Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
52. Pergi ke penjara.


__ADS_3

"Nicholas menyukai Leira sejak masih di bangku 'SD' dulu, Mbak!" ucap Alissa setengah berbisik takut suaranya terdengar oleh orang-orang.


Mila merasa terkejut setelah mendengar penuturan Alissa tentang cinta pertama sang Putra.


"Maaf, Mbak! Tapi menurut saya, rasa sukanya Nicholas, mungkin tidak seperti yang Mbak bayangkan." Mila berusaha meyakinkan dirinya agar tak terlalu percaya dengan kisah cinta masa kecil.


Buktinya, Alex! Dia bilang menyukai Leira sejak masih kecil. Tapi akhirnya, dia sendiri yang mengkhianati cintanya.


"Mbak salah, Nicholas benar-benar menyukai Leira!" ucap Alissa penuh keyakinan, sambil tangannya mengetuk layar ponsel dan menunjukkan sesuatu kepada Mila.


"Apa-apaan ini?" ucap Mila tampak kebingungan ketika melihat beberapa gambar yang ada di layar ponselnya Alissa.


"Saya tahu, apa yang di lakukan Nicholas ini sebuah kesalahan, Mbak! Dia tidak sepantasnya mengambil gambar seorang gadis, tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Tapi ...,"


"Tapi apa?" tanya Mila penasaran karena Alissa tidak meneruskan ucapannya.


"Tapi Putraku masih kecil waktu itu, dan dia belum berani mengutarakan perasaannya kepada keponakannya, Mbak. Hanya dengan cara itulah, Nicholas mengekspresikan perasaan sukanya. Bahkan ketika kami memutuskan untuk pindah rumah, Nicholas sangat terpukul sekali karena harus tinggal terpisah dengan gadis pujaan hatinya." tutur Alisa dengan wajah di tekuk.


Mila masih mendengarkan cerita Alissa dengan raut wajah kebingungan.


Gambar yang Mila lihat di ponselnya Alissa, itu adalah dekorasi kamar Nicholas yang di penuhi foto-foto kebersamaan dia dan Leira waktu di bangku sekolah dasar.


Sekilas tidak ada yang salah dengan foto-foto tersebut. Namun bagi Mila, jelas dia bisa melihat semuanya.


Anak sekecil Nicholas menatap penuh cinta kepada keponakan semata wayangnya.


"Jika Putra Mbak memang menyukai Leira, kenapa dia tidak mengatakannya sekarang saja? Mereka sudah sama-sama dewasa, dan Nicholas juga sangat dekat dengan Leira." ujar Mila yang di balas gelengan kepala oleh Alissa.


"Itu masalahnya, Mbak! Leira hanya menganggap Putra saya, hanya sebatas sahabat saja!" ucap Alissa lagi-lagi terlihat murung.


Mila menarik nafas panjang ketika mendengar tentang masalah itu.


Sebenarnya, dia sudah bisa menebak jika Leira akan melakukan hal itu.


Tapi dari tatapan, dan perlakuan Leira, jelas terlihat kalau dia juga menyukai Nicholas.


Mungkin, keponakannya itu belum menyadari perasaannya sendiri. Atau mungkin juga, Leira masih trauma paska di khianati oleh Alex.


"Jika memang Putranya Mbak Alissa mencintai keponakan saya dengan sungguh-sungguh, tolong bersabar, dan jangan berhenti berjuang untuk mendapatkan cintanya Leira." ucap Mila pasrah.


Alissa juga merasa setuju mendengar perkataan Mila. Putranya hanya perlu bersabar sebentar lagi, dan terus berusaha. Mungkin, jika Nicholas beruntung, dia akan mendapatkan cintanya Leira nanti.

__ADS_1


Di tempat duduknya, Leira baru memulai percakapannya dengan Nicholas.


"Kapan kita akan menemui Om Dante, dan Om Yatno di penjara?" tanya Leira perlahan.


"Mungkin, besok pagi." jawab Nicholas sambil memasukkan camilan ke mulutnya.


Leira menerima toples kuaci yang di sodorkan oleh Elena, lalu kembali berbicara kepada Nicholas.


"Aku akan bersiap-siap lebih awal besok." ujar Leira sambil mengupas kulit kuaci.


Keesokan harinya...


"Sudah siap?" tanya Nicholas saat melihat Leira berjalan menghampirinya.


"Sudah!" jawab Leira singkat.


