
Berita penangkapan Wali Kota langsung tersebar ke seluruh penjuru Kota.
Di rumah Dante saat ini, Monica merasa terpukul dengan kenyataan yang sedang di hadapinya.
"Yang sabar ya Bu ...,'' Ucap pembantu Monica yang saat ini sedang menenangkannya.
"Bagaimana bisa sabar Bi, kematian Pak Crishtian waktu itu ternyata ulahnya mas Dante. Padahal salah apa beliau, hingga mas Dante tega melakukan itu semua kepadanya. Aku malu Bi ... Aku malu kalau ketemu sama Leira nanti." Ucap Monica di sela-sela tangisannya.
"Yang salah 'kan Bapak, bukan Ibu. Non Leira gadis yang baik, dia pasti tidak akan membenci Ibu." Ujar Bi Ijah lagi.
Monica semakin merasa sedih mengingat tentang Leira.
Gadis cantik itu kini harus kehilangan orangtuanya, karena keserakahan orang-orang seperti Yatno dan Dante, Suaminya.
"Temani aku ke Kantor Polisi sekarang, Bi." Ucap Monica dengan lemah.
Bi Ijah langsung menyanggupi permintaan dari majikannya.
Di Kantor Polisi...
"Leira, Om mau minta maaf." Ucap Dante yang saat ini sedang duduk berhadapan dengan Leira.
Leira menatap tajam ke arah Dante, sahabat sekaligus pembunuh sang Ayah.
"Kenapa? Kenapa, Om tega melakukan itu?" Tanya Leira penuh penekanan.
Gadis yang dari awalnya baik dan selalu bersikap lembut itu, kini terlihat tegas dan garang.
Bahkan Dante 'pun, merasa bergidik dengan tatapan tajam yang menusuk dari Leira.
"Om hilaf, Om tidak bisa menahan diri, Nak." Ratap Dante dengan lesu.
Leira tak bergeming. Saat ini, di hati Leira tak ada lagi rasa belas kasih untuk orang yang telah merenggut kehidupan kedua orangtuanya.
"Mas!" Teriak histeris Monica begitu melihat Suami tercintanya mengenakan pakaian berwarna oranye.
"Sayang!" Panggil Dante dengan mata berkaca-kaca.
"Mas, mengapa kau melakukan semua ini? Mengapa kau harus membunuh Pak Crishtian dan Bu Hani yang selalu baik terhadap keluarga kita, Mas?" Ucap Monica dengan derai airmata.
Dante tertunduk lesu mendapat pertanyaan dari Istrinya.
__ADS_1
Dia sekarang telah menyesal, karena lebih mendengarkan hasutan Yatno tentang merebut kekuasaan yang di pimpin oleh Crishtian daripada mendengarkan kata hatinya.
Dia juga menyesal, telah mengirim orang-orang bayaran untuk membunuh keluarga Crishtian beberapa waktu yang lalu.
Dia awalnya hanya menggertak, tapi tak di sangka jika Crishtian tidak mempan dengan gertakannya.
Dan akhirnya, Dante menyuruh orang mengeksekusi Crishtian langsung untuk menghilangkan barang bukti tentang tindak kejahatannya bersama Yatno yang di simpan oleh Crishtian.
"Maafkan aku, sayang. Aku hilaf!" Ucap Dante sembari mengusap puncak kepala Istrinya.
Monica melirik ke arah Leira yang kini sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam.
"Leira! Maafkan Suami Tante ...," Ucap Monica lirih.
Leira menggeleng, lalu mulai berbicara.
"Tidak ada gunanya Tante meminta maaf untuk saat ini. Ayahku sudah tidak ada lagi di dunia, kalaupun aku memaafkan kesalahan Om, itu hanya sia-sia saja, Tante. Om harus tetap di hukum! Dengan, atau tanpa maaf dari Leira." Ucap Leira dingin.
Monica terhenyak dengan ucapan Leira yang menyentuh relung hatinya. Kata-kata yang sudah ia siapkan sebelumnya untuk membujuk Leira, kini langsung hilang dari ingatannya.
Leira sendiri, memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Monica bersama Dante yang saat ini sedang berpelukan.
Dante menggeleng, sungguh bukan kehidupan seperti ini yang dia harapkan.
Dante terlahir dari keluarga sederhana dan hanya mengandalkan hasil kerjanya sendiri untuk biaya pendidikannya.
