Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
50. Ngancurin dapur.


__ADS_3

"Kak Nichol!" Panggil Elena dengan keras.


Nicholas yang sedang berkhayal 'pun seketika menoleh ke arah Elena.


"Berisik sekali!" Cibir Nicholas yang membuat Elena menjadi kesal.


"Salah siapa di panggil dari tadi gak nyaut-nyaut?" protes Elena kepada Kakaknya.


Nicholas merasa bingung karena tidak mendengar sama sekali ada orang yang memanggilnya.


"Kamu jangan bohong, Elena. Dari tadi, gak ada satu orang 'pun yang manggil Kakak." Ucap Nicholas.


Elena memutar mata malas mendengar jawaban dari Nicholas. Bisa-bisanya dia bilang tidak mendengar suara panggilan. Padahal dari tadi, Elena dan Mamahnya Alissa, sampe harus teriak berkali-kali manggil nama Kakaknya.


"Terserah Kakak aja! Elena cape, dari tadi harus bolak-balik di suruh manggil Kakak." Ucap Elena dengan ekspresi wajah kesal.


"Siapa suruh bolak-balik, kaya setrikaan aja." Ejek Nicholas yang di balas cubitan keras oleh Elena.


"Aduhhh!" Nicholas berteriak kesakitan sambil mengelus tangannya yang lecet.


"Rasain!" Ucap Elena sambil berjalan menjauh.


Baru beberapa langkah berjalan, Elena membalikkan badannya, dan berteriak kepada Nicholas.


"Kak Leira nungguin Kakak dari tadi, katanya ada yang mau di omongin."


Mendengar Leira sedang menunggunya, Nicholas menjadi sangat senang.


"Len, tungguin Kakak!" Ucap Nicholas berlari menyusul Elena.


Sementara itu, keadaan di dapur kini kacau balau karena Alissa sedang berada di sana.


"Jangan itu, Nyonya!"


Bi Nenah berusaha mencegah Alissa memasukkan sesendok garam ke dalam semur daging yang sedang di masaknya. Namun terlambat, Alissa sudah keburu menumpahkan garam tersebut ke dalam kuali, dan mengaduknya.


Bi Nenah yang tadi pergi ke gudang dulu sebentar, kini harus merelakan semur daging yang dia buat dengan susah payah menjadi keasinan.


"Kenapa, Bi? Kok mukanya, di tekuk seperti itu?" Ucap Alissa tanpa rasa bersalah sama sekali.


Tadi memang Alissa tidak sempat mendengar teriakan Bi Nenah. Karena jarak dapur dan gudang, lumayan jauh, dan juga terhalang dinding yang memisahkan ruangan tersebut dari dapur.


"Bibi cuma takut aja semurnya tambah asin, Nyonya." Ucap Bi Nenah dengan cemas.


"Gak mungkin, Bi! Tadi aku udah tambahin gula pasir satu sendok, jadi gak mungkin asin!" Ucap Alissa sambil terus mengaduk kuali.

__ADS_1


"Nyonya yakin, itu gula?" Tanya Bi Nenah ragu.


"Yakin!" Ucap Alissa sambil menganggukkan kepala.


"Memangnya, Nyonya tahu, toples yang mana yang berisi gula?" tanya Bi Nenah kembali.


Alissa kebingungan, karena dia juga tidak tahu perbedaan gula dan garam seperti apa.


"Yang ini!" Alissa menyodorkan toples yang tadi dia anggap sebagai gula.


"Ini garam, Nyonya." Ujar Bi Nenah.


Alissa seketika menjadi panik begitu tahu kalau tadi dia menambahkan banyak garam ke dalam masakan Bi Nenah.


"Aduh! Bagaimana ini, Bi? Tadi aku kasih semurnya satu sendok makan garam. Kalo beneran asin, gimana?" Ucap Alissa dengan panik.


Bi Nenah berpikir keras untuk memecahkan masalah tentang semur daging yang keasinan.


Satu-satunya cara yang melintas di pikiran Bi Nenah sekarang, adalah mengganti menu masakannya secepat mungkin.


Bisa gawat kalau masakannya tidak segera di ganti, nanti dia kena tegur Nyonya Mila.


"Kita sisihkan dulu semur dagingnya, Nyonya. Kita ganti ganti haluan!" Ucap Bi Nenah penuh keyakinan.


"Mau di ganti apa, Bi?" tanya Alissa penasaran.


Alissa merasa bersalah kepada Bi Nenah yang sudah sibuk dari tadi menyiapkan semur daging, tapi di rusak olehnya.


