Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
26. Terungkap.


__ADS_3

Dante dan Yatno berbalik menghadap mobil dengan posisi tangan berada di atas kepala.


Polisi segera menggeledah tubuh mereka, takutnya mereka membawa senjata atau sebagainya.


Setelah di rasa aman, barulah mereka di borgol dan di masukkan ke dalam mobil tahanan.


Di dalam perjalanan, Yatno banyak terdiam.


Namun Dante, dia tak henti-hentinya mencaci dan memaki Yatno.


"Dasar brengsek! Semua ini gara-gara ide jahatmu!" Bentak Dante kepada Yatno yang saat ini sedang menatap di kejauhan.


Yatno terbayang tentang kehidupan masa lalunya di bangku SMA dulu bersama Hani.


Flashback On


"Hani, aku mau jujur sama kamu." Kata Yatno sembari menyesap jus mangga miliknya.


Hari itu, dia dan Hani berada di kantin sekolah.


"Jujur apa No?" Balas Hani sambil mengotak-atik ponselnya.


Yatno menarik nafas terlebih dahulu, untuk mengumpulkan keberaniannya.


"Aku suka sama kamu, Han. Kamu mau gak jadi pacar aku?"


Hani yang sedang asik bermain game, sontak terhenti karena ucapan Yatno.


"Kamu jangan bercanda Yatno." Balas Hani dengan raut muka tak percaya.


Yatno menggeleng, lalu kembali bersuara. ''Aku gak bercanda Han, aku suka kamu dari pertama kita masuk ke sekolah ini."


"Hubungan kita itu hanya sekedar sahabat No, kamu tidak baik berkata begitu." Kata Hani yang membuat hati Yatno terasa di iris-iris.


"Tapi Han, aku tuh benar-benar suka sama kamu." Ucap Yatno lagi dengan raut muka memelas.


Hani langsung berdiri dari duduknya.


"Kita itu hanya sahabat No, kamu jangan merusak persahabatan kita dengan embel-embel kata suka." Teriak Hani yang sontak membuat semua orang menoleh kepada mereka.


Yatno semakin sedih dengan kata-kata penolakan sahabatnya ini.


Dia sangat yakin, jika Hani akan hidup bahagia dengan dirinya. Namun Yatno tidak menyangka, jika Hani akan menolaknya. Apalagi, Hani menolaknya secara terang-terangan di hadapan semua orang.


"Han, jangan berteriak seperti itu, aku malu." Pinta Yatno dengan murung.


Namun Hani tidak menggubrisnya, dia malah berbicara semakin kencang.


"Malu? Aku semakin malu lagi, Yatno. Kita itu sahabat, tapi kamu bisa-bisanya memintaku sebagai pacar. Justru aku yang malu, bukan kamu. Apa kata orangtuaku nanti, jika mereka tahu di sekolah aku hanya mencari jodoh, bukannya belajar."


"Tapi kan kamu bisa berbicara lebih baik lagi, Han." Ucap Yatno yang semakin kecewa dengan tindakan impulsif sahabatnya itu.


"Gak, aku gak bisa Yatno. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi berbicara denganmu, ataupun melihat wajahmu." Setelah berbicara seperti itu, Hani pun pergi dari hadapan Yatno yang sekarang menjadi bahan olok-olokan semua orang.

__ADS_1


"Ha-ha-ha! Makanya, kalau jelek itu harus tahu diri."


"Iya, ya, masa muka jelek begitu ingin jadi kekasih Putri salju."


"Ha-ha-ha-ha!


"Kalau di film 'kan bisa bagus tuh judulnya. Si cantik dan si buruk rupa."


Semua teman-teman satu sekolah Yatno menertawakannya di kantin.


Yatno hanya tertunduk lesu mendengar cemoohan dari teman-temannya. Dia merasa malu dan juga sakit hati oleh perbuatan Hani kepadanya.


Keesokan harinya...


Yatno pergi ke sekolah seperti biasa.


"Yatno!" Panggil Hani yang saat ini sedang berdiri di gerbang sekolah.


"Ada apa?" Jawab Yatno lesu.


"Aku mau pamit! Aku tidak bisa lagi sekolah di tempat ini ...," Ujar Hani yang sontak membuat Yatno terperangah.


Yatno berpikir, jika Hani berhenti sekolah karena dirinya.


"Maafkan aku Han, gara-gara ucapanku kemarin, kamu jadi pindah dari sekolah ini." Ucap Yatno penuh penyesalan.


Hani menggeleng, raut mukanya juga berubah sendu.


