
"Ah, tidak apa-apa. Itu 'kan hanya sebuah kesalahpahaman, jadi wajar saja jika kamu melakukannya." tukas Widodo dengan sebuah senyuman di bibirnya.
"Pah, Elena ini Putrinya langganan butik Mamah. Putri dari keluarga Mahendra, Pah!" ucap Dian dengan bangga memperkenalkan Elena.
Justru, sikap baik Dian terhadap Elena semakin membuat rasa tidak suka Zahra bertambah.
Bukan hanya itu saja, Zahra bahkan saat ini menganggap Elena sebagai saingan terberatnya yang harus segera dia singkirkan.
Zahra merasa takut, jika kedekatannya dengan keluarga Mario akan tergantikan oleh Elena. Gadis yang lebih cantik, lebih baik dari segi ekonomi keluarganya di bandingkan dengan dia yang hanya seorang Putri direktur perusahaan kecil saja.
"Wah, kebetulan sekali ya, Nak ... siapa tadi, namanya?" Widodo bertanya karena melupakan nama Elena.
"Elena, Om! Elena Mahendra!" jawab Elena sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
"Nama yang cantik, sesuai dengan paras pemiliknya." puji Widodo.
"Terima kasih banyak, Om!" ucap Elena sambil tersenyum canggung.
Elena lalu melirik ke arah gadis yang sekarang menatap penuh kebencian kepadanya. Karena tak ingin mendapat masalah baru, Elena lalu bergegas berpamitan sebelum ada api yang keluar dari sorot mata yang memandangnya dengan tajam.
"Om, maaf! Saya tidak bisa berlama-lama berada di sini, niat saya sudah tersampaikan. Saya berharap, Om dan keluarga, bisa berbesar hati menerima permohonan maaf saya ini." ucap Elena.
Widodo mengangguk puas, sikap Elena yang sopan membuatnya merasa sangat senang.
"Om 'kan sudah bilang, itu hanya salah paham saja, Nak Elena! Jadi sebaiknya kita lupakan masalah ini, ok!" tutur Widodo dengan sangat ramah.
"Baik, Om! Kalau begitu, saya permisi!" ucap Elena sambil tidak lupa dia meraih tangan Widodo dan menciumnya.
Begitu juga dengan Dian dan juga Sri, Elena tak lupa mencium tangan mereka berdua.
"Gadis yang baik ya, Mah!" celetuk Widodo sambil melirik ke arah Putranya.
Di meja yang di tempati oleh keluarga Mahendra, Niko menantikan kedatangan Putrinya dengan hati tidak tenang.
"Mah, Elena kenapa lama, ya? Apa jangan-jangan, dia berantem lagi di sana?"
"Mana mungkin, Pah! Elena 'kan gadis yang baik, mana mungkin berdebat di hadapan orangtua sih. Papah ada-ada aja, pemikirannya." sangkal Alissa.
__ADS_1
Sejujurnya, di hati Alissa dia juga merasakan kecemasan yang sama. Dia takut Putrinya akan bersikap ceroboh, dan kembali berdebat dengan Mario di hadapan kedua orangtuanya.
"Mamah, Papah!" panggil Elena sambil berjalan mendekat ke arah meja tempat keluarganya berada.
"Elena, kamu kemana aja, Nak? Papah sampai cemas nungguin kamu di sini!" pekik Niko sesaat setelah Elena berada di sampingnya.
"kan, Papah sendiri yang menyuruh Elena nemuin keluarga Widodo untuk meminta maaf. Sekarang, malah Papah juga yang misuh-misuh sendirian. Gimana sih, Pah?" protes Elena sambil mengerucutkan bibirnya yang tipis.
Niko menggaruk kepalanya yang tak gatal, dirinya menjadi salah tingkah menghadapi sikapnya Elena yang sekarang pintar memutar balikan keadaan.
"Bukan itu masalahnya!" kilah Niko.
"Lalu ...," Elena mengerjap-ngerjapkan mata membuat gemas orang-orang yang melihatnya.
"Papah tadi takut, kamu berantem lagi di sana dengan Putranya Tante Dian." celetuk Nicholas yang membuat Elena menjadi kesal.
"What?! Papah, bilang begitu?!" pekik Elena sambil memicingkan mata.
Niko kalang kabut, dia tidak bermaksud untuk mengatakan hal seperti itu tadi. Sebagai seorang Ayah, ia hanya mengkhawatirkan keadaan Putrinya, itu saja.
Alissa dan semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut, hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah laku kedua orang Ayah dan Anak tersebut.
