
"Sudahlah, Ra. Ikhlaskan semuanya, kasihan mereka jika harus menyaksikan keadaan Putrinya yang seperti ini di alam sana." Ujar Nicholas kepada Leira.
Leira mengangguk, ucapan sahabatnya itu ada benarnya juga. Ia tidak boleh terlalu berlarut-larut dalam kesedihannya, yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari bukti tentang siapa-siapa saja orang yang telah mencelakai kedua orang tuanya.
"Kau benar, Nichol. Aku tidak boleh seperti ini, aku harus bangkit, aku harus bisa mengungkapkan tabir kematian orangtuaku." Jawab Leira penuh semangat.
"Nahh ... gitu dong!" Balas Nicholas sembari mengacungkan jempolnya.
Mereka pun mulai mencari kembali, barang-barang yang bisa di jadikan barang bukti.
Namun, sudah beberapa lama mereka mencari, tak ada lagi yang mereka temukan di sana.
"Gimana ini, Nichol. Tidak ada lagi yang kita temukan di sini." Ujar Leira yang terlihat sudah kelelahan.
"Tenang, Ra. Kita akan menyelidikinya secara perlahan, lagian, bukti yang kemarin kita dapatkan juga udah lebih dari cukup, kok." Sahut Nicholas yang membuat wajah Leira yang sempat murung menjadi ceria kembali.
"Seriusan?"
"Serius! Serahkan semuanya kepada pihak kepolisian, kami akan bekerja semaksimal mungkin untuk menemukan para pelaku." Sahut Nicholas dengan penuh keyakinan.
"Aku percaya! dan aku berharap, semua pelaku cepat di tangkap dan membusuk di penjara." Ucap Leira.
Nicholas mengangguk dan berkata. "Sebaiknya kita keluar sekarang, ini udah hampir tengah malam. Kamu juga pasti udah lelah, kan?"
"Benar ... aku juga sudah sedikit mengantuk juga." Balas Leira seraya merenggangkan tubuhnya.
"Ya sudah, ayo! Biar kita beresin ini besok pagi saja." Ajak Nicholas seraya menggandeng lengan Leira.
Di tempat lain...
"Bodoh! kalian benar-benar, bodoh!" Bentak Yatno kepada Karto yang duduk di hadapannya.
Karto tertunduk lesu mendengar ocehan yang keluar dari Bossnya, ia memang bersalah karena telah gagal melakukan tugas yang di berikan Yatno padanya.
"Maaf, Boss!" Ucapnya perlahan.
"Maaf, maaf, di suruh bawa satu perempuan saja tidak bisa. Gaji minta gede, tapi kerjaan tidak ada yang beres satupun." Bentak Yatno lagi.
__ADS_1
"Di suruh nyuri berkas, bilang tidak bisa karena banyak Polisi yang jaga. Di suruh nyulik anaknya Crishtian, gagal. Sebenarnya, bisa kalian itu apa sih?"
Yatno sudah kehilangan kesabarannya, setiap ia menugaskan Karto dan anak buahnya, selalu saja gagal.
Karto yang di marahi habis-habisan hanya bisa menundukkan wajahnya, ia merasa malu dengan Bossnya itu.
"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan untuk menebus kesalahanmu itu?" Tantang Yatno kepada Karto.
"Saya, saya akan mencoba berbagai macam cara untuk menculik perempuan itu, Boss." Ujar Karto mengatakan kesanggupannya.
"Baik! Saya akan tunggu hasilnya, sekarang kamu boleh pergi dari sini." Ujar Yatno seraya menggerakkan tangan agar Karto meninggalkan ruangan.
"Baik, Boss. Saya permisi dulu ...," Pamit Karto sebelum pergi.
Setelah meninggalkan rumah Yatno, Karto pergi ke gudang tempat dia dan anak buahnya berkumpul.
Kedatangan Karto di sambut Dorman yang sedari tadi sudah menunggunya. "To, bagaimana? Boss marah tidak sama kamu?"
"Bukan marah lagi, tapi murka!" Ujar Karto sambil bergidik ngeri membayangkan perihal tadi.
"Si Boss mau, kita tetap melakukan tugas kita yang sempat gagal." Jelas Karto.
"Sulit!" Dorman menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sulit? apanya yang sulit?" Tanya Karto yang agak kesal dengan Dorman.
