Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
55. Apa hakmu melarangku?


__ADS_3

Mila dan Alissa mengajak kedua muda-mudi tersebut untuk masuk ke dalam rumah.


Mereka ingin mendengar cerita Leira yang bertemu dengan Dante di lapas hari ini.


Seperti yang di ketahui, Mila sedikitpun belum pernah mendengar tentang pembunuhan yang di lakukan Dante dan Yatno kepada Kakak dan Kakak Iparnya.


Dia hanya tahu, kalau kedua orangtua Leira di bunuh, itu saja. Mengenai pelaku pembunuhan, Mila baru mengetahuinya sekarang.


"Coba ceritakan sama Tante, bagaimana pertemuanmu dengan si Dante itu?" tanya Mila dengan penasaran.


"Biasa aja, Tante." jawab Leira sambil tertunduk.


"Biasa bagaimana?" Mila mengerutkan Alisnya.


Leira menggelengkan kepala, lalu menjawab pertanyaan Mila. "Leira gak sempet ngobrol Tante, Alex keburu datang dan Tante pasti tahu cerita akhirnya seperti apa ...,"


Mila seperti merasa kecewa berat dengan penuturan cerita dari Leira.


Bukan karena Leira tidak jadi berbincang-bincang dengan Dante, tapi kecewa karena kelakuannya Alex yang sudah semakin meresahkan menurut Mila.


Bisa saja suatu hari nanti, Alex berbuat nekad dan kembali membuat ulah untuk mendapatkan kembali cintanya Leira.


Tidak, Mila tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia harus segera bertindak, agar Alex merasa jera dan tidak lagi mengganggu keponakannya.


"Kamu tenang aja, Ra. Tante akan bikin si Alex itu tidak akan berani lagi, memunculkan wajahnya di hadapan kamu." ucap Mila sambil meraih tangan Leira dan menggenggamnya.


Namun Mila merasa heran, karena Leira seperti kesakitan ketika dia menggenggam tangannya seperti itu.


"Kamu kenapa? Sakit? tangan kamu terluka?" tanya Mila sambil menunduk memperhatikan tangan Leira yang sedikit legam.


"Ini kenapa?" tanya Mila yang menjadi panik.


"Ada apa, Mbak? Kok kelihatannya cemas begitu." Alissa yang baru selesai mengobati wajah Nicholas langsung bertanya karena merasa penasaran dengan ekspresi mukanya Mila.

__ADS_1


"Ini Mbak, tangannya Leira terluka." ucap Mila sambil mengangkat tangan Leira yang sedang di genggamnya.


"Itu kenapa, Nak?" Alissa juga jadi ikut-ikutan panik setelah melihatnya langsung.


"Itu gara-gara Alex, Tante." Nicholas yang baru keluar langsung menceritakan semua yang di lakukan Alex hari ini.


"Tidak bisa, Tante tidak bisa membiarkan begitu saja kelakuan anak itu!" Mila menjadi emosi setelah mendengarkan cerita dari Nicholas.


"Mbak Mila benar, kalau di biarkan, mungkin dia akan datang lagi dan memaksa Leira untuk kembali menjalin hubungan dengannya lagi, Mbak." ucap Alissa yang juga kesal dengan kelakuan Alex.


Mila meradang, dia tidak berusaha menyangkal ucapan Alissa karena memang hal itulah yang mengganggu pikirannya saat ini.


"Iya Mbak, aku juga tidak akan membiarkan hal ini berlarut-larut. Aku harus ketemu langsung, dengan keluarga Wibowo sekarang juga." ucap Mila sambil berjalan ke kamar untuk mengambil tas dan kunci mobil miliknya.


"Mau saya temani, Mbak?" tanya Alissa yang juga ingin menegur langsung pemuda yabg bernama Alex


"Sebaiknya, biar aku saja, Mbak. Kalau Mbak ikut, nanti Alex akan menggunakan alasan Nicholas untuk menyudutkan saya, Mbak." ucap Mila yang di balas anggukkan kepala oleh Alissa.


Mila mengangguk, lalu merogoh ponsel dari tasnya.


Sebelum pergi, dia ingin membuat janji bertemu dulu dengan Jessica. Agar dia dengan mudah menemukan posisi keluarga Wibowo sekarang.


