Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
64. Penyamaran.


__ADS_3

"Kau bilang hanya ingin bertemu, 'kan? Lihatlah di sana! Calon menantuku sedang berdiri di sana! Sekarang, pergilah! Karena aku sudah mengabulkan permintaanmu." ucap Alissa setelah pandangan Alex berhasil melihat Leira yang berdiri tak jauh dari sana bersama Nicholas.


"Tidak Tante, aku tidak akan pergi!" tolak Alex dengan menggebrak-gebrak teralis baja.


Alissa kembali lagi memutar badannya menghadap ke arah Alex yang berada di balik teralis baja.


"Apalagi yang kau inginkan sekarang, heh?" tanya Alissa dengan sinis.


"Tadi kau bilang ingin bertemu dengan Leira, sekarang, setelah melihatnya kau masih menolak untuk pergi. Sebenarnya, apa yang kau inginkan, anak muda?" ucap Alissa yang mulai kesal dengan tindak-tanduk Alex.


"Berikan aku kesempatan, sekali saja untuk berbicara kepada Leira." ucap Alex dengan mata yang berkaca-kaca.


"Berbicara? Mau bicara apalagi? Semua sudah jelas ya, Nak! Kamu, sudah punya dia! Dan Leira, sudah punya calon Suami, yaitu Putraku! Jadi, tidak ada lagi yang perlu di bicarakan!" tegas Alissa sambil berlalu pergi dari hadapan Alex dan keluarganya.


Sebelum pergi, Alissa juga meminta kepala keamanan untuk menelpon polisi jika Alex masih memaksa untuk di bukakan pintu.


"Benar 'kan, apa yang aku bilang. Leira sudah bertunangan, dia sudah tidak mencintaimu lagi Alex!" kata Amoora dengan sebuah senyuman tipis menghiasi bibirnya.


"Sebaiknya kita pulang saja, Lex! Tidak ada gunanya lagi kita semua berada di sini!" ajak Wibowo sambil menarik tangan Putranya.


Jessica menatap Putranya dengan tatapan nanar. Dia merasa sangat sedih melihat Putranya hancur seperti ini.


"Lex, dengerin apa kata Papah kamu. Sebaiknya kita pulang, percuma saja 'kan berada di sini juga. Hanya buang-buang waktu saja!"


"Diam kamu, Amoora! Semua ini gara-gara kamu! Putraku jadi seperti ini juga gara-gara kamu! Masih saja ya, kamu tidak tahu malu begitu." bentak Jessica yang sudah hilang kesabaran dengan tingkah Amoora.


"Loh, kok Tante malah nyalahin aku? Yang salah itu Leira, Tante. Bukan aku!" bantah Amoora dengan keras.


Jessica memalingkan wajah ke arah lain, dirinya terlalu malas menanggapi ucapan Amoora terus menerus. Tidak akan ada habisnya, pikir Jessica.


"Ayo, Nak. Kita pulang! Kita bisa cari waktu lain, untuk bertemu dan berbicara kepada Leira." ajak Jessica yang langsung di turut oleh Alex.


Selain Jessica, Alex sudah tidak mau mendengarkan kata orang lain lagi. Alex menganggap, semua orang tidak peduli lagi kepadanya.


Apalagi Wibowo, yang terkesan selalu membela Amoora di manapun mereka berada.


Jadi, Alex sudah tidak pernah lagi mendengarkan perkataan Wibowo.


"Tadi si Alex mau apalagi, Mah?" tanya Nicholas saat sudah berada di dalam rumah.

__ADS_1


"Biasa, ingin bertemu dengan calon menantu Mamah." jawab Alissa dengan bangga.


"Wah, minta di hajar tuh orang." celetuk Elena yang baru bergabung bersama mereka.


"Ish, kalau tadi ada Bi Nenah mah ya, pasti di siram pake air es. Biar otaknya adem!" ujar Bi Nenah yang langsung mendapat tepuk tangan dari Elena dan juga Alissa.


Niko yang baru saja mengantarkan kepergian teman-temannya, langsung ikut nimbrung dalam obrolan keluarganya.


"Lain kali, suruh Pak Haris langsung usir saja mereka, Mah." ucap Niko dengan kesal.


