Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
36. Kehangatan keluarga.


__ADS_3

Niko tidak mau berkompromi lagi, Anak perempuannya ini sering mengganggu kebersamaanya dengan sang Istri. Jadi dia menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan Elena sementara dengan Istri tercintanya.


Saat


"Tidak bisa! Keputusan Papah sudah bulat, jika kamu kalah, kamu harus terima konsekuensinya!" Tegas Niko keras.


Elena menjawab pasrah. "Baik! Elena ikut tantangan dari Papah. Tapi jika Papah yang kalah, Elena juga akan menyiapkan hukuman yang lebih berat."


"Hukuman seperti apa?" Tanya Niko heran.


"Hukumannya adalah, Papah harus ngasih aku bonus belanja yang banyak. Aku, dan Mamah!" Tegas Elena yang membuat Niko menjadi bergidik.


"Curang! Kalian curang!" Niko berusaha menolak hukuman yang di berikan Putrinya.


Namun terlambat, karena Alissa kini mendukung keputusan sang Putri.


"Curang apa, Pah? Memangnya, hukuman Papah tadi juga tidak berat? Berat tahu ... Mamah sampe pusing dengarnya juga. Masa Papah saingan sama Anaknya sendiri." Protes Alissa yang berhasil membuat Niko langsung bungkam.


"Iya, iya. Papah janji bakalan nurutin kemauan kalian deh. Tapi jika Elena yang menang ya, jika tidak, kita harus tetap sportif. Mamah juga jangan mendukung sebelah pihak dong, dukung juga Papah." Kini Niko yang mengajukan protesnya kepada Alissa.


Alissa bimbang, dia tidak ingin menyakiti hati Putrinya jika dia mendukung sang Suami. Tapi jika tidak, jatah bulanannya akan terancam di potong, oleh Niko.


"Mamah netral aja, yang penting salah satu dari kalian harus menang." Ujar Alissa yang berusaha menyelamatkan diri dengan tidak mendukung salah satu dari dua orang tercintanya.


"Setuju!" Kata Niko dan Elena serempak.


Di jam makan malam...


Tok... tok...


"Kak Leira ...," Panggil Elena dari luar kamar.


Ceklekk~


Pintu kamar terbuka, dan Leira keluar dengan wajah yang terlihat segar.


"Kakak di tunggu oleh Mamah dan Papah di ruang makan. Dan Kak Nicholas juga ...," Ucap Elena sembari senyum-senyum simpul.


"Baik." Jawab Leira singkat sembari membalas senyum Elena.


Mereka berdua 'pun pergi ke ruang makan bersama-sama.

__ADS_1


Melihat kemunculan Leira, kedua orangtua Nicholas tampak bahagia.


Meskipun tampil dengan sederhana, Leira tetap terlihat cantik dan mempesona.


Gadis ini, meskipun berasal dari keluarga terhormat, tapi penampilannya sangat bersahaja. Memang cocok dengan Putraku yang suka apa adanya, batin Alissa.


Leira, cocok buat Nicholas. Orangnya lembut, ramah, dan tidak glamor seperti gadis orang kaya pada umumnya, batin Niko.


Kedua orangtua Nicholas sangat mengagumi sosok Leira yang cantik dan apa adanya.


Bahkan Nicholas sendiri 'pun saat ini sampai tidak berkedip, memandang Leira yang tampak anggun dengan baju rumahan yang di kenakannya.


Dress warna milo dengan panjang 7/8 dan corak bunga-bunga kecil, menjadi pilihan Leira saat ini.


Leira lebih suka pakaian yang berbau-bau vintage gitu. Cocok sekali dengan wajah dan kepribadian dirinya yang lembut dan girly.


"Ehem, ehem." Niko pura-pura batuk untuk menyadarkan Putranya dari lamunan.


Nicholas garuk-garuk kepala untuk mengusir kecanggungan. Dia merasa malu karena telah ketahuan menatap Leira dengan sangat lama.


"Ayo Nak Leira, sini duduk di dekat Tante." Ajak Alissa sambil menepuk kursi di sebelahnya.


Elena ingin protes karena kursi itu adalah tempatnya biasa makan, namun Alissa langsung memelototinya, dan memintanya duduk di sebelah Nicholas.


"Sama-sama, Sayang." Balas Alissa lembut.