"Ini, Nyonya! Kita masak ini aja ...," ucap Bi Nenah yang membawa satu kap telur ayam.


"Telur ayam?" Alissa heran karena Bi Nenah terlihat yakin dengan menu telur ayamnya.


"Kita bisa masak semur juga pake ini, Nyonya." Ucap Bi Nenah yang membuat Alissa penasaran.


"Yakin, Bi?" Alissa tampak ragu dengan ucapan Bi Nenah.


Setahu Alissa, semur itu hanya terbuat dari daging. Maklum saja, di rumahnya, dia jarang berinteraksi dengan para pelayan. Alissa juga belum pernah mengenal semur telur sebelumnya.


"Semur telur juga enak, Nyonya!" jawab Bi Nenah bersemangat.


Setelah diskusi selesai, dan mereka sepakat mengganti daging dengan telur ayam. Acara masak-masak 'pun di mulai kembali, dengan Bi Nenah yang memberi instruksi, dan Alissa yang mengeksekusi.


...----------------...


"Len, katanya Leira nungguin Kakak?" ucap Nicholas dengan kesal.

__ADS_1


Sudah sedari tadi dia mencari Leira kemana-mana, tapi tidak ketemu juga.


"Emang iya, Kak." jawab Elena sambil menyuap camilan ke dalam mulutnya.


"Kakak udah nyariin Leira kemana-mana dari tadi, tapi belum ketemu juga!" Nicholas duduk di sebelah Elena sambil mengerucutkan bibirnya.


"Emang Kakak, nyari kemana?" tanya Elena penasaran.


"Ke ruang tamu, teras, halaman depan, di dapur juga gak ada. Malah Kakak, ketemu sama Mamah di sana!" Balas Nicholas dengan malas.


"Mamah lagi apa di dapur, Kak?" Elena heran karena Alissa tidak pernah menginjak dapur selama hidupnya. Kalaupun dia bikin makanan, pasti makanan cepat saji.


"Bilang dulu Leira di mana, baru Kakak kasih tahu kegiatan Mamah di dapur." Ucap Nicholas yang membuat Elena memutar mata malas.


"Kak Leira nunggu di taman belakang, di dekat kolam ikan." Jawab Elena dengan terpaksa.


Nicholas tampak berbinar matanya begitu mengetahui keberadaan Leira.


"Mmuuuaacchhh! Terima kasih, Elena yang cantik!" Saking bahagianya, Nicholas mencium pipi Elena terlebih dahulu sebelum pergi.


"Kak, Mamah ngapain di dapur?" Elena berteriak menanyakan tentang kegiatan Alissa.


"Ngancurin dapur!" Balas Nicholas sambil berteriak juga.


Elena menutup mulutnya menahan tawa mendengar ucapan dari sang Kakak.


Mamahnya masak, itu di luar nalar. Mamahnya ngancurin dapur, itu masih masuk akal, pikir Elena.


Di taman belakang...


"Leira!" Panggil Nicholas sambil berlari menghampiri Leira yang sedang duduk di sebuah bangku taman.


"Kamu kemana aja, Nichol?" tanya Leira penasaran karena Nicholas barus datang. padahal dia nunggu sudah hampir satu jam lamanya.


"Maaf ya, Ra. Aku gak tahu kalo kamu nunggu aku di sini!" Ucap Nicholas merasa tidak enak hati karena sudah membuat Leira menunggunya terlalu lama.


"Memangnya, Elena gak kasih tahu kamu?" tanya Leira yang di jawab gelengan kepala oleh Nicholas.


Tadinya, Leira merasa kesal karena Nicholas tak kunjung datang menemuinya. Tapi setelah tahu alasannya, Leira jadi merasa kasihan juga dengan Nicholas. Elena memang sering sekali berbuat jahil kepada Kakaknya, jadi tidak heran, kalau Nicholas sampai lama, dan harus berkeliling dulu mencari keberadaannya.


"Duduk sini!" Ajak Leira sambil bergeser memberi ruang untuk Nicholas.


"Kamu mau ngomong apa, Ra?" tanya Nicholas setelah duduk di sampingnya Leira.


Leira terdiam sebentar, lalu menoleh ke arah Nicholas. "Aku mau minta maaf, karena Alex telah memukulmu!

__ADS_1


Nicholas merasa tersentuh dengan ketulusan hati seorang Leira. Padahal yang berbuat salah bukan Leira, melainkan Alex, tapi Leira tetap saja meminta maaf kepada dirinya.


__ADS_2