Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
21. Kedatangan Dante dan Yatno.


__ADS_3

"Semua aman terkendali, Ndan." Jawab si Anggota.


Nicholas mengangguk puas, beberapa hari terakhir ini situasinya aman terkendali.


Semoga saja, semuanya tetap seperti ini. Agar penyelidikan tetap berlanjut tanpa ada sesuatu yang terjadi lagi, dan dalang dari kematian orangtua Leira segera tertangkap dan di hukum secara adil.


"Bagus, bagus! Semoga tidak ada lagi hal yang terjadi lagi setelah ini. Agar kasus yang kita tangani ini segera terungkap, dan kita semua bisa kembali bertugas seperti biasa." Ucap Nicholas sembari menarik nafas berat.


Perkembangan kasus kematian Crishtian Raharja sangatlah lambat. Minimnya informasi membuat pihak kepolisian sedikit kerepotan mengumpulkan barang bukti.


Sepertinya, orang-orang yang mereka hadapi sekarang adalah profesional dalam bidangnya.


Buktinya, beberapa kali mereka muncul, kepolisian tetap kesusahan mengungkap jatidiri mereka.


Bahkan ketika beberapa Anggota mereka tertangkap pun, pihak kepolisian tidak bisa mengorek banyak informasi. Jawaban dari mereka terkesan berbelit-belit dan mengulur waktu.


Ketika Nicholas masih berbincang-bincang dengan rekan dan Anggota kepolisian di sana. Sebuah mini bus berwarna hitam berhenti, tepat di depan gerbang rumah Leira.


Tot... tot...


Pengemudi si mini bus hitam membunyikan klakson beberapa kali.


Nicholas langsung bergerak ke arah gerbang, di temani beberapa Anggota untuk berjaga-jaga. Mereka harus tetap berada dalam kodisi waspada, termasuk kepada orang asing yang baru datang ini.


"Buka pintunya, aku ingin bertemu dengan Putri sahabatku." Ucap orang yang berada di jok belakang.


Dia tidak menuruni mobil, dan hanya mengeluarkan kepalanya dari jendela untuk berbicara kepada semua orang yang berjaga. Termasuk kepada Nicholas yang saat itu sudah berada di balik pintu gerbang.


"Siapa anda?" Tanya Nicholas tegas.


Si orang yang tadi berteriak, langsung mengeluarkan lagi kepalanya.


"Aku Dante Wicaksono, Crishtian Raharja adalah sahabatku, aku datang kesini ingin mengunjungi Putri sahabatku itu." Terang Dante tanpa turun sama sekali dari mobilnya.


Nicholas memang merasa tak asing dengan wajah Dante, meskipun dia baru beberapa bulan di pindahkan ke kota ini, tapi beberapa kali juga dia berkesempatan untuk bertemu dengan orang nomor satu di kotanya ini.


"Ternyata Pak Wali Kota, maafkan saya yang tidak menyambut anda dengan baik." Ucap Nicholas sopan, namun tanpa menurunkan kewaspadaan.

__ADS_1


"Ya, cepat buka gerbangnya. Apa kami harus tetap berada di sini terus sepanjang hari?" Ucap seseorang di balik kemudi.


Orang itu adalah Yatno, yang datang bersama Dante karena ingin mencari catatan yang di tinggalkan oleh Cristhian. Catatan itu sangat berarti bagi mereka, dan juga catatan itu adalah sumber kehidupan masa depan mereka.


Jika catatan yang di tinggalkan oleh Crishtian di temukan orang lain, bukan tidak mungkin masa depan mereka akan berhenti sampai di situ saja. Dalam kata lain, mereka akan di tangkap karena ketahuan telah bertindak kejahatan.


"Buka!" Perintah Nicholas kepada orang yang bertugas menjaga gerbang.


Setelah pintu gerbang di buka, mini bus hitam yang di kemudikan Yatno langsung memasuki halaman rumah keluarga Raharja.


Setelah mobil mini bus berhenti, Nicholas langsung menghampiri mereka.


"Selamat siang, Pak!" Sapa Nicholas kepada Dante yang baru menuruni mobil.


"Siang!" Balas Dante singkat.


Yatno berniat untuk melangkahkan kaki, namun di hentikan oleh Anggota dari Kepolisian.


"Maaf, Pak! Saya harus memeriksa anda terlebih dahulu ...," Kata salah Anggota kepada Yatno.


