
Alex ingin mengejar, tapi langkahnya terhenti karena Wibowo buru-buru menghalangi jalannya.
"Mau kemana?" Ucap Wibowo sembari menahan pergelangan tangan Alex.
"Alex harus ngomong sama Leira, Pah!" Jawab Alex dengan setengah berteriak.
Wibowo menggelengkan kepala, lalu kembali bersuara. "Tidak! Kamu tidak boleh pergi sekarang! Ada hal yang harus kamu selesaikan di sini!"
"Alex harus kejar Leira, Pah!" Ujar Alex bersikukuh.
Namun Wibowo juga tak mau menyerah, dia tetap dengan keputusannya, bahwa Alex harus tetap berada di sana dan menyelesaikan urusannya dengan Amoora.
Jessica yang sedari tadi hanya diam saja, kini berbicara sambil melirik ke arah Amoora.
"Semua ini gara-gara dia, Pah!" Ucap Jessica dengan nada marah.
Alex juga mengiyakan ucapan Ibunya.
Ini semua memang gara-gara Amoora.
"Kalian berdua, tenanglah. Semua telah terjadi, dan tak bisa di ulang kembali." Kata Wibowo berusaha menenangkan suasana.
"Alex gak bisa tenang, Pah. Sebelum bertemu, dan berbicara dengan Leira." Ucap Alex penuh penyesalan.
Sementara Amoora hanya diam saja memikirkan tentang hidupnya yang sudah terlanjur hancur.
Kak Leira, maafkan Moora! Seandainya Moora tahu, jika Alex adalah tunangan Kakak, Moora tidak akan melakukan hal itu. Kak Leira ..., batin Amoora.
"Diam, Alex! Memangnya kamu gak malu, ketemu sama Leira? Memangnya kamu tahu, Leira mau ngomong sama kamu atau enggak? Mikir, Alex! Mikir!" Bentak Jessica.
Alex tertunduk, ucapan sang Ibunda memang benar. Bagaimana mungkin Leira mau berbicara dengannya, sementara saat ini Leira sedang dalam keadaan kecewa berat.
"Alex, biar aku aja yang ngomong sama Kak Leira. Aku yakin, Kak Leira pasti maafin kamu, Lex." Ucap Amoora dengan penuh penyesalan.
Jessika mencibir mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Amoora.
"Huhh ... tipu daya apalagi, yang kamu gunakan untuk menjebak Alex!"
"Moora gak bohong kok, Tante. Moora pasti bantuin Alex untuk dekat lagi dengan Kak Leira." Balas Amoora yakin.
"Jangan sok akrab kamu, sama Leira. Kenal aja, enggak!" Sindir Jessica.
__ADS_1
Senyum lembut yang menjadi ciri khasnya, kini sudah tidak ada lagi di wajah Jessica. Di gantikan dengan raut wajah jutek, dan galak.
"Jangan gitu, Mah. Amoora masih anak-anak, jangan buat dia takut." Bujuk Wibowo lembut.
Namun Jessica kini sudah tak mempan dengan bujukan dan rayuan.
Dia sudah merasa kecewa dengan perbuatan Putranya, yang di dalangi oleh Amoora. Meskipun Jessica belum tahu awal mulanya, tapi Jessica yakin, ini adalah ulah gadis di hadapannya ini.
"Anak-anak apanya, Pah? Masa anak-anak, sudah tahu enak-enak." Ucap Jessica sarkas.
Amoora sedikit tersipu mendengar ucapan Jessica.
Memang benar usianya masih sangat muda. Bahkan dengan Alex saja, usia Amoora terpaut lumayan jauh. Namun semenjak Amoora mengidam-idamkan Alex, Amoora sering berkhayal, bercumbu mesra dengan Alex setiap harinya.
"Sudahlah, Mah. Semua sudah berlalu, kini bagaimana caranya, Alex mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Amoora. Alex itu laki-laki, mau dia hilaf ataupun di sengaja, dia tetap harus bertanggung jawab." Tutur Wibowo yang membuat Alex dilema.
Sebagai seorang lelaki, dia memang wajar melakukan hal ini.
Tapi lelaki sejati, Alex harus siap mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, seperti yang di bilang sang Ayah.
"Papah, benar! Alex harus bertanggung jawab! Tapi untuk saat ini, tolong izinkan Alex untuk mengejar Leira Pah."
