
Mobil yang di kendarai oleh Wibowo telah sampai di kediaman milik keluarga Dante Wicaksana.
"Buka gerbangnya, Pak!" Teriak Amoora dari balik jendela mobil.
Jessica geleng-geleng kepala melihat kelakuan Amoora yang tidak sopan.
Sikap Amoora bertolak belakang dengan sikapnya Leira yang selalu baik, dan sopan kepada siapa saja.
Bahkan kepada para pelayan 'pun, Leira akan bersikap ramah dan tidak pernah meninggikan suaranya.
Mobil pajero sport meluncur masuk ke dalam halaman kediaman Wicaksana.
"Mah! Mamah!" Amoora memanggil Monica dengan suara melengking.
"Moora, kamu sudah pulang!" Monica keluar dari kamar dengan raut muka kusut.
"Sudah, Mah!" Ucap Amoora sambil berjalan melewati Monica.
"Ehh, ada tamu!" Monica terkejut karena baru menyadari kehadiran orang lain di rumahnya.
"Selamat siang!" Wibowo tersenyum ramah menyapa Monica.
"Selamat siang juga! Silahkan duduk!" Balas Monica canggung karena tak mengenal orang-orang yang di bawa oleh Amoora.
Setelah semua tamunya duduk di kursi ruang tamu, Monica 'pun pamit untuk pergi ke dapur.
"Mereka siapa,Moora?" tanya Monica kepada Amoora yang baru saja mengganti pakaiannya.
"Mereka itu calon mertuanya Amoora, Mah!" Jawab Amoora yang membuat Monica terbelalak.
"Jangan becanda kamu, Moora?" ucap Monica setengah berteriak.
Amoora merasa kesal karena Ibunya tidak mempercayai ucapannya.
"Moora serius, Mah!" ucapnya sambil memutar mata malas.
"Kita harus bicara nanti!" ucap Monica sambil berjalan cepat menuju dapur.
"Terserah!" Amoora tidak peduli Monica mau setuju atau enggak. Yang jelas, dia harus tetap menikah dengan Alex bagaimanapun caranya.
"Pah, sebaiknya kita cepat-cepat pulang! Mamah tidak mau, jika harus tidur di rumah ini!" Jessica berbisik meminta pergi dari rumahnya Amoora.
Bukan hanya tidak menyukai sikap Amoora, Jessica juga merasa tidak nyaman dengan suasana di sana.
Di tambah lagi Ibunya Amoora, dia seperti tidak suka dengan kedatangan mereka.
"Iya, kita pasti pulang! Tapi sebagai tamu yang baik, kita harus pamit dulu kepada yang tuan rumah!" Jawab Wibowo dengan tenang.
Sebenarnya, bukan hanya Jessica yang merasa tidak nyaman. Wibowo dan Alex juga, merasakan hal yang sama dengan Jessica.
Apalagi Alex, perasaannya masih kalut karena memikirkan tentang Leira.
__ADS_1
"Om, Tante, Alex, maaf tadi aku agak lama ganti bajunya." Ucap Amoora yang mulai bersikap manis.
Jessica membuang muka ke samping melihat sikap Amoora yang seperti di buat-buat.
Alex tidak menyahut, dia malah sibuk melihat layar ponselnya yang menampilkan nama kontak Leira.
Hanya Wibowo yang masih bersikap baik kepada Amoora, karena prinsip Wibowo, kesopanan itu perlu meskipun kita tidak menyukai orang tersebut.
"Tidak apa-apa, Nak Moora!" Balas Wibowo ramah.
"Ini minumannya, silahkan di cicipi!" Monica datang membawa beberapa cangkir teh, dan juga camilan.
"Jadi merepotkan!" Ucap Wibowo ramah.
"Tidak sama sekali!" Monica berusaha tersenyum meskipun terpaksa.
"Mah, keluarganya Alex akan menginap di rumah kita malam ini. Boleh, 'kan?" Amoora langsung menanyakan hal itu kepada Monica di hadapan keluarga Wibowo.
Tidak ada sopan-santun sama sekali! batin Jessica.
"Tapi ...," Monica tampak keberatan dengan permintaan Amoora.
"Nyonya Monica tidak usah khawatir. Kami hanya mengantar Nak Moora pulang saja, tidak berniat menginap. Pekerjaan kami di Surabaya, tidak bisa di tinggal terlalu lama. Benar 'kan, Lex?" Wibowo berkilah dari saran Amoora untuk menginap di rumahnya.
