Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
71. Sengaja membalas dendam.


__ADS_3

Amoora berdecih, lalu pergi mengejar Alex tanpa menanggapi perkataan kedua Ibu-Ibu yang menurutnya menyusahkan saja.


"Ayo Jeng, kita langsung masuk saja. Tidak usahlah kita terus ngurusin masalah gadis tadi." ajak Dian sambil menggandeng tangannya Sri.


Secara tidak sengaja, Dian berpapasan dengan Jessica yang berpura-pura tidak melihatnya karena masih merasa malu oleh tingkah Amoora.


"Mbak Jess, kebetulan sekali ya kita berdua bertemu di sini." sapa Dian yang hanya di balas senyuman canggung Jessica.


"Iya, kebetulan sekali." sahut Jessica.


"Mungpung lagi ketemu, bagaimana kalau Mbak Jessica dan Mas Wibowo ikut gabung bersama kita semua? Meja kami di sebelah sana, Mbak. Gimana, Mbak Jess gak merasa keberatan, 'kan?" ajak Dian setengah memaksa.


Jessica menoleh ke arah Suaminya, meminta agar dia memberi pengertian kepada Adik Iparnya tersebut, agar tidak memaksanya.


"Jessica sedang kurang sehat, sekarang saja kami sedang terburu-buru untuk pulang." tolak Wibowo.


Dian menghela nafas pasrah, sebetulnya dia masih ingin bercerita banyak kepada Jessica. Tapi apa mau di kata, Kakaknya sudah membuka suara dan tidak mungkin ada orang yang berani membantah.


"Baiklah kalau begitu, Mbak. Lekas sembuh!" ucap Dian sambil mencium pipi kanan kirinya Jessica.


"Kami pergi dulu ...," pamit Wibowo dan Jessica yang di balas anggukkan oleh Dian dan juga Sri.


Di meja keluarga Mahendra, Leira kini tengah berbahagia karena Nicholas memperlakukannya sangat manis.


Dari minuman yang Nicholas tuangkan untuknya, hingga semua makanan yang dia mau 'pun, Nicholas ambilkan untuk Leira.


"cie-cie ...," goda Elena yang membuat pipi Leira bersemu merah.


Semua orang tertawa melihat Leira yang tampak kikuk karena merasa dirinya di perhatikan oleh semua orang.


"Enak ya, jadi calon pengantinnya Kak Nicholas. Apa-apa di ambilin, minuman, makanan, pokoknya semua di ambilin oleh Kak Nicholas." celetuk Elena yang membuat Leira semakin merah wajahnya.


"Makanya, kamu jangan jadi jomblo terus dong. Cari pacar!" balas Nicholas.


Elena cemberut, niat hati ingin mengganggu calon Kakak Iparnya, eh malah dia sendiri yang berbalik terkena getahnya.


"Kak Nicholas!" ucap Elena setengah berteriak.


"Makanya, jangan suka usil!" celetuk Nicholas sambil menyodorkan hidangan penutup ke arah Leira.


"Kak Nicholas aja tuh, yang suka usil. Aku, mana pernah!" kilah Elena yang membuat tertawa semua orang, termasuk Leira yang ikut terkekeh dengan penuturan calon Adik Iparnya tersebut.


Elena semakin murka, dia menyimpan sendok dan garpu dengan keras ke atas meja.


"Ah, males ngeladenin Kak Nicholas." ucap Elena sambil beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Mau kemana, Len?" tanya Alissa cemas.


"Toilet!" ketus Elena.


Alissa membiarkan saja Putrinya pergi ke toilet sendirian. Lagipula, Elena sudah besar dan tidak perlu dia harus ikut kemanapun Putrinya pergi.


Nanti Elena merasa terkekang, jika dia membatasi ruang geraknya sendiri.


Brukkk!


Elena terjatuh ketika seseorang menabraknya dengan keras.


"Aww!" rintih Elena saat dia berusaha menggerakkan tangannya.


"Maaf-maaf, tadi saya buru-buru." ucap seorang pria yang ternyata adalah Mario yang baru keluar dari toilet pria.


"Lain kali, kalau jalan matanya di pake!" ketus Elena.


Dia malah sibuk membersihkan debu yang menempel di pakaiannya.


"Maaf, saya benar-benar tidak sengaja., Nona" ucap Mario yang belum tahu jika orang yang di tabraknya adalah Elena.


Sama halnya dengan Mario, Elena juga belum mengetahui jika orang yang menabraknya saat ini adalah Mario, orang yang pernah membuatnya merasa kesal tadi siang.


Bahkan sampai saat ini, mood Elena belum membaik sama sekali. Di tambah lagi sekarang, dia terjatuh gara-gara tertabrak orang. Makin buruklah, suasana hati Elena.