"Ya itu, tugas kita." Jawab Dorman singkat.
"Jadi kamu lebih memilih di bunuh Boss, daripada menjalankan tugasnya gitu Man, maksudmu?" Karto yang sudah sangat kesal jadi meninggikan suaranya.
Dorman juga yang tersulut emosinya, jadi berbicara keras kepada Karto. "Kamu juga kan tahu, To. Si Wira sama si Indra kemarin ketangkap Polisi, kalau kita nyerang lagi, kita mungkin juga akan bernasib sama dengan mereka."
"Kita tidak bisa mundur lagi, Man. Boss pasti akan membunuh kita, jika kita tidak melakukan perintahnya dengan benar." Bentak Karto tak mau kalah.
Anak buah Karto yang melihat perdebatan mereka berdua, tak ada yang berani melerai. Karena Karto dan Dorman sangat di segani di sana, Karto yang bertindak sebagai pemimpin mereka sering kali bertindak kasar. Itulah sebabnya, mereka tak mau mendekat dan ikut campur masalah keduanya.
"Baik! kita akan melakukannya sekali lagi, jika gagal, aku akan mengundurkan diri dari perkumpulan ini." Ujar Dorman menyudahi perdebatannya.
__ADS_1
Karto yang terlanjur kesal, segera pergi dari sana. Niatnya ingin berbagi cerita dengan Dorman, malah menjadi perdebatan di antara Dorman dan dirinya.
"Dasar Dorman, sialan!" Gerutu Karto di tengah perjalannya, dia kini bergegas pulang untuk menangkan pikiran.
Sesampainya di rumah, bukan ketenangan yang di dapatkan Karto di sana. Dia malah di sambut muka cemberut Istrinya, yang sudah lama tak ia berikan uang untuk keperluan rumah.
"Darimana saja kamu, Karto?" Tegur Atikah di depan pintu.
"Berisik!" Bentak Karto sembari melewati Istrinya.
"Dasar Suami tak bertanggung jawab! Anak kamu tiap hari nangis minta jajan, kamu malah enak-enakan di luaran sana." Omel Atikah seraya membanting pintu rumahnya.
Karto yang baru duduk, jadi berdiri lagi karena merasa emosi. "Istri, kurang ajar! Suami baru pulang bukannya di kasih minum, malah di maki-maki tak karuan."
"Suami juga harus tahu, kalau Istri itu bukan hanya untuk bikin minum doang. Kasih duit buat makan, jangan bisanya cuma bikin anak terus. Giliran di mintain uang, bilangnya, kurang ajar." Jawab Atikah tak kalah sewotnya.
"Ini ...," Ucap Karto sambil melemparkan beberapa lembar uang kertas seratus ribuan ke arah Atikah.
Atikah pun mengambil uang yang di lemparkan Karto, bukan tidak ingin menolak, tapi karena dia sangat membutuhkannya. Anaknya yang masih kecil masih membutuhkan susu, dan yang pertama, sering sekali minta jajan. Jadi dia terpaksa, untuk mengambil uang tersebut.
"Cepat, pergi sana! buatin aku kopi." Suruh Karto kepada Istrinya.
Atikah tidak menolak, dia pergi ke dapur membuat kopi untuk Karto. Setelah itu, dia pergi ke warung untuk membeli keperluan dapur dan susu anaknya.
"Ehh ... Bu Atikah, kok baru kelihatan sih, Bu?" Ujar tetangganya yang sama berada di warung.
Atikah merasa kesal, tetangganya ini, seringkali mencampuri urusan rumah tangganya.
"Iya, Suami saya baru pulang. Jadi baru kasih duit, daripada ke warung tapi cuma ngutang, mending diam aja di rumah." Ujar Atikah dengan ketusnya.
Tetangga yang tadi menyapa, langsung diam. Dia malu, karena ucapan Atikah itu, sengaja di tujukan kepadanya yang memang suka ngutang.
"Makanya Bu, kalau ngomong itu, mbok yo di pikir dulu." Celetuk si pemilik warung.
Setelah selesai berbelanja, Atikah pun kembali ke rumahnya. Di lihatnya Karto kini sedang duduk sembari mengotak-atik ponselnya.
"Ya Alloh ... punya Suami, kok modelan kaya begini." Keluh Atikah.
__ADS_1