Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
9. Orang bayaran.


__ADS_3

"Ehh ... Pak Nicholas." Sapa Leira.


"He-he ... iya mbak Leira." Ucap Nicholas masih dengan bahasa formalnya


Ia sengaja tak ingin membongkar identitasnya untuk saat ini kepada Leira, biarlah semua berjalan seadanya saja, pikir Nicholas.


"Mbak Leira mau kemana? kok, sudah malam begini belum tidur juga?"


"Saya mau ke dapur, Pak." Jawab Leira ramah.


Nicholas tersenyum menatap teman masa kecilnya yang telah berubah menjadi gadis cantik tersebut.


"Kalau gitu, silahkan mbak. Saya juga ingin memantau kinerja anak-anak di depan." Balas Nicholas dengan senyuman khasnya.


"Baik, Pak." Sahut Leira.


Di sebuah mobil...


"Sepertinya, tugas kita kali ini sangat sulit." Kata seorang pria botak.


"Kau benar Karto, rumah itu sekarang di jaga Polisi." Ucap orang yang duduk di sebelah pria yang bernama Karto tersebut.


"Dorman, coba kau telpon dulu Boss Besar." Suruh Karto kepada teman di sebelahnya.


"Kau saja, aku malas mendengar omelan si Boss." Kata Dorman menolak.


"Kau ini, tiap kali di suruh ngobrol sama Boss selalu saja ada alasannya. Giliran masalah duit saja, paling depan." Rutuk Karto.


"Itu masalah berbeda, To." Bantah Dorman.


Karto pun mengeluarkan ponselnya tanpa banyak bicara lagi.


"Hallo, Boss!" Ucap Karto setelah panggilan telponnya di terima.


"Iya, ada apa?" Jawab pria di seberang telpon.


"Rumah mantan Walikota sekarang di jaga Polisi, Bos. Dan rencana kita malam ini, sepertinya tidak akan berhasil."


"Kau ini bodoh Karto!" Bentak si pria di telpon.


Karto langsung menjauhkan ponselnya dari telinga karena teriakan Bossnya sangat kencang.


"Apa kau tidak punya otak? Hahhh! Kau kan bisa menggunakan cara lain, masa begitu saja harus di ajarin!"


"Ta-tapi Boss, Polisi yang berjaga sangatlah banyak." Ujar Karto tergagap.


"Ya sudah, kalian pulang saja! Besok kita mulai rencana dari awal."


"Baik, Boss!" Jawab Karto pasrah.


Tutt... tutt...


Panggilan telpon langsung di akhiri oleh si Boss.


"Ayo, kita pulang!" Ajak Karto kepada si Dorman.


"Yakin?"


"Kenapa? Kamu tidak mau? Memangnya, kamu berani menghadapi Polisi-Polisi itu?" Ujar Karto kesal karena Dorman tak mempercayai perkataannya.


"Jangan marah, To. Aku itu cuma takut kalau si Boss marah, itu saja." Ujar si Dorman.

__ADS_1


"Aku juga di suruh si Boss, kalau kamu tidak percaya. Nihh ... kamu telpon sendiri saja."


Ujar Karto sambil memberikan ponselnya kepada Dorman.


Dorman tentu saja menolak, dia tidak berani jika harus berbicara dengan Bossnya meskipun hanya lewat panggilan telpon.


"Ya sudah, aku percaya. Kita pulang sekarang, sebelum para Polisi itu menyadari keberadaan kita."


Di halaman rumah Raharja...


Nicholas berjalan menghampiri anak buahnya yang saat ini baru selesai berpatroli.


"Bagaimana?" Tanya Nicholas.


"Aman, Pak." Jawab anak buah Nicholas.


"Bagus, tetap tingkatkan kewaspadaan jangan sampai lengah." Ucap Nicholas memperingatkan anak buahnya.


"Baik, Pak." Jawab mereka serempak.


Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam melintas di depan gerbang.


Nicholas memperhatikan mobil hitam tersebut sampai hilang di kejauhan.


"Apa kalian memperhatikan mobil hitam tadi?" Tanya Nicholas penuh kecurigaan.


"Iya pak, saya memperhatikannya." Jawab salah seorang anak buahnya.


"Sepertinya, mereka sengaja memata-matai rumah ini." Ujar Nicholas.


Semua anak buahnya terdiam, mereka tak terpikirkan sampai ke arah sana.


Dari tadi, mobil hitam itu memang terparkir tak jauh dari rumah Walikota. Namun, mereka membiarkannya karena menyangka itu adalah mobil milik orang sekitar.


