Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
40. Aku suka sama kamu, Leira!


__ADS_3

"Kamu kenapa?" Tanya Leira yang heran.


Nicholas mendengus lalu menceritakan tentang ulah Adiknya yang menyebutkan jika Leira hilang.


Bukannya marah, Leira malah tertawa di hadapan Nicholas.


"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" Tanya Nicholas dengan kesal.


"Ada!" Jawab Leira singkat.


"Apa? Apa yang lucu?" Ucap Nicholas jengkel.


Leira menutup mulutnya untuk menahan tawa, lalu berbisik kepada Nicholas.


"Kamu!"


Nicholas cemberut, dia sedang marah kepada Elena karena telah membohongi dirinya. Leira juga, bukannya menghibur dia malah kaya sengaja menggodanya. Dasar!


"Jangan cemberut gitu, jelek tahu!" Goda Leira lagi.


Nicholas jadi senyum-senyum simpul ketika mendengar perkataan Leira. Namun dia tetap berpura-pura marah, agar Leira tetap mau menggodanya.


"Terus biar gak jelek, aku harus apa?" Tanya Nicholas masih terlihat kesal.


"Senyum dong! Kamu itu keren, kalau lagi tersenyum!" Ucap Leira yang sontak membuat Nicholas jadi merasa senang.


"Keren aja?" Tanya Nicholas manja.


"Enggak, masih banyak lagi. Tapi keren salah satunya." Jawab Leira jujur.


Nicholas memalingkan mukanya ke arah berlawanan, dia merasa malu di puji habis-habisan seperti itu oleh Leira.


"Kak Leira, Kak Nichol!" Panggil Elena yang datang menyusul bersama Niko, dan Alissa.


Nichol memasang wajah masam, ketika Elena berjalan ke arah mereka.


"Kak Nichol, kalian ada di sini?" Tanya Elena tanpa merasa berdosa sama sekali.


"Jangan basa-basi, udah ngaku aja!" Cibir Nicholas.


Elena pura-pura tidak mengerti dengan cibiran Nicholas padanya.


"Basa-basi apa? Ngaku apa?" Tanya Elena.


"Pura-pura aja teruuuuusss ...," Sindir Nicholas kesal.


Leira terkekeh melihat tingkah kakak beradik ini, setiap bertemu, mereka berdua pasti bakal cek-cok.


Elena merengek kepada kedua orangtuanya atas sikap yang di berikan Nicholas.

__ADS_1


"Pah, Mah, lihat tuh Kak Nicholas. Masa aku di bilang pura-pura, memangnya aku ini tampak orang yang seperti itu?"


"Menurut Papah sih, iya!" Jawab Niko yang sontak membuat Alissa melotot padanya.


"Pah!" Protes Alissa dan Elena bersamaan.


Leira menutup mulut untuk menahan tawanya, agar tak sampai terdengar keluar.


Dia merasa lucu, dengan tingkah laku keluarganya Nicholas. Niko sebagai kepala keluarga, tampak hangat dan juga humoris. Alissa sebagai Ibu rumah tangga, tampak sabar dan penyayang. Nicholas sebagai anak pertama, tampak dingin tetapi juga manja. Sedangkan si bontot Elena, tampak kalem padahal aslinya sangat jahil, dan juga manja sama seperti Nicholas.


Nicholas meraih tangan Leira, lalu menariknya untuk berjalan meninggalkan kedua orangtuanya, dan juga Elena yang masih sibuk dengan argumen mereka masing-masing.


"Mau kemana kita, Nichol?"" Tanya Leira heran.


"Kemana saja!" Jawab Nicholas datar.


Ketiga orang yang masih ribut, langsung terdiam begitu melihat Nicholas membawa Leira.


"Pah, rencana kita berhasil!" Ucap Alissa girang.


"Bukan rencana kita, tapi rencana Papah!" Kata Niko dengan bangga.


"Enak saja! Ini semua rencananya, Elena!" Ujar Elena tak mau kalah.


"Papah!"


"Mamah!


Ketiga orang berbeda usia itu kembali ribut, memperebutkan sesuatu yang mereka klaim sebagai jasa dari perjuangan mereka sendiri.


Di suatu tempat...


"Nichol, apa tidak sebaiknya kita gabung aja sama keluarga kamu?" Tanya Leira.


Nicholas menggeleng, dan langsung menolak ajakan dari Leira.


"Enggak, merepotkan!" Tolak Nicholas.


"Merepotkan bagaimana?" Tanya Leira heran.