Dante pun juga langsung bersuara, "Apa begini, kalian memperlakukan tamu penting?"


Leira yang mendengar ribut-ribut dari arah halaman, langsung bergegas datang.


"Om Dante! Pak Yatno!" Sapa Leira kepada kedua tamu yang baru di lihatnya.


Dante melirik ke arah Leira yang berada di teras rumah, lalu menoleh kembali ke arah Nicholas.


"Itu! Bahkan pemilik rumah saja sudah mengenali kami, lalu apa gunanya pemeriksaan ini." Kata Dante dengan sinis.


Namun, Nicholas tidak bergeming. Dia tetap harus menjalankan semua prosedur, tanpa pandang bulu.


"Maafkan saya, Pak. Saya hanya menjalankan tugas, jadi tolong kerja samanya dari anda, Pak." Kata Nicholas penuh kesopanan.


Yatno mendengus, ia merasa geram dengan ucapan Nicholas. Untung saja dia datang tanpa senjata hari ini, kalau tidak, mungkin dia akan bertindak anarkis.


Dante yang mengetahui isi kepala Yatno, langsung menenangkan suasana. "Baiklah, kalian boleh memeriksa kami. Lagipula, kami hanya datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Jadi tidak ada masalah, jika harus di periksa terlebih dahulu sebelum masuk."

__ADS_1


Tanpa membuang banyak waktu, Nicholas langsung memeriksa Dante dan Yatno.


Setelah di rasa aman, barulah Nicholas membiarkan keduanya memasuki rumah Leira. dan tentu saja, Nicholas pun ikut masuk bersama mereka.


Yatno merasa kesal karena merasa di buntuti oleh Nicholas, namun Dante memberi isyarat agar dia hanya diam saja.


Seandainya dia yang datang sendiri, mungkin dia akan langsung menyerang dan memukuli Nicholas, pikir Yatno.


"Hallo, Leira! Bagaimana kabarnya, Nak?" Ucap Dante yang berpura-pura baik di hadapan Leira.


"Leira sehat Om, terima kasih!" Balas Leira sembari tersenyum lembut.


Nicholas menatap Leira seakan memperingatkan untuk tetap berlaku waspada kepada siapapun, termasuk kepada kedua orang ini. Firasat Nicholas mengatakan, jika kedua orang ini tidak sesederhana kelihatannya.


"Maafkan Om ya, baru bisa datang hari ini. Kamu pasti tahu 'kan, semenjak Ayahmu meninggal, Om yang bertugas mengatur kesejahteraan Kota ini." Ujar Dante di tengah langkah kakinya menuju ruang tamu.


"Iya Om, tidak apa-apa, Leira mengerti. Sebagai Wali Kota, Om pasti di sibukkan dengan urusan-urusan pemerintahan." Balas Leira dengan sopan.


"Silahkan duduk, Om!" Lanjut Leira setelah mereka tiba di ruang tamu.


Mereka semua pun duduk berkumpul di ruang tamu dengan berhadap-hadapan.


Dante dan Yatno duduk bersebelahan, sementara Nicholas duduk di kursi sebelah Leira.


"Kenapa rumahmu sampai di jaga ketat begini, Nona Raharja?" Tanya Yatno penuh penekanan.


Dari awal datang, Yatno memang terlihat lebih dominan ketimbang Dante. Itu yang membuat Nicholas selalu bersikap waspada terhadap kedua tamu sahabatnya ini.


"Beberapa hari yang lalu, ada orang yang menyusup ke rumah ini, Pak." Balas Leira kepada Yatno.


"Kalau kamu merasa terancam, kenapa tidak pindah sementara saja? Setelah aman, barulah kamu kembali lagi kesini." Ucap Yatno lagi, dia sengaja menanyakan hal itu, agar Leira mempertimbangkan ucapannya.


Jika Leira pindah, mereka juga bisa mencari catatan yang di tinggalkan Crishtian dengan bebas di sana.


Leira terdiam, ucapan sahabat Ayahnya ini ada benarnya juga. Dia bisa tinggal di rumah Tante Milla beberapa waktu untuk bersembunyi dan menenangkan diri.


Melihat Leira yang mulai tergiur dengan sarannya, Yatno kembali bersuara. "Jika kamu mau, Om akan atur semua biaya perjalanannya."

__ADS_1


__ADS_2