
Mata mereka berdua saling beradu pandang di udara. Tatapan Nicholas sangatlah dalam, sehingga membuat hati Leira menjadi tidak karuan.
"Beruntung sekali ya, laki-laki yang mendapatkan cinta kamu, Ra." ucap Nicholas dengan suara yang bergetar menahan rasa sakit di hatinya.
"Bukan hanya dia, aku juga beruntung." jawab Leira yang membuat hati Nicholas semakin sakit.
Tega sekali kamu, Ra. Padahal aku sudah berharap untuk bisa mendapatkan cintamu, batin Nicholas.
Nicholas kenapa? Sepertinya, dia sedih dengan pesta pertunangan ini, batin Leira.
"Kak Leira, di panggil Tante Mila tuh. Katanya, di suruh cobain gaun pesta." Elena datang memecah kecanggungan di antara keduanya.
"Nichol, aku tinggal dulu sebentar." ucap Leira yang tiba-tiba menjadi gugup.
Nicholas hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala. Dirinya terlalu malas, untuk hanya sekedar membuka mulut mengiyakan ucapan Leira.
"Kenapa, Kak? Kok, sedih?" tanya Elena keheranan melihat Nicholas bermuram durja.
"Leira, sebentar lagi akan tunangan, Len." jawab Nicholas dengan raut muka di tekuk.
"Iya, tiga hari lagi." ujar Elena polos.
Elena masih belum mengetahui tentang kesedihan yang Nicholas rasakan saat ini.
"Itu artinya, harapan Kakak nikah sama Leira musnah sudah." ucap Nicholas sambil meremas rambutnya.
Bukannya merasa bersimpati, Elena malah tertawa tergelak mendengar ucapan Nicholas.
"Len, tolong, jangan buat Kakak marah!" protes Nicholas saat suara tawa Elena semakin keras.
"Aduh, perut aku sakit. Ha-ha-ha!" ucap Elena sambil memegangi bagian perutnya yang terasa kram karena terus tertawa tanpa henti.
"Stop, Len! Jangan becanda!" Nicholas mulai emosi karena Elena tak berhenti menertawakannya.
Elena menutup mulut agar suara tawanya tidak keluar lagi, dan semakin membuat Nicholas menjadi murka karenanya.
"Maafkan aku, Kak! Tapi ini sungguh lucu sekali!" jawab Elena yang masih memegangi perut dengan sebelah tangannya.
"Ckk, kamu pasti sedang menertawakan kesialan Kakak, iya 'kan?" ucap Nicholas sambil mendelik ke arah sang Adik.
Bukannya berhenti, Elena malah semakin menjadi-jadi tertawanya karena melihat ekspresi Nicholas yang menurutnya semakin lucu.
Nicholas menggeram marah saking kesalnya dengan kelakuan Elena yang tidak memedulikan perasaannya saat ini.
Nicholas bangkit, dan berniat untuk pergi meninggalkan Elena di sana sendirian.
"Kakak, tunggu dulu!" panggil Elena sambil menarik tangan Nicholas.
__ADS_1
"Apa? Masih belum puas, tertawanya?" ucap Nicholas dengan nada tinggi.
"Dengarkan aku dulu, Kak! Jangan pergi!"
Dengan terpaksa, Nicholas 'pun menuruti perkataan Elena. Dia duduk kembali di tempatnya semula.
"Buka!" Elena menyodorkan sebuah kartu undangan, yang tanpa di buka 'pun Nicholas langsung tahu, jika itu adalah kartu undangan pertunangan Leira.
"Tidak mau!" Nicholas menepis tangan Elena ke samping.
"Jika Kakak tidak menuruti perkataanku, aku jamin, Kakak pasti akan menyesal." ancam Elena yang langsung membuat Nicholas mengambil paksa kartu undangan darinya.
Bukan untuk di baca, melainkan hanya di simpan saja di atas meja.
"Ayo, buka!" ucap Elena memaksa.
Tangan Nicholas bergetar meraih kembali kartu undangan yang sempat dia simpan.
Jujur saja, hati Nicholas masih belum merasa siap untuk mengetahui isi yang tertulis di dala kartu undangan tersebut.
Bip! Bip! Bip!
Belum sempat dia membuka undangan, ponselnya sudah bergetar tanda ada panggilan masuk.
"Iya, Sersan. Ada apa?" tanya Nicholas kepada anak buahnya di seberang telepon.