Elena tetap mogok berbicara, bahkan ketika mereka tiba di rumah 'pun Elena tetap saja bungkam.
"Len, marah ya, kamu dengan Papah?" tanya Niko dengan memasang tampang memelas.
"Menurut Papah, wajah aku di tekuk begini, marah atau tidak?" Elena malah balik bertanya dengan wajah garang.
Niko menaikkan sebelah alisnya, dan menatap wajah Elena dengan tatapan penuh selidik.
"Menurut Papah sih, wajah kamu biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh, hanya jerawat saja yang semakin membesar." celetuk Niko yang membuat wajah Elena menjadi merah padam.
Nicholas, Leira dan yang lainnya, menutup mulut mereka semua, berusaha menahan agar tawa mereka tidak sampai meledak di hadapannya Elena.
"Papah kamu ada-ada aja, deh. Sudah tahu Elena sedang marah-marah, malah di singgung masalah jerawat." bisi Leira kepada Nicholas yang berdiri di sampingnya.
"Papah tuh, kelihatannya aja berwibawa. Padahal aslinya, lawak-lawak club!" balas Nicholas yang membuat Leira semakin tergelitik.
__ADS_1
"Pah! Jangan singgung masalah jerawat, Elena gak suka ya." protes Elena.
Niko terkekeh, tampang Putrinya jika sedang marah sangat menggemaskan.
"Papah juga gak suka, kamu marah-marah begini. Mending kita damai aja, bagaimana? Papah janji, Papah gak bakalan nyinggung masalah jerawat kamu lagi. Sumpah!" balas Niko sambil mengacungkan dua jarinya.
"Ok! Elena terima sarannya Papah, kita damai. Tapi nanti, jika Papah ingkar janji, terus menyinggung-nyinggung masalah jerawat lagi. Papah wajib, harus bayar ganti rugi. Bagaimana? Deal?" ucap Elena mengajukan kesepakatan.
"Deal!" jawab Niko dengan mantap.
Elena kembali mengumbar senyum setelah Ayahnya menerima kesepakatan yang di ajukan. Ternyata, berpura-pura marah ada untungnya juga, pikir Elena.
Niko sendiri, kini merasa sangat senang setelah Putrinya bersedia berdamai dengan dirinya.
Memang, Niko akui sikapnya sedikit berlebihan ketika sedang berada di restoran. Niko sering beranggapan, jika Putrinya itu masih kecil, dan selalu merasa khawatir berlebihan jika membiarkannya berada tanpa pengawasan sendirian.
Dan masalah harus bayar ganti rugi sepeti yang di sarankan Elena, Niko tidak merasa keberatan sama sekali. Bahkan ketika Putrinya akan mematok biaya mahal 'pun, tidak masalah baginya yang penting Elena merasa senang dan tidak memusuhinya.
Masalah yang terjadi antara Elena dan Niko, kini telah terselesaikan. Bahkan, mereka berdua sudah mulai bercanda ria seperti sedia kala.
Berbeda halnya dengan keluarga Mahendra, yang kembali rukun seperti biasanya. Di rumah keluarga Saksena, justru sekarang sedang terjadi kekacauan karena Putrinya kini tengah mengamuk.
"Dasar brengsek!" teriak Zahra sambil melemparkan barang-barang yang berada di kamarnya.
"Ra, sadar! Jangan seperti itu, Nak!" ucap Sri yang ketakutan melihat Putrinya mengamuk.
"Aku gak terima Mah, di permalukan seperti tadi. Mamah lihat 'kan, Om Widodo bahkan tidak memandangku ada di sana, Mah! Dia malah terus memuji-muji, gadis sialan tadi." teriak Zahra keras.
Sri hanya bisa menangis mendengar setiap kalimat yang di lontarkan Putrinya barusan.
Menurut Sri, sikap Widodo wajar-wajar saja jika memuji gadis yang mendatangi meja mereka ketika sedang makan malam di restoran.
Lagipula, apa yang di sebutkan oleh Widodo memang benar adanya. Gadis cantik yang tadi memanglah sangat sopan, selain cantik, tutur katanya juga lembut membuat orang lain merasa senang jika berbicara dengannya.
"Mah, aku tidak mau tahu, ya. Pokoknya, aku harus bisa menikah dengan Putranya Om Widodo, bagaimanapun caranya. Titik!" teriak Zahra yang membuat Sri merasa frustasi.
"Zahra, kamu tidak boleh memaksakan kehendak kamu sendiri. Tidak baik, Nak!" Sri berusaha menyadarkan Putrinya egois.
__ADS_1