"Kamu juga, mulai sekarang jangan pergi kemana-mana sendirian. Bahaya!" kata Alissa kepada Leira yang dari awal mula hanya berdiam diri saja.


"Baik, Tante!" jawab Leira patuh namun langsung dapat teguran dari Alissa.


"Kok, Tante? Panggil Mamah, dong. M.A.M.A.H!"


"Baik, Tan, eh, Mamah!" jawab Leira dengan malu-malu.


"Nah, gitu dong. Harus nurut sama Ibu Mertua." celetuk Alissa hingga membuat semua orang tertawa tergelak.


Keesokan harinya, Nicholas tiba-tiba mendapat telepon dari kantor agar segera datang untuk menghadap atasan.


Saat mau pergi, Nicholas tak lupa mewanti-wanti kepada Leira untuk tidak meninggalkan rumah seorang diri. Jika bisa, bahkan Nicholas meminta Leira untuk tetap berada di dalam rumah.


"Yaaaahhhh ...," Elena tampak kecewa dengan penolakan calon Kakak Iparnya.


"Jangan sedih gitu, kita 'kan bisa tetap pesan lewat delivery order." ucap Leira yang membuat Elena kembali bersemangat.


Mereka berdua lalu membuka aplikasi food delivery service untuk memesan semua makanan yang mereka berdua inginkan.


Tiga puluh menit kemudian, seorang pengendara sepeda motor berhenti di depan gerbang mansion mewah keluarga Mahendra.


"Siapa kamu?" tanya Pak Haris dengan galak.


"Ini Pak, saya mau mengantarkan pesanan." ucap si Kurir sambil menundukkan kepalanya.


Pak Haris merasa curiga, namun dia tidak mau bertindak gegabah.


"Ada bukti pemesanannya?" tanya Pak Haris dengan masih memasang tampang galaknya.

__ADS_1


"Ini ...," ucap si Kurir sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan isi daftar makanan yang di pesan lengkap dengan harga dan nama si pemesan.


"Sini, biar saya saja yang berikan." Pak Haris berniat mengambil barang bawaan si Kurir namun di tolak.


"Maaf, Pak. Kami di haruskan memberikan makanan ini sendiri, kepada konsumen."


Pak Haris akhirnya mengalah, dia membiarkan sang Kurir masuk, namun tetap meminta kartu identitas sebagai jaminan keamanan.


Saat ini, Leira dan juga Elena sedang duduk di kursi depan menikmati keindahan tanaman bunga yang sedang mekar.


"Itu pesanan kita sudah datang, Kak." ucap Elena dengan girang.


Leira tersenyum manis, lalu bangkit dan langsung menghampiri si Kurir.


"Berapa totalnya, Mas?" tanya Leira sambil mengulurkan tangan ingin mengambil bingkisan di tangan si Kurir.


Namun, secara tiba-tiba, tangan Leira malah di genggam dengan erat. Dan kini, bahkan tangannya sedikit di tarik agar tubuh Leira ikut tertarik juga.


Hampir saja Leira terjerembab, jika Elena tidak segera menolongnya.


"Mas, apa-apaan sih? Nganter makanan kok, gak sopan!" bentak Elena dengan sangat keras.


"Ra, please! Aku ingin bicara sama kamu sebentar saja!"


Tak di sangka, Kurir yang mengantarkan makanan ternyata Alex yang sedang menyamar.


"Alex, kamu!" ucap Leira setengah berteriak.


Elena juga terkejut, dia tidak menyangka jika mantan tunangan calon Kakak Iparnya akan berbuat nekad seperti itu.


Tangan Alex berusaha kembali meraih tangan Leira, namun Elena segera mendorong tubuh Alex ke belakang hingga terjengkang.


"Mah, tolong! Bi Nenah! Tante Mila! Mang Ujang!" teriak Elena dengan sekencang-kencangnya meminta pertolongan kepada semua orang.


Semua orang yang di panggil, berlomba-lomba berlari ke arah depan rumah.


"Alex!" teriak Alissa saat melihat Alex mulai bangkit dan mulai mendekati Leira.


"Agghhhh!" Mila berteriak keras saat Alex berusaha menangkap tubuh Leira.

__ADS_1


Untung saja Mang Ujang segera datang, dan langsung menghalangi pergerakan Alex.


"Minggir, Mang!" bentak Alex dengan mata yang memerah.


__ADS_2