
leira tampak terkejut dengan pengakuan Nicholas tentang perasaannya.
Sejujurnya, Leira juga merasa nyaman bisa berdekatan dengan Nicholas. Namun, Leira masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Leira tidak tahu, rasa nyaman yang dia rasakan sekarang itu suka, atau hanya sekedar nyaman biasa saja.
"Nichol, aku ...," Ucap Leira dengan ragu.
"Tidak apa-apa, Ra. Aku mengerti, cinta kamu memnag hanya untuk Alex. Aku saja yang tidak tahu diri, mengharapkan perasaan cinta itu untukku." Ucap Nicholas sedih.
Leira merasa bersalah karena tak bisa meyakinkan perasaannya sendiri untuk Nicholas. Tapi Leira tidak bisa berbuat apa-apa, selain diam.
Nicholas menarik nafas panjang untuk mengusir rasa sakit di hatinya. Setelah melakukan itu, ekspresi Nicholas wajah Nicholas yang tadinya tampak sedih, kini kembali seperti semula.
"Sebaiknya, kita kembali bergabung dengan keluargaku. Di sini kurang cocok untuk kita berdua, Ra." Ucap Nicholas sembari tersenyum lembut.
Leira menatap Nicholas dengan tajam. Di balik senyuman lembut Nicholas itu, Leira tahu, ada luka yang sangat dalam di sana. Namun Nicholas berusaha menyembunyikan luka itu darinya.
"Nichol!" Panggil Nicholas pelan.
Nicholas menoleh, "Kenapa?"
"Kasih aku waktu, untuk memikirkan tawaranmu. Jika aku sudah merasa siap, aku akan menjawabnya tanpa perlu kau minta." Ucap Leira sembari menatap tajam Nicholas dengan penuh kesedihan.
Nicholas menggeleng, lalu kembali berbicara. "Tidak apa-apa, lupakan saja!"
"Aku akan tetap memikirkannya!" Tegas Leira sembari berjalan mendahului Nicholas.
Sesampainya di tempat Niko dan keluarganya menunggu, Leira langsung duduk di samping Elena.
"Kak leira! Maafin aku ya ...," Ucap Elena penuh penyesalan.
Leira tersenyum lembut, lalu mengangguk.
Niko berbisik kepada Istrinya yang kini tengah menatap Nicholas. "Sepertinya, Putra kita gagal!"
"Mungkin belum!" Balas Alissa singkat.
Alissa berjalan sambil membawa botol soda di tangannya. "Ini untukmu!"
"Terima kasih, Mah!" Jawab Nicholas sembari meraih botol soda di tangan Ibunya.
Alissa merasa sedih ketika melihat dengan jelas, jika Nicholas sedang terluka di dalam hatinya.
"Yang sabar ya, Sayang. Mungkin lain hari, hati Leira akan terbuka untukmu." Ucap Alissa yang berusaha menghibur Nicholas.
"Semoga!" Hanya itu yang Nicholas ucapkan untuk membalas Alissa.
__ADS_1
Leira memperhatikan interaksi Ibu dan anak itu dari jauh. Entah kenapa, hati Leira merasa sakit ketika melihat Nicholas bersedih.
"Kenapa Kak?" Elena yang melihat mata Leira berembun, langsung bertanya.
"Tidak apa-apa, mungkin kena debu." Leira berbohong sembari mengusap matanya.
Di sore hari, rombongan keluarga Niko bersiap untuk pulang.
Tadinya mereka ingin menghadiri pameran batik yang terkenal di Surabaya.
Namun karena suasana hati Nicholas kurang baik, jadi mereka memutuskan untuk pulang saja.
"Tante, aku ke kamar duluan ya." Pamit Leira setelah sampai rumah.
Elena dan Nicholas 'pun menyusul pergi ke kamar mereka masing-masing.
Tinggal Niko dan Alissa berdua yang ada di ruang tamu sekarang.
"Kasihan Nichol ya ...," Ucap Niko sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Alissa juga merasakan hal yang sama, dia merasa kasihan dengan Nicholas.
"Kita bantu Nichol yu, pah!" Saran Alissa kepada sang Suami.
Niko 'pun menerima saran yang di berikan Istrinya. Dia mau membantu Nicholas untuk mendapatkan cinta, yang di idam-idamkannya.
Mereka yakin, jika rencana yang mereka buat kali ini pasti akan berhasil menyatukan Nicholas dan Leira.
Malam harinya...
Sesuai rencana yang mereka buat, Niko dan Alissa mengajak Nicholas dan Elena makan di luar Dan sudah pasti, Leira juga ikut dengan acara mereka.
