
Nicholas meraih tangan Leira, dan menggenggamnya. "Yang salah itu Alex, bukan kamu Ra!" ucap Nicholas lembut.
Leira menatap Alex dengan mata yang berembun.
"Tetap saja aku juga salah, Nichol! Jika bukan karena aku, kamu mungkin tidak perlu berdebat dengan mas Alex!" ucap Leira yang membuat Nicholas jadi merasa kesal.
"Kamu kenapa sih, Ra? Selalu saja manggil dia dengan sebutan, Mas! Sedangkan aku?" Nicholas merajuk karena Leira tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Mas seperti kepada Alex.
"Kamu yang kenapa? Bukan aku!" Leira sekarang yang menjadi kesal.
Tidak ada angin tidak ada hujan. Nicholas tiba-tiba marah padanya, hanya gara-gara sebuah panggilan. Sungguh di luar nalar!
"Aku juga mau, di panggil Mas sama kamu, Ra!" Ucap Nicholas bersikukuh dengan keinginannya.
"Baik! Mulai hari ini, aku panggil kamu Mas Nichol! Bagaimana?" Ucap Leira dengan kesal.
Meskipun Leira mengucapkannya dengan marah-marah, namun Nicholas justru merasa senang mendengarnya.
"Baik! aku setuju!'' Ucap Nicholas bersemangat.
Saat sedang berdiskusi, Mang Ujang datang dengan berlari-lari.
"Non Leira! Pak Polisi! Di tunggu di ruang makan sekarang juga!" Ujar Mang Ujang tersengal.
Leira dan juga Nicholas akhirnya pergi bersama menuju ruang makan menemui semua orang.
"Kak Nicholas! Sini!" panggil Elena sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Nicholas tampak enggan karena ingin duduk bersebelahan dengan Leira.
Namun Nicholas harus menelan kekecewaan, karena Leira memilih duduk di sebelahnya Mila.
"Ini menu yang terakhir, dari Chef Alissa!" kata Bi Nenah sambil menyajikan semur telur di atas meja.
"Ini semua, Tante Alissa yang masak?" Leira terkejut dengan semua masakan yang ada di hadapannya.
Di atas meja, terdapat beberapa menu masakan rumahan yang Leira suka.
"Tante di ajarin Bi Nenah, semoga kalian suka ya, dengan masakannya." ucap Alissa tersipu malu.
"Beneran Mamah yang masak? Bukan Bi Nenah?" Elena masih merasa tak percaya dengan Ibunya.
Biasanya, sang Ibu hanya duduk manis di rumah. Tapi semenjak datang ke Jakarta, Ibunya berubah menjadi rajin masak.
"Wahhh! Hebat ya, Mamah sekarang!" Puji Niko kepada sang Istri tercinta.
"Semurnya wangi, Mbak! Boleh dong, aku cobain satu!" ujar Mila sambil tersenyum ke arah Alissa.
__ADS_1
"Tentu boleh, dong!" balas Alissa sambil menyodorkan mangkuk berisi semur kepada Mila.
Semua orang di meja makan, memuji makanan buatan Alissa. Untuk seorang pemula, kemampuan Alissa terbilang di atas rata-rata.
Jika harus di nilai, mungkin delapan dari sepuluh nilai yang pas buat masakan Alissa.
"Aduhh! Kenyang banget aku, Kak." ucap Elena yang saat ini sedang duduk menikmati acara televisi.
"Salah kamu juga, ngapain makannya pake nambah segala ...," ujar Nicholas sambil menahan tawanya.
Elena meninju pelan bahu Nicholas, "Jangan di bahas masalah itu, Kak. Malu!"
Niko datang bersama Alissa yang baru selesai bantuin Bi Nenah membereskan meja makan.
"Kalian kenapa misuh-misuh?" tanya Niko heran dengan kelakuan kedua anaknya yang suka ribut di manapun dan kapanpun juga.
"Ini Pah, Elen ngeluh perutnya kekenyangan." ujar Nicholas seadanya.
Elena mendelik ke arah Nicholas karena mengungkit masalah perutnya yang begah.
"Lain kali, kalau makan di ukur dulu kemampuan perutnya, Len." Niko malah membayangkan kelakuan Elena waktu di meja makan.
Semua masakan Alissa Elena cobain. Nasi di piring habis di tambah lagi, semur telur juga nambah, belum masakan yang lainnya. Pantas saja sekarang dia ngeluh kekenyangan, wong di meja makan Elena sudah seperti orang yang baru nemu makanan dan beberapa hari kelaparan, pikir Niko.
"Elena kalap, Pah! Semua makanan yang Mamah masak, enak-enak!" ucap Elena sambil menjilat bibirnya sendiri.
