
Leira mengerjapkan matanya, dia berpura-pura tidak mengerti dengan perkataannya Nicholas.
"Ternyata, apa?" tanya Leira pura-pura tidak tahu.
"Sudahlah, Ra. Jangan bersandiwara lagi, aku sudah tahu semuanya." ucap Nicholas sambil menyerahkan kartu undangan miliknya kepada Leira.
"Bisa jadi 'kan, kalo ini hanya salah cetak." dalih Leira yang sontak membuat Nicholas memelototkan mata
"Jangan bicara sembarangan! Amit-amit!" tolak Nicholas dengan tegas.
Leira terkekeh, lalu menyimpan undangan di atas meja di dekatnya.
"Nah, sekarang sudah tahu 'kan, aku tunangannya sama siapa?" goda Leira yang membuat Nicholas tersipu malu.
"Terima kasih ya, Ra. Terima kasih, karena kamu telah memberiku kesempatan untuk bisa hidup bersamamu. Aku janji, aku akan membahagiakanmu selamanya. Dan aku juga berjanji, aku tidak akan pernah menyakitimu dan hanya menjadikanmu, satu-satunya Ratu yang bertahta di hatiku." ucap Nicholas sambil menggenggam kedua tangan Leira.
"Amiiinn!"
Ucap semua orang dengan serempak. Entah sejak kapan mereka semua ada di sana, yang jelas, wajah Nicholas dan juga Leira menjadi memerah semerah buah tomat.
Waktu cepat berlalu, dan akhirnya hari bahagia 'pun datang juga.
Pesta yang di adakan keluarga Mahendra sangatlah meriah, dengan di hadiri tamu-tamu penting dari kalangan pebisnis, dan relasinya Niko yang sengaja di undang di pesta pertunangannya Nicholas. Putra Pertama dari keluarga Mahendra.
"Wah, Non Leira sangat cantik." ucap Bi Nenah yang sengaja datang ke Surabaya karena ingin turut memeriahkan pesta pertunangan Leira.
"Terima kasih ya, Bi." jawab Leira dengan lembut.
"Mang Ujang di mana, Bi? Kok, belum kelihatan?" tanya Mila sambil tangannya sibuk merapikan rambutnya Leira.
"Ah, pasti dia mah ngeganggu Pak Polisi atuh, Nyonya." jawab Bi Nenah yang membuat semua orang yang ada di sana tertawa mendengar logat bicaranya.
Di tengah pesta, Nicholas tampak gagah dengan stelan jas berwarna lilac. Warna yang Leira pilih sendiri, untuk acara pertunangannya.
"Nichol gugup, Mah!" bisik Nicholas kepada Alissa yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Tarik nafas, dan berdo'a semoga acaranya di lancarkan." balas Alissa sambil menepuk bahu sang Putra.
"Wah, wah, wah! Pak Polisi, hebat euy, bisa jadi kasep pisan!" celetuk Mang Ujang yang baru datang dengan memakai kemeja batik senada dengan warna stelan jas Nicholas.
Bukan hanya Mang Ujang, semua para tamu juga mengenakan stelan, dan juga gaun berwarna lilac. Mungkin, Leira menyukai nuansa warna tersebut untuk pestanya.
Dan Alissa, membebaskan Leira memilih sendiri semua dekorasi, dan semua kebutuhan pesta. Alissa ingin, Leira merasa nyaman dan juga senang di hari bahagianya bersama Nicholas.
"Mah, Leira kemana? Kok, lama sih?" tanya Nicholas dengan tidak sabaran.
Alissa tersenyum melihat tingkah Putranya yang seperti tak ingin jauh dari sosok gadis yang di cintainya sejak kecil.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi, Leira pasti turun." ucap Alissa berusaha menenangkan Nicholas yang tampak gugup tersebut.
"Hey, lihat! Itu calon menantunya Tuan Mahendra, cantik ya!"
Bisik-bisik mulai terdengar saat Leira mulai menuruni anak tangga di bantu oleh Mila dan juga Bi Nenah yang mengapit di kedua belah sisinya.
