
Nicholas hanya tertegun mendengar percakapan anggita keluarganya.
Bisa-bisanya sang Ayah berbicara seperti itu.
Orangnya ada di depan mata, malah bilang nanti tanyakan dulu orangnya.
Apa-apaan ini?
Jadi dia tidak di anggap ada oleh mereka sekarang?
Keterlaluan! Ini benar-benar keterlaluan!
Mentang-mentang ada Leira di rumahnya, Nicholas di lupakan begitu saja oleh seluruh keluarganya sendiri.
"Ehem, Pah! Nichol ada di sini, ngapain Papah bilangnya nanti? Kenapa tidak tanya langsung saja, Pah?" Ucap Nicholas kesal.
Niko hanya terkekeh melihat reaksi Nicholas yang seperti itu.
"He-he ... Papah kira kamu tidak ada, Nichol."
"What? Aku yang segede ini, gak kelihatan sama Papah?" Tanya Nicholas semakin kesal.
Benar-benar di lupakan, pikir Nicholas.
"Bukan gitu Nichol, kamu sekarang jadi banyak diam, jadi Papah berasumsi kamu tidak mau di ajak bicara sekarang." Bantah Niko kepada Putranya.
Elena juga sekarang jadi ikut membela Ayahnya, dan menyalahkan Nicholas karena menegur sang Papah.
"Jangankan Papah, aku saja berpikir Kak Nichol tidak ada di sini. Benarkan, Mah?" Ucap Elena sembari meminta dukungan sang Ibu.
"Benar, Mamah juga berpikiran begitu." Sahut Alissa.
"Kalian!" Nicholas berseru, namun tak lagi melanjutkan kata-katanya.
Dia marah, benar-benar marah karena merasa di abaikan oleh keluarganya sekarang. Dan yang membuatnya lebih marah lagi, karena Leira yang biasanya selalu mendukung Nicholas, kini hanya diam bahkan tak memandangnya sekalipun.
"Jangan marah, Nak. Kami hanya sedang merencanakan pergi liburan saja dengan Leira. Sekarang, kau mau ikut atau tidak?" Ucap Alissa lembut.
Nicholas mendengus karena masih merasa kesal dengan semua keluarganya, termasuk Leira. Tapi tak ayal juga Nicholas membalas pertanyaan dari Alissa.
"Ikut!" Jawabnya ketus.
Semua orang menahan tawa, mereka sudah bisa menebak jawaban yang akan di ucapkan oleh Nicholas.
"Sok jual mahal ya, Kak Nicholas Mah. Padahal ujung-ujungnya, dia ikut juga." Bisik Elena kepada Ibunya, Alissa.
"Hush, jangan bilang begitu. Nanti kalau Kakakmu dengar, bagaimana?" Tegur Alissa.
__ADS_1
Elena langsung menutup mulutnya dengan tangan.
Nicholas sebenarnya bisa mendengar bisikan sang Adik, karena jarak mereka yang lumayan dekat.
Namun dia berpura-pura tidak mendengarnya sekarang. Nanti saja, dia akan membuat perhitungan dengan Adiknya yang comel ini, pikir Nicholas.
"Nah, karena Nicholas sudah setuju. Sebaiknya kita beristirahat lebih awal sekarang, karena besok kita akan pergi berlibur ke tempat yang sangat jauh. Jadi membutuhkan stamina yang lebih kuat." Ucap Niko kepada semua orang.
Setelah semua orang sepakat, merekapun pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Keesokan harinya...
"Pagi semuanya ...," Sapa Alissa yang sudah siap dengan stelan travelingnya.
"Pagi juga Tante!" Sapa Leira.
"Pagi Mah!" Ucap Elena.
Hanya Nicholas yang tidak membalas sapaan dari Alissa. Kini dia sibuk dengan tatapannya yang mengarah kepada Leira.
Tampilan Leira saat ini memang membuat Nicholas tak bisa memalingkan pandangannya ke arah lain.
Stelan traveling Leira saat ini, rambut di gulung ke atas, di tambah kaca mata hitam yang membuat kulitnya terlihat kontras. Stelah kaos oblong putih, di padu padankan dengan celana denim, di tambah dengan jas blazer dengan warna krem. Membuat tampilan Leira tampak sempurna di mata Nicholas.
"Ehem, Nichol! Bantu Papah menaikkan semua barang bawaan." Niko pura-pura batuk untuk menyadarkan Nicholas.
Nicholas memasukkan semua barang-barang semua orang ke bagasi belakang mobil.