'Kan gak lucu, kalau dia pergi ingin bertemu dengan keluarga Wibowo, tapi dia tidak tahu posisi mereka ada di mana.


"Hallo!" ucap Jessica di seberang telepon.


"Mbak, ini saya Mila. Saya ingin bertemu dengan Mbak, di loby hotel 'Amaris' sekarang juga!" ucap Mila lalu menutup telepon setelah pihak lain menyetujui usulannya.


Mila lalu menoleh ke arah Leira yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Tante pergi dulu ya, Ra." kata Mila sambil berjalan dan mengecup pucuk kepala keponakannya.


"Tante, sebaiknya jangan kesana. Biarkan saja, Tante. Nanti Alex juga akan cape sendiri, dan melupakan tentang Ara." ucap Leira yang nampak enggan melepas kepergian Mila.

__ADS_1


"Tidak bisa, Tante harus tetap pergi, Sayang." balas Mila dengan lembut yang membuat Leira semakin merasa sedih.


Bagi Leira, Mila adalah keluarga satu-satunya. Jadi Leira merasa sedih harus membiarkan keluarganya itu berjuang, untuk dirinya.


"Tante ...," ucapan Leira tercekat sampai ke tenggorokan karena airmatanya sudah lebih dulu memaksa untuk di keluarkan.


"Tidak apa-apa, Sayang. Tante cuma sebentar kok, Tante janji tidak akan lama berada di sana." ucap Mila sambil kembali mencium kepalanya Leira.


Di tempat lain, tepatnya di hotel tempat keluarga Alex menginap. Amoora sedang berbicara dengan keras kepada Alex yang saat ini sedang memegangi kepalanya karena merasa pusing dengan ocehannya Amoora yang tak ada habisnya juga.


"Kamu dengar itu 'kan, Lex? Tantenya Leira berbicara tidak sopan dengan Tante Jessica, apa kamu masih mau, mengejar cintanya perempuan yang keluarganya saja tidak menghormati keluarga kamu, Lex?"


Alex melirik tajam ke arah Amoora yang masih menunjuk-nunjuk ke arah fotonya Leira yang Alex pajang di dinding kamar hotel.


"Memangnya, apa urusanmu kalau aku masih ingin mengejar cintanya Leira? Apa hakmu, melarangku seperti itu? tidak ada 'kan? Kamu itu bukan siapa-siapanya aku, jadi kamu tidak punya hak untuk berbicara seperti itu kepadaku, Moora!" bentak Alex dengan kasar.


Dia sudah merasa jengah, benar-benar jengah dengan sikapnya Amoora yang semakin tak terkendali.


Semenjak Wibowo menjanjikan pernikahan mereka, Amoora seakan ingin mengatur seluruh kehidupannya Alex.


Alex tidak boleh begini, Alex tidak boleh begitu, Alex harus begini, Alex harus begitu.


Lelah! Alex benar-benar lelah dengan sikapnya Amoora! Seandainya Alex bisa, dia ingin lari dan menjauh dari Amoora sejauh yang dia bisa.


Namun Wibowo sering berpesan kepadanya, agar menjadi pria yang penuh dengan rasa tanggung jawab. Jadi Alex terpaksa bertahan karena dia telah berbuat kesalahan dengan berani meniduri Amoora, meskipun itu bukan kesalahan Alex sepenuhnya.


"Ada apa ini, Lex? Kenapa kamu teriak-teriak sampai terdengar keluar gitu? Jangan kasar, Nak. Bersikaplah tenang, kamu itu laki-laki yang akan menjadi pemimpin rumah tangga. Apapun masalahnya, kamu harus selesaikan masalahmu itu dengan kepala dingin. Tidak perlu membentak, tidak perlu berkata-kata kasar. Paham?" Wibowo datang dan menenangkan Putranya yang sedang di landa kemarahan yang sangat hebat.


Wibowo tahu Putranya saat ini sangat tertekan karena harus menghadapi kenyataan kehilangan orang yang di cintainya.


Tapi itu bukanlah sebuah alasan, untuk bisa lari dari tanggung jawabnya.


Wibowo harus bisa mengarahkan Putranya ke jalan yang benar. Putranya harus menikah dengan Amoora meskipun kesalahan yang mereka perbuat bukanlah keinginan Alex sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2