
Pagi ini, Nicholas berpamitan kepada Leira untuk pergi melaporkan temuannya.
Ia berniat menyerahkan barang bukti yang kini berada di tangannya, untuk membantu tim dari pihak kepolisian melakukan penyelidikan.
"Leira, aku mau melaporkan kejadian kemarin sekaligus menyerahkan bukti ini ke kantor." Ucap Nicholas di sela-sela menikmati sarapannya bersama Leira.
"Iya, Nichol. Lebih cepat akan lebih baik ...," Balas Leira.
"Hem ... kamu jangan kemana-mana, tetap di dalam rumah saja. Terlalu berbahaya jika kamu berada di luar, meskipun aku sudah memperketat keamanan, namun itu tidak bisa di jadikan jaminan." Ucap Nicholas memperingatkan sahabatnya itu.
Leira mengangguk, "Baik, aku akan tetap di dalam rumah."
"Bagus!" Balas Nicholas seraya mengelus rambut Leira.
Gerakan Nicholas mengelus rambutnya, tak ayal membuat hati Leira menjadi berdesir.
Entah apa yang terjadi padanya, setiap kali dia berbicara atau berada di sisi Nicholas, Leira selalu merasa nyaman dan jantungnya selalu berdetak lebih kencang dari biasanya.
Apa yang terjadi dengan hatiku ini, mengapa setiap kali bersama Nicholas selalu saja merasa nyaman. Tidak, ini tidak boleh, aku sudah bertunangan dengan Alex dan Tante Jessica juga sangat baik padaku, batin Leira.
Setelah Nicholas pergi, Leira duduk di ruang tengah dan langsung membuka buku Novel koleksinya.
Membaca Novel kayanya lebih baik, daripada aku harus memikirkan tentang Nicholas. Aku tidak mau mengecewakan semua orang, apalagi Alex dan Tante Jessica. Aku tak mau mengecewakan mereka berdua, batin Leira lagi.
Beberapa waktu bersama Nicholas, memang membuat hati Leira merasa tersentuh. Apalagi perlakuan Nicholas padanya, yang selalu lembut dan perhatian membuat Leira semakin merasa nyaman saja ketika berada di sisinya.
Di tambah lagi, sikap Nicholas yang apa adanya membuat Leira semakin merasa kagum dengan sosok pria teman sekelasnya dulu itu.
...----------------...
Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, seorang pria sedang duduk menikmati minumannya.
"Alex!" Seru seorang wanita yang berada tak jauh dari tempat duduknya.
Pria itu langsung menoleh begitu namanya di panggil dan langsung terkejut begitu tahu siapa orang yang memanggilnya. "Amoora!"
Ya, pria itu adalah Alex, yang kini sedang berada di sebuah Caffe ternama di kotanya.
Dia datang ke Caffe itu, atas permintaan dari sepupunya yang berhalangan datang karena sedang sibuk mengenai masalah pekerjaan.
"Kamu lagi ngapain di sini, Lex?" Tanya Amoora yang sudah berjalan mendekat.
"Aku di suruh Mario, untuk menjemput temannya yang akan datang dari Jakarta." Sahut Alex sembari mempersilahkan Amoora untuk duduk.
"Kamu juga lagi ngapain di sini, Moora?" Ucap Alex balik bertanya.
"He-he-he ...,"
__ADS_1
Amoora malah terkekeh mendapati pertanyaan dari kenalan lamanya itu.
Alex yang bingung dengan sikap Amoora, langsung bertanya lagi kepadanya. "Kok kamu malah ketawa gitu sih, Moora? ada yang aneh dengan pertanyaanku itu?"
"Enggak ada, enggak ada yang aneh dari pertanyaan kamu, Lex. Yang aneh itu justru si Mario, udah jelas-jelas aku janjian sama dia. Ehhh ... malah nyuruh kamu sekarang yang jemput aku kesini. Aneh, 'kan? He-he!" Balas Amoora sambil terkekeh geli.
"Oalaaahh ... jadi orang yang aku mau jemput itu kamu, Moora?" Ucap Alex seraya ikut terkekeh juga.
"That's right!" Sahut Amoora yang membuat mereka tergelak bersama.
Setelah menghabiskan minumannya dan menyelesaikan pembayaran, Alex pun langsung mengajak Amoora untuk pergi menemui Mario.
Mereka langsung menaiki mobil mewah milik Alex, dan langsung meluncur cepat ke arah kantor tempat Mario bekerja.
"Nahh ... sudah sampai, ayo turun, Moora." Ucap Alex sembari membuka pintu mobilnya, tak lupa juga ia membukakan pintu untuk Amoora.
