
Di kediaman Raharja, semua orang kini tengah menatap Mila dengan perasaan bangga.
Pasalnya, Mila sangat berani mendatangi Jessica dan menegurnya agar bisa mencegah Alex agar tidak lagi mengganggu Leira.
"Tante, terima kasih!" ucap Leira yang saat ini berada di dalam pelukan Mila dengan berurai airmata.
"Semua sudah berakhir, Sayang! Tante ingin, kamu menjalani hidup yang baru dengan penuh kebahagiaan. Jangan pernah mengingat Alex lagi, bisa?" tanya Mila yang di jawab dengan anggukkan kepala oleh Leira.
"Anak baik!" ucap Mila sambil mengecup puncak kepala keponakan kesayangannya tersebut.
"Mah, Tante Mila baik ya orangnya." bisik Elena kepada Alissa yang saat ini merasa terharu dengan kasih sayang kedua perempuan berbeda generasi tersebut.
"Sangat baik, dan juga lembut." balas Alissa sambil menyeka airmatanya dengan jari.
"Mamah kok nangis sih, cengeng!" goda Elena kepada Ibunya padahal, mata Elena sendiri sudah mulai berembun.
"Kamu juga, ngapain ikut-ikutan nangis?" ucap Alissa sambil cemberut.
"Sudah, jangan pada ribut, malu sama Mbak Mila." Niko akhirnya membuka suara untuk melerai Istri dan anak perempuannya.
"Mamah siiihhh ....," ucap Elena sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kok, Mamah? Kamu 'kan yang duluan?" Alissa ikut-ikutan cemberut karena tak mau di salahkan.
"Mamah, Elena!" sekali lagi Niko menegur keduanya yang langsung diam tak berkutik.
Hanya mata mereka berdua saja yang saling menatap masing-masing dengan sengit.
Niko menghela nafas pasrah karena sikap Istri dan Putrinya tidak pernah berubah. Mereka seperti anak kecil yang saling berebut permen, tak ada satupun dari mereka yang mau mengalah.
"Maaf, Nyonya! Makan siang sudah siap!" Bi Nenah datang tergopoh-gopoh memanggil semua orang untuk makan.
"Wahhh, kebetulan sekali, saya sudah lapar!" celetuk Niko hingga membuat semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak.
Mila dan semua orang, menuju ruang makan secara beriringan. Di sana, sudah ada Mang Ujang yang sedang membantu Bi Nenah menyajikan makanan kepada semua orang.
Seperti biasa, Bi Nenah memasak makanan khas Indonesia, seperti telur balado, cah kangkung, ayam betutu, sama makanan kesukaannya Niko, semur jengkol dan tempe goreng.
Semenjak Niko menginap di rumah Leira, kedua makanan itu harus tetap ada di atas meja makan.
__ADS_1
Niko seperti tidak merasa bosan mengkonsumsi kedua jenis makanan tersebut.
Selesai makan bersama, Mila, Alissa, dan juga Niko, kini sedang bersantai di depan teras.
Sedangkan Nicholas, Leira, kini sedang sibuk menemani Elena menonton film horor kesukaannya.
"Mbak Mila, besok kami sudah harus pulang ke Surabaya." kata Alissa dengan raut muka sedih.
"Loh, Kok cepat sekali pulangnya, Mbak?" Mila juga merasa enggan untuk berpisah dengan keluarganya Alissa.
Mila sudah merasa sangat nyaman sekali, berada di tengah-tengah keluarga besarnya Alissa.
"Kita sudah terlalu lama mangkir dari tugas, Mbak! Mas Niko malah sudah beberapa kali mendapat telepon dari orang kantor, di suruh cepat pulang, banyak kerjaan yang tertunda katanya." tutur Alissa merasa tak berdaya.
Sebenarnya, Alissa juga masih belum ingin pulang sekarang. Dia masih betah berada di rumahnya Leira, di sana dia bisa bertemu tiap hari dengan calon mantu idamannya, dan juga bisa banyak belajar resep masakan dari Bi Nenah.
"Yahh, mau bagaimana lagi ya, Mbak! Padahal, kita masih ingin Mbak dan keluarga tinggal lebih lama lagi nemenin Leira, tapi, ya sudahlah, tidak apa-apa, Mbak!" Mila masih merasa berat melepas kepergian keluarga Alissa.