Lagipula, Nyonya sang empunya rumah juga sepertinya merasa keberatan mereka menginap di sana. Jadi sebelum semuanya jadi runyam, Wibowo langsung meluruskan masalah ini.
"Tapi Om ...," Amoora masih bersikeras meminta keluarga Alex tetap tinggal.
"Silahkan!" Monica tidak berusaha mencegah tamunya.
"Mahh!" Protes Amoora.
Keluarga Wibowo keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Selain memang tidak nyaman, mereka juga tidak ingin menganggu ketentraman pemilik rumah dengan kedatangan mereka.
"Om, Tante!" Amoora berusaha mengejar Wibowo dan Jessica yang sudah keburu masuk ke dalam mobil.
"Alex, tunggu! Jangan pergi!" Amoora menggedor-gedor kaca mobil belakang.
"Biarkan saja, Pah!" Jessica menahan Wibowo yang ingin membuka kaca jendela belakang.
"Kasihan, Mah!"
"Kalau Papah buka, Mamah terpaksa turun, dan mencari taxi untuk pergi ke bandara." Ancam Jessica yang membuat Wibowo mengurungkan niatnya, dan segera menyalakan mesin mobil.
Mobil maju perlahan di ikuti Amoora yang berlari dari belakang. "Om, Tante! Jangan pergi!" Amoora berteriak kencang setelah mobil keluar dari pintu gerbang.
"Semua ini salah Mamah!" Teriak Amoora yang merasa kesal kepada Monica.
"Kamu yang salah! Ngapain ngajak orang luar bermalam di rumah!" Monica membalas teriakan Amoora.
"Mamah jahat!" Amoora berlari ke dalam rumah dan langsung mengunci diri di dalam kamar.
__ADS_1
"Brengsek!" Amoora melempar vas bunga ke arah cermin.
_Prannggg!_
Cermin pecah berantakan karena hantaman vas bunga yang sangat keras.
"Amoora!" Monica langsung berteriak dari luar kamar.
"Mamah jahat! Aku benci! Aku benci Mamah!" Teriak Amoora dengan keras kepada Monica yang saat ini sedang menahan amarah karena kelakuan Putrinya.
"Ayah sama Anak, kelakuannya sama! Sama-sama bikin pusing!" Kata Monica sambil berjalan menjauhi kamar Amoora.
"Ini Nyonya, Bi Ijah bawain Nyonya air putih." Pembantu Monica datang menyodorkan segelas air.
"Terima kasih ya, Bi." Ucap Monica sambil menerima gelas tersebut, dan meminumnya.
Entah karena haus, atau karena sedang merasa cemas. Monica meminum air dari Bi Ijah, sampai habis tak bersisa.
"Maaf Nyonya, tamu yang tadi itu, siapa ya?" Bi Ijah merasa pemasaran dengan orang-orang yang mengantar putri majikannya.
"Mereka itu orang yang mengantar Moora dari Surabaya, Bi. Moora bilang, mereka itu calon mertuanya. Tapi saya rasa, mereka tidak menyukai Amoora. Mungkin Amoora yang terlalu memaksa, ingin menjadi menantu mereka." Tutur Monica sambil memijit pelipisnya.
"Aduhhh!" Kok bisa begitu, Nyonya?" Bi Ijah merasa terkejut dengan penjelasan majikannya.
"Gak tahu Bi ...," Monica juga merasa bingung dengan kelakukan putrinya.
Di kediaman Raharja...
"Kamu tidak apa-apa?" Alissa mencemaskan keadaan Nicholas yang memakai plaster di wajahnya.
"Memangnya, aku kenapa?" Nicholas malah balik bertanya kepada sang Ibu.
Alissa memutar mata malas. "Itu pipi kamu, sakit tidak?" tanya Alissa menjadi kesal.
"Ohh ...," Nicholas malah senyum-senyum sambil mengelus pipinya sendiri.
Niko dan Elena yang baru datang, terlihat heran melihat Nicholas yang sedang tersenyum sendirian.
"Kak Nichol kenapa, Mah?" tanya Elena kepada Alissa penasaran.
"Kesambet!" Celetuk Alissa.
Niko dan Elena saling bertukar pandangan dengan rasa tak percaya.
"Kesambet? kesambet apa Mah?" Niko kini bersuara.
"Kesambet setan cinta!" Jawab Alissa ketus.
"Hahh! Setan cinta?" Elena merasa bingung dengan jawaban yang di berikan Alissa.
Sementara Niko, dia sudah tahu pasti penyebab Nicholas menjadi seperti ini.
__ADS_1