ... Tante gak nanya kamu, anak nakal!" Sungut Jessica yang masih kesal dengan Mario.
Mario terkekeh, lalu kembali melanjutkan. "Mario cuma bantu menjelaskan saja, Tan. Amoora kan belum tahu jalan, terus kalau bisa, Mario mau minta tolong sama Tante."
"Minta tolong apa?" Dahi Jessica berkerut ketika mendengar perkataan dari Mario.
__ADS_1
Entah kenapa dia merasakan, jika permintaan keponakannya ini akan di tentang oleh Putranya, Alex.
"Amoora 'kan hanya bisa tinggal selama dua hari di hotel, sementara kalau sewa rumah, dia pasti bakalan kesepian kalau sendirian. Udah gitu, dia belum pernah tinggal sendiri di rumahnya, jadi mungkin akan ketakutan. Kalau bisa, boleh gak, Amoora tinggal di rumah Tante." Ucap Mario panjang lebar menyampaikan permintaannya.
Jessica kebingungan, sedikit banyaknya, dia sudah bisa menebak maksud Mario.
"Kenapa Amoora gak tinggal di rumah kamu saja, Mar?" Tanya Jessica yang sedikit keberatan dengan permintaan Mario.
Dia tidak mau Alex merasa tak nyaman di rumahnya sendiri karena kehadiran orang lain, Putranya itu akan merasa tidak suka dan marah kepadanya seandainya Jessica menerima permintaan dari Mario.
"Ish, Tante ... Mario 'kan tinggal sendirian, kalau terjadi apa-apa sama kami berdua bagaimana?" Sangkal Mario kepada Jessica.
Dia memang bisa saja, mempersilahkan Amoora tinggal di rumahnya. Namun, godaan bagi dirinya sangatlah kuat. Amoora adalah gadis yang Mario sukai, jika terus melihatnya setiap saat di dekatnya, bukan tidak mungkin jika dia kehilangan kesadaran dan berbuat macam-macam kepada Amoora.
"Di rumah Tante juga kan ada Alex, Tante juga tidak mau terjadi hal-hal yang terjadi kepada Amoora karena ulah Alex." Tolak Jessica secara halus.
Mario bersikukuh, dan masih tak mau menyerah dengan Jessica. Jadi, dia terus merayu Jessica agar menerima permintaannya.
"Ayolah Tan, hanya sementara saja. Lagipula, di rumah ini 'kan ada Tante yang jaga Amoora, jadi Alex tidak bisa macam-macam."
"Ish, kamu, Mar ... Kamu mah kalau macam-macam, tinggal di nikahin sama Amoora. Tapi kalau Alex beda, dia sudah punya tunangan. Kalau macam-macam, bisa bahaya." Ujar Jessica yang membuat Amoora jadi terkejut.
"Alex sudah bertunangan, Tante!" Ucap Amoora setengah berseru ke arah Jessica.
"Iya Amoora, memangnya kenapa? ada yang salah dengan ucapan Tante?" Tanya Jessica yang terheran dengan sikap Amoora yang berlebihan.
Amoora tertunduk lesu, dia tak bersemangat lagi tinggal di Surabaya dan ingin cepat pulang ke Jakarta. Seandainya saja dia belum menerima kerjaan yang di tawarkan Mario, mungkin dia sudah lari dan terbang ke Jakarta.
"Tidak Tante, Amoora hanya kaget saja, karena baru mengetahuinya." Sahut Amoora perlahan.
Jessica melihat ada yang aneh dalam diri Amoora, dia terlihat bersemangat begitu mendengar kata Alex. Tapi langsung murung, ketika mendengar Putranya sudah bertunangan.
"Oh gitu, Alex memang sudah di jodohkan sedari kecil dan baru minggu lalu perjodohan itu di lanjutkan. Tapi memang, kami belum sempat melakukan pesta pertunangan karena calon Istri Alex sedang berkabung untu saat ini." Jelas Jessica yang membuat Amoora kembali ceria.
Jadi Alex hanya di jodohkan? he-he ... sepertinya aku masih punya kesempatan, lagipula, Tante Jessica juga bilang mereka belum mengadakan pesta. Itu artinya, pertunangan mereka belum di umumkan. Aku harus bisa mendapatkan Alex, aku sudah menyukainya sedari dulu, batin Amoora.
__ADS_1