Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
46. Apa hakmu melarang?


__ADS_3

Setelah Bi Nenah pergi, Jessica kembali berbicara serius. "Mbak Mila, tolong ijinkan Alex untuk berbicara dengan Leira sebentar saja."


Mila menarik nafas kasar, "Maaf, aku tidak bisa mengijinkan!"


"Mbak Mila, tolonglah!" Jessica sedikit memaksa.


Namun Mila tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Aku bilang tida, ya tidak!" Tolak Mila dengan tegas hingga membuat Alex tertunduk lesu.


Amoora ingin mencoba menghibur, dengan mengelus bahunya Alex.


"Sabar, Lex! Mungkin hari ini, Leira belum siap untuk menemui kamu. Jadi sebaiknya, kamu tenang sekarang."


Alex menoleh, dan menatap Amoora dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Apa? Sabar katamu? Bisa-bisa kau bilang aku harus sabar? Semua ini salahmu, bukan aku!" Teriak Alex dengan histeris.


Amoora tertunduk sedih ketika di bentak sedemikian rupa oleh orang yang sangat di cintainya sedari dulu.


"Alex, jangan kasar!" Wibowo berusaha mencegah Alex bertindak impulsif.


"Agghhh!" Alex merasa frustasi hingga meremas rambutnya sendiri.


Mila memalingkan kepala karena merasa tak sudi untuk menatap keluarga yang telah menghancurkan kepercayaan yang telah dia berikan.


Di dalam rumah...


"Pah, ada apa ya, dengan mereka?" Tanya Alissa yang heran dengan suara-suara ribut dari luar.


"Gak tahu juga, Mah. Tapi sebaiknya, kita diam saja, dan jangan ikut campur urusan mereka." Jawab Niko dengan serius.


"Ih, Papah! Siapa yang mau ikut campur? Mamah cuma penasaran saja!" Ucap Alissa berkilah.


Niko menggeleng tanda kurang setuju dengan ucapan Istrinya.


"Kita tidak boleh mencampuri, atau mecari informasi tentang masalah mereka. Tidak sopan!" Tegas Niko.


Alissa mengerucutkan bibirnya karena merasa tidak setuju dengan ucapan sang Suami.


Siapa bilang dia ingin tahu urusan keluarganya Alex? Dia cuma ingin tahu maksud kedatangan mereka saja, menyangkut Leira, atau bukan? Itu saja! dalam hati Alissa.


Namun, ketika Alissa ingin pergi menyusul Niko pergi ke kamar. Sudut matanya menangkap keberadaan Leira yang sedang duduk termenung di depan meja kecil.


"Kamu kenapa kok diem di sini, Sayang?" Tanya Alissa sambil berjalan menghampiri Leira.


"Tidak apa-apa Tante, cuma pengen duduk aja di sini." Jawab Leira pelan.


"Tante temenin boleh?" Ucap Alissa lembut yang di balas anggukkan dari Leira.

__ADS_1


"Leira, cowok yang di luar sana calon Suami kamu ya?" Tanya Alissa berbisik.


Leira menundukkan kepala, lalu menggeleng perlahan. "Bukan lagi, Tante!"


Entah kenapa Alissa merasa lega mendengar jawabannya Leira.


"Maksudnya apa ya, Tante belum paham?" Alissa pura-pura belum mengerti ucapan Leira.


"Maksudnya, dia bukan lagi calon Suaminya Leira!" Jawab Leira masih dengan nada lemah.


Alissa sebenarnya merasa tidak tega, saat melihat Leira yang sedang sedih seperti ini. Namun laki-laki seperti Alex, tidak pantas untuk mendapatkan rasa cinta dari gadis baik sepeti Leira.


"Kamu yang sabar ya, Sayang! Apapun kejadian yang kamu alami, mau itu sedih, ataupun senang, mudah-mudahan semua menjadi pelajaran yang berharga di masa mendatang." Ucap Alissa dengan penuh kasih sayang sambil mengelus puncak kepalanya Leira.


"Terima kasih, Tante!" Ucap Leira sambil memeluk Alissa dan menangis terisak.


Alissa yang audah sepenuhnya merasa sayang kepada Leira, lanjut mengelus-ngelus punggung calon menantu idamannya tersebut.


"Menangislah Sayang, menangislah jika itu bisa membuat perasaanmu menjadi lega." Ucap Alissa perlahan.