Leira seperti kembali merasakan kehangatan keluarga yang sangat dia rindukan.


Dia merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga Nicholas.


"Sekarang, kamu makan yang banyak ya. Tante sudah masak banyak untuk kamu hari ini, Sayang." Kata Alissa sembari menyendok nasi untuk Leira.


"Tante, biar Ara saja." Tolak Leira.


Dia merasa malu karena telah merepotkan si yang empunya rumah.


"Tidak apa-apa, Nak. Biar kamu kerasan tinggal di sini." Timpal Niko di seberang meja.


"Baiklah kalau begitu, Om. Maaf kalau Leira jadi merepotkan." Balas Leira yang tampak sungkan.


Elena tak mau kalah dari sang Ayah, dia buru-buru berbicara dengan nada sopan.

__ADS_1


"Kak Leira tidak perlu sungkan. Kami senang Kakak tinggal di sini, aku bahkan orang yang paling senang dan bersemangat jika Kak Leira kerasan tinggal lebih lama lagi." Ucap Elena mengeluarkan jurus mautnya.


Niko ingin menimpali ucapan Putrinya, tapi di minta untuk diam oleh sang Istri.


"Sudah, sudah, jangan berebut begitu berbicara dengan Leira. Ayo cepat makan, nanti keburu dingin makanannya." Ujar Alissa yang mampu membuat kedua orang yang sedang berlomba jadi diam.


Mereka semua akhirnya makan dengan penuh khidmat. Tak terkecuali Leira, selain bisa menikmati makanan lezat, Leira juga bersyukur bisa bertemu dengan keluarga Nicholas yang super humble, dan juga ramah tersebut.


Selesai makan, Leira membantu Alissa untuk membereskan meja. Karena di rumah Alissa, tidak di perbolehkan pembantu yang mengurus masalah itu.


Mereka merekrut pembantu hanya untuk mencuci, dan beres-beres rumah saja. Selebihnya, di lakukan oleh Alissa sendiri. Dari memasak, menyetrika baju keluarga, serta merapikan kamar. Alissa yang melakukan semuanya. Dia beralasan, dengan mengerjakan itu semua, statusnya sebagai seorang Istri akan semakin berasa. Dan tak mau menyerahkan semua tanggung jawab itu kepada pembantu. Pembantu tugasnya hanya membantu, bukan menanggung semua pekerjaan.


"Kamu rencana mau kemana saja selama di Surabaya, Leira?" Tanya Alissa di sela-sela kegiatannya mencuci piring.


"Leira belum tahu, Tante." Jawab Leira bingung.


Dari awal dia memang hanya ingin pergi ke rumah Alex, setelah itu Leira akan balik lagi ke Jakarta.


"Bagaimana kalau kita berdua ajak Kak Leira keliling Surabaya?" Saran Elena.


"Wahh, ide bagus. Bagaimana, Leira? Mau ikut kita berdua?" Ajak Alissa.


Leira bimbang, antara mau atau enggaknya ikut ajakan Ibunya Nicholas.


"Sudah, Kak Leira ikut saja." Kata Elena yang melihat Leira tampak ragu.


"Tapi ...," Leira ingin menolak tapi Alissa sudah memotong ucapannya.


"Tidak ada tapi-tapi, kami berdua ingin kamu ikut. Biar liburan kamu di Surabaya ini menyenangkan. Benarkan, Elena?"


"Betul! Ucapan Mamahku itu betul, Kak! Kamu pokoknya harus ikut kita, titik!" Tegas Elena.


Tak di sangka, Niko juga mendengar rencana mereka dan langsung ikut nimbrung dalam percakapan tiga perempuan ini.


"Papah juga akan ikut!" Ucap Niko sembari mengangkat sebelah tangan.


"Kalau Papah ikut, berarti Kak Nicholas juga harus di ajak dong." Timpal Elena dengan mengedipkan sebelah mata kepada sang Ibu.


"Iya, ajak Nicholas juga, Pah." Kata Alissa yang melihat isyarat dari Putrinya.


Niko mengangguk, ide ini tidak buruk juga. Jadi dia buru-buru mengangguk menyetujui saran kedua wanita tercintanya.

__ADS_1


"Baik, nanti Papah tanya dulu orangnya."


"Deal! Kita berangkat liburan besok pagi ya, Pah." Ucap Elena setengah memaksa.


__ADS_2