
Setelah semua makanan selesai di hidangkan, Bi Nenah langsung bergegas memanggil Nicholas untuk menikmati sarapan.
Tok... tok... tok..
"Pak, sarapan sudah siap." Panggil Bi Nenah di depan kamar Nicholas.
"Siap Bi ...," Balas Nicholas seraya berjalan dan memutar knop pintu kamar.
Setelah berada di luar, Nicholas langsung berbisik kepada Bi Nenah. "Sarapan hari ini, Leira yang masak ya?"
"Pak Polisi tahu aja Kalau Non Leira yang masak, tadi pasti ngintip ya?" Goda Bi Nenah kepada Nicholas.
Nicholas tersipu malu, dia memang tadi secara diam-diam memperhatikan Leira dari balik pintu.
Seandainya saja Mang Ujang tidak datang memergokinya, mungkin dia tidak akan pergi sebelum Leira selesai.
"Sembarangan aja nih, Bi Nenah." Sangkal Nicholas lalu berjalan menuju meja makan dan duduk di sana.
Tak lama kemudian, Leira pun menyusul datang dengan rambut yang di cepol khas gadis rumahan.
Nicholas terpaku menatap gadis cantik di hadapannya. Meskipun tidak memakai riasan apapun di wajahnya, Leira tetap terlihat cantik.
"Pagi, Nichol." Sapa Leira dengan senyuman lembut.
Nicholas diam, dia tidak mendengar sapaan dari Leira. Fokusnya saat ini, hanya tertuju kepada wajah gadis yang selama ini mengisi relung hatinya.
Leira merasa heran, sedari tadi Nicholas tidak menanggapi perkataannya dan hanya diam saja.
"Nichol!"
"Nichol!"
"Hallo!"
Leira memanggil Nicholas berkali-kali, namun tetap tak ada tanggapan dari sang empunya nama.
Bahkan Leira dengan sengaja, melambai-lambaikan tangan di depan wajah Nicholas. Namun tetap saja, tidak ada tanggapan.
"Pak Polisi kenapa Non? Di panggil-panggil dari tadi kok, gak jawab-jawab?" Ujar Bi Nenah yang juga merasa heran.
Leira menggeleng dan menjawab ucapan dari Bi Nenah. "Aku juga gak tahu Bi, mungkin dia lagi banyak pikiran."
"Apa jangan-jangan, Pak Polisi kesambet ya Non?" Ujar Bi Nenah dengan panik.
"Hushh ... jangan ngomong gitu Bi, pamali!" Balas Leira yang membuat Bi Nenah tersipu-sipu karena menahan malu.
__ADS_1
"Di kampung Bibi mah begitu, Non." Tambah Bi Nenah berusaha membela diri.
Leira tidak menanggapi, dia juga takut ucapan Bi Nenah terbukti. Makanya dia memilih diam, dan berdo'a dalam hati, agar tidak terjadi apa-apa dengan Nicholas.
Mang Ujang yang baru datang, langsung ikut nimbrung di percakapan Leira dan Bi Nenah. "Siapa yang kesambet Non?"
"Hayang apal wae, maneh mah Surjang!" Semprot Bi Nenah yang langsung di balas Mang Ujang dengan tak kalah sewotnya.
"Ehh ... kamu sok sombong Nenah! Saya nanya Non Leira atuh, bukan kamu."
"Ari kamu Surjang, lihat we sendiri atuh. Pake nanya segala rupa, tuh lihat, Pak Polisi dari tadi bengong gak ngomong-ngomong." Cerocos Bi Nenah kepada Suaminya itu.
Mang Ujang menoleh ke arah Nicholas yang sedang menatap jauh ke depan. Memang benar, apa yang Istrinya bilang barusan.
"Waduhh ... Pak Polisi, kenapa bisa seperti ini?" Ujar Mang Ujang garuk-garuk kepala tak gatal.
"Saya juga bingung, Mang." Balas Leira yang mulai panik, karena Nicholas tak bereaksi sama sekali.
Mang Ujang memperhatikan Nicholas dalam-dalam. Dari tatapan matanya Nicholas, tak terlihat sedikitpun seperti orang yang sedang kesambet ataupun kesurupan sama sekali.
Lalu Mang Ujang mengikuti arah pandangan dari Nicholas. Dan ketika dia melihat Leira dari sudut pandang Nicholas, Mang Ujang langsung berseru sekencang-kencangnya.
