Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
33. Aku takut kamu kenapa-napa.


__ADS_3

Jessica menitikkan airmatanya, ketika melihat sang Putra jatuh meluruh ke lantai halaman.


"Alex!" Ucap Jessica lirih.


Dia memang merasa kecewa dengan apa yang di lakukan Alex. Namun sebagai seorang Ibu, Jessica tidak kuasa melihat Putranya terluka seperti itu.


Wibowo tak kalah hancur perasaannya dari sang Istri. Dia ingin menghampiri dan memeluk Putranya, namun Alex tidak akan menyukai perlakuannya itu.


Justru Alex akan semakin terluka, jika Wibowo tetap memaksa melakukannya.


"Puas? Puas kau sudah menghancurkan hidup, Putraku?" Kata Jessica kepada Amoora yang sedang menatap kosong di kejauhan.


"Moora tidak ada maksud berbuat seperti itu, Tante. Moora juga mencintai Alex, sama seperti Kak Leira." Sahut Amoora yang di balas cibiran oleh Jessica.


"Cinta? Hehhh ... kamu tidak pantas mendapatkan cintanya Alex! Aku malah jadi curiga, jangan-jangan yang terjadi semalam juga, akibat perbuatan kamu! Kamu pasti menjebak Alex, benar 'kan?"


Degg~


Ucapan Jessica mampu membuat jantung Amoora memompa lebih cepat.


Memang benar, dia yang menjebak Alex semalam. Kalau tidak, mana mungkin Alex mau bercinta dengannya. Berada di dekatnya saja, Alex selalu saja menolak.


"Mah, sudah, sudah, semua tidak akan selesai hanya dengan amarah. Dan semua juga sudah terlanjur terjadi. Alex tetap harus bertanggung jawab dengan Amoora, mau itu dengan sadar, ataupun di jebak, Alex sudah melakukannya. Dan tak ada lagi yang bisa kita lakukan selain meminta Alex untuk menikahi Amoora." Ucap Wibowo lembut.


Jessica ingin membantah ucapan Suaminya.


Tapi Wibowo memintanya untuk tetap diam, dan juga tetap bersikap tenang.


Alex bangkit dan mulai berjalan memasuki mansion.


Langkahnya lunglai, mukanya pucat, dan tampak tak bergairah sama sekali.


"Nak!" Wibowo lekas merangkul Putranya yang terlihat lemah itu.


"Yang kuat ya, Nak!" Ucap Wibowo lagi.


Alex tidak menanggapi, tatapannya terlihat kosong, dan tak memiliki arti.


"Alex, Putraku sayang!" Jessica tak kuasa menahan kesedihannya menyaksikan sang buah hati terlihat menyedihkan seperti ini.


"Alex tidak apa-apa, Mah, Pah! Alex baik-baik saja!" Kata Alex dengan lemah.


Jessica semakin merana mendengar ucapan pasrah dari Putranya.


Sedangkan Wibowo, dia terlihat tenang, namun di dalam hatinya, Wibowo juga merasakan kesedihan yang teramat dalam.

__ADS_1


"Alex, maafkan aku! Gara-gara kejadian semalam, Kak Leira jadi menolakmu!" Ucap Amoora pelan.


Alex menoleh, namun tak satupun kata yang keluar dari mulutnya.


Alex seakan enggan berbicara dengan Amoora, walau hanya satu patah kata saja.


"Sebaiknya kamu sekarang istirahat dulu, Nak. Biar nanti Papah, dan Mamah kamu yang berbicara dengan Amoora." Ucap Wibowo menyuruh Alex pergi ke kamarnya.


"Papah saja yang bicara sama dia, Mamah mau nganterin Alex ke kamar." Tolak Jessica yang masih merasa kesal dengan Amoora.


Wibowo tak mau memaksa, dia hanya mengangguk membiarkan Istri dan Anaknya pergi begitu saja.


"Nak Moora, kamu sebaiknya pulang sekarang. Om janji, Alex pasti akan bertanggung jawab, dan menikahimu. Tapi untuk waktu dan tanggalnya, Om harus bicarakan dulu kepada Alex. Dan Om juga meminta waktu, karena kondisi Alex sedang tidak stabil, jadi Om tidak bisa dengan segera untuk pergi melamar kamu, Nak Moora." Jelas Wibowo sopan.


Amoora hanya mengangguk-anggukan kepala saja tanpa menyangkal satupun ucapan Wibowo.


Baginya, menikah dengan Alex sudah cukup.


Tentang waktu dan tanggal, Amoora tidak terlalu memikirkannya.


