
Setelah barang selesai di kemas, Alissa 'pun mengajak Mila dan yang lainnya untuk mencari restoran di sekitar tempat tersebut.
Mario, yang masih penasaran dengan sosok Leira, akhirnya pergi mengikuti mereka sampai ke restoran.
"Mah, aku ke ***** dulu." pamit Elena.
Melihat ada kesempatan, Mario beranjak dari duduknya dan berjalan di belakang Elena.
"Hey, Nona! Tunggu!" panggil Mario.
"Kamu?! Mau apa kamu mengikutiku?!" teriak Elena terkejut.
"Tenang, tenang! Aku janji, aku tidak akan berbuat macam-macam!" ucap Mario panik saat semua orang menatap ke arahnya.
"Katakan, ada urusan apa?!" tanya Elena dengan nada sinis.
Mario menoleh ke arah kanan dan kirinya, dia tidak mau jika ada yang menguping pembicaraan mereka.
"Aku hanya mau bertanya, tentang gadis yang bernama Leira." ucap Mario canggung.
"Jangan sembarangan ya, kamu! Kak Leira itu calon Kakak Ipar aku!" bentak Elena keras.
"Bu-bukan ... Bukan itu maksudku, aduh!" Mario jadi kebingungan cara menjelaskannya.
"Terus, maksud kamu apa nanya-nanya soal Kak Leira?" tanya Elena dengan ketus.
Mario menarik nafas terlebih dahulu, sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Alex! Saudara sepupuku bernama Alex! Dulu, dia pernah bercerita jika dia bertunangan dengan seorang gadis dari Jakarta yang bernama Leira. Kalau aku tidak salah, Leira yang akan menjadi calon Kakak Iparmu juga berasal dari Jakarta, bukan?" tutur Mario penuh selidik.
Elena berdecih, dia merasa kesal begitu nama Alex di sebut. "Ya, kau benar!" hanya itu saja jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Brengsek! Alex benar-benar brengsek!" umpat Mario dengan kesal.
Elena mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Putra si pemilik butik.
Tadi dia bilang, jika Alex adalah sepupunya. Tapi sekarang, dia malah memaki kasar nama Alex.
Memusingkan!
"Elena! Kamu kok malah berdiri di sini sih? Katanya mau pergi ke Toilet." tegur Alissa sambil berjalan menuju ke arah Putrinya.
"Eh ...," Alissa terkejut saat melihat sosok Mario sedang berdiri di dekat Elena.
"Siang, Tante!" sapa Mario gugup.
Alissa tersenyum, lalu menoleh ke arah Elena dengan perasaan heran.
__ADS_1
"Kalian ... sedang apa di sini?" tanya Alissa sambil membolak-balikkan pandangannya antara Mario dan Putrinya.
Mario berubah gugup, dia merasa malu jika sampai Elena membeberkan jatidirinya.
"Tau nih, Mah. Kok bisa ya, aku ketemu lagi sama dia di sini!" ucap Elena dengan sikap juteknya.
"Hush! Jangan begitu, tidak sopan. Maaf, ya!" tegur Alissa.
Mario hanya tersenyum kaku, namun tetap tidak mengatakan apa-apa. Bahkan, jika dia harus membalas ucapan Elena 'pun, Mario lebih memilih tidak melakukannya sekarang. Dan akan membalas Elena lain kali saja.
"Ayo, kita kembali ke meja. Kasihan Leira, dia pasti sudah kelaparan karena nungguin kamu lama." ajak Alissa yang langsung di balas anggukkan Elena.
"Nak Mario, Tante duluan, ya. Kalau ada waktu, main-main ke rumah Tante." ucap Alissa sebelum pergi kembali ke tempatnya.
"Silahkan, Tante. Iya, pasti saya nanti main kesana!" balas Mario yang langsung mendapat tatapan sengit dari Elena.
"Mah, ngapain sih, Mamah ngajakin dia main ke rumah?" tanya Elena ketus.
Alissa tersenyum, Putrinya memang selalu bersikap seperti ini jika sudah merasa tersinggung.
"Tante Dian 'kan temannya, Mamah. Jadi wajarlah, kalau Mamah ngajakin Anaknya main ke rumah!"
"Terserah!'' balas Elena masih dengan nada ketus.
Di meja makan, semua orang menikmati hidangan dengan hidmat. Kecuali Elena! Dia masih merasa kesal dengan sikap Sang Ibu yang malah mengajak Mario main ke rumah. Pria yang menabraknya di butik, dan pria yang menanyakan secara langsung calon Kakak Iparnya.
Huh, lihat saja! Aku tidak akan pernah membiarkan kalian berdua memanfaatkan Kak Leira! batin Elena.
Prangg!
