Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
6. Pembunuhan yang di rencanakan.


__ADS_3

Di rumah Wakil Walikota...


Ha-ha-ha!


"Aku sudah bilang bukan, jika rencana kita untuk membunuh Crishtian sialan itu akan berhasil ...."


Suara seorang pria yang bertubuh gemuk bergema di dalam ruang kerja Dante yang sekarang menjabat sebagai Walikota menggantikan Crishtian Raharja yang meninggal karena pembunuhan beberapa hari yang lalu.


Ternyata, kejadian yang menimpa Crishtian dan istrinya adalah sebuah pembunuhan yang di rencanakan oleh rekan-rekan di tempat kerjanya.


"Iya, semua berjalan sesuai rencana kita." Kali ini Dante yang membuka suara.


"Salah sendiri, kenapa dia ingin menyelidiki tentang masalah dana pembangunan jalan di daerah kita." Ucap si pria gemuk yang tidak lain adalah kaki tangan Dante yang bernama Yatno.


"Kamu benar, jika saja dia menutup mulut dan berpura-pura tidak mengetahuinya. pasti dia akan tetap hidup sampai sekarang ini." Ujar Dante.


Mereka berdua memutuskan untuk melenyapkan Crishtian, karena dia memiliki bukti kebusukan mereka yang menggelapkan dana desa. Dengan meninggalnya Crishtian, semua perbuatan mereka takkan pernah di ketahui banyak orang.


"Tapi kita harus tetap menjalankan semuanya sesuai rencana kita." Ucap Dante bersemangat, dia sudah menyiapkan segalanya untuk menghancurkan Crishtian. Bagaimana mungkin dia akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Of course, kita berdua akan melakukannya. Kita akan membuat seakan-akan Crishtian-lah yang melakukan penggelapan uang tersebut." Ujar Yatno kepada Dante.


"Kita juga harus menghancurkan bukti-bukti yang sudah Crishtian kumpulkan selama ini. Jika tidak, kita berdua akan berurusan dengan kepolisian Negara ini." Tambahnya lagi.


"Tapi bagaimana cara kita menghancurkannya?" Tanya Dante kepada Yatno.


"Ha-ha ... Aku yakin bukti itu dia simpan di ruang kerja yang berada di rumahnya. Kita bisa kesana untuk mencarinya atau kita bisa langsung menghancurkannya." Jawab Yatno lugas.


"Caranya?" Dante penasaran dengan ide dari Yatno.


"Kita bisa sewa orang untuk membakar rumahnya." Ujar Yatno dengan seringai jahatnya.

__ADS_1


"Anji*g! ... gila benar-benar gila!" Dante terkesiap dengan ide yang di ucapkan Yatno.


"Kita tidak punya pilihan lain lagi, ingat jika kita tidak menghancurkan barang buktinya, kita berdua bisa mati di tiang gantungan." Jelas Yatno.


"Di sana masih ada putri sulungnya Crishtian, kita tidak bisa menyingkirkannya juga." Ucap Dante yang menolak usulan dari Yatno.


"Hehh ... Kita berdua sudah pernah melakukannya, kita pernah membunuh putri kedua dari Crishtian sewaktu dulu kita ketahuan ingin merencanakan pembunuhan keluarganya. Dan sekarang, kita hanya perlu menyingkirkan satu orang lagi. Apa salahnya?" Terang Yatno datar, seakan nyawa orang lain tidaklah berharga di matanya.


Mereka memang pernah membunuh adiknya Leira yang saat itu tidak sengaja mendengar percakapan mereka ketika ingin merencanakan pembunuhan terhadap Crishtian. Hari itu Naira di bunuh dengan cara di rusak rem mobilnya hingga ia kehilangan kendali dan masuk ke dalam jurang.


"Hari itu, kita terpaksa melakukannya." Ucap Dante lirih seakan menyesali perbuatannya.


"Kali ini, kita juga terpaksa harus melakukannya lagi. Jika tidak, keselamatan kita berdua yang akan terancam. Dan jika itu semua terjadi, kamulah orang pertama yang akan masuk penjara." Ujar Yatno menguatkan tekad dari sahabatnya itu.


"Tidak, kita tidak boleh masuk penjara." Dante mulai cemas mendengar kata-kata penjara yang di ucapkan Yatno. Dia sudah berkorban sejauh ini, bagaimana mungkin akan menyerah hanya karena satu orang saja.


