
Leira berpikir sejenak, dia memang ingin pergi dari rumah ini beberapa hari untuk menghilangkan kepenatannya. Tapi menilik situasinya saat ini, sangat tidak memungkinkan bagi Leira melakukan perjalanan ke Luar Kota.
Akan sangat berbahaya bagi dirinya, jika berada di penjagaan dari Nicholas.
"Terima kasih, Pak Yatno. Tapi saya tidak bisa meninggalkan rumah, sementara waktu ini." Tolak Leira sopan.
Yatno merasa tidak sabar, dia sudah berusaha membujuk dengan kata-kata lembut kepada Leira. Tapi nyatanya, Leira malah menolak mentah-mentah usulannya itu.
"Terserah saja, saya cuma menyarankan." Jawab Yatno ketus.
Leira menjadi kebingungan dengan perubahan sikap Yatno kepadanya.
Nicholas menampilkan senyuman di bibirnya, tapi itu hanya sesaat. Karena setelah beberapa detik kemudian, senyuman itu sudah hilang sama sekali di bibir Nicholas.
Sedangkan Dante, kini sedang terbatuk-batuk kecil untuk memulai obrolannya dengan Leira.
"Uhuk, uhuk ...,"
"Leira, Om tahu kamu pasti merasa kesepian di sini 'kan? Oleh karena itu, Om datang kesini untuk menawarkan tempat tinggal sementara kepada kamu di rumah Om. Di sana juga 'kan ada Amoora, kamu bisa mengobrol dan pergi berdua dengannya."
Dante sebisa mungkin merendahkan nada bicaranya di hadapan Leira. Selain agar terlihat sopan, dia juga tidak ingin Leira merasa curiga terhadapnya.
Namun, Leira tidak sendirian di sana. Ada Nicholas, yang dengan setia duduk memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.
Leira menoleh ke arah Nicholas, seakan meminta saran kepadanya tentang masalah ini.
Nicholas yang mengerti dengan perasaan Leira saat ini, langsung memberi isyarat dengan tatapan matanya, agar Leira menolak dan tetap terlihat tenang di hadapan dua sahabat Ayah Leira yang terlihat mencurigakan tersebut.
"Maaf, Pak Yatno, Om Dante, bukannya Leira tidak menghargai niat baik kalian. Tapi untuk saat ini, Leira tidak bisa meninggalkan rumah." Tolak Leira sopan.
Yatno mendengus, dan Dante terlihat wajahnya memerah karena berusaha menahan amarah.
"Kenapa? kenapa tidak bisa?" Tanya Yatno yang terlihat tidak senang.
"Karena itu akan berakibat fatal terhadap keselamatan, Nona Raharja." Ucap Nicholas yang mewakili Leira.
Yatno menoleh ke arah Nicholas yang baru saja berbicara.
"Saya tidak bertanya kepada anda." Balas Yatno dengan kasar kepada Nicholas.
__ADS_1
Sedangkan Nicholas, kini terlihat tenang menghadapi sikap arogan dari Yatno.
"Maafkan saya, Pak. Tapi saya hanya mengatakan kebenaran, jika Nona Raharja meninggalkan rumah saat ini. Bukan tidak mustahil, jika keselamatannya akan terancam." Jelas Nicholas dengan tenangnya.
Yatno semakin merasa tidak senang dengan kehadiran dar Nicholas. Dia lalu menoleh ke arah Leira dan mempertanyakan keputusannya langsung.
"Saya hanya ingin mendengar jawaban darimu, Nona." Tanya Yatno penuh penekanan.
Karena situasi semakin tegang, akhirnya Dante berbicara untuk menenangkan suasana.
"Sudah, sudah! Jika Leira memang tidak bisa, untuk apa di paksa."
"Tapi ...," Yatno berusaha mengucapkan lagi kata-katanya, namun Dante segera menghentikan langsung niat Yatno.
"Aku bilang sudah, ya sudah!" Ujar Dante seraya menekankan ucapannya tegas.
Yatno terdiam, tidak baik jika dia terlalu impulsif sekarang. Apalagi, ada petugas Polisi yang menjaga Leira di hadapannya. Tidak menguntungkan bagi dirinya, terus memaksakan kehendak.