"Makasih ya, Mbak Mila! Selama di sini, kami sudah banyak merepotkan kalian!" ucap Alissa sambil meraih tangan Mila lembut.
"Saya juga terima kasih, Mbak! Kalau bukan karena keluarga Mbak Alissa, Leira mungkin belum bisa tersenyum seperti sekarang." ucap Mila dengan mata yang berkaca-kaca.
Niko memalingkan pandangannya ke arah lain, agar tidak ikut-ikutan mengeluarkan airmata seperti kedua perempuan di hadapannya.
Jika harus jujur, hati Niko juga merasa tersentuh dengan ucapan-ucapan mereka berdua.
Hubungan mereka selayaknya hubungan keluarga asli, bukan sekedar hubungan yang baru terjalin beberapa hari yang lalu.
"Oh, iya Mbak Alissa. Kemarin kata Mbak, Nicholas menyukai Leira, ya? Kira-kira, perasaan Nicholas masih tetap sama, apa enggak ya, Mbak?" Mila mengalihkan topik pembicaraannya kepada percakapan mereka satu hari yang lalu.
Mila berharap, dengan hadirnya cinta Nicholas, kebahagiaan Leira akan menjadi sempurna.
"Ya masih-lah, Mbak! Masa iya, perasaan bisa hilang dalam hitungan jam saja!" ucap Alissa sambil menutup mulut menahan tawa.
Niko yang melihat interaksi kedua perempuan itu, hanya geleng-geleng kepala.
Cepat sekali mood mereka berubah, tadi sedih, sekarang bahagia, dasar perempuan! batin Niko.
"Bagus kalau gitu, Mbak!" ucap Mila bersemangat.
__ADS_1
"Bagus bagaimana, Mbak Mila?" tanya Alissa heran.
"Ya bagus, berarti Leira masih ada kesempatan buat nikah sama Putranya Mbak Alissa!" balas Mila dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Nikah?" Alissa seakan tak percaya dengan apa yang di ucapkan Mila.
Dia mengulang ucapan Mila, setengah berteriak saking merasa terkejutnya.
"Iya, Mbak Alissa. Nikah!" kata Mila sambil mengangguk pasti ke arah Alissa yang saat ini menoleh ke arah Suaminya.
"Pah! Nichol bakalan nikah! Nikah dengan Leira, Pah!" Alissa menggoyang-goyang tangan Niko yang saat ini matanya sedang berkaca-kaca karena merasa bahagia.
"Iya, Mah! Papah juga dengar, Nichol akhirnya bisa nikah dengan gadis pujaan hatinya!" airmata Niko jatuh tak terbendung lagi.
Alissa dan Mila juga melakukan hal yang sama. Alissa menangis karena merasa bahagia, perjuangan Putranya akhirnya tidak sia-sia.
Setelah puluhan tahun tersiksa karena penantian cintanya, akhirnya sekarang, Nicholas bisa memetik hasil dari buah kesabarannya.
Sedangkan Mila, dia menangis karena merasa terharu dengan keluarganya Alissa yang begitu sangat menyayangi keponakannya.
Mila merasa, dia tidak salah kali ini menitipkan Leira kepada keluarga yang benar-benar akan membuat keponakannya merasakan kebahagiaan karena akan memiliki keluarga baru yang sempurna.
Seakan mengingat sesuatu, Alissa mengusap jejak airmata yang membasahi pipinya, lalu kembali melirik ke arah Mila.
"Mbak Mila, saya enggak mimpi 'kan? Putra saya bakalan beneran menikah, 'kan?" tanya Alissa memastikan ucapan Mila barusan.
"Tentu, Mbak. Saya jamin, Nicholas pasti menikah!" jawab Mila penuh keyakinan.
"Tapi, Mbak! Memangnya Leira mau, menikah dengan Putra saya?" tanya Alissa ragu.
Sebelumnya, Nicholas sempat cerita, kalau Leira masih menolak pernyataan cinta darinya.
Itu yang membuat Alissa merasa terganggu sekarang. Leira masih belum bisa menerima Putranya, jadi, bagaimana pernikahan ini akan berlangsung, jika mempelai wanitanya saja masih belum ada kata setuju.
"Mau kok, Tante!"
Tanpa di duga, Leira sudah berdiri di depan pintu, dan menjawab langsung pertanyaan dari Alissa.
"Leira!"
__ADS_1
Alissa merasa terkejut bercampur bahagia ketika melihat Leira mulai berjala ke arahnya.