
Leira menjelaskan, apa-apa saja yang harus di lakukan Bi Nenah ketika memasuki ruang baca Ayahnya.
Dan Bi Nenah sendiri, mendengarkan penjelasan dari Leira dengan seksama, sesekali Bi Nenah akan mengangguk, dan sesekali Bi Nenah akan menggelengkan kepala ketika ada yang tidak dia pahami dari ucapan Leira.
"Bibi paham?" Ucap Leira di akhir kalimatnya.
"paham, Non!" Balas Bi Nenah tanggap.
Leira mengangguk puas, lalu menoleh ke arah Nicholas yang sedang menatap kagum kepadanya.
"Hebat kamu, Ra!" Puji Nicholas sembari mengacungkan jempol ke arah Leira.
Leira membalas pujian dari Nicholas dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Sekarang giliranmu!" Ucap Leira kepada Nicholas.
Nicholas sendiri langsung bergerak cepat begitu mendapatkan giliran.
Dia memasang beberapa alat lagi di tubuh Bi Nenah.
Dan Nicholas juga, membekali Bi Nenah dengan kata-kata yang mampu membuat orang percaya begitu mendengarnya.
Tok.. tok... tok...
"Siapa?" Tanya Yatno dengan perasaan penuh waspada.
"Saya Gan ...," Jawab Bi Nenah tenang.
"Ada apa?" Tanya Yatno tegas.
"Saya di suruh Non Leira membawakan minuman, untuk Juragan." Balas Bi Nenah dengan santainya.
Yatno dan Dante saling melirik satu sama lain.
"Suruh dia masuk!" Perintah Dante kepada Yatno.
Yatno tidak ada pilihan lain, selain berjalan mendekati pintu dan menarik knopnya.
"Masuk!" Ucap Yatno tegas.
Bi Nenah masuk dengan tangan gemetar memegang nampan dengan kedua tangannya.
"Ini mau di simpan di mana, Gan?" Tanya Bi Nenah dengan menyodorkan nampan di tangannya.
Dante dan Yatno menoleh ke kanan dan ke kiri mencari meja kosong.
Namun di sana sudah berantakan, dan tak ada satu meja kosong pun untuk menyimpan nampan tersebut.
"Berdiri saja di situ, dan pegang nampannya." Ucap Yatno datar.
Sementara Dante hanya diam saja.
__ADS_1
Bi Nenah menuruti perintah Yatno untuk berdiri di sana dengan nampan di kedua tangannya.
Selain itu, Bi Nenah juga bisa dengan leluasa menjalankan aksinya yang di suruh Hu Liena untuk merekam pembicaraan mereka.
"Ayo, kita mulai cari lagi!" Ajak Yatno setelah berada di dekat Dante.
"Kamu yakin, membiarkan dia berdiri terus di sana?" Tanya Dante setengah berbisik.
"Tidak ada pilihan lain, kita juga butuh minum bukan?" Jawab Yatno dengan berbisik pula.
Dante terdiam, dia benar-benar merasa tak nyaman dengan kehadiran Bi Nenah. Tapi ucapan Yatno ada benarnya juga, mereka butuh minum untuk tetap berada di sana.
Bi Nenah diam-diam menguping pembicaraan mereka berdua.
Mereka teh lagi pada ngomongin apa ya? Mencurigakan pisan! batin Bi Nenah.
"Tidak ada apa-apa di sini!" Kata Dante yang mulai merasa frustasi karena tak menemukan apapun di ruang baca Cristhian.
"Apa jangan-jangan, Cristhian hanya menggertak kita saja dulu?" Dante berkata dengan penuh rasa curiga.
Yatno langsung menutup mulut Dante dengan tangannya. "Hati-hati kalau bicara, di sini bukan hanya ada kita berdua."
Dante melirik ke arah Bi Nenah dan menghempaskan tangan Yatno yang menutup mulutnya.
"Dia itu cuma perempuan tua, jadi tidak perlu di khawatirkan. Sekali pukul saja, bakalan langsung pingsan." Balas Dante yang sedikit kesal dengan kelakuan Yatno.
"Terus, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Yatno kepada Dante.
Dante mengangkat bahunya, tanpa berbicara.
"Kalau bukan di rumahnya? Lalu di mana?" Tanya Dante yang merasa kebingungan.