"Siap, Pah! Alex janji, Alex hanya minta maaf saja kepada Leira. Setelah itu, Alex akan pulang ke sini dan mempertanggung jawabkan perbuatan Alex.
Alex langsung berlari menyusul Leira yang sudah pergi terlebih dahulu.
Di halaman mansion...
Leira berjalan dengan gontai di samping Nicholas yang juga sedang terdiam seakan merasakan kesedihan Leira.
"Leira!" Panggil Alex dengan berlari sekuat tenaga.
Leira tidak menoleh, dia bahkan enggan untuk hanya sekedar menghentikan langkahnya.
"Leira!" Alex meraih tangan Leira dari arah belakang.
"Aku mau minta maaf sama kamu, Ra!" Ucap Alex dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
Nicholas tersulut amarahnya, dan menarik paksa tangan Leira dari genggaman Alex.
"Lepaskan tangan Leira! Pria bajingan sepertimu tidak pantas, untuk menyentuhnya!" Ucap Nicholas dengan penuh amarah.
__ADS_1
Sebenarnya, dia sudah ikhlas jika Leira harus menikah dengan pria di hadapannya ini.
Namun setelah mendengar kejadian yang di lakukannya tadi, Nicholas tidak bisa menahan perasaannya lagi untuk mendekati Leira, dan menjadikannya sebagai teman hidupnya. Itu juga, kalau Leira mau menerima dirinya. Sebab Nicholas tidak akan memaksa, dia hanya ingin selalu berada di sisi Leira, sebagai Kekasih, Suami, ataupun sahabat, bagi Nicholas itu sama saja. Yang penting, gadis yang di cintainya itu bahagia.
"Diam kau! Aku tidak punya urusan denganmu!" Bentak Alex dengan kasar.
Nicholas mendengus ke arah Alex, dia benar-benar sudah merasa marah saat ini. Namun Leira melirik ke arahnya, dan meminta Nicholas untuk tenang.
"Apa lagi yang harus di maafkan, Lex. Semuanya sudah jelas, kamu tidak di takdirkan untukku!"
Ucapan Leira mampu membuat perasaan Alex hancur.
Bahkan sekarang, dunia serasa berhenti berputar untuk Alex.
"Tolong jangan bicara seperti itu, Leira! Aku tidak ada maksud buat nyakitin kamu! Aku juga tidak ada maksud, untuk berbuat hal seperti itu!" Ucap Alex dengan sedih.
Leira sebenarnya merasa kasihan dengan Alex yang seperti ini. Namun Leira tidak bisa memaafkan, apa yang telah Alex lakukan.
"Tidak ada lagi yang perlu kau katakan, Lex! Semuanya sudah jelas, aku tidak bisa lagi memaafkanmu! Pergilah! Amoora sekarang lebih membutuhkanmu, daripada aku!"
Berkali-kali Alex merasa tertampar dengan ucapan yang keluar dari mulut Leira. Dia ingin menyangkal, tapi itu kenyataan.
Yang bisa Alex lakukan hanya diam, dan menyesali perbuatan kotornya semalam.
Leira membalikkan badan, dan melanjutkan perjalannya yang sempat tertunda karena di hentikan oleh Alex.
Nicholas menoleh ke arah sahabatnya itu, lalu mengelus pundak Leira dan berkata dengan pelan.
"Yang sabar ya, Leira. Semua pasti akan baik-baik saja, meskipun tanpa pria bajingan seperti dia!"
"Nichol! Sudah, jangan ungkit masalah ini lagi! Aku tidak ingin mendengarnya!" Tegur Leira.
Leira sudah memutuskan, bahwa dia tidak ingin membicarakan masalah tentang Alex. Dia bahkan tidak mau, mendengar sedikitpun kata yang berhubungan dengan nama Alex. Leira tidak mau, tidak mau lagi, titik!
"Maafkan aku, Ra! Aku tidak akan mengungkit masalah ini lagi, aku janji!" Ucap Nicholas yang di balas anggukkan kepala oleh Leira.
Alex, melihat punggung Leira semakin menjauh, membuat hatinya serasa di iris dengan pisau tajam.
"Leira ... maafkan aku!"
Hanya itu yang keluar dari mulut Alex sebelum akhirnya dia jatuh bersimpuh di halaman.
__ADS_1