Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
8. Pengagum rahasia.


__ADS_3

Nicholas meraih foto tersebut, lalu menatapnya lekat-lekat.


Bi Nenah yang memperhatikan kegiatan yang di lakukan Nicholas segera menghampirinya.


"Kenapa pak?" Tanya bi Nenah yang penasaran karena Nicholas memperhatikan foto masa kecil majikannya


"Enggak apa-apa kok, bu." Jawab Nicholas.


"Kalau boleh tahu, ini foto siapa ya?" Tanya Nicholas sembari menimang-nimang foto Leira kecil.


"Ohh ... itu foto Non Leira, pak." jawab bi Nenah.


"Jadi ini foto Nona Raharja." Ucap Nicholas seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya pak, itu foto Non Leira waktu masih SD." Jelas bi Nenah.


"Uda cantik dari kecil ya, bu." Puji Nicholas.


"Non Leira memang dari lahirnya juga udah cantik atuh, pak." Jawab bi Nenah polos.


"Tapi yang sekarang lebih cantik lagi ...," Celetuk Nicholas.


"Euleuh-euleuh si bapak teh geningan naksir Non Leira." Ujar bi Nenah.


"Ha-ha ... naksir juga percuma, pasti bakalan di tolak bu." Sanggah Nicholas menutupi perasaannya.


"Heheyyy ... aya-aya wae si pak polisi mah." Bi Nenah tertawa mendengar ucapan Nicholas.


"Bibi mau permisi dulu pak, mau bersih-bersih dapur dulu." Pamit bi Nenah kepada Nicholas.


"Iya, iya bi silahkan." Sahut Nicholas.


Setelah bi Nenah pergi, Nicholas pun menyimpan kembali foto Leira di tempatnya semula, lalu masuk ke dalam kamarnya.


...----------------...


Di dalam kamar, Nicholas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya melayang ke masa kecilnya dulu, sewaktu masih di sekolah dasar.


flashback on...


"hu-hu-hu!"


"Kamu kenapa?" Seorang gadis kecil mendekati Nicholas yang sedang menangis.


Nicholas tak menjawab pertanyaan gadis tersebut, dia terus menangis di tempatnya.


"Lutut kamu berdarah! Aku obatin ya ...," Ucap si gadis kecil.


Setelah mengatakannya, si gadis berlari menjauh dari Nicholas. Beberapa menit kemudian, dia datang kembali dengan membawa kotak p3k di tangannya.


Gadis itu lalu mengeluarkan plester dan obat merah dari kotak p3k, terus mendekat ke arah Nicholas.


Awalnya, Nicholas menolak lukanya di obat si gadis kecil. Namun, karena terus di paksa akhirnya Nicholas membiarkannya.


"Nahh ... sudah beres." Ucap si gadis kecil.


"Terima kasih!" Nicholas akhirnya membuka suara.


"Aku kira, kamu tidak bisa bicara karena dari tadi hanya diam saja."


"Kamu jangan sembarangan bicara, ya." Nicholas tersulut emosinya.


"He-he ... jangan marah, aku hanya bercanda." goda si gadis kecil.


"Kenalkan, namaku Leira." Ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Namaku, Nichol." Balas Nicholas sembari menerima uluran tangan Leira kecil.


"Senang bertemu denganmu, Nichol." Ucap Leira seraya tersenyum manis.

__ADS_1


"Aku juga ...," Sahut Nicholas.


"Oh iya ... Lututmu, kenapa bisa terluka seperti ini?"


"Aku di dorong oleh teman sekelasku." Jawab Nichol sembari menundukkan kepala.


"Kamu tenang saja, nanti aku akan bantu membalasnya." Ujar Leira kecil.


"Bagaimana caranya?" Tanya Nicholas heran.


"Ayo, ikuti aku." Ajak Leira.


"Kemana?" Ucap Nicholas waspada.


"Membalas teman kamulah." Jawab Leira lugas.


Nicholas mundur beberapa langkah karena terkejut Leira ingin membalas temannya.


"Ayo, tunggu apalagi?" Ajak Leira tak sabar.


"Baiklah." Nicholas mengangguk pasrah.


Mereka berdua berjalan menuju lapangan olahraga.


"Di mana orang yang mendorongmu?" Tanya Leira.


Nicholas menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, guna mencari keberadaan teman satu kelas yang sudah mendorongnya.


"Itu ...," Tunjuk Nicholas kepada salah seorang murid yang berada di sudut lapangan.


Leira langsung pergi menghampiri murid yang di tunjuk oleh Nicholas..


"Heyy ... kamu!" Panggil Leira.


Si murid yang di panggil pun menoleh kepada Leira.


"Kamu kan, yang sudah mendorong Nicholas?" Leira bertanya tanpa basa-basi kepadanya.


"Kalau iya, memangnya kenapa?" Tantang murid tersebut.


Tanpa berbicara apapun lagi, Leira langsung mendorong keras si murid tersebut.