Nicholas tertegun melihat penampilan Leira yang bak Putri kerajaan tersebut. Dengan balutan dress warna lilac, berhiaskan manik-manik yang kerlap-kerlip, menambah pancaran kecantikan di wajahnya Leira.
Setelah Leira hadir, pembawa acara 'pun segera naik ke atas panggung dan membacakan serangkaian acara yang akan di gelar.
Seperti biasa, kata sambutan dan serah terima dari kedua belah pihak pertama di lakukan. Setelah itu, acara penyematan cincin di jari manis masing-masing.
Acara berlangsung khidmat, dan juga lancar tanpa kendala, atau gangguan apapun.
Semua orang bersuka cita di tengah-tengah pesta. Tak terkecuali pasangan yang saat ini sedang duduk berdampingan di sebuah sofa yang secara khusus di sediakan untuk mereka.
"Kak Nichol, selamat ya!" ucap Elena sambil memeluk Kakak laki-laki satu-satunya.
"Terima kasih ya, Len. Semoga kamu juga cepat dapat pasangan yang baik, dan juga ganteng seperti Kakak." ucap Nicholas yang membuat Elena mendelikkan mata ke arahnya.
"Aku sih pengen ya, cepat dapat jodoh, atau pasangan. Tapi, gak mau yang petakilan kaya Kak Nichol." celetuk Elena yang sontak membuat Nicholas berwajah suram.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar terus. Jangan bikin Papah malu, di hadapan para tamu!" tegur Niko yang berjalan mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
Elena langsung terdiam, dan Nicholas berusaha memperingatkan sikap Elena melalui tatapan matanya yang tajam.
"Lihat tuh, Pah. Kak Nichol, melototin aku!" adu Elena kepada Ayahnya.
Nicholas memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan dia memilih Leira untuk menjadi target tatapan selanjutnya. Tapi bukan dengan tatapan yang tajam, melainkan tatapan penuh cinta dan kasih sayang.
Semua para tamu mulai membubarkan diri satu per satu, karena acara susah hampir mau selesai.
Hanya tinggal segelintir orang terdekat saja yang tersisa sekarang di acara pesta. Dan itupun juga karena Niko masih menahan mereka untuk tidak segera pulang, karena masih betah berbincang-bincang ria seputar bisnis dan juga keluarga.
"Maaf, Bu. Di depan, ada empat orang yang memaksa masuk." lapor kepala keamanan yang bertugas menjaga di pintu gerbang.
"Siapa mereka, Pak?" tanya Alissa dengan heran.
"Saya kurang tahu tuh, Bu. Soalnya, mereka menolak menyebutkan nama." jawab si kepala keamanan dengan sopan.
Alissa semakin merasa penasaran. Pasalnya, dia tidak sedang menunggu tamu siapapun lagi sekarang. Semua tamu undangan sudah datang, dan tak ada satupun dari mereka yang terlewat mengikuti pesta.
"Kita kesana saja, Mah. Jangan suruh mereka masuk, bahaya!" ucap Elena yang langsung di benarkan oleh Nicholas.
Setelah mendapat persetujuan, kepala keamanan 'pun menjadi pemandu mereka menemui empat orang yang katanya ingin menerobos masuk ke kediaman keluarga Mahendra.
"Mah, itu bukannya mantan tunangannya Kak Leira?" tunjuk Elena kepada pria muda yang sedang berteriak-teriak minta di bukakan pintu.
"Mau apalagi dia?" ucap Nicholas dengan geram.
"Tenang, biar Mamah sendiri yang kesana. Kamu, Elena, dan juga Leira. Tunggu di sini!" tegas Alissa sambil berjalan dengan tenang ke arah pintu gerbang.
"Buka pintunya!" teriak Alex dengan mata merah.
Alissa berdiri dengan tenang di hadapan Alex yang hanya terpisah pintu teralis baja yang tinggi.
"Tante, tolong buka pintunya. Alex ingin bertemu dengan Leira, Tante." ucap Alex dengan nada memelas kepada Alissa.
"Maaf, saya tidak bisa melakukannya." tolak Alissa dengan tegas.
__ADS_1
"Tolong, Tante!" pinta Alex dengan muka sedih.