"Entahlah! Itu yang harus kita selidiki sekarang." Balas Yatno bimbang.
"Ya sudah, kita pulang!" Ujar Dante pasrah.
Sejujurnya Dante juga sudah mulai lelah, dari tadi mengobrak-abrik ruangan pribadi Cristhian. Tapi belum di temukan juga catatan milik Cristhian yang menuliskan tentang tindakan korupsi mereka berdua.
Sebelum mereka berdua keluar dari ruangan, Yatno menoleh terlebih dahulu kepada Bi Nenah.
"Hehhh ... kamu beresin ini dulu, baru boleh keluar."
Bi Nenah ingin menyela, tapi dia takut di apa-apakan sama kedua orang teman Tuan Besarnya itu. Dan akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala, tanda menyanggupi ucapan dari Yatno.
Melihat Dante dan Yatno akan keluar dari ruangan Ayahnya, Leira buru-buru keluar dari tempat persembunyiannya.
"Gimana Om, sudah ketemu?" Tanya Leira dengan penuh kesopanan.
"Belum, mungkin Ayahmu menyimpannya di tempat lain." Jawab Dante dengan tersenyum ke arah Leira.
Ciihh, dasar penjahat! Pintar banget nutupin kebusukan hati kalian, batin Nicholas.
__ADS_1
Sementara Yatno, hanya terdiam sambil menatap ke arah Leira.
Nicholas melihat apa yang di lakukan Yatno saat ini, namun dia tetap menahan rasa amarahnya, karena tak ingin mendapatkan murka dari Leira.
Seandainya saja, Nicholas tidak menghargai keberadaan Leira di dekatnya. Mungkin dia sudah mencungkil kedua mata Yatno yang berani menatap Leira dengan penuh nafsu itu.
"Kita pulang dulu ya, Leira." Kata Dante sembari menyikut perut Yatno.
"Ada apa?" Bentak Yatno marah, karena Dante menyikut perutnya dengan keras.
"Pulang!" Balas Dante singkat sembari berjalan mendahului Yatno.
Yatno berjalan mengikuti Dante. Namun pandangan matanya, tetap tertuju kepada Leira.
"No! Yatno!" Panggil Dante berulang-ulang kali.
Setelah beberapa saat tidak mendapatkan respon sama sekali, Dante menarik paksa tangan Yatno.
"Apa-apaan kamu, Dante?" Ujar Yatno sembari mendorong Dante menjauh darinya.
"Kamu yang apa-apaan? Aku panggil-panggil tidak menjawab sama sekali." Balas Dante yang merasa kesal dengan sikap Yatno.
"Iya, sorry! Ayo masuk mobil, ada yang ingin aku bicarakan." Ajak Yatno sembari membuka pintu mobil mini busnya.
Dante menyusul masuk ke dalam mobil, dan kali ini, dia duduk bersebelahan dengan Yatno di depan.
Yatno langsung memutar balik kendaraannya menuju pintu gerbang yang sudah terbuka lebar.
Di jalan, Yatno melirik ke arah Dante yang terlihat kesal.
"Dante, ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Yatno penuh misteri.
"Apa?" Jawab Dante ketus.
Yatno terdiam sejenak, lalu terbatuk-batuk kecil untuk mengusir kecanggungan.
"Uhuk, uhuk"
"Anu, anu ...," Ucap Yatno tak jelas.
Dante semakin kesal, dia pikir Yatno akan membicarakan hal yang serius dengannya. Namun harapannya sia-sia, Yatno hanya mempermainkannya saja.
"Kalau gak niat ngomong, ya jangan!" Ketus Dante.
Yatno jadi berubah masam, dia juga ingin langsung mengatakannya. Namun terlalu malu, dengan usianya saat ini.
Yatno langsung membunyikan klakson dengan kencang, ketika ada kendaraan lain yang menghalangi jalannya.
Toottt~
"Yatno!" Bentak Dante yang sudah merasa tidak sabar menahan kekesalannya.
__ADS_1
"Apa?" Bentak Yatno tak kalah keras dengan suara Dante tadi.
"Kamu hari ini kenapa? Tidak seperti biasanya ...," Dante berucap dengan penuh penekanan kepada Yatno.