"Lain kali kalian harus lebih teliti lagi, jangan sampai kecolongan. Keselamatan Nona Raharja, adalah tanggung jawab kita bersama. Periksa setiap orang yang berusaha mendekat ke rumah ini, jika mencurigakan. Langsung tahan!" Perintah Nicholas tegas.


Dia memang mendapatkan tugas untuk menjaga Leira dari departemen tempatnya bekerja.


Namun sekarang, tanggung jawabnya bukan hanya dari tempat kerja. Melainkan dari dalam hatinya, untuk tetap melindungi Leira.


...----------------...


Keesokan harinya, Nicholas terbangun karena mencium aroma wangi masakan yang menusuk hidungnya.


"Wangi apa ini?" Gumamnya seraya beranjak dari tempat tidur, setelah itu dia pergi membersihkan diri.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Bi Nenah ketika melihat Nicholas keluar dari kamarnya.


"Pagi juga, Bu." Balas Nicholas sopan.


Bi Nenah terkekeh geli mendengar panggilan dari Nicholas.


"Kenapa, Bu?" Tanya Nicholas heran.


"Enggak apa-apa, Pak. Cuma aneh aja, Bibi di panggil ibu." Ujar Bi Nenah.


"Oalahhh ... kirain apa, nyatanya cuma masalah sebutan aja." Nicholas ikut terkekeh bersama Bi Nenah.


"Aduh Bibi teh jadi lupa, tadi di suruh Non Leira manggil Bapak." Ujar Bi Nenah seraya menepuk keningnya.


"Ada apa ya, Bi?"

__ADS_1


"Mau ngajakin sarapan bareng, katanya." Jelas Bi Nenah.


"Baiklah, aku akan kesana." Sahut Nicholas.


Di dalam hatinya, Nicholas merasa senang. Karena setelah sekian lama, akhirnya dia bisa makan bersama dengan teman kecilnya itu.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Leira ramah.


"Selamat pagi juga, mbak Leira." Balas Nicholas seraya berjalan menghampiri meja makan.


"Silahkan duduk, Pak. Bi Nenah sudah masak hidangan special hari ini, buat Bapak." Ucap Leira.


"Wahhh ... pantesan dari tadi saya nyium aroma wangi, ternyata dari sini asalnya." Puji Nicholas.


"Kalau begitu silahkan di nikmati, Pak."


"Baik, baik!"


Mereka pun sarapan bersama, dengan Nicholas yang selalu mencuri-curi pandang ke arah Leira.


Setelah sarapan selesai, Nicholas pamit untuk mengecek kegiatan anak buahnya.


"Selamat pagi!" Ucap Nicholas.


"Selamat pagi, Pak." Jawab anggotanya serempak.


"Bagaimana hari ini? Apa ada perkembangan?"


"Belum, Pak." Ucap salah satu anak buahnya.


Tepat pada saat itu, mobil hitam yang semalam kembali lewat di depan kediaman. Kali ini bukan hanya satu mobil, melainkan tiga mobil hitam.


Nicholas yang melihat kejanggalan, segera memberi peringatan kepada para Anggotanya.


"Kalian harus lebih waspada, aku curiga ada orang-orang yang sedang mengintai kita." Kata Nicholas penuh penekanan.


"Baik, Pak." Jawab Anggotanya.


"Kalian tetap berada di sini! Aku akan kembali mengecek halaman belakang." Perintah Nicholas yang di balas anggukkan oleh semua Anggota.


Aagghhhh....


Terdengar jeritan Bi Nenah dari dalam rumah, di susul dengan teriakan seorang pria.


"Siapa kalian? Lepaskan Istriku!"


Jelas sekali jika itu adalah teriakan Mang Ujang yang sedang membentak seseorang.


Nicholas segera berlari masuk ke dalam rumah beserta beberapa para Anggotanya.


Sesampainya di sana, Nicholas melihat pria bertopeng sedang membekap Bi Nenah.


"Lepaskan dia!" Bentak Nicholas.


Si pria bertopeng menyeringai ke arahnya, lalu berbicara. "Serahkan Nona Raharja, baru aku akan melepasnya."


"Bajingan!" Nicholas berteriak dan siap menerjang.


Namun gerakan Nicholas di hentikan, oleh jeritan Bi Nenah yang lehernya meneteskan darah karena pisau yang sedari tadi di todongkan ke lehernya, semakin di tekankan.


"Berhenti! Jika kau bergerak! dia akan mati!" Gertak si pria bertopeng.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, terdengar pertarungan dari arah luar. menandakan, jika orang-orang jahat itu mulai menyerang.


Nicholas semakin mengkhawatirkan keadaan Leira yang entah berada di mana sekarang.


__ADS_2