"Mamang tahu penyebabnya."
Selain mengagetkan Leira dan Bi Nenah, teriakan Mang Ujang juga mampu membuat Nicholas tersadar, dari lamunan panjangnya.
Ketiga orang yang sedang mengelilingi Nicholas, langsung menoleh secara bersamaan ketika mendengar teguran dari orang yang mereka khawatirkan itu.
"Nicholas!"
"Pak Polisi!"
Leira dan Bi Nenah berseru, memanggil Nicholas secara bersamaan.
"Ini ada apa ya? kok pada kaget gitu, sih!" Ujar Nicholas tanpa merasa bersalah sama sekali.
Mang Ujang langsung berinisiatif menjawab pertanyaan dari Nicholas.
"Kita ini, sedang membicarakan anda, Pak Polisi." Ujar Mang Ujang yang sontak membuat Nicholas merasa terkejut.
"Membicarakan tentang saya, Mang?" Tanya Nicholas heran.
"Iya, kita itu khawatir sama kamu, Nichol." Kini giliran Leira yang menjawab.
"Memangnya, aku kenapa? tidak apa-apa 'kan? Aku malahan sehat, bahkan sangat sehat." Balas Nicholas dengan terheran-heran.
__ADS_1
Bi Nenah yang sudah menahan-nahan keinginannya untuk berbicara dari tadi, langsung maju ke depan.
"Tadi itu, Pak Polisi kesambet penghuni rumah ini."
"Kesambet?" Nicholas terkejut mendengar perkataan dari Bi Nenah.
Bi Nenah mengangguk pasti, lalu kembali melanjutkan. "Iya, kesambet."
"Jangan bicara sembarangan, Nenah!" Bisi Mang Ujang kepada Istrinya itu.
"Sembarangan apa, maksud kamu Surjang? Udah jelas-jelas Pak Polisi kesambet penghuni rumah ini, buktinya tadi, dia bengong terus dan gak inget apa-apa." Balas Bi Nenah sedikit sewot dengan Suaminya.
Mang Ujang mencubit gemas perut sang Istri, lalu kembali berbisik ke arahnya.
"Pak Polisi bukan kesambet, Nenah. Tapi lagi kesemsem, sama Non Leira."
"Ngaco, kamu Surjang!" Bi Nenah langsung membantah keras ucapan Suaminya.
Mang Ujang tidak memaksa, dia mengerti jika Istrinya tidak akan mempercayai ucapannya untuk saat ini.
"Terserah kamu saja, mau percaya atau tidaknya juga. Yang jelas, Pak Polisi sedang jatuh cinta kepada Non Leira." Tegas Mang Ujang yang di balas delikan mata dari Bi Nenah.
Nicholas yang melihat interaksi mencurigakan dari sepasang Suami-Istri itu, langsung bertanya kepada mereka. "Kalian lagi bisik-bisik apa sih, Mang, Bi?"
Leira juga sama dengan Nicholas, sama juga merasa penasaran dengan apa yang di bicarakan kedua orang yang selalu menjaganya itu.
"Iya nihh ... mentang-mentang sudah baikan, jadi langsung main bisik-bisik aja." Ujar Leira sembari menoleh ke arah mereka.
Bi Nenah langsung memasang wajah garang, ketika di singgung tentang masalah dia dengan Suaminya.
"Ish, kata siapa kita berbaikan Non? Ogah!" Kata Bi Nenah sembari memelototi Mang Ujang yang berdiri sangat dekat dengannya.
Mang Ujang yang tadinya ceria, kini langsung bermuram durja.
Nicholas dan Leira merasa bersimpati kepada Mang Ujang. Namun mereka, tak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya sekarang.
Itu urusan internal, mereka tidak layak untuk terlibat di dalamnya.
Nicholas bangkit dari duduknya dan mendekati Mang Ujang.
"Yang sabar ya, Mang." Kata Nicholas sembari menepuk pundak Mang Ujang.
Setelah mengatakan itu, Nicholas langsung pergi ke halaman rumah untuk menemui para Anggotanya.
"Selamat pagi!" Sapa Nicholas kepada mereka setelah berada di pos jaga.
__ADS_1
"Pagi juga, Komandan!" Balas beberapa Anggota yang sedang berjaga di sana.
"Apa semua baik-baik saja?" Tanya Nicholas kepada salah satu Anggota yang berdiri paling depan.