"Kamu!" Bentak si murid tersebut seraya mengernyit menahan sakit.


"Apa?" Bentak Leira tak kalah nyaring.


"Ada apa ini? kenapa kalian berkelahi?" Seorang guru perempuan datang melerai mereka.


"Dia mendorongku, bu." Adu si murid.


"Benar itu, Leira?" Tanya guru itu, yang ternyata sudah mengenal Leira.


"Iya, bu." Jawab Leira jujur.


Si guru perempuan itupun mengernyitkan alisnya, ia tak menyangka Leira akan berbuat kasar seperti itu.


Selama ini, Leira adalah murid yang ramah dan patuh di kelas.


"Kenapa kamu melakukannya, Leira?" Tanya sang guru.


"Dia yang duluan mendorong teman Leira, bu." Jawab Leira.


"Itu dia! Bahkan lututnya sampai terluka seperti itu." Jawab Leira sambil menunjuk ke arah Nicholas.


Guru itu pun langsung menoleh ke arah Nicholas, dan langsung mengerti akar permasalahannya yang terjadi dengan perubahan Leira.


"Apa benar, kamu yang mendorongnya sampai seperti itu?" Tanya si guru penuh selidik.


"I-iya ...," Si murid ketakutan karena perbuatannya ketahuan.

__ADS_1


"Kali ini ibu maafkan, tapi jika terjadi lagi! Ibu terpaksa melaporkannya ke guru BP agar kamu mendapatkan hukuman."


"Iya bu, saya janji tidak akan melakukannya lagi." Ucap si murid tersebut.


"Bagus kalau begitu, sekarang cepat masuk ke dalam kelas." Perintah si guru.


"Iya, bu." Sahut si murid sembari berlari menuju kelasnya.


"Dan kamu Leira! Ibu harap ini terakhir kalinya kamu berbuat kasar seperti itu kepada murid lain." Ucapnya tegas.


"Iya bu, Leira janji takkan mengulanginya lagi." Balas Leira patuh.


"Baik, ibu harap kamu tidak akan mengingkarinya." Ucap si guru tegas.


"Baik, bu!" Sahut Leira.


"Ya sudah, ibu pergi dulu."


Si guru itu pun pergi, meninggalkan Nicholas dan Leira yang masih berdiri di sana.


"Terima kasih ya, Leira." Ucap Nicholas.


"Tidak perlu berterima kasih, kita kan berteman." Ujar Leira seraya tersenyum manis.


"Baiklah, mulai hari ini kita berteman." Ucap Nicholas bersemangat.


"Um." Leira mengangguk puas.


Setelah kejadian hari itu, Nicholas dan Leira resmi berteman. Dan pertemanan mereka, tergolong akrab. Sampai-sampai, tiap hari mereka selalu bertemu di lapangan olahraga untuk sekedar bermain dan bercanda.


Namun suatu hari, keluarga Nicholas memutuskan untuk pindah keluar kota karena Ayahnya di pindah tugaskan.


Sejak saat itu, Nicholas tak pernah lagi bertemu ataupun mendengar kabar dari Leira. Begitu pun juga sebaliknya, Leira tak pernah mendapatkan kabar apapun tentang dirinya.


Flashback of...


"Aku senang bisa ketemu sama kamu lagi, Leira." Gumam Nicholas, lalu dia merogoh saku jaketnya mengeluarkan selembar foto.


Foto tentang masa kecilnya bersama Leira di sebuah lapangan olahraga.


Hari itu, hari pertama mereka resmi berteman dan mereka sengaja mengabadikannya untuk kenang-kenangan.


Tak di sangka, pertemanan mereka sangatlah singkat karena Nicholas harus mengikuti kedua orangtuanya.


"Aku kembali Leira, aku kembali untuk menjadi teman hidupmu. Namun kali ini, aku yang akan melindungimu." Ucap Nicholas seraya menatap foto masa kecilnya.


...----------------...


Hacciiihhh...


Hacciiihhh...


Leira yang sedang membaca buku, tiba-tiba bersin beberapa kali di dalam kamarnya.


"Aduh, kenapa jadi bersin-bersin begini. Apa aku masuk angin kali ya ...," Ucap Leira pada diri sendiri.


Karena takut bersinnya semakin parah, Leira bangkit untuk mencari botol pil di laci meja sebelah tempat tidurnya.


"Nahh ... ini dia." Ucap Leira setelah menemukan botol obatnya.


Ketika ingin menelannya, Leira tersadar jika ia lupa membawa air minum ke dalam kamarnya.


"Aduh ... Kenapa jadi pelupa seperti ini siih." Gerutu Leira seraya menepuk dahinya.


Dengan terpaksa, Leira pun keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju dapur dengan menenteng botol minum di tangannya.


Cklekk~


Pintu kamar tamu terbuka dan Nicholas bergegas keluar dari kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2