Saat mereka berdua berjalan keluar. Mereka berpapasan dengan Mila dan Alissa yang baru selesai berolahraga bersama.


"Kalian mau kemana?" tanya Mila heran.


"Jangan di tanya, Mbak. Mungkin mereka mau kencan, ya 'kan?" goda Alissa sambil mengedip-ngedipkan mata membuat Leira tersipu malu, dan wajahnya seketika memerah.


"Bukan, Mah! Kita berdua mau pergi ke penjara!" jawab Nicholas dengan sopan.


Mereka merasa heran dengan tujuan dua muda-mudi ini. Biasanya, kalau orang mau keluar nyari udara segar itu ke pantai, cafe, danau, atau nonton. Ini malah mau pergi ke penjara. Emang di sana, ada apa? pikir mereka.


"Iya, Tante! kami berdua mau menemui Om Dante!" jawab Leira yang menyadari kebingungan dua perempuan yang sangat di hormatinya tersebut.


Seketika, raut wajah Mila berubah begitu mendengar nama Dante di sebut Leira.


"Buat apa kamu bertemu lagi dengan orang jahat itu, Ra? Memangnya, dia bisa bikin orang tua kamu hidup lagi?" ucap Mila penuh dengan rasa amarah yang membuncah di dalam dadanya.


"Sabar, Mbak!" Alissa mengelus punggung Mila dengan lembut untuk menenangkannya.


"Bukan itu maksud Ara, Tante!" Leira tampak terpukul dengan kemarahan Mila.


"Tante, kita kesana untuk kepentingan penyelidikan. Jadi Tante Mila, jangan salah paham dulu kepada Leira, ya." Nicholas berusaha menutupi niat awal mereka pergi ke penjara dengan alasan masalah pekerjaan agar Mila tak menaruh berprasangka buruk kepada mereka.


"Maafkan Tante ya, Ra! Tante terlalu emosi tadi ...," ucap Mila sambil memeluk Leira yang saat ini memeluknya juga.


"Tidak apa-apa, Tan! Leira ngerti, kok!"

__ADS_1


Setelah berpelukan, akhirnya Mila memberikan ijin Leira untuk pergi menemui Dante di sel tahanan.


"Bangun, bangun! Ada gadis yang ingin bertemu denganmu!" kata sipir penjara kepada Dante yang sedang tertidur di atas tikar.


Gadis? Amoora? batin Dante.


Di ruang tunggu, Leira duduk di temani oleh Nicholas dengan perasaan tidak karuan.


"Tenangkan hatimu, Ra! Jangan takut!" ucap Nicholas berusaha menenangkan Leira yang tampak panik karena akan bertemu dengan pembunuh kedua orangtuanya.


"Leira!" ucap Dante setengah berteriak ketika memasuki ruangan tempat Leira menunggunya.


Leira berdiri, dan menatap tajam Dante yang saat ini sedang berjalan mendekat.


"Apa kabar, Om?" tanya Leira dengan sinis.


Meskipun enggan, Leira tetap mengulurkan tangannya ke arah Dante yang sudah berada di hadapannya.


"Om baik, terima kasih!" jawab Dante dengan canggung.


Setelah selesai bersalaman, Leira kembali duduk di sebelah Nicholas, dan Dante juga menyusul duduk di kursi seberang meja Leira berada.


"Kamu ada apa datang kesini, Leira?" tanya Dante dengan sikap yang masih canggung.


Bahkan ketika berbicara, Dante tidak berani menatap ke arah Leira, yang saat ini sedang menatapnya dengan sendu.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Om, dan menanyakan alasan di balik pembunuhan yang Om lakukan kepada kedua orangtuaku!" ucap Leira dengan penuh ketegasan.


Dante menundukkan kepala, tatapannya kini hanya dia tujukan untuk menatap lantai.


"Maafkan Om, Leira!" hanya itu kata yang keluar dari mulut Dante.


"Leira gak butuh kata maaf, Om! Leira butuh penjelasan!" tegas Leira.


Dante menggelengkan kepala menolak permintaan dari Leira.


"Katakan, Om! Katakan!" teriak Leira yang sudah tak bisa menahan perasaannya.


"Tenang, Ra!" bisik Nicholas sambil mengelus punggung Leira dengan lembut.


"Singkirkan tangan kotormu itu!"

__ADS_1


Tiba-tiba, dari arah belakang terdengar suara Alex yang berteriak ketika Nicholas berusaha menenangkan Leira yang sedang histeris.


__ADS_2