Setelah Yatno sedikit bersikap tenang, Dante memulai lagi pembicaraan. "Om datang kesini, bukan tanpa alasan. Ayahmu meminjam beberapa catatan tentang keuangan daerah, dan Om membutuhkan datanya untuk membuat laporan. Apa bisa, Om mengambilnya sekarang?"
Deg~
Leira melirik ke arah Nicholas, dan Nicholas sendiri juga melirik ke arahnya.
Di pikiran mereka sekarang sama, apa mungkin, yang di maksud oleh Crishtian di catatannya itu, adalah kedua orang ini.
"Catatan apa ya, Om? Biar, Leira ambilkan!" Ujar Leira yang berpura-pura tenang meskipun hatinya merasa tidak karuan.
Dante menggelengkan kepala, lalu mulai berbicara kembali. "Biar Om cari sendiri, kalau boleh."
"Tentu saja boleh, Om." Kata Leira seraya mengangguk kaku ke arah Dante yang kini sedang tersenyum senang.
Yatno juga terlihat lebih ramah ketika Leira memperbolehkan Dante mencari catatan Crishtian itu sendiri.
"Bagus, di mana kami bisa mulai mencarinya?" Ucap Yatno penuh semangat.
"Di sebelah sana ...," Kata Leira seraya menunjuk ruang baca milik sang Ayah.
Dante dan Yatno menoleh secara bersamaan ke arah tempat yang di tunjuk oleh Leira.
__ADS_1
"Ruangan itu?" Tanya Dante sedikit heran.
"Iya Om, ruangan itu adalah ruang baca Ayah." Jelas Leira kepada Dante.
"Tunggu apalagi? Ayo cepat, kita periksa!" Yatno yang sudah tidak sabar, langsung menarik tangan Dante yang terlihat ragu-ragu.
Dante berdiri dan mengikuti langkah Yatno yang terlihat tergesa-gesa.
Dalam hati Dante berkata 'Si Yatno, sikapnya terlalu mencolok seperti ini. Apa Leira dan Polisi ini akan curiga atau tidak, ya.'
Berbanding terbalik, dengan sikap Dante yang terlalu berhati-hati.
Sikap Yatno yang terkesan ceroboh, kini sedang mendorong paksa pintu ruang baca milik Crishtian.
Nicholas yang terus memperhatikan gerak-gerik dua orang tamu Leira ini, jadi semakin merasa curiga.
Aku yakin, kedua orang ini terlibat dengan pembunuhan Om Crishtian. Aku harus bekerja lebih keras lagi, agar kasus ini segera terungkap. Kasihan Leira, jika harus di kelilingi orang jahat seperti ini, batin Nicholas.
"Yatno, tahan dulu. Jangan terlalu terburu-buru ...," Dante yang melihat sikap ceroboh temannya, langsung menghentikan aksi dari Yatno.
"Pintunya memang sedikit macet, Om. Karena memang jarang ada yang masuk kesana, kecuali Ayah." Terang Leira yang membuat Yatno dan Dante saling memandang satu sama lain.
Leira membuka pintu dengan gerakan perlahan-lahan. Beberapa menit kemudian, pintu mulai terbuka meskipun dengan sedikit usaha.
"He-he ... Leira sering lihat Ayah membukanya dengan cara seperti ini." Kata Leira seraya terkekeh.
Yatno yang melihat pintu audah terbuka, langsung membuka pintu lebar-lebar.
Di dalam ruangan, terjejer buku-buku yang di susun rapi di setiap rak dengan warna yang senada.
Di sana juga terdapat satu set kursi dengan debu tebal menempel di permukaannya.
Sepertinya memang benar, jika ruangan itu tidak lagi di masuki oleh orang-orang. Terlihat jelas dari beberapa isi furnitur di dalamnya yang di lapisi debu yang menempel.
"Om dan Yatno masuk dulu, kalian boleh menunggu di luar. Karena dokumen yang ingin Om ambil sangat rahasia sekali, jadi sebaiknya kalian duduk saja." Kata Dante yang memerintahkan Leira dan Nicholas untuk mundur dari ruangan.
Leira dan Nicholas tidak menolak, mereka dengan patuhnya menuruti ucapan dari Dante yang saat ini sudah memasuki ruangan.
Setelah berada di dalam, Dante langsung menutup pintu dan menguncinya dengan cepat.
__ADS_1
"Sedang apa kau, Yatno?" Tegur Dante yang melihat Yatno hanya diam saja.