Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
7. Nicholas Mahendra.


__ADS_3

Keesokan harinya, beberapa petugas dari kepolisian menyambangi kediaman Raharja.


"Selamat pagi, Nona!" Ucap seorang perwira polisi kepada Hu Liena.


"Selamat pagi juga, Pak!" Jawab Hu Liena dengan rasa heran yang terbersit di hatinya.


"Maaf Nona, kami dari kepolisian ingin bertemu dengan Nona Leira Raharja." Ujar si perwira polisi tersebut.


"Saya sendiri, Pak." Jawabnya sopan.


"Kebetulan sekali, kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada anda."Jelas si perwira polisi.


Leira mengerutkan alisnya, "Masalah apa ya, Pak?"


"Ini masalah penyerangan yang terjadi kepada bapak Cristhian Raharja dan keluarga." Ucap perwira polisi.


"Baik, Pak. Silahkan!" Ujar Leira.


"Baik, Nona. Kita langsung saja dengan pertanyaan pertama." Perwira polisi itu berhenti sejenak, setelah beberapa detik kembali melanjutkan. "Apa bapak Cristhian memiliki musuh semasa hidupnya?"


Leira menggelengkan kepalanya, "Tidak, Pak!"


"Ibunya, mungkin?" Lanjut perwira polisi tersebut.


"Tidak ada! Orangtua saya tidak pernah memiliki musuh, Pak." Jawab Leira penuh keyakinan.


Leira mengatakan yang sebenarnya, orangtuanya memang tak pernah memiliki musuh sama sekali selama hidupnya.


Bahkan, mereka terkenal sangat baik di kalangan para tetangga dan koleganya.


Perwira polisi itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu kembali berbicara.


"Kami akan tetap menyelidiki kasus ini sampai tuntas, dan untuk memastikan keamanan anda, kami akan menempatkan beberapa petugas untuk menjaga rumah ini."


"Apa itu di perlukan, Pak?" Tanya Leira heran.


"Tentu saja! kami khawatir, jika anda akan di jadikan sasaran berikutnya." Jelas perwira polisi tersebut.


"Baiklah Pak, saya tidak akan menolaknya."


"Nanti, akan ada rekan saya yang akan datang. Dan jika anda memerlukan bantuan, anda bisa menghubunginya."


"Baik!" Liera mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi ucapan dari perwira polisi tersebut.


"Baiklah, Nona. Saya harus pergi karena ada panggilan tugas lainnya, terima kasih untuk waktu anda dan selamat siang."


Pamit perwira polisi tersebut seraya mengulurkan tangannya ke arah Leira.


Liera pun menyambut uluran tangannya, seraya membalas ucapannya. "Selamat siang juga, Pak!"


Setelah kepergian perwira polisi, bi Nenah menghampiri majikannya. "Nona, itu pak polisi ngapain datang kesini." Tanya bi Nenah dengan logat sundanya.


"Enggak ada apa-apa kok bi, cuma nanya-nanya aja."


"ohh ... syukur atuh kalau enggak ada apa-apa mah, bibi jadi tenang dengarnya juga."


"Iya bi ...," Ucap Leira.

__ADS_1


"Ya sudah atuh Non, bibi mau ke belakang dulu." Pamit bi Nenah karena tak ada lagi yang ingin di tanyakannya.


"Sebentar, bi." Leira buru-buru menghentikannya.


"Ada apa, Non?"


"Tadi ... petugas polisinya bilang, jika akan ada beberapa orang yang bertugas untuk menjaga rumah ini. Jadi tolong ya bi, siapkan makanan buat mereka." Ucap Leira kepada bi Nenah.


"Aduuhhh ... eta mah gampil pisan atuh, Non." Sahut bi Nenah masih dengan logat sundanya.


"He-he ... iya, iya bi." Ujar Leira seraya terkekeh melihat tingkah laku bi Nenah.


Menjelang malam, beberapa orang petugas kembali mendatangi rumah Leira.


Dan salah satu dari mereka adalah Nicholas Mahendra, teman sekelas Leira waktu sekolah dasar dulu.


Namun, setelah lulus dari sekolah dasar Nicholas dan keluarganya memutuskan untuk pindah keluar kota.


Meskipun hari ini dia dan Leira bertemu kembali, besar kemungkinan mereka tidak akan mengenal satu sama lain lagi.


Nicholas yang sekarang telah menjabat sebagai Ajun Komisaris Polisi (AKP). Dan saat ini dia tugaskan untuk menjaga seorang gadis yang di duga akan menjadi korban pembunuhan berikutnya setelah kematian kedua orangtuanya.


tok... tok... tok...


Nicholas mengetuk pintu rumah kediaman Raharja.


