Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
70. Acara makan malam.


__ADS_3

Malam harinya, semua keluarga berkumpul di ruang tengah setelah selesai bersiap-siap.


Seperti yang sudah di rencanakan, mereka semua akan pergi ke sebuah restoran untuk makan malam bersama sebagai tanda perpisahan Leira dan Mila yang akan pulang ke Jakarta besok paginya.


Mila bersikeras pulang, karena dia ingin membuat persiapan untuk pesta pernikahan Leira yang akan di gelar tidak lama lagi.


Semua sudah sepakat, jika pernikahan Leira akan di gelar di kediaman Raharja karena menurut penghematan Mila, tempat itu adalah tempat bersejarahnya Leira. Tempat kelahiran, serta di besarkannya Leira di sana, tentu akan menjadi momen yang sangat indah jika dia juga bisa menikah dan merayakan pestanya di tempat itu.


Keluarga Mahendra tidak menolak, mereka juga menghargai keinginan dari calon mempelai wanita.


Memang benar, jika sebaiknya mereka mengadakan pesta pernikahan di sana. Dan untuk pesta di Surabaya, tentu juga akan tetap di laksanakan karena keluarga Mahendra memiliki relasi bisnis yang sangat banyak. Akan menjadi pertanyaan jika mereka memiliki menantu tanpa membagi kebahagiaan tersebut kepada rekan-rekannya.


"Semua sudah siap?" tanya Niko yang memakai pakaian stelan dengan gagah.


"Sudah, Pah! Ayo berangkat!" jawab Elena bersemangat.


Semua orang menuju mobil mereka masing-masing. Niko, Alissa dan juga Elena, menaiki mobil yang berbeda karena Nicholas membawa Mila dan juga Leira di mobil miliknya.


"Hallo, selamat malam!" sapa pelayan restoran saat rombongan keluarga Mahendra tiba.


"Malam juga, Mbak! Kami sudah reservasi meja atas nama keluarga Mahendra." balas Niko kepada si pelayan restoran tersebut.


"Mari silahkan lewat sini, Pak!" ucapnya dengan ramah sambil menuntun mereka semua ke sebuah meja yang telah di dekorasi dengan sangat mewah.


"Silahkan duduk dulu, Pak! Kami akan segera kembali setelah semua makanan siap!"


Beberapa menit kemudian, semua makanan yang telah di pesan sebelumnya 'pun telah siap di hidangkan di atas meja.


Karena semua sudah merasa sangat lapar, mereka 'pun segera makan penuh khidmat. Sesekali, terdengar suara canda tawa yang membuat beberapa orang merasa iri dengan keharmonisan keluarga mereka.


Seperti dua orang yang sedang duduk di meja yang tidak jauh dengan meja tempat keluarga Mahendra berada sekarang.


Ish, beruntung sekali Kak Leira mendapat keluarga yang memperlakukannya dengan baik. Sedangkan aku? Alex bahkan tidak pernah memberikan senyumannya kepadaku, ahh, sebal! batin Amoora.


Saat ini, dia sedang mengadakan acara makan malam dengan keluarganya Alex. Wibowo sendiri yang mengusulkan makam malam tersebut. Tujuannya sudah pasti, untuk mendekatkan Amoora kepada Alex agar Putranya tidak terlalu sedih lagi kehilangan sosok Leira.

__ADS_1


Meskipun Alex sudah berjanji untuk berubah, dan berusaha melupakan mantan tunangannya tersebut.


Namun tetap saja, Wibowo merasa Putranya masih bersedih akan hal itu.


Leira, aku senang! Akhirnya kamu bisa berbahagia dengan keluarga yang sangat menyayangi kamu melebihi aku. Walaupun hati aku sakit, Ra! Tapi aku akan ikut mendoakan agar kamu bahagia selamanya bersama pria yang menjadi pilihanmu, batin Alex.


"Lex! Alex!" panggil Amoora setengah berteriak saat Alex tengah memperhatikan meja tempat Leira berada sekarang.


"Kenapa?" tanya Alex dingin.


"Kamu benar-benar keterlaluan ya, Lex! Tunangan kamu masih ada di sini, tapi kamu malah asik liatin perempuan lain!" ucap Amoora sinis.


Alex menghempaskan garpu di tangannya dengan kasar ke atas meja. Dia benar-benar muak dengan sikap Amoora yang selalu memojokkannya.