Bi Nenah yang menyaksikan kejadian ini, jadi ikut meneteskan airmata karena merasa haru, dan juga sedih karena nasib majikannya yang begitu malang.


Sudah kehilangan kedua orangtua, kini Leira juga harus rela kehilangan orang yang sangat di cintainya.


"Kamu kenapa mewek, Nenah?" Tanya Mang Ujang heran melihat sang Istri menangis di pojokan.


"Itu ...," Bi Nenah menunjuk ke arah Leira.


"Aduh! Non Leira kenapa?" Mang Ujang jadi panik.


"Mas Alex selingkuh!" Jawab Bi Nenah sambil terisak


"Wahh, parah!" Kata Mang Ujang tampak kesal.


Bi Nenah mengangguk, lalu mengelap ingusnya yang keluar. "Kasihan Non Leira, gara-gara Mas Alex, dia jadi sedih seperti itu."


"Harus di beri pelajaran." Ucap Mang Ujang geram.


Bi Nenah mengelap bekas airmata di kedua belah pipinya, lalu berjalan mendekati Alissa yang melambai ke arahnya sekarang.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Tanya Bi Nenah sopan.


"Tolong minta segelas air putih Bi ...," Ucap Alissa.


Bi Nenah tak lagi banyak tanya air itu untuk apa? Dan juga untuk siapa? Sudah pasti air itu untuk Leira.


Secara, Leira terlihat lemah selepas tangisannya mereda. Jadi Alissa mungkin ingin memberikan air putih itu untuk Leira, agar jauh lebih tenang.


"Ini Nyonya, air putihnya." Ucap Bi Nenah sambil menyodorkan segelas air kepada Alissa.

__ADS_1


"Minumlah!" Alissa menyodorkan lagi air putih tersebut kepada Leira.


"Terima kasih, Tante!" Leira menerima air tersebut dan langsung meminumnya.


"Bagaimana? Sudah tenang?" Tanya Alissa lembut.


"Sudah, Tante!" Balas Leira sambil tersenyum manis.


Alissa sangat bahagia melihat Leira sudah bisa tersenyum lagi.


"Nah, gitu dong!" Ucap Alissa sambil tersenyum lega


Bukan hanya Alissa saja, Bi Nenah juga merasa lega, dan juga bahagia karena Leira sudah kembali ceria.


Di depan rumah, kini situasinya sudah tidak terkendali lagi.


Alex yang tidak di ijinkan menemui Leira, semakin menjadi-jadi saja emosinya.


Dia kini bahkan berani membentak kepada Wibowo, dan juga Jessica karena berusaha mencegah dirinya untuk memasuki rumah Leira secara paksa.


Namun secara kebetulan, langkah Alex tertahan karena kemunculan Mang Ujang.


"Eiitt, mau kemana?" Kata Mang Ujang sambil menahan tubuh Alex.


"Biarin Alex masuk, Mang! Alex mau nemuin Leira!" Jawab Alex yang tampak kesal karena Mang Ujang menghalangi jalannya untuk bertemu Leira.


"Tidak bisa! Mas Alex tidak boleh bertemu dengan Non Leira!" Jawab Mang Ujang tegas.


Alex tersulut emosi karena Mang Ujang melarangnya juga untuk bertemu dengan Leira.


"Kenapa? Apa hakmu melarang?" Bentak Alex kasar.


Jangankan takut, Mang Ujang malah semakin kuat menahan tubuh Alex.


"Jangan salahkan saya, kalau saya bertindak kasar." Kata Mang Ujang dengan berani.


"Coba saja!" Kata Alex sambil mendorong tubuh kecil Mang Ujang.


Bruugghhh...


Tubuh Mang Ujang terpelanting gara-gara dorongan kekuatan tangan Alex.


Perbedaan postur tubuh di antara mereka sangatlah jauh. Mang Ujang yang hanya seorang pria paruh baya berbadan biasa, tinggi yang dia miliki juga tidak seberapa. Sedangkan Alex, dia sering olahraga, badannya juga lumayan atletis dan tinggi badannya, jauh lebih tinggi dari Mang Ujang yang hanya sebatas telinganya Alex saja.


"Aduhh!" Teriak Mang Ujang ketika pantatnya menyentuh lantai dengan keras.


"Alex! Berhenti!" Wibowo berteriak begitu Alex kembali ingin melangkahkan kakinya.


Alex berhenti, lalu menoleh ke arah Wibowo.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa Alex harus berhenti, Pah?" Teriak Alex geram.


__ADS_2