Cklek~


Pintu terbuka dari dalam, dan sosok bi Nenah muncul dari balik pintu tersebut.


"Selamat malam!" Ucap Nicholas dengan aksen tegasnya.


"Maaf bu, saya ingin bertemu dengan Nona Raharja."


"Silahkan masuk dulu, Pak." Ujar bi Nenah seraya mempersilahkan tamunya masuk.


"Baik, terima kasih." Ujar Nicholas sembari melangkahkan kakinya memasuki rumah.


Di dalam kamar, Liera baru saja menyelesaikan aktivitas rutinnya membaca buku. Dan di teruskan dengan menyusun ulang buku-bukunya ke dalam rak di samping tempat tidurnya.


tok... tok... tok...


"Non, Non Leira!" Ucap bi Nenah dari luar kamar.


"Sebentar bi ...," Balas Leira.


Setelah menyusun kembali buku-buku ke tempatnya semula, Leira pun keluar kamar menemui bi Nenah.


"Ada apa bi?"


"Di luar ada bapak polisi, katanya ingin berbicara dengan Non Leira." Jelas bi Nenah.


Leira yang berniat tidur lebih awal, kini harus mengurungkan niatnya karena ada tamu yang ingin bertemu dengannya.


"Baik bi, Ara kesana sekarang." Ucapnya pasrah, kemudian dia berjalan menuju ruang tamu.


Setibanya di sana, Leira di sambut ramah oleh orang seorang pria yang berwajah tampan.

__ADS_1


"Selamat malam Nona ...,"


"Leira, Leira Raharja." Ucap Leira memperkenalkan namanya.


"Ahhh ... Nona Leira." Ucap polisi tersebut mengulang namanya.


"Iya ... benar, Pak."


Polisi itu nampak terdiam sejenak, setelah beberapa detik barulah ia melanjutkan ucapannya.


"Pastinya Nona sudah mengetahui dari rekan saya sebelumnya, jika mulai hari ini saya akan bertanggung jawab menjaga keselamatan anda."


"Iya pak, rekan bapak sudah menjelaskannya kepada saya tadi siang." Ujar Liera.


"Baik, saya harap anda bisa di ajak bekerja sama oleh pihak kepolisian dan selalu bersikap kooperatif agar kami bisa semaksimal mungkin menjaga anda" Imbuh Nicholas.


"Baik, Pak." Sahut Leira.


Di tengah perbincangan mereka, bi Nenah datang membawakan minuman dan beberapa makanan ringan.


"Ini minumnya, Pak." Ucap bi Nenah seraya menyodorkan kopi yang di bawanya.


Nicholas menerima cangkir tersebut dan langsung mendekatkan cangkir tersebut ke mulutnya.


"Hati-hati panas, Pak." Ucap Leira secara spontan.


"He-he ... tidak apa-apa Nona, saya hanya mencium aromanya saja." Ujar Nicholas seraya menaruh cangkirnya di meja.


"Maaf kalau gitu pak, saya jadi mengagetkan anda."


"Tidak apa-apa." Balas Nicholas.


"Oh, iya Nona Leira. Ini nomor telpon saya, jadi kalau ada apa-apa Nona bisa langsung menghubungi saya." Ucap Nicholas seraya menyodorkan kartu namanya.


"Baik pak, saya akan menyimpannya." Balas Leira sembari mengambil kartu nama tersebut.


"Kamar tamunya sudah siap, Non." Ujar bi Nenah.


Leira memang meminta bi Nenah guna menyiapkan kamar tamu untuk Nicholas. Karena alasan keselamatan Leira, memungkinkan Nicholas untuk tinggal di rumahnya sampai waktu yang tidak di tentukan.


"Baik bi, terima kasih." Balas Leira kepada bi Nenah.


Setelah perbincangan Leira dan Nicholas selesai, Leira pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan Nicholas pun pergi ke kamar tamu yang sudah di siapkan bi Nenah.


Tapi sebelum pergi kesana, Nicholas menyempatkan diri untuk mengecek anak buahnya yang berjaga di luar rumah.


"Selamat malam, Pak." Sapa salah satu anak buahnya Nicholas.


"Iya, selamat malam." Balasnya.


"Bagaimana? apa tidak ada yang mencurigakan?" Tanya Nicholas.


"Aman, Pak!" Jawab anak buahnya lagi.


"Bagus, bagus! tapi kalian harus ingat, tetap waspada dan segera melapor jika ada sesuatu yang mencurigakan." Kata Nicholas tegas.


"Baik, Pak!

__ADS_1


Setelah mewanti-wanti anak buahnya, Nicholas barulah kembali menuju kamarnya.


Ketika dia berjalan melewati ruang keluarga, sudut mata Nicholas tak sengaja melihat foto gadis kecil yang terpajang di dinding.


__ADS_2