"Kamu tidak salah, aku yang salah. Aku tidak jujur sama kamu sedari dulu, kalau aku sudah punya calon suami. Seandainya dari pertama aku jujur, mungkin kamu tidak akan berharap lebih dariku."


Hani menggelengkan kepalanya lagi.


"Bukan! Dan berhenti berkata seperti itu, Yatno. Kamu itu pria yang baik, bahkan lebih baik dari siapapun. Aku menolak, karena memang ada alasan lain, bukan karena masalah pisik kamu." Jelas Hani yang membuat Yatno menjadi terharu.


"Kalau begitu, tetaplah jadi sahabatku, Han!" Ujar Yatno yang membuat Hani menangis karena permintaannya.


"Aku ini memang sahabatmu, Yatno. Sampai kapanpun, aku akan tetap menjadi sahabatmu!"


"Lalu apa alasanmu sekarang pindah dari sekolah ini? Apa karena aku? atau karena ada alasan yang lainnya?" Cecar Yatno kepada Hani. Ia merasa tidak rela harus berpisah dari sahabat dan orang yang di cintainya itu.


"Aku harus secepatnya menikah, dan memutuskan untuk berhenti sekolah." Terang Hani perlahan.


"Me-menikah?" Yatno terkejut mendengar ucapan Hani, hingga ia berkata dengan terbata-bata.


Hani mengangguk, dan membenarkan ucapan Yatno.


"Iya, menikah. Besok!"


Hati Yatno serasa di hiris sembilu begitu mendengar perkataan Hani.


Perlahan airmata keluar dari sudut mata Yatno.


Meskipun ia bisa menerima alasan Hani yang menolaknya. Tapi Yatno masih belum rela, jika harus di tinggal nikah secepat ini oleh sahabat sekaligus pujaan hatinya itu.

__ADS_1


Hani juga merasakan pedihnya perasaan Yatno. Bagaimanapun juga, mereka adalah sahabat karib yang selalu pergi kemana-mana berdua.


"Maafkan aku, Yatno. Bukan maksudku membuatmu sedih seperti ini ...," Ucap Hani sembari meneteskan airmata.


Yatno hanya diam, mulutnya seakan terkunci rapat dan tidak bisa berkata apa-apa.


Hani mengulurkan tangannya. "Ini surat undangan pernikahanku, No. Aku harap kamu bisa datang, agar rasa bersalahku menjadi berkurang."


Yatno menerima undangan dari tangan Hani tanpa sepatah katapun juga keluar dari mulutnya.


Setelah Yatno menerima undangannya, Hani langsung berbalik dan pergi dari hadapan Yatno.


Selepas kepergian dari Hani, Yatno melirik undangan di tangannya.



Sungguh sakit hati Yatno, begitu membaca nama yang tertera di atas undangan tersebut.


Tega kamu, Han! Tega sekali membiarkan aku hancur seperti ini, batin Yatno.


Test...


Airmata Yatno jatuh perlahan di pipinya.


Tak lagi dia pedulikan cemoohan orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


Dan tak lagi dia dengar suara para guru yang memanggil-manggil namanya.


Yatno terus berdiri di depan gerbang menangisi kepergian Hani, dan kehidupannya.


Aagghhh...


BRUGHH...


Yatno yang hilang kendali langsung berteriak dan jatuh berlutut sambil meremas undangan di tangannya.


Hani yang saat ini bersembunyi tak jauh dari tempat Yatno, menitikkan airmata melihat keadaan sahabatnya yang seperti itu.


Bukan maksud dirinya ingin menyakiti Yatno.


Namun karena ungkapan hati Yatno kemarin, membuat Hani takut untuk berdekatan lagi dengannya.


Dia takut menyakiti Yatno lebih banyak lagi, jika dia terus berada di dekatnya. Jadi lebih baik, jika Hani yang pergi, agar Yatno bisa melanjutkan hidupnya dengan baik. Tanpa terlalu mengharapkan Hani lagi.


Namun beda dengan pemikiran Hani.


Yatno yang saat ini di landa kesedihan, jadi menyalahkan Crishtian karena kejadian ini.


Yatno berpikir, jika bukan karena harus menikah dengan Crishtian. Hani tidak mungkin akan meninggalkannya.


"Crishtian Raharja! Aku ingin lihat! Seberapa hebatnya, dirimu di masa depan." Gumam Yatno perlahan.


Flashback off...

__ADS_1


"Cepat keluar!" Ucap salah seorang Anggota Polisi kepada Yatno dan Dante yang masih berada di dalam mobil tahanan.


__ADS_2