
Di kediaman Mahendra, kini Alissa sedang bersiap mengajak Mila dan juga Leira untuk pergi berbelanja ke sebuah butik langganannya di daerah Surabaya.
Tak hanya mereka berdua, Elena dan juga Bi Nenah juga turut serta memeriahkan rencana belanja mereka. Hari ini, adalah hari terakhir Leira dan juga Mila berada di Surabaya. Jadi Alissa secara khusus mengajak mereka semua untuk membeli baju dengan warga senada untuk di kenakan di acara perpisahan nanti malam.
Rencananya, mereka semua akan pergi ke restoran mahal untuk mengabadikan momen kebersamaan.
"Ayo, Sayang!" ajak Alissa sambil menggandeng lengan Leira.
Mila juga melakukan hal yang sama, dia juga menggandeng lengan Elena yang berjalan berdampingan dengannya.
Sedangkan Bi Nenah, di paksa turun juga dia tidak mau. Dia bersikeras ingin menunggu di mobil saja, menikmati semangkok bakso malang yang di jual pedagang keliling yang tak sengaja lewat setelah mobil mereka tak lama sampai di sana.
"Waw!" decak Mila merasa kagum dengan semua pakaian yang berada di butik tersebut.
"Bagaimana? Bagus-bagus 'kan, modelnya?" tanya Alissa sambil memamerkan beberapa koleksi pakaian kepada Mila.
"Iya, Mbak. Modelnya cantik-cantik!" ucap Mila sambil meraih salah satu pakaian dari tangan Alissa.
Elena tak kalah kalapnya dengan sang Ibu, dia kini sedang asik memilah-milah pakaian yang modelnya sangat cocok untuk dirinya.
"Ini tuh, butik langganannya Mamah sejak dulu. Aku juga sering banget Mamah beliin baju di sini, Kak. Bajunya lucu-lucu, aku suka!" ucap Elena dengan girang saat dia melihat salah satu atasan yang menarik perhatiannya.
"Mamah memang pintar cara memilih butik yang bagus." puji Leira dengan mata yang berbinar.
Tak hanya bagus, pakaian yang di jual di sana juga terbilang sopan menurut Leira, dan sangat cocok dengan kesukaannya. Tidak terlalu terbuka, tapi tetap terkesan elegan.
Cantik bukan hanya dengan pakaian yang mengumbar aurat saja 'kan?
Ada beberapa orang yang masih mengenakan pakaian sopan, tapi tetap terpancar auranya.
Dan ada juga beberapa orang yang menegakan pakaian terbuka, tapi terkesan urakan.
Itulah kenapa Leira lebih menyukai pakaian yang modelnya simple, tapi masih bisa dia anggap modis.
__ADS_1
"Aduh!" rintih Elena.
"Ma-maaf, Mbak!"
"Maaf-maaf, memangnya kamu gak lihat ya, kalau ada orang yang sedang berdiri di sini dari tadi!" ucap Elena saat salah satu orang pria menabraknya hingga terdorong beberapa langkah.
"Maaf, saya benar-benar tidak sengaja, Mbak." ucap si pria dengan penuh kesopanan.
"Huh, enak saja bilang maaf. Sakit tau!" ucap Elena dengan ketus.
Si pria yang tadi tidak sengaja menabrak Elena menjadi serba salah.
Padahal dia sudah meminta maaf sampai dua kali, tapi tetap saja, ucapannya tidak di gubris dan malah semakin terlihat kesal kepadanya.
Cantik-cantik galak! batin si pria.
"Len, sudah! Mas-nya juga sudah minta maaf, kok." Leira berusaha menenangkan Elena yang tampak berapi-api.
Akan sangat tidak baik jika Elena menuruti kemarahannya di tempat umum.
"Hey, ada apa ini, Sayang?" tanya Tante si pemilik butik yang kebetulan adalah teman arisannya Alissa.
"Ini Tante, aku di tabrak orang kasar!" ketus Elena.
Si pemilik butik melirik orang yang di tunjuk oleh Elena. Bukannya marah, si pemilik butik justru tertawa saat melihat pria tersebut.