"Kamu mau pesen apa, Nichol?" Tanya Niko dengan sabar menulis pesanan sendiri.
Lokasi tempat mereka makan sekarang memang sangat sederhana, karena mereka memilih makan di pedagang kaki lima.
Tapi jangan salah, meskipun kaki lima, namun rasa makanannya sama dengan masakan chef hotel berbintang yang sudah terkenal.
"Aku apa aja, bebas!" Jawab Nicholas dengan asal.
"Kamu, Elena?" Niko bertanya sembari menoleh ke arah Putrinya.
"Aku juga bebas, Pah! Mau lele goreng, mau ikan goreng, mau ayam goreng 'pun, pasti aku makan." Jawab Elena simple.
Alissa menoleh ke arah Leira yang banyak diam sekarang. "Kalau kamu, mau persen apa Leira?"
"Aku samain aja Tante ...," Sahut Leira sopan.
__ADS_1
"Samain dengan siapa? Nicholas, atau Elena?" Alissa malah balik bertanya kepada Leira.
"Sama kaya Kak Nicholas aja, jangan sama aku!" Tolak Elena dengan cepat.
Alissa berpura-pura terkejut dengan penolakan Elena. Padahal, satu jam sebelum berangkat, Alissa sudah mengultimatum Putrinya agar mengatakan hal itu jika terjadi sesuatu seperti ini.
"Kenapa begitu?" Ucap Alissa dengan spontan.
"Iya, kenapa tidak boleh samaan?" Niko juga berpura-pura merasa heran.
"Tidak apa-apa! Biar Kak Leira dan Kak Nichol tambah kompak!" Jawab Elena yang sontak membuat Leira tersipu, dan Nicholas terbelalak.
"Jangan sembarangan!" Nicholas langsung menepuk kening Elena.
Elena berteriak kesakitan. Tapi teriakannya itu, tidak menghentikan aksi Nicholas yang semakin gencar mengganggunya.
"Kak Nichol, cukup!" Teriak Elena yang sudah menyerah.
"Awas ya, kalau mulut kamu masih lemes lagi. Aku akan memukulmu dengan kencang!" Ancam Nicholas kepada Adiknya yang super duper manja.
Elena meringis, dia hanya menuruti permintaan Ibunya. Tapi Nicholas, malah sampai berani menyerang dirinya.
"Ayahhhhhh!" Rengek Elena ketika sang Ayah hanya tertawa saja.
"Kenapa?" Niko berpura-pura tidak tahu.
"Kak Nichol jahat!" Rengek Elena makin kencang.
Nicholas memutar mata malas ketika Elena mengadukannya kepada Niko dan Alissa.
Dia masih kesal dengan kebohongan Elena sebelumnya, yang mengatakan jika Leira hilang padahal Leira baik-baik saja nungguin Elena di tempat pedagang. entah apa maksud dari Adiknya ini, yang jelas, Nicholas masih kesal.
"Sudah-sudah! Kakakmu itu cuka bercanda, gak mungkin dia serius mau pukul kamu ...," Alissa menengahi pertengkaran kedua Putra dan Putrinya.
"Tapi Mah ...," Elena masih ingin menyangkal ucapan Alissa, namun Niko langsung menyudahi ucapannya.
"Pesanan sudah datang, jadi sebaiknya kita makan dengan tenang!"
Elena terdiam ketika Ayahnya sudah berbicara serius seperti itu. Meskipun Niko seorang yang humoris, tapi kalau udah masuk mode serius seperti ini, tidak ada yang berani membantahnya lagi.
Alissa dan Niko makan lele goreng kesukaan mereka. Sementara Elena, Niko pesankan ikan goreng. Nicholas dan Leira, Niko sengaja pesankan menu yang sama, yaitu ayam goreng plus ati ampela. Nicholas sangat menyukai jeroan ayam yang satu itu sedari kecil. Bisa di bilang, jika itu adalah makanan favoritnya Nicholas kalau lagi makan di pedagang kaki lima kaya gini.
"Enak gak sambelnya, Leira?" Alissa melirik ke arah Leira yang sedang asik mencocol sambel terasi.
"Enak Tante! Ini sambel terenak nomor dua yang Leira pernah makan." Jawab Leira apa adanya.
Alissa mengerutkan dahinya ketika Leira bilang sambal nomor dua. Memangnya, ada sambel yang lebih enak dari sini? pikir Alissa.
__ADS_1
"Mamah pasti bingung 'kan, kenapa Leira jawab begitu?" Nicholas yang melihat Ibunya seperti kebingungan, langsung membuka suara.