Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
60. Kepulangan ke Surabaya.


__ADS_3

Jessica memberontak, dia menolak ajakan Suaminya untuk kembali.


"Tidak, Pah. Mamah belum ingin pulang!"


"Mah, ayo, malu kita di liatin banyak orang!" kata Wibowo sambil terus berusaha mencegah agar Jessica tak lagi mendekat ke arah Leira.


Nicholas yang tidak mau masalah semakin panjang, langsung membawa Leira pergi dari sana setelah membayar makanan yang dia pesan sebelumnya.


"Mau kemana lagi kita, Nichol?" tanya Leira sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak akibat berlari terlalu cepat.


"Kita duduk di sini aja, sambil nunggu orang-orang selesai nonton!" ucap Nicholas sambil mengajak Leira duduk di salah satu bangku kosong di pinggir jalan.


"Nanti, kalau ada Tante Jessica lagi, gimana?" tanya Leira yang mulai cemas.


Bukan masalah bertemu dengan Jessica yang Leira takutkan. Tapi keributan yang di timbulkan Jessica yang membuat Leira enggan bertemu lagi dengan mantan calon mertuanya tersebut.


Semua sudah jelas, jika pisahnya dia dengan Alex, adalah murni kesalahan Alex sendiri. Bukan karena sengaja Leira ingin berpisah dengannya.


"Gak bakalan, Ra! Aku jamin, di sini aman!" ucap Nicholas sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya meminta Leira untuk duduk.


Beberapa jam kemudian, orang-orang 'pun mulai keluar dari studio film.


"Pah, Kak Nicholas, sama Kak Leira kemana, ya? Kok, belum keluar?" tanya Elena terheran-heran, karena ruangan tempatnya nonton sudah hampir kosong. Namun Leira dan Kakaknya, belum terlihat juga sampai sekarang.


"Kakakmu dari tadi juga sudah keluar, Len!" celetuk Alissa yang berjalan bersama Mila.


"Hah?! Kapan?! Elena kok, gak tahu!" ujar Elena merasa curiga jika Kakaknya sengaja keluar di tengah-tengah film sedang di putar.


"Sudah ah, Elena. Sebaiknya kita cepat keluar, Mamah udah lapar!" ucap Alissa sambil berjalan mendahului Putri dan Suaminya bersama Mila.


"Lihat tuh Len, Mamah kamu! Kalau udah punya teman baru aja, kita di lupain!" gerutu Niko saat melihat sang Istri sudah berada beberapa langkah di depannya.


Elena memutar mata malas, lalu bergegas menyusul Alissa dan juga Mila sebelum terlalu jauh.


Niko 'pun melangkahkan kakinya dengan kesal, karena tak ada seorangpun yang mau menunggunya.


"Kak Leira, Kak Nicholas!" panggil Elena saat melihat kedua orang yang di carinya sedang duduk-duduk santai di bangku jalan.


Leira menanggapi teriakan Elena, dengan sebuah senyuman manis yang tersungging di mulutnya.


Kamu cantik sekali, Ra. Seandainya saja kamu mau jadi Istri aku! batin Nicholas.


"Kak Leira, sejak kapan Kakak berada di sini?" tanya Elena sambil melirik ke arah Nicholas dengan tatapan sengit.


"Sejak, tiga puluh menit yang lalu." jawab Leira polos tanpa memperhatikan wajah Elena yang berubah suram.


"Pasti Kak Nicholas ya, yang ngajak Kak Leira kesini?" tanya Elena semakin sinis menatap ke arah Kakak laki-lakinya


"Iya, Len." jawab Leira masih belum sadar jika akan ada perang saudara yang terjadi setelah itu.


"Kak ...,


"Ayo semua, kita makan!"


Sebelum perang terjadi, untungnya Alissa langsung tanggap dan mengajak semua orang untuk pergi menuju salah satu pedagang pecel lele yang tak jauh dari tempat mereka berkumpul sekarang.

__ADS_1


"Bang, pecel lele enam!" teriak Alissa saat sudah sampai di tempat makan.


Ekspresi semua orang tampak senang, kecuali Elena yang kini menekuk wajahnya sedemikian rupa.


"Elena, Kak Leira tadi beliin ini buat kamu." ucap Leira sambil menyodorkan sebuah gantungan kunci yang ada gambar salah satu penyanyi korea yang lagi viral.


Tadinya, Elena ingin jual mahal, dan tak mau dulu menyapa Leira karena masih merasa kesal sebab Leira meninggalkan studio tanpa sepengetahuannya.


Namun, ketika melihat barang yang di belikan oleh Leira, senyum Elena 'pun mulai merekah indah.


"Wahhhh, ini 'kan bias aku, Kak!" ucap Elena dengan girang sambil meraih gantungan kunci yang bergambar aktor salah satu penyanyi korea tersebut.


Setelah selesai makan, mereka semua 'pun akhirnya memutuskan untuk langsung pulang.