"Oalah! Ini Putranya Tante, Sayang. Namanya Mario, dan Mario, ini Elena Putrinya Tante Alissa." tutur si pemilik butik yang malah mengenalkan mereka berdua satu sama lain.
"Jangan galak-galak, Len. Nanti kalo jodoh, bagaimana?" bisik Leira yang membuat Elena mengerucutkan bibirnya.
"Amit-amit!" rutuknya dalam hati.
Mendengar ada keributan, dan ketika yang membuat keributan tersebut adalah Putrinya, Elena. Alissa langsung mengajak Mila untuk segera merapat kesana.
__ADS_1
"Ada apa ini, Jeng Dian?" tanya Alissa kepada si pemilik butik.
"Ini loh, Mario. Dia tidak sengaja menabrak Putrinya Jeng Lissa. Maaf, Ya!" ujar Dian si pemilik butik dengan logat jawanya yang khas.
"Ya sudah, namanya juga tidak sengaja, Jeng. tidak perlu minta maaf juga, sudah pasti di maafkan. Bukan begitu, Len?" ucap Alissa sambil melirik ke arah Putrinya yang sedang bersungut-sungut.
Alissa tidak berusaha melarang, dia juga tidak menanggapi ucapan Putrinya yang seketika menjadi gadis yang pemarah.
Hal itu biasa di lakukan oleh Elena juka dia merasa tersinggung dengan ucapan, atau tindakan orang lain. Dia tidak akan pernah bisa diam, sebelum kemarahannya mereda.
"Ngomong-ngomong, Putranya Jeng Dian sudah besar, ya. Ganteng!" puji Alissa sambil melirik ke arah Mario yang tampak gagak dengan stelan kemeja putihnya.
"Jeng Lissa bisa aja, ah." balas Dian tersipu.
Di dalam hatinya, dia juga memuji sosok Elena yang tampil cantik dengan pakaian yang modis dan juga tetap sopan terlihat di matanya.
"Aku gak bohong, Jeng. Putramu memang ganteng, mirip oppa korea." celetuk Alissa yang membuat Mario menjadi tersipu.
"Oppa korea dari mana? Jauh!" cibir Elena dengan keras hingga terdengar oleh semua orang termasuk Mario yang kini seperti menatap Elena dengan tatapan permusuhan.
Elena membalas tatapan dari Mario yang tertuju ke arahnya dengan tatapan yang tak kalah sengit.
Dalam hati, Elena merutuki semua perbuatan Mario yang telah menabraknya. Mau itu di sengaja ataupun tidak, Elena tetap tidak akan memaafkan Mario yang sudah membuatnya terdorong dengan keras.
Untuk saja dia tidak sampai terjerembab, jika itu sampai terjadi, Elena pasti akan membalas Mario dengan berkali-kali lipat.
Sadar orang yang di tabraknya masih menyimpan kemarahan, Mario akhirnya menundukkan kepala agar tak bertemu pandang dengan tatapannya Elena.
Bukan tidak berani, Mario hanya tidak ingin meladeni seorang perempuan. Dia tidak mau di anggap cemen karena telah tega bermusuhan dan mencari gara-gara kepada seorang gadis seperti Elena.
"Oh iya, Jeng. Saya hampir lupa! Ini perkenalkan, calon besan saya, Jeng Mila. Dan ini, calon menantu saya, Leira Raharja. Sebentar lagi, Putra pertama saya akan menikah, jadi secara khusus saya mengundang Jeng Dian dan juga Mario ke pesta pernikahannya nanti. Jangan lupa datang ya, Jeng Dian!" tutur Alissa dengan sopan kepada Dian si pemilik butik dan Putranya.
Ketika mendengar nama Leira Raharja, Mario seperti teringat dengan sosok Alex yang kini sudah tak di temuinya lagi karena merasa kecewa telah merebut Amoora darinya.
__ADS_1
Nama gadis ini sama persis dengan calon tunangan Alex dari Jakarta. Apa jangan-jangan, mereka adalah orang yang sama? Berarti sekarang, Alex sudah resmi menjadi kekasih Amoora? pikir Mario.