Secara tak sadar, Elena memecahkan sebuah piring dengan pisau yang sedang dia gunakan.
"Len, kamu kenapa sih?" tegur Alissa.
Leira yang menyaksikan hal itu, segera mengecek tangan Elena. Dia takut jika tangan calon Adik Iparnya tersebut terkena serpihan piring.
"Kamu enggak kenapa-napa 'kan, Len?" tanya Leira dengan cemas.
Elena menggeleng sambil menatap lekat wajah Leira yang sedang mencemaskan dirinya.
Tekad Elena semakin kuat, dia tidak akan membiarkan siapapun merebut calon Kakak Iparnya yang baik seperti Leira.
"Aku gak apa-apa, Kak. Terima kasih!" balasnya.
Alissa melambaikan tangan kepada pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja mereka.
"Mbak, ini maaf piringnya pecah. Boleh minta ganti yang baru? Menunya tetap sama, ya. Nanti sekalian hitung sama kerugian piringnya." ucapnya dengan ramah dan sopan.
__ADS_1
Si pelayan mengangguk, dan beberapa menit kemudian datang kembali sambil membawa pesanan Alissa.
"Silahkan, Bu." katanya sambil menyimpan hidangan di meja.
Setelah pelayan pergi, Alissa lalu mempersilahkan Putrinya untuk makan kembali.
Setelah acara makan-makan selesai, mereka 'pun akhirnya memutuskan untuk pulang karena badan mereka juga sudah merasa kelelahan.
Belum lagi nanti malam mereka akan mengadakan makan malam bersama di sebuah restoran khas jepang ternama di Surabaya.
"Mah, aku langsung ke kamar, ya!" pamit Elena setelah sampai rumah.
Alissa mengiyakan sambil menatap punggung Putrinya yang kian menjauh.
"Mbak, ada apa?" tanya Mila penasaran.
Di sepanjang perjalanan, Alissa lebih banyak terdiam dan selalu mencuri pandang ke arah Putrinya.
"Tidak terasa, Elena sekarang sudah dewasa. Mungkin setelah Nicholas, Elena akan menyusul menikah dan meninggalkan kami berdua di rumah ini." ujar Alissa tampak bersedih.
"Kan nanti mereka bisa sering-sering nengokin Mbak, dan Mas Niko kesini." balas Mila yang menjadi ikut merasa sedih juga.
Bagaimana tidak, semenjak menikah dia hanya mempunyai satu orang Anak.
Dan ketika Anaknya baru berusia 10 tahun, Mila harus merelakan kepergian sang Anak dan juga sang Suami karena kecelakaan mobil saat baru pulang dari jalan-jalan. Beruntung bagi Mila, dia hanya mengalami luka-luka ringan saja.
Namun bagi sang Suami dan juga Anaknya, harus kehilangan nyawa setelah selama 2 hari di rawat di rumah sakit. Dokter bilang, nyawa keduanya tidak bisa terselamatkan karena ada benturan keras di kepala hingga menyebabkan pendarahan di otak.
Sejak saat itu, Mila jadi murung dan memutuskan untuk menjalani hidup sendiri. Hanya Kakak perempuannya Hani yang selalu datang untuk menguatkan dirinya pada waktu itu.
Hingga akhirnya Mila di dekatkan dengan keponakannya, yaitu Leira. Barulah Mila bisa menjalani kehidupan dengan normal, dan mendedikasikan hidupnya untuk menyayangi Leira yabg dia jadikan sebagai penyemangat hidupnya yang baru setelah Anaknya.
"Aduh, maafin saya ya, Mbak. Gara-gara saya, Mbak Mila jadi ikut-ikutan sedih." ucap Alissa saat menyadari mata Mila berembun.
"Saya juga 'kan sebentar lagi di tinggal Leira, Mbak. Jadi, saya sedih bukan karena Mbak Alissa." balas Mila sambil terkekeh.
"Lagian aku juga aneh, Mbak. Takut di tinggal nikah Elena, padahal dia belum ada calonnya."
Alissa 'pun melakukan hal yang sama dengan Mila, dia terkekeh karena merasa geli dengan kegalauan yang dia buat sendiri.
Putrinya belum ada persiapan, malah dia sibuk mikirin takut di tinggalkan. Memang Ibu-Ibu, kadang pemikirannya suka di luar nalar.
"Wah, lagi pada happy ya?" ujar Leira saat baru masuk ke dalam rumah dengan berbagai macam bingkisan di tangannya.
"Eh, Ra! Maaf, Tante tadi lupa bawa ini, jadi ngerepotin kamu." Mila terkejut ketika barang-barang yang dia beli kini di bawakan Leira.
"Mamah juga, Sayang. Maaf!" kata Alissa penuh rasa bersalah.
__ADS_1