Di perjalanan pulang, tidak ada satupun dari mereka, yang tidak merasa tidak senang.


Semuanya tersenyum dengan riang, karena telah menghabiskan malam panjang mereka dengan kebersamaan yang tidak akan terlupakan.


Khususnya Nicholas, dia merasa sangat bahagia, karena Leira tak lagi merasa canggung padanya.


Bahkan ketika dia memegang tangan Leira, dia tidak berusaha menolaknya.


Keesokan harinya...


"Nichol! Elena! Ayo, cepat!" teriak Alissa sambil mendorong koper miliknya.


"Iya Mah, sebentar!" jawab Elena yang masih sibuk dengan riasannya.


Sedangkan Nicholas, dia masih betah dengan hobi barunya, menatap lukisan Leira yang terpajang di dinding kamar yang di tempatinya.


"Kakak kamu, mana?" tanya Alissa saat melihat Elena hanya berjalan sendirian.


"Gak tahu, Mah. Elena panggil-panggil juga, gak jawab!" jawab Elena apa adanya.


"Ish, dasar Nicholas!"


Alissa kembali masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju kamar yang di tempati Nicholas selama di kediaman Raharja.


"Nichol! Kamu lagi apa sih, Nak? Ayo cepat, keluar!" teriak Alissa di depan pintu kamar.


Walaupun malas, Nicholas tetap mendengarkan kata-kata Ibunya.


Nicholas keluar, dengan menenteng tas ransel yang di isi semua pakaiannya.


Melihat Putranya yang sudah siap, Alissa 'pun langsung mengajak Nicholas berjalan bersamanya.


"Bi Nenah, Leira mana?" tanya Nicholas saat dia tidak melihat keberadaan Leira di sana.


"Oalah, Bibi lupa bilang. Non Leira sudah pergi dari pagi tadi, Pak Polisi " jawab Bi Nenah sambil menepuk dahinya sendiri.


"Pergi? Pergi kemana, Bi?" tanya Nicholas dengan wajah bermuram durja.


"Bibi kurang tahu, Non Leira juga tidak bilang apa-apa." jawab Bi Nenah yang menambah kesedihannya Nicholas.


Tadinya, Nicholas berharap Leira akan mengantarnya sampai bandara.

__ADS_1


Tapi nyatanya, Leira malah tidak ada di rumah, dan pergi tanpa berpamitan dulu padanya.


"Sudahlah, Nichol. Mungkin Leira ada keperluan lain, jadi dia pergi tanpa bicara dulu dengan kita." ucap Niko sambil mengelus punggung Putranya.


"Iya ih, Kak Nichol! Masa, cuman gitu aja sedih!" ejek Elena yang langsung mendapat peringatan dari Alissa.


Niko meraih tas ransel dari tangan Nicholas dan memasukannya ke dalam bagasi.


"Ayo, cepat naik." ajak Niko kepada keluarganya.


Nicholas tidak bergeming, namun Elena langsung menarik tangannya agar cepat masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di bandara, keluarga Nicholas langsung masuk ke dalam antrian karena pesawat mereka akan segera berangkat.


Beberapa jam kemudian, pesawat yang membawa mereka telah sampai di Surabaya.


Dan keluarga Nicholas langsung pulang ke rumah, karena sudah ada supir yang menjemput mereka.


"Ah, akhirnya, sampai rumah juga!" ucap Alissa sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Bahagia ya, Mah. Kalau sudah ada di rumah." ujar Niko sambil duduk di sebelah Istrinya.


"Iya dong, Pah. Bahagia!" balas Alissa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Niko.


"Ish, lebay!" protes Elena sambil kakinya menghentak-hentak lantai.


Alissa menoleh ke arah Putranya, yang kini tampak murung. Sedari awal kepulangan mereka, Nicholas seperti merasa tidak senang.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Alissa yang berpindah tempat duduk ke dekat Putranya.


"Tidak apa-apa, Mah." jawab Nicholas singkat.


Nicholas terlalu malas untuk hanya sekedar berkata-kata. Pikirannya selalu tertuju kepada Leira, yang pergi entah kemana.


Bahkan, samapi sekarang 'pun, Leira tidak berusaha untuk menghubunginya.


Leira tidak tahu, jika Nicholas sangat mengkhawatirkannya.


Teng! Teng! Teng!


Terdengar suara benda seperti panci yang di pukul dari arah ruang makan.


"Suara apa sih? Berisik sekali!" ucap Nicholas sambil menutup telinganya.


Teng! Teng! Teng!


Sekali lagi, suara tadi terdengar. Nicholas bangkit, dan berniat memarahi orang yang memukul panci dengan kencang.


Namun, gerakannya terhenti, saat dia mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya.


Teng! Teng! Teng!


"Mari makan!''


Teng! Teng! Teng!

__ADS_1


"Makanan sudah siap!"


__ADS_2