Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
30. Kekecewaan Jessica.


__ADS_3

"Ibu sangat kecewa sekali padamu, Alex!" Ujar Jessica dengan wajah masam.


Alex menundukkan kepala!


Dia juga merasa menyesal telah melakukan hal yang memalukan tadi malam.


Di mana Alex dan Amoora tidur bersama, bahkan melakukan hubungan yang terlarang.


Tapi Alex merasa bingung, karena dia tidak ingat sama sekali dengan apa yang di lakukannya.


"Maafkan aku, Mah." Ucap Alex penuh sesal.


"Tidak ada gunanya lagi kamu minta maaf, Lex. Semua sudah terjadi, dan kami sangat menyesalkan akan hal itu." Tegas Wibowo kepada Anaknya.


Alex semakin merunduk.


Sedangkan Amoora, diam-diam menyeringai di sela-sela tangisannya.


Tinggal selangkah lagi, kamu akan benar-benar menjadi milikku, Lex. Batin Amoora.


Flashback on...


"Agghhh!"


Alex berteriak sembari membanting pesawat telpon.


Amoora yang mengintip Alex di balik pintu, langsung merasa heran.


"Alex marah dengan siapa?" Gumam Amoora.


Namun dia tidak ingin memikirkan hal itu lagi.


Kebetulan sekali, dia datang di saat Alex sedang dalam situasi hati yang buruk.


Dengan begitu, Amoora bisa melancarkan aksinya untuk mendapatkan cinta dari Alex. Meskipun harus dengan menghalalkan segala cara.


Amoora merogoh tas selempang miliknya, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil.


"Mungkin sekaranglah saatnya, aku menggunakan obat ini. Mungpung Tante Jessica dan Om Wibowo tidak ada di rumah. Jadi aku bisa leluasa mencobanya ...," Gumam Amoora lagi.


Dia lalu berbalik menuju dapur, dan meminta segelas air putih kepada pembantu di sana.


Amoora mendorong pintu kamar Alex.


Alex yang masih merasa kesal dengan Leira. Langsung bereaksi ketika melihat seseorang masuk ke dalam kamarnya. Apalagi, orang yang masuk itu adalah Amoora. Orang yang Alex jauhi, karena selalu berusaha mendekatinya.


"Sedang apa kamu di sini?" Bentak Alex ketika melihat Amoora yang melenggang dengan tenang memasuki kamarnya.


"Tenanglah, Alex. Aku hanya membawakan kamu minum ...," Ujar Amoora sembari menyodorkan gelas air putih.


Alex langsung menolak mentah-mentah air yang di sodorkan Amoora. "Tidak usah! Aku tidak butuh!"


"Jangan begitu Lex, aku sengaja membawa air minum ini karena merasa khawatir mendengar teriakanmu tadi." Ujar Amoora berusaha meyakinkan.


Alex kekeh menolak! Namun Amoora terus memaksa, agar Alex menerimanya.


Alex mengalah, dia meraih gelas yang di sodorkan Amoora dan langsung meminum isinya dengan satu kali tegukan saja.


"Bagaimana? Sudah tenang 'kan sekarang?" Kata Amoora sembari tersenyum lembut.

__ADS_1


Alex mengangguk, ia memang sudah merasa tenang setelah meminum air dari Amoora.


"Terima kasih!" Ujarnya sembari membalas senyuman Amoora.


"Sama-sama!" Balas Amoora sembari menatap Alex lekat-lekat.


Alex yang merasa canggung di tatap seperti itu, berniat ingin menegur.


Namun ketika Alex ingin membuka suara. Kepala Alex sudah terasa pening, dan hampir saja Alex tersungkur ke lantai kalau tidak di tahan oleh Amoora.


"Alex!" Ucap Amoora setengah berseru.


"Pusing!" Kata Alex seraya memegangi kepalanya.


Amoora membantu Alex untuk bersandar di sofa.


"Kamu istirahat aja di sini dulu, Lex. Aku mau ambilkan dulu obat, ya!" Kata Amoora sambil beranjak dari tempatnya.


Amoora berjalan mendekati pintu dengan perlahan.


Namun yang di lakukan Amoora selanjutnya bukanlah keluar dari pintu, dan mengambil obat untuk Alex.


Melainkan menutup pintu, dan menguncinya dari dalam.


Setelah itu, barulah Amoora menghampiri Alex kembali yang saat ini sedang membuka satu-persatu kancing kemejanya.