Tanpa Alex sadari, wajah Amoora memerah mendapatkan perlakuan manis seperti itu darinya.
"Terima kasih!" Ucap Amoora lembut.
Alex mengangguk dan langsung berjalan mendahului Amoora, tanpa menyadari perubahan rona wajah gadis yang bersamanya itu, yang kini semakin memerah seperti tomat.
Setelah mereka berada di lobi, karyawan yang mengenali Alex sebagai sepupu Boss di tempatnya bekerja, langsung menyapa dan menghampirinya.
"Selamat siang, Pak Alex." Sapa karyawan wanita itu ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak Alex?" Tanya si karyawan wanita tersebut seraya melirik ke arah Amoora sebentar.
Alex tersenyum, lalu bertanya kepada si karyawan tersebut. "Saya ingin bertemu dengan Pak Mario, bisa?"
"Bisa, Pak. Kebetulan beliau baru saja keluar dari ruangan Meeting, dan mungkin sekarang sedang berada di ruangannya. Apa Pak Alex, mau saya antarkan kesana?"
"Tidak perlu, Mbak. Biar saya kesana sendiri saja." Tolak Alex kepada karyawan wanita itu.
"Kalau begitu, silahkan, Pak." Ujar si karyawan seraya memberi hormat.
"Terima kasih, Mbak. Saya permisi dulu ...," Ucap Alex seraya melangkah pergi.
Setelah Alex dan Amoora menaiki lift, seorang karyawan lain, menghampiri wanita yang menyapa Alex tadi.
"Win, itu pasti tunangannya Pak Alex. Cantik ya ...," Bisik teman karyawan wanita.
"Iya cantik, kabarnya juga, tunangannya itu berasal dari Jakarta dan satu lagi, anak Wali kota di sana." Balas si karyawan wanita tadi.
"Oh, pantesan aja cantik. Orang berduit ...," Sahut si temannya lagi.
...----------------...
__ADS_1
Amoora yang berada di dalam lift, tak henti-henti mencuri pandang ke arah Alex yang berdiri di sampingnya.
"Jangan melihatku seperti itu!" Kata Alex yang mendapati Amoora sedang menatapnya diam-diam.
Amoora jadi tersipu dengan perkataan Alex, lalu menundukkan kepalanya.
"Maaf!" Ujar Amoora.
"Untuk apa minta maaf? jika kau ingin menatapku, silahkan saja ...," Ucap Alex seraya mendekatkan wajahnya ke arah Amoora.
Melihat Amoora tergugup di hadapannya, Alex jadi tertawa. "Ha-ha-ha ... kenapa gugup? memangnya aku mirip hantu, sampai-sampai kau gemetaran seperti itu."
Amoora memalingkan mukanya, dia gugup bukan karena takut. Tapi karena tidak kuat menahan debaran di jantungnya, begitu melihat wajah tampan Alex dalam jarak dekat.
TIINNGGG~
Pintu lift terbuka, membuat Amoora bisa bernafas lega. Berada di dalam satu lift yang sama dengan Alex, sungguh sangat menyiksa bagi Amoora. Dia bahkan harus menahan nafas selama berada di sana, pesona seorang Alex bak menyihir mata Amoora sehingga membuat ia tak bisa berpaling dari ingin terus menatapnya.
"Ayo, kita keluar!" Ucap Alex yang membuyarkan lamunan Amoora.
"i-iya ...," Sahut Amoora dengan gugup.
Mereka berjalan beriringan, menuju ruangan Mario.
Tok... tok... tok...
Alex mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan Direktur, tersebut.
"Masuk!" Teriak orang dari dalam.
Alex pun masuk bersama Amoora yang menyusul di belakangnya.
Mario yang sedang sibuk dengan laptopnya, langsung bertanya tanpa menoleh sama sekali ke arah mereka.
"Ada apa, Yu?" Tanya Mario tegas.
Mario mengira, jika orang yang mengetuk pintunya itu adalah sekretarisnya yang bernama Ayu untuk memberikan laporan.
"Ehem ...," Alex pura-pura batuk untuk mengalihkan perhatian Mario.
"Eh, Lex ... Sorry! Aku pikir tadi, si Ayu." Kata Mario seraya beranjak dari duduknya.
"Sok, sibuk!" Ujar Alex datar, lalu menghampiri sofa di ruangan Mario.
Mario yang sudah biasa dengan tingkah Alex yang seperti itu, hanya membiarkan saja dan langsung menoleh ke arah Amoora yang masih tegak berdiri di sana.
"Heyy ... Moor! Sorry ya, tadi aku sedikit sibuk, jadi enggak bisa jemput kamu." Ujar Mario dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, santai saja." Balas Amoora.