"Kamunya aja yang rakus, Len!" goda Nicholas.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar terus." tegur Alissa kepada Putra-Putrinya.
"Wahh, lagi pada ngobrol seru yaa ...," Ucap Mila sambil berjalan mendekat bersama Leira.
"Iya, Tante! Kita lagi ngobrolin perutnya Elena." Celetuk Nicholas yang membuat sang Adik secara spontan memelototkan mata ke arahnya.
Mila tersenyum, lalu ikut bergabung bersama keluarga Nicholas di sana.
Leira juga sama, dia mengikuti langkah Mila dan duduk di samping Nicholas.
Jujur saja, perasaan Nicholas menjadi berbunga-bunga, karena Leira memilih duduk di sampingnya sekarang.
"Memangnya, perut Elena kenapa? Sakit?" tanya Mila setelah membenarkan posisi duduknya.
Nicholas berniat menjawab pertanyaan dari Mila, namun Elena terlebih dahulu mencubit pinggangnya.
"Gak apa-apa kok, Tante! Kak Nichol emang suka gosip orangnya ...," Elena menjawab sambil mendelik ke arah Nicholas.
Mila merasa lucu dengan kelakuan dua kakak-beradik di hadapannya sekarang. Mereka berdua, selalu kompak dalam segala hal.
__ADS_1
"Maaf ya, Mbak Mila! Anak-anak memang usianya sudah pada dewasa, tapi kelakuan mereka, masih seperti anak kecil." Ucap Alissa tersipu.
"Tidak apa-apa, Mbak! Justru saya senang, melihat keluarga Mbak Alissa. Rukun!" Ujar Mila sambil tersenyum penuh makna.
Alissa merasa bangga dengan keluarganya, setelah mendengar pujian dari Mila.
Keluarga mereka memang selalu rukun, dan sering membuat iri keluarga yang lainnya.
Bahkan ibu-ibu sosialita temannya Alissa 'pun, sering mengatakan hal yang serupa.
"Mbak Alissa! Sejak kapan, Putra Mbak mengenal Leira? Masalahnya, Leira belum pernah cerita tentang persahabatannya, dengan Putra Mbak."
Mila yang masih penasaran dengan persahabatan Nicholas dan juga Leira, langsung menanyakan hal itu, kepada Alissa.
"Leira itu, teman sekelasnya Nicholas waktu 'SD' Mbak." Jawab Alissa sambil menoleh ke arah Putranya yang sedang mencuri pandang kepada Leira.
Mila juga memperhatikan sikap Nicholas yang seperti malu-malu, ketika duduk bersama dengan keponakan perempuannya.
"Teman sekelas yaa ...," Gumam Mila perlahan.
"Iya, Mbak! Tapi hanya beberapa bulan saja." ujar Alissa dengan wajah sedih.
"Beberapa bulan?" ucap Mila merasa heran.
Alissa mengangguk, lalu menceritakan tentang kepindahan keluarga mereka ke Surabaya. Tak lupa juga, Alissa menceritakan kesedihan Nicholas yang harus ikut pindah, dan berpisah dari Leira.
"Jadi seperti itu ...," Mila sangat senang karena Nicholas adalah sahabat yang baik untuk Leira.
Sebenarnya, Mila masih merasa takut Leira terlalu dekat dengan Nicholas.
Namun setelah mendengar cerita dari Alissa, Mila merasa ketakutannya itu, tidak beralasan.
"Mbak Mila! Boleh saya tanya sesuatu, Mbak?" tanya Alissa dengan hati-hati agar tak menyinggung lawan bicaranya.
"Silahkan, Mbak!" jawab Mila dengan sopan.
"Tapi maaf ya Mbak, sebelumnya, jika pertanyaan saya nanti menyinggung perasaannya Mbak Mila."
Alissa terkesan berhati-hati dengan tutur katanya saat berbicara kepada Mila.
"Iya, Mbak." Jawab Mila singkat.
Alissa menarik nafas dalam sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
"Ini menyangkut perasaan Putra saya, Mbak! Nicholas menyukai keponakan Mbak, Leira!" ungkap Alissa jujur tentang masalah Putranya.
"Sejak kapan, Putra Mbak menyukai keponakan saya?" Mila juga tidak bodoh, dia bisa merasakan kejanggalan dari perlakuan Nicholas kepada Leira.
__ADS_1
Perlakuannya bukan seperti seorang sahabat, melainkan seperti seorang kekasih kepada pujaan hatinya.
Namun bedanya, Nicholas terkesan menutupi perasaannya sendiri. Tidak seperti Alex, yang terkesan blak-blakan kepada semua orang.