Setelah bertemu dengan Crishtian, kehidupan Dante sedikit demi sedikit berubah, karena Crishtian sering membantunya dalam perihal keuangan hingga Dante menyelesaikan jenjang pendidikannya.
Bahkan ketika mencalonkan diri jadi wakil Wali Kota, Crishtian juga banyak membantunya untuk bisa sampai di tahap itu.
Namun sekarang, setelah ia gelap mata karena keserakahan. Kehidupan yang di bangun dari kecil olehnya, kini di ambang batas kehancuran karena perbuatannya sendiri.
"Maafkan aku, sayang! Aku benar-benar hilaf, aku bersalah padamu, dan juga pada anak-anak kita."
Dante meratapi kesalahannya kini di hadapan sang Istri, Monica. Dia benar-benar menyesal telah melakukan perbuatan jahat itu kepada keluarga Crishtian.
"Sudahlah Mas, semua sudah terjadi. Sekarang kau harus membayar apa yang telah kau perbuat selama ini. Akui dosa-dosamu di depan hakim, dan terima hukuman atas apa yang kau lakukan." Kata Monica yang membuat hati Dante tersentuh dengan keikhlasan hati Istrinya.
Sejujurnya, Dante juga merasa takut sang Istri akan membencinya. Namun sekarang, Monica malah menyuruhnya untuk bersikap ikhlas dan menerima konsekuensi atas perbuatannya.
Hati Dante menjadi terasa lega. Meskipun dia harus terkurung di jeruji besi, dia akan dengan tabah menerima kenyataan. Asalkan sang Istri tidak membenci, ataupun menjauhinya.
__ADS_1
"Baik, sayang. Aku akan menuruti kata-katamu, aku akan mengaku di hadapan hakim, bahwa akulah yang dalang di balik pembunuhan Crishtian dan Istrinya." Tutur Dante di hadapan sang Istri.
Di ruangan lain, tepatnya di ruangan tempat Yatno di kurung. Kini Yatno, tengah menatap kosong di kejauhan. Ingatan-ingatan masa lalu tentang dirinya yang masih bersekolah bersama Hani, kini terbayang di pelupuk matanya.
"Hani, maafkan aku!" Ucap Yatno lirih.
Yatno terduduk dengan kedua tangan memeluk lutut.
Samar-samar di hadapan Yatno muncul bayangan Hani.
''Yatno, kenapa kamu tega membunuhku dengan Mas Crishtian. Apa salah kami, padamu?" Ucap bayangan Hani kepada Yatno.
"Hani? Ini benar kamu, Han?" Tanya Yatno dengan airmata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu, No. Aku sangat kecewa sekali, padamu!" Teriak bayangan Hani.
Yatno menjadi histeris, dan berteriak-teriak meminta maaf kepada Hani.
"Maafkan aku, Han. Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu." Teriak Yatno.
Hani mendengus ke arah Yatno, dan memelototkan matanya. "Cinta? Cinta seperti apa? Cinta seperti apa yang mengharuskan seseorang kehilangan nyawa?"
"Aku tidak bermaksud untuk membunuhmu, Han. Sasaranku hanya Crishtian, dan bukan kamu." Tutur Yatno dengan sedih.
Namun kesedihan Yatno, bukanlah sebuah alasan untuk Hani memaafkan semua perbuatan jahat sahabatnya itu.
"Diam kau, Yatno! Apapun alasanmu, aku tidak akan memaafkanmu! Aku berharap, kau akan masuk ke dalam Neraka yang terdalam!" Bentak Hani penuh dengan kemarahan.
Yatno meratap, dia terlihat sedih mendengar sumpah serapah dari orang yang di cintainya.
"Tidak Hani! Maafkan aku! Aku mohon!" Teriak Yatno sembari bangkit dan ingin memeluk Hani.
Namun terlambat, bayangan Hani perlahan menghilang tertiup angin, dan hanya menyisakan ruang hampa di sana.
"Hani! Jangan tinggalkan aku lagi! Hani! Hanniii ...," Teriak Yatno semakin histeris ketika bayangan Hani hilang sepenuhnya.
Para Petugas yang sedang berjaga, langsung berlarian begitu mendengar teriakan Yatno.
"Diam! Jangan berisik!" Teriak salah seorang Petugas Polisi.
Namun Yatno tidak memedulikannya, dia terus saja memanggil-manggil nama Hani di ruangannya.
__ADS_1