Nicholas merasa bingung dengan ucapan sang anak buah. Oleh karena itu, Nicholas memberanikan untuk bertanya lagi kepada Sersan Agus.
Setelah obrolan via sambungan telepon seluler terputus, Nicholas kembali fokus kepada kartu undangan di tangannya.
Dengan perlahan, dan juga tangan yang semakin gemetar Nicholas membuka plastik pembungkus kartu undangan.
Tangan Nicholas semakin gemetar ketika dia selesai membaca tulisan di atas kertas undangan tersebut.
Nicholas Mahendra? bukankah itu namaku? Dan Leira, ternyata dia akan melangsungkan pertunangan denganku tiga hari lagi? batin Nicholas.
Entah apa yang Nicholas rasakan sekarang, sedih? bahagia? ataupun terharu? Nicholas tidak bisa mengungkapkan semua perasaannya.
"Bagaimana? Apa Kakak jadi pergi, sekarang?" ejek Elena kepada Nicholas yang saat ini masih tertegun sambil memegang kartu undangan pertunangannya sendiri.
"Kalian sedang apa? Kok, pada bengong seperti itu?" tanya Leira yang sudah kembali dari mencoba gaun pestanya.
Nicholas menyembunyikan kartu undangan di belakang tubuhnya. Dia terlalu malu jika harus ketahuan oleh Leira.
"Tidak apa-apa, Ra! Kami hanya sedang berbincang biasa saja, iya 'kan?" ucap Nicholas sambil menarik paksa tubuh Elena agar berada di sampingnya.
__ADS_1
"Aww!" Elena berteriak kesakitan karena Nicholas mencubit pinggangnya dengan keras.
"Kamu kenapa, Len?" tanya Leira keheranan.
"Eh, aku ...,"
"Elena mah lebay, Ra! Dia suka akting berlebihan!" ucap Nicholas sambil tangannya kembali menempel di pinggang Elena.
Mau tak mau, Elena mengiyakan ucapan Nicholas karena tak ingin pinggangnya mendapatkan lagi cubitan keras dari sang Kakak.
"Kak Nichol yang ngajari aku akting, Kak!" ucap Elena ketus sambil mendelik ke arah Nicholas.
"Akting? Sejak kapan, kamu jadi suka belajar akting, Len?" tanya Leira semakin heran.
Seingat Leira, Elena memang menyukai berbagai jenis film. Tapi untuk akting, Leira belum pernah mendengar Elena menyinggung tentang hal tersebut.
Baru kali ini saja, itupun sangat mengejutkan.
"Ah, aku lupa! Mamah tadi menyuruhku menemani Tante Mila belanja buah ke mini market seberang rumah." ucap Elena sambil menghempaskan tangan Nicholas yang masih menempel di pinggangnya.
"Elena, kenapa ya? Aneh sekali!" ucap Leira perlahan sambil berjalan mendekat ke arah Nicholas.
Di dekati oleh wanita yang paling di cintainya, membuat Nicholas menjadi salah tingkah.
"Bagaimana gaunnya, Ra? Apa muat?" tanya Nicholas berusaha mengusir kecanggungan di antara mereka.
Leira mengangguk, lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Nicholas.
"Leira ...," panggil Nicholas dengan pelan.
"Kenapa? Masih ingin marah, dengan masalah yang tadi?" ucap Leira dengan senyuman lembut yang menghiasi wajahnya.
"Bukan, bukan itu." Nicholas menjadi panik seketika.
"Lalu?!"
"Aku ... ingin minta maaf!" ucap Nicholas yang sontak membuat Leira tertegun heran.
"Minta maaf untuk apa? Kau 'kan tidak pernah berbuat kesalahan padaku!"
Nicholas ingin sekali mencubit pipi Leira karena terlihat begitu menggemaskan. Namun dia tahan, karena sekarang belum waktunya untuk Nicholas melakukan hal yang di luar batas.
Nanti, jika mereka sudah resmi menikah. Barulah Nicholas akan melakukannya. Bahkan, bisa lebih dari hanya mencubit pipi saja, pikir Nicholas.
"Aku minta maaf, karena sudah salam paham kepadamu, Ra. Aku pikir, kamu akan bertunangan dengan orang lain. Ternyata ...,"
Nicholas tidak meneruskan ucapannya. Dia terlalu malu untuk mengatakan semua hal tersebut, di hadapannya Leira.
__ADS_1