Wajah Yatno menampilkan kembali seringai liciknya, dia tahu cara mengatasi pikiran sahabatnya. Awalnya, Dante juga tidak ingin menggelapkan uang dana pembangunan daerah mereka. Tapi setelah Yatno membujuknya dengan kata-kata ajaibnya, Dante pun luluh dan menuruti ucapan Yatno. Bisa di bilang, jika Yatno adalah dalang utama dari penggelapan dan pembunuhan keluarga Crishtian dan Dante sebagai pion yang menjalankan seluruh rencana yang Yatno persiapkan.


PRANNGGG...


Dante terkesiap, dia takut jika salah satu dari keluarganya mengetahui rencananya jahatnya. Tidak menutup kemungkinan, jika Yatno akan menyingkirkan keluarganya juga karena tak ingin kelakuan bejatnya terkuak ke halayak ramai.


Yatno menoleh ke arah pintu yang di yakini sebagai sumber suara tempat barang yang jatuh tadi. Dia memberi isyarat kepada Dante untuk segera mengechecknya.


Dante pun beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan menghampiri pintu ruang kerjanya kemudian, dia pun langsung menarik gagang pintunya.


BRAK....


Pintu terbuka dan langsung menampilkan guci yang berserakan di atas lantai dengan kucing kesayangannya yang melenggang di sekitarnya.


"Hahhhh ...," Dante menarik nafas lega mengetahui tidak ada seorangpun dari keluarganya yang berada di sana. Dia tidak bisa membayangkan jika mereka sampai mengetahui kebenarannya, keluarga mereka bisa celaka karena Yatno takkan pernah membiarkannya.

__ADS_1


"Bagaimana?" Yatno bertanya kepadanya.


"Aman, tadi hanya si Molly yang tak sengaja memecahkan barang." Jawab Dante dengan tenang.


"Molly?" Yatno menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, Molly itu kucing kesayangan putriku. Aku lihat tadi dia berada di dekat guci yang pecah, jadi sudah pasti jika si Molly yang melakukannya. Tenang saja." Jelas Dante kepada Yatno yang masih merasa ceriga terhadap keluarganya.


Di lantai dua, seorang gadis sedang menutup mulut menggunakan kedua tangannya. Dia tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar ketika pergi ke ruang kerja Ayahnya.


"Tidak, tidak mungkin! Aku pasti salah, Ayah tidak mungkin melakukannya!" Ucapnya perlahan.


Gadis itu adalah Amoora, putri Dante satu-satunya yang juga adalah sahabat dari Naira. Dia datang untuk mengambil Novelnya yang tertinggal di ruang kerja milik sang Ayah bersama Molly kucing kesayangannya. Ketika sampai di depan pintu, Amoora malah mendengar Ayahnya sedang berbicara kepada seseorang tentang pembunuhan yang akan di lakukannya. Bahkan Amoora juga mendengar, jika sahabatnya Naira meninggal karena perbuatan dari sang Ayah.


Merasa terkejut, Amoora pun secara tidak sengaja menjatuhkan guci yang berada di sebelahnya. Setelah tersadar dari keterkejutannya, Amoora pun dengan cepat bersembunyi dan meninggalkan Molly di sana.


"Moor, Amoora!" Panggil ibunya dari lantai bawah.


Amoora pun segera mengusap airmatanya dan bergegas keluar kamar. "Iya bu ...," Jawab Amoora sambil kepalanya melongok ke bawah.


"Ayo cepat turun! Kita makan siang bersama om Yatno." Balas ibunya.


Deg...


Jantung Amoora seakan berhenti, dia sudah bisa menebak siapa orang yang sedang berbicara dengan Ayahnya tadi.


"I-Iya bu ...," Jawab Amoora yang merasa takut jika aksinya tadi ketahuan oleh sahabat Ayahnya yang bermuka kejam ini.


"Ayo dong turun, jangan iya-iya aja kamu Moora." Panggil sang ibu lagi.


Amoora tak punya pilihan lain-selain cepat turun untuk menemui kedua orangtuanya di meja makan.

__ADS_1


"Nahh, gitu dong! ... Kalau di panggil itu, harus cepat datang. Jangan iya-iya aja terus." Ucap ibunya sedikit kesal dengan kelakuan Amoora.


Amoora sendiri hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Amoora masih merasa ketakutan dan masih merasa tidak percaya dengan kenyataan yang secara tidak sengaja di ketahuinya.


__ADS_2