"Moor, bisa tidak sih, kamu diam? Aku malas, kalau sikap kamu masih tetap kasar seperti ini!"


"Hey, kalian ada apa? Papah dengar dari sana kok, kalian ribut-ribut. Ada apa ini?" tanya Wibowo yang baru datang bersama Istrinya dari toilet.


"Ini masalah Alex, Om! Dia sengaja cuekin aku gara-gara ada mantannya di sana!" ucap Amoora sambil menunjuk ke arah meja tempat Leira saat ini.


Wibowo melirik ke arah yang di tunjuk oleh Amoora. Jangankan Alex, dia saja merasa sangat berat harus melepas gadis sebaik Leira. Sikapnya yang lembut, sangat berbanding terbalik dengan sikap Amoora yang selalu berbicara kasar.


"Kamu tuh ya, Moora! Harusnya kamu bisa dong, ngambil hatinya Alex agar tidak berpaling ke wanita lain." cibir Jessica yang merasa kesal dengan tingkah laku calon menantunya.


"Kok Tante malah nyalahin aku sih? Yang salah 'kan Alex, bukan aku!" dalih Amoora geram.


"Mah, Moora, sudah! Sebaiknya kita sekarang pulang!" ucap Wibowo yang merasa penat berada di sana lama-lama.


Alex berjalan mendahului mereka sebelum Amoora memulai kembali perdebatan.


Alex benar-benar merasa jengah jika harus terus mengalah dengan sikap Amoora yang menurutnya semakin arogan.


"Alex, tunggu aku!" teriak Amoora sambil berlari mengejar Alex yang mulai menjauh.


"Lihat tuh 'Pah, kelakuan si Amoora. Semakin hari semakin ngeselin aja kelakuannya." ucap Jessica sambil menatap sinis punggung Amoora.

__ADS_1


Wibowo mengelus tangan sang Istri yang sedang dalam pelukannya. "Sabar, Mah! Papah yakin, suatu hari nanti Amoora bisa berubah menjadi lebih baik dari sekarang." ucapnya.


Jessica memutar mata dengan malas, sampai kapan dia harus menunggu perubahan dari Amoora?


Sampai tua? Tidak mungkin 'kan!


Brukkk!


Tubuh Amoora terjatuh saat menabrak seseorang di pintu masuk.


"Ish, hati-hati dong, Mbak!" tegur seorang Ibu yang di tabrak Amoora.


"Lah, kok Ibu malah nyalahin saya sih, Bu? Ibu sendiri 'kan, yang jalannya gak lihat-lihat jalan!" balas Amoora sinis.


"Eh, dasar gadis aneh! Bukannya minta maaf, malah marah-marah!" cibir si Ibu sambil mendelikkan mata ke arah Amoora yang juga melakukan hal yang sama padanya.


"Jeng Sri!" panggil teman si Ibu yang ternyata adalah Dian si pemilik butik.


"Hey, Jeng Dian!" balas si Ibu yang bernama Sri.


"Jeng kok, malah berdiri di sini? Kenapa tidak langsung masuk saja! Saya sudah lama nungguin Jeng Sri dari tadi, lo." ucap Dian sambil melambaikan tangannya.


Ibu yang di panggil Sri, melirik ke arah Amoora dengan tatapan sinisnya.


"Niatnya saya mau langsung masuk, Jeng. Tapi malah di tabrak sama gadis ini!" cibirnya kesal.


"Bu, jangan nyalahin saya lagi dong! Saya juga merasa di rugikan, karena perjalanan saya jadi terhenti gara-gara Ibu." ucap Amoora kasar.


"Ish, Mbak! Bicara yang sopan dengan orang yang lebih tua, jangan kasar begitu." tegur Dian saat melihat Amoora memelototi temannya.


"Sopan apanya? Dia-nya sendiri saja tidak bisa sopan, kok!" balas Amoora yang membuat Dian menggeleng-gelengkan kepala.


"Ngeri ya Jeng Dian, gadis-gadis jaman sekarang. Kita berdua yang punya anak cowok, jadi takut nanti mendapat menantu model begini." sindir Sri dengan keras di hadapan Amoora langsung.


Di kejauhan, Jessica yang mendengar perkataan dari Sri langsung memegangi tangan Suaminya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Pah, Mamah gak mau Alex nikah sama Amoora." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Mamah tenang ya, Mah! Ingat kata Papah tadi, Amoora pasti berubah, Mah." tutur Wibowo berusaha menenangkan Istrinya.


__ADS_2