
"Kamu beneran, mau jadi menantunya Tante?" tanya Alissa dengan perasaan tak percaya.
Leira hanya membalas ucapan Alissa dengan sebuah anggukkan kepala.
"Ahhhhh, Pah! Leira mau, Pah!" teriak Alissa dengan girangnya.
Alissa melompat-lompat bahagia layaknya anak kecil yang baru saja di belikan mainan oleh orangtuanya.
"Terima kasih ya, Sayang!" ucap Alissa sambil memeluk dan mencium pipi Leira.
Beruntung sekali kamu, Ra! Lepas dari Alex, kamu malah mendapatkan jodoh dari keluarga baik seperti mereka, batin Mila.
Tanpa terasa, airmata Mila jatuh tak terbendung lagi membasahi pipinya.
"Tante kenapa?" tanya Leira sambil duduk di dekat Mila dan mengusap airmatanya.
"Tante tidak apa-apa, Ra!" jawab Mila dengan suara serak.
"Kalian sedang apa? Kok, pada ngumpul di sini?" Nicholas datang bersama Elena yang kini memasang wajah murung.
Nicholas berjalan, lalu duduk di kursi sebelah Niko, Ayahnya.
Dan Elena, tentu saja lebih memilih duduk di kursi dekat Leira, meskipun wajah Elena tak seramah seperti biasanya.
"Kami sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting." jawab Alissa lalu duduk di kursi yanga paling ujung.
"Jadi karena itu, Kak Leira gak nonton lagi bareng aku." ucap Elena kesal.
Leira terkejut, dia memang pamit pergi ke dapur mengambil air minum. Tapi dirinya malah keasikan ngobrol, dan jadi lupa dengan acara bersama Elena nonton film horor.
"Elena, itu ...,"
Leira menjadi merasa bersalah kepada Elena, acara nonton film mereka telah di rusak oleh dirinya padahal Leira sudah berjanji hari ini dia secara khusus akan menemani Elena seharian menonton film horor kesukaannya karena besok, keluarga Nicholas harus pulang ke Surabaya.
Jadi Elena meminta Leira untuk menemaninya full hari ini sebagai salam perpisahan karen mulai besok mereka sudah tidak bisa bercengkerama lagi.
__ADS_1
"Sudah, jangan cemberut begitu, Len. Jelek!" Niko malah menggoda Putrinya yang sedang marah.
"Papah!" protes Elena sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Elena, jangan seperti itu, gak sopan." tegur Alissa kepada Putrinya.
"Tidak apa-apa, Tante. Leira yang salah, jadi wajar saja jika Elena marah." ucap Leira merasa tidak enak karena semua ini kesalahan dirinya.
"Tuh, Mamah dengarkan? Kak Leira saja tidak apa-apa, tapi Mamah malah nyalahin Elena." rajuk Elena sambil memasang wajah cemberut.
Alissa ingin menegur lagi Putrinya, namun Niko memberi isyarat agar dia tidak perlu melakukannya.
"Maafin Kak Leira ya, jika kamu mau, kita bisa nonton lagi sekarang." Leira berusaha membujuk Elena agar tak merasa marah lagi.
Namun Elena tak mau menanggapi permintaan maaf Leira, dia terlanjur kecewa karena Leira memilih mengingkari janji, dengan asik-asikan ngobrol dengan kedua orangtuanya di luar.
Sepenting apa sih, obrolan mereka? Apa lebih penting ngobrol, daripada harus menemani dirinya nonton? itu pikir Elena sekarang.
"Elena jangan marah ya, Kak Leira memang bersalah, tapi dia sudah minta maaf. Dan sebagai permintaan maafnya Kak Leira, bagaimana kalau Tante Mila ajak Elena nonton di bioskop?! Mau 'kan, ya? nonton apa saja bebas!" Mila berusaha membantu Leira untuk membujuk Elena.
Segala cara akan Mila lakukan, agar Elena tak merasa marah lagi kepada keponakannya, Leira.
Awalnya, Elena juga mengajak Nicholas dan Leira untuk pergi nonton ke bioskop. Tapi Nicholas menolak ajakannya, Kakaknya beralasan kalau nonton di rumah bisa lebih menghemat waktu dan tenaga. Lebih efisien, dalihnya.