Nicholas berjalan mendahului Leira, lalu berhenti di bawah sebuah pohon yang berdaun rindang.


"Mereka tuh cuma mau ngerecokin kita aja ...," Ucap Nicholas sembari menyandarkan punggungnya di pohon tersebut.


Leira berjalan menghampiri Nicholas.


"Kamu tuh harusnya seneng, masih punya keluarga yang perhatian sama kamu. Kalau aku, kamu tahu sendiri. Aku itu sebatang kara!" Ucap Leira sembari menghela nafas panjang.


Terpancar kesedihan di mata Leira yang sedikit berembun sekarang. Namun Leira tak sampai mengeluarkan airmata, dia tetap tegar menghadapi masa depan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ra!" Ucap Nicholas yang merasa bersalah.


"Maaf untuk apa?" Ucap Leira.


"Maaf karena sudah membuat kamu sedih seperti ini ...," Lanjut Nicholas.


Leira tersenyum pahit, bukan karena Nicholas dia menjadi begini. Tapi karena takdirnya, yang mengharuskan dia hidup dalam kesendirian.


"Keadaan Om Dante dan Om Yatno di penjara sekarang, bagaimana?" Tanya Leira yang teringat kepada dua orang menyebabkan dirinya menjadi seperti ini.


"Mereka sudah di vonis bersalah sekarang, Ra. Kenapa? Kamu mau bertemu dengan mereka?" Tanya Nicholas sembari menoleh ke arah Leira.


"Iya, aku ingin tahu lebih jelas alasan mereka membunuh keluargaku." Jawab Leira tenang.


"Yakin kamu cuma mau tahu masalah itu aja?"


Leira mengangguk, beberapa hari ini tidur Leira selalu terganggu karena selalu bermimpi buruk.


Dan di mimpi itu, Leira sering melihat bayangan Ibunya sedang berbicara bersama Yatno.


Sepertinya, hubungan antara Ibunya dan Yatno cukup baik.


Namun yang Leira tidak habis pikir, kenapa Yatno sampai tega membunuh Ibunya.


Apa dia punya dendam pribadi, atau cuma gara-gara masalah penggelapan dana saja.


"Baik, kita akan pulang ke Jakarta secepatnya!" Kata Nicholas sembari mengulurkan tangan kepada Leira.


Leira menyambut tangan Nicholas, namun dia bingung, untuk apa Nicholas mengulurkan tangan padanya.


"Ra, aku mau bicara jujur ...," Ucap Nicholas lembut.


Leira menoleh, lalu mengangguk kepada Nicholas.


"Sebenarnya, aku suka sama kamu Leira!"


Deg...


Leira mematung, ucapan Nicholas membuatnya tak bisa bergerak. Jangankan bergerak, bernafas saja Leira terasa sesak.


"Ka-kamu jangan becanda, Nichol!" Ucap Leira terbata-bata.


"Aku serius, Ra! Sebenarnya, sejak di sekolah dulu, aku sudah suka. Namun aku pikir, itu hanya perasaan aku sebagai anak kecil saja. Tak di sangka, setelah aku pindah kesini, pikiran aku selalu tertuju sama kamu. Sering aku cari tahu tentang kabar, dan tempat tinggalmu yang baru, namun aku selalu gagal. Semua orang yang aku tanyai bilang, jika kamu sudah lose kontak sama mereka. Aku bahkan sudah keliling Jakarta, tapi tetap tak ada informasi apapun tentangmu. Hingga akhirnya aku di tugaskan di sana, barulah aku bisa bertemu denganmu lagi. Aku bahagia, ketika melihat wajahmu untuk pertama kali. Namun ketika dengar kamu sudah bertunangan, aku berusaha mengubur rasa suka itu untuk kebahagiaanmu. Tapi sekarang, aku sudah tidak sanggup lagi, Ra. Aku ingin kamu tahu, kalau aku ini selalu mendambakan bisa hidup bersama denganmu. Aku tahu, aku tidak pantas untukmu. Tapi aku janji, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi, dan menjadikanmu satu-satunya wanita yang ada di dalam hatiku. Apa kau mau, Leira?" Nicholas mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Leira saat ini.


Masalah Leira mau menerima atau tidak, Nicholas tidak memedulikannya.


Yang penting Nicholas sudah mengungkapkan. Dan sekarang, Nicholas menyerahkan semua keputusan kepada Leira seorang.


"Nichol, aku ...," Ucap Leira ragu-ragu.

__ADS_1


"Kamu boleh menolakku, jika kamu memang tidak menyukaiku, Ra." Balas Nicholas ikhlas.


__ADS_2