"Panas! panas!" Ucap Alex berulang-ulang.


"Biar aku aja yang buka, Lex!" Ucap Amoora sembari meneruskan kegiatan Alex membuka kancing baju.


Alex memicingkan matanya, dan menatap lekat ke arah Amoora.


"Sayang, kamu datang!" Ucap Alex sambil meraih tangan Amoora yang sedang membuka kancing bajunya.


"Aku kangen, sayang!" Ucap Alex lirih.


Amoora menyeringai, obat yang dia campurkan di air putih tadi sudah bereaksi kepada Alex.


Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk mendapatkan Alex.


"Aku juga kangen kamu, Lex."


Alex menarik tangan Amoora, agar dia semakin mendekat ke arahnya.


Alex menciumi bibir Amoora yang di sangkanya adalah Leira.


"Sayang, aku mencintaimu!" Gumam Alex di tengah ciuman panasnya.


Amoora membalas ciuman panas Alex.


Dia sangat menikmati suasana seperti ini.


Meskipun Alex dalam keadaan tidak sadar, namun Amoora tidak mempermasalahkannya.


Yang terpenting sekarang, Alex akan menjadi miliknya. Milik Amoora satu-satunya!


"Aghhh ... Alex, aku juga mencintaimu!" Desis Amoora yang membuat Alex semakin bergairah.


Tangan Alex semakin gencar meremas dan menggerayangi tubuh Amoora.

__ADS_1


Bahkan saat ini, tubuh Amoora sudah tidak tertutup kain secuil 'pun.


Alex yang sudang semakin terangsang, langsung membopong tubuh Amoora ke ranjangnya.


Dia bertubi-tubi mendaratkan ciuman di bibir Amoora dan juga lehernya.


"Sshhhh ... Alex." Desah Amoora.


Jilatan Alex di dadanya, sontak membuat Amoora mendesah secara terus-menerus.


"Lex ...," Racau Amoora.


'Ayo Lex, jadikan aku milikmu saat ini. Dan kau akak menjadi milikku di masa depan.' Ucap Amoora dalam hati.


Amoora merasa bahagia sekali, akhirnya bisa bersentuhan seperti ini dengan pria yang sejak lama di sukainya itu.


"Sayang!" Lenguh Alex yang gairahnya sudah semakin memanas.


Dengan cepat, Alex membuka celana boxer miliknya dan memperlihatkan sesuatu yang mengeras di balik celana tersebut.


Amoora terbelalak, dia merasa speechles dengan ukuran barang milik Alex


Alex yang sudah tidak bisa lagi menahan birahinya, langsung memasukkan sesuatu yang sudah mengeras ke arah surga milik Amoora.


Kamar mewah bernuansa abu itu, kini menjadi saksi dua insan yang sedang sama-sama di pacu oleh birahi masing-masing.


Yang terdengar di ruangan itu hanyalah lenguhan dan ******* dari kedua muda-mudi tersebut.


Flashback off...


"Alex sungguh menyesal, Pah." Ucap Alex frustasi.


Jessica mendengus ke arah Putra semata wayangnya.


Jessica sangat mengutuk perbuatan yang di lakukan oleh Alex dan juga Amoora.


"Percuma! Mamah sudah sangat kecewa sama kamu, Alex!" Kata Jessica setengah berseru.


Wibowo segera menenangkan Istrinya yang tampak terpukul karena perbuatan bejat sang Anak.


"Sabar, Mah! Semua sudah terjadi, kita ikhlaskan saja!" Ujar Wibowo sembari mengelus punggung Jessica.


"Mamah malu, Pah! Mamah malu sama Leira!" Ujar Jessica yang mampu membuat Amoora terkejut.


Leira?


Leira yang mana?


Amoora berpikir keras ketika nama Leira keluar dari mulut Jessica.


Yang Amoora takutkan, jika Leira yang Jessica maksud adalah Leira yang dia kenal sebagai Kakak sahabatnya, Naira.


Tapi semoga saja bukan!


Banyak orang yang memiliki kesamaan dalam segala hal, contohnya nama.


Dan semoga, Leira yang Jessica maksud, bukanlah Leira yang Amoora kenal.


"Mau apalagi, Mah? Semua sudah terjadi, kita akan membicarakan hal ini pelan-pelan kepada Leira. Dia itu gadis yang baik, dan pasti akan mengerti, dan memaafkan kehilafan Alex."

__ADS_1


__ADS_2