"Serius dong! Tante tidak pernah bohong!" jawab Mila sambil tersenyum lembut.
"Yeaayyyy, akhirnya nonton di bioskop juga!" Elena berseru penuh kegembiraan.
Dia sudah lupa dengan kekesalannya kepada Leira, yang telah mengingkari janji untuk menemaninya nonton seharian.
Tak hanya Elena, Mila bahkan mengajak semua orang untuk nonton bersama dan semua biayanya, Mila yang bayar.
Elena sangat antusias dengan ajakannya Mila, dia juga sudah memilih sendiri film yang akan mereka tonton nanti. Film horor!
Setelah semua orang bersiap, mereka pun pergi dalam satu mobil yang sama.
__ADS_1
Niko bertindak sebagai supir, dengan Nicholas yang duduk di sebelahnya.
Sedangkan ke empat wanita berbeda generasi, duduk di kursi penumpang.
Di sepanjang perjalanan, Elena tak henti-hentinya mengoceh menumpahkan kekesalannya kepada Nicholas yang tak mau menemaninya berkeliling di kota Jakarta.
Elena menuduh, Nicholas terlalu banyak alasan karena selalu menolak setiap kali Elena ajak jalan.
Kadang alasan keamanan, kadang alasan jalanan macet, kadang inilah, kadang itulah, Elena sampai merasa malas mendengar setiap alasan yang di ucapkan Kakaknya.
Nicholas tidak membantah, dia memang sering melakukan hal itu ketika Adiknya mengajak buat keluar cari makan, atau udara segar di hiruk pikuk kota Jakarta.
Bukan karena lelah bekerja, tapi lebih memilih untuk berdiam diri di rumah, agar bisa lebih banyak waktu untuk bersama Leira.
"Kasihan ya, Elena. Pasti kamu merasa bosan berada di rumah terus, iya 'kan?" ucap Mila seakan ikut merasakan penderitaan Elena yang harus terkurung di dalam rumah.
Gadis seusia Elena, pasti akan cepat merasa bosan berada di rumah seharian. Sewaktu Mila masih seusia Elena 'pun, dia sering keluar rumah hanya untuk ngumpul, dan mengobrol bersama teman-temannya.
"Tante Mila benar, Elena sampai merasa jengkel karena harus memohon-mohon terus sama Kak Nichol agar di ajak jalan, atau sekedar nyari camilan di Jakarta, tapi tak pernah sekalipun di dengarkan, Tante. Kak Nichol jahat! Kak Nichol pemalas!"
Elena masih terus menyudutkan Nicholas di hadapan semua orang.
Sedangkan Nicholas yang menjadi bahan pembicaraan, hanya berpura-pura tertidur di jok depan sambil menutupi telinganya menggunakan earphone.
"Tuh, Tante Mila lihat sendiri 'kan? Seperti itu Kak Nichol setiap kali Elena ajak keluar!" ucap Elena sambil memanyunkan bibirnya.
"Sudahlah, Len. Jangan terus mengganggu Kakakmu, dia mungkin capek tiap hari harus pergi kerja. Sedangkan kamu? Jangankan kerja, minum aja suka minta di anterin ke kamar." Niko bersuara membela Putranya yang terus di sudutkan.
"Bisa kali, Pah. Kalau cuma nganterin Elena jajan mah, lagian perginya juga palingan sebentar. Ya 'kan, Len?" ucap Alissa memberi dukungannya untuk sang Putri.
"Mamah benar, Pah. Hanya sebentar! Gak mungkin sampai semalaman!" ucap Elena merasa bersemangat karena mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Nicholas melepas earphone di telinganya, dan menoleh ke arah jok belakang di mana Elena sedang berada sekarang.
"Iya, nanti lain kali Kakak pasti nganterin kamu keluar. Jangankan cuma beli camilan, mau nonton sampai pagi 'pun, Kakak past anter." ucap Nicholas sambil tersenyum jahat ke arah sang Adik.
__ADS_1
"Mau nganter di mana? Di Surabaya? Elena bisa sendiri!" Elena langsung memasang wajah judes ke arah Nicholas.
"Ya sudah, kalau gak mau, Kakak gak bakalan maksa kamu kok!" jawab Nicholas sambil kembali membenarkan posisi duduknya seperti semula.