"Kamu yang nyetir!" Ucap Niko sembari melemparkan kunci mobil ke arah Nicholas.
"Papah saja!" Ujar Nicholas seraya memberikan kunci itu kepada Ayahnya.
Nicholas membuka pintu belakang dan bersiap untuk masuk. Namun aksinya di hentikan oleh Alissa dan Elena.
"Ngapain kamu mau masuk kesini?" Kata Alissa tegas.
"Iya, tempat Kakak itu di depan! Di sini tempat kami para perempuan!" Sahut Elena yang tak kalah tegas dengan Alissa.
"Di depan itu tempatnya, Mamah." Ujar Nicholas.
"Bilang saja Kakak mau deket-deket sama Kak Leira ...," Cibir Elena.
Alissa juga membenarkan ucapan Putrinya.
"Memangnya kenapa? Di pesawat juga kita duduk bersebelahan, iya 'kan Leira?" Kata Nicholas membela diri.
Leira hanya tersenyum menjawab ucapan Nicholas.
__ADS_1
"Tuh, benerkan? Leira tersenyum, berarti itu tandanya, dia tidak keberatan aku duduk di belakang." Kata Nicholas dengan PD-nya.
"Tetap saja, Kakak harus duduk di depan sekarang!" Elena masih kekeh tidak mau Nicholas duduk di belakang bersama Leira.
Nicholas mengalah, dia akhirnya duduk di depan bersama Ayahnya yang bertugas menjadi supir.
"Kasihan kamu ya, Nichol. Kamu jadi di bully oleh Ibu dan Adikmu sendiri." Sindir Niko kepada Putranya yang tampak kesal.
"Iya, Pah. Aku jadi kaya Anak tiri aja semenjak ada Leira ...," Ucap Nichol sembari cemberut.
"Sabar! Papah juga sama, tersingkirkan!" Ucap Niko sembari menarik nafas panjang.
Nicholas menepuk-nepuk pundak sang Ayah tanda memberi semangat. Sesama kaum lelaki, mereka merasa terintimidasi oleh ketiga wanita yang ada di belakang mereka. Meskipun Leira tidak terlalu dominan, namun dengan adanya Leira di antara keluarga mereka, kekuatan dua orang Ibu dan Anak menjadi sangat kuat.
Di kursi belakang, kini Elena sedang berbisik kepada Ibunya, Alissa.
"Mah, nanti di tempat wisata, kita pura-pura ninggalin Kak Leira saja. Biar Kak Nichol yang kita suruh mencarinya, bagaimana?"
"Ide bagus! Mamah setuju!" Balas Alissa antusias.
"Ok! Kita tinggal jalanin aja rencana kita ya, Mah! Tapi jangan kasih tahu Papah!" Bisik Elena lagi.
"Kenapa?" Tanya Alissa heran.
Elena menepuk keningnya sendiri dengan pelan.
"Mamah ini, kalau Papah sampai tahu, bisa kalah taruhan kita Mah. Yang lebih parah lagi dari itu, kita bisa batal belanja sepuasnya ...," Bisik Elena berusaha memperingatkan Ibunya.
"Ish, Mamah lupa! Pokoknya, Papah jangan sampai tahu rencana kita." Ucap Alissa bersemangat.
Elena 'pun sama semangatnya dengan Alissa.
"Good! Kita tinggal eksekusi besok ya, Mah!" Ujar Elena dengan ceria.
Alissa mengangguk pasti ke arah Putrinya. Jika rencana mereka berdua berhasil, Alissa dan Elena akan berkesempatan berbelanja sepuas mereka. Tentu saja, sebagai ungkapan terima kasih. Alissa dan Elena juga akan membawa Leira turut serta dalam kegiatan mereka berbelanja.
Adil, bukan?
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang di kendari oleh Niko akhirnya tiba di tempat wisata pertama mereka 'kebun bibit wonorejo.'
Tempat ini adalah destinasi paling di cari oleh wisatawan lokal maupun asing di sana.
Selain tempatnya yang berada di tengah kota, 'kebun bibit wonorejo' juga menjadi tempat andalan oara wisatawan untuk bersantai.
Tempatnya yang sejuk dengan banyak pohon-pohon rindang di sana, menjadikan tempat ini sebagai tempat terfavorit untuk menikmati pemandangan.
Tiket masuknya tidak perlu bayar, alias gratis. Jadi siapapun bisa masuk ke tempat ini untuk berwisata bersama.
__ADS_1
"Wahh ... segar!" Gumam Leira sembari memejamkan mata.