"Aduh, harus berapa kali lagi saya minta maaf, Nona? Saya benar-benar tidak sengaja!" ucap Mario dengan tampang serba salah.


"Bodo amat!" timpal Elena.


Mario menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia bingung dengan situasi saat ini.


Sudah beberapa kali dia bilang maaf, namun tetap saja gadis di hadapannya malah makin menyudutkannya. Dan lagi, ini tempat umum, banyak orang yang sedang memperhatikan ke arah mereka.


"Nona, begini saja, bagaimana kalau saya mengajak anda untuk pergi ke rumah sakit? Takutnya, anda terluka dalam karena tabrakan tadi." usul Mario.


Apapun akan dia lakukan, asal si gadis tidak memperpanjang masalah, pikir Mario.


"Huh, modus!" cibir Elena.


Setelah pakaiannya bersih, Elena bersiap melanjutkan perjalanannya ke toilet.


Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat pria yang berdiri di hadapannya sekarang.


"Kamu?!" pekik Elena sambil membelalakkan mata.

__ADS_1


"Eh?!" Mario juga terkejut, dia tidak menyangka jika gadis yang di tabraknya adalah gadis yang siang tadi berada di butik Ibunya.


Elena memicingkan mata ke arah Mario, Elena seakan-akan melihat musuh bebuyutan yang baru pertama kali dia temui.


"Em, aku tahu! Kamu pasti sengaja ingin balas dendam, 'kan? Kamu sengaja menabrak aku tadi untuk membalas sakit hati tadi siang, 'kan?" tuduh Elena dengan kejam.


Mario panik, bukan karena tuduhan yang di layangkan gadis di depannya saat ini. Melainkan, panik karena tatapan semua orang yang ada di sana menatapnya dengan tajam ke arahnya.


"Nona! Balas dendam apa yang anda maksudkan? Aku tadi benar-benar tidak sengaja, tidak ada unsur balas dendam!" sangkal Mario.


Elena tidak mau kalah, dia masih bersikukuh jika Mario memang membalas perbuatannya tadi siang.


"Jangan bohong! Dasar kamu, gak malu ya, jahatin anak perempuan." cibir Elena sinis.


Perdebatan antara Mario dan juga Elena, membuat desas desus berlanjut hingga para pengunjung membubarkan diri dari sana.


"Ish, anak cowok kok hobinya balas dendam sih? ngeri ya, Jeng!" ucap pelanggan yang tadi menyaksikan masalah Elena dan juga Mario.


"Iya, Jeng. Anak muda jaman sekarang aneh-aneh, berbeda sama jaman kita dulu, ya!" timpal teman yang berjalan bersamanya.


"Benar sekali, Jeng! Masa iya, gara-gara tertabrak tadi siang oleh si gadis, terus dia balas dendam di sini! Saya mau kasih tahu Putri saya nanti, biar lebih berhati-hati bersikap dan berjalan di tempat umum. Takut nabrak orang, terus orangnya tersinggung dan balas dendam." ujar si Ibu.


Secara tidak sengaja, kedua Ibu tersebut melewati meja tempat keluarga Mahendra berada.


"Aduh, Pah! Mamah jadi takut ada apa-apa sama Elena, dia 'kan lagi ke toilet sendirian." ucap Alissa dengan cemas.


"Biar Leira saja yang nyari Elena, Mah!" kata Leira sambil bangkit dari duduknya.


"Mamah juga ikut, biar lebih gampang kalau ada apa-apa." balas Alissa menyusul bangkit.


"Saya juga, Mbak. Sekalian mau cuci tangan." Mila juga tak ketinggalan ingin mencari Elena.


Saat mereka bertiga menuju arah toilet, dari kejauhan Leira sudah melihat bayangan Elena yang sedang bersitegang dengan seorang pria yang membelakanginya.


"Mah, Tante, itu Elena!" tunjuk Leira.


Perasaan Alissa jadi campur aduk, antara cemas dan juga panik. Alissa takut, jika terjadi sesuatu yang membahayakan kepada Putri bungsunya.


"Elena, Sayang!" panggil Alissa dari jauh.


Mario semakin serba salah begitu mendengar suara seorang wanita yang di kenalnya.


Bagaimana tidak, Alissa adalah teman sekaligus pelanggan setia Ibunya di butik. Mereka sudah kenal sejak lama, bahkan Alissa sering memperlakukannya dengan baik, lebih ke seperti anak sendiri.


Yang Mario takutkan, Alissa salah paham dan mengadukan dirinya kepada sang Ibu nanti.

__ADS_1


"Tante!" sapa Mario saat Alissa sudah berada di dekat Elena.


"Eh, Nak Mario?!" Alissa sedikit terkejut dengan kemunculan Putra teman lamanya.


__ADS_2