Yang penting bagi Amoora, dia menikah dengan Alex. Itu sudah cukup!


"Baik Om, Moora mengerti! Moora sekarang mau pamit pulang dulu, Om!" Ucap Amoora seraya bangkit dari tempatnya duduk.


Setelah berpamitan, Amoora 'pun pergi meninggalkan mansion mewah milik keluarga Alex.


Perasaan Amoora saat ini, antara sedih, senang, sesal, dan juga bahagia


Sedih karena melihat Alex yang tampak hancur akibat ulahnya.


Senang karena akhirnya dia bisa merebut Alex dari tunangannya.


Sesal karena di akhir, Amoora tahu jika Alex adalah tunangannya Leira, Kakak sahabat terdekatnya.


Dan bahagia, karena sebentar lagi Amoora akan menikah dengan Alex dan hidup bersama.


Di dalam sebuah taxi...


"Sabar, Ra! Cowok kaya gitu tidak pantas untuk di tangisi!" Ucap Nicholas berusaha menenangkan Leira yang terlihat kacau sekarang.


Leira tidak menggubris ucapan Nicholas. Dia tetap menangis, bahkan sekarang tangisan Leira semakin kencang.


"Leira! Sudah dong, aku jadi sedih liat kamu menangis terus seperti ini!" Ucap Nicholas dengan suara parau.


Ucapan Nicholas yang sekarang, berhasil menghentikan tangisan Leira seketika.

__ADS_1


"Maafkan aku ya, Nichol. Gara-gara aku, kamu hampir saja terluka tadi." Ucap Leira dengan suara khas orang habis menangis.


"Terluka apanya? Aku itu baik-baik saja, kamu jangan berpikir yang macam-macam. Cukup fokus sama diri kamu sendiri saja dulu, Leira." Kata Nicholas yang agak kesal.


Leira itu, bukannya mengkhawatirkan diri sendiri, dia malah mikirin dirinya yang tadi sempat ingin baku hantam dengan Alex, pria bejat yang tak tahu diri itu!


"Aku tidak apa-apa, Nichol. Aku justru takut, kamu yang kenapa-napa tadi." Ucap Leira lagi.


"Kalau kamu takut aku kenapa-napa, ngapain dari tadi kamu malah nangis sesenggukan? Nangisin si Alex yang brengsek itu?" Ucap Nicholas dengan geram.


Sejujurnya, melihat Leira menangis seperti tadi membuat hati Nicholas terbakar api cemburu.


Bisa-bisanya, Leira menangis hanya karena pria yang di cintainya tidur dengan perempuan lain. Naif sekali Leira!


"Ish ... aku itu nangis bukan karena Alex! Aku nangis karena teringat kamu mau di pukul sama dia ...," Ujar Leira dengan kesal.


"Jadi kamu nangis, bukan mikirin si pria brengsek tadi?" Tanya Nicholas dengan heran.


Leira menggeleng!


"jadi beneran, kamu nangis karena aku takut di pukul sama si pria brengsek?" Tanya Nicholas lagi setengah berteriak.


Leira mengangguk!


Nicholas tampak bahagia dengan jawaban dari Leira. Meskipun menjawab tanpa suara, dengan seperti itu saja bagi Nicholas, sudah cukup!


Leira pasti menaruh hati padanya!


Itu kesimpulan yang ada di hati Nicholas.


Tapi kebahagiaan Nicholas harus buyar karena ucapan Leira selanjutnya.


"Aku takut kamu kenapa-napa, karena kamu datang bersamaku kesini. Nanti kalau itu benar-benar terjadi, aku yang akan di salahkan, dan Alex akan masuk penjara karena telah berbuat kesalahan."


PRANGG...


Hati Nicholas hancur berkeping-keping mendengar perkataan Leira barusan.


Nicholas kira, Leira peduli padanya. Tapi dia salah, yang di pedulikan Leira tetap Alex. Si pria bejat yang menghancurkan hati Leira.


Aku pikir, kamu beneran peduli sama aku Ra. Eh, nyatanya aku salah! Kamu tetap saja mikirin pria brengsek itu, batin Nicholas.


Leira yang menyadari jika Nicholas tersinggung dengan ucapannya, langsung meminta maaf.


"Nichol, jangan marah ya! Aku berkata yang sebenarnya, jika kamu terluka, aku juga yang repot 'kan? harus menggotong kamu ke rumah sakit. Mana badan kamu segede gini ...," Ucap Leira berusaha menghibur Nicholas yang tampak murung setelah mendengar perkataannya tadi.

__ADS_1


__ADS_2