Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
48. Bukan sakit, tapi perih!


__ADS_3

Nicholas menyeringai penuh kemenangan.


Sementara Alex kini tertunduk lesu karena merasa malu atas sikapnya terhadap Leira.


"Aku benar-benar hilaf, Ra. Aku tidak ada maksud untuk menyakiti hati kamu, aku juga tidak tahu, kenapa aku bisa tidur dengan Amoora malam itu." Alex berusaha mengambil hati Leira dengan berbicara apa adanya.


Namun pintu hati Leira, sudah tertutup rapat untuk Alex sekarang. Rasa sakit karena di khianati, masih di rasakan oleh Leira sampai saat ini.


"Cukup, Mas! Apapun alasanmu, aku tidak ingin mendengarnya lagi! Nichol benar, kau bukan lagi tunanganku sekarang! Aku sekarang bebas menentukan hidupku sendiri! Dan aku juga bebas, untuk mendekati, dan menjauhi siapapun yang aku inginkan!" Ketegasan yang terpancar di raut wajahnya Leira membuat Nicholas merasa bangga.


Memang sudah seharusnya, Leira bersikap tegas seperti itu.


Adakalanya, bersikap polos dan baik itu perlu di lakukan. Tapi, ketegasan juga harus dan wajib di miliki oleh setiap orang, termasuk juga Leira.


Alex semakin merasa terpojokkan jika terus berbicara dengan Leira. Bukan karena dia memang mempunyai salah, tapi karena pengaruh Nicholas sangatlah besar sekarang kepada Leira. Kalau bukan karena pengaruhnya Nicholas, mungkin Leira tidak akan setega itu padanya, pikir Alex.


"Baik, aku akan menerima semua keputusanmu itu, Ra. Mungkin kamu masih perlu waktu untuk berpikir, dan aku yakin, kamu pasti bisa menerima aku lagi nanti. Aku janji, aku akan terus menunggu, dan terus memperjuangkan kamu sampai kapanpun juga." Alex berbicara dengan menggebu-gebu.


Leira menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya agar tidak merasa emosi ketika membalas ucapan Alex.


"Aku tidak butuh waktu! Keputusanku sudah final! Aku bebas! Aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau lagi di perjuangkan olehmu, Mas! Cukup sekali, tidak ada lain kali!" Setiap kalimat yang Leira ucapkan mampu membuat hati Alex seperti tersayat-sayat. Perih!


Leira lalu membantu Nicholas untuk bangkit berdiri dari posisinya yang masih terduduk karena terjatuh akibat mendapat pukulan keras dari Alex.


"Ayo, aku obati lukamu!" Ucap Leira sambil berjalan memapah Nicholas


Nicholas tersenyum puas melihat ekspresi wajah Alex yang berubah jadi masam.


Dan ketika Nicholas berjalan melewati tempat Alex berdiri. Dengan sengaja, Nicholas membisikkan kata-kata yang membuat Alex emosi.


"Brengsek!" Alex kembali murka, dan berniat meninju Nicholas lagi. Namun niatnya di cegah langsung oleh Wibowo.

__ADS_1


"Jangan, Nak! Sabar!" Ucap Wibowo berusaha menenangkan Alex yang terlihat emosi.


Dengan terpaksa, Alex menuruti ucapan Wibowo meskipun hatinya terasa panas karena melihat Leira lebih memperhatikan Nicholas.


"Aduh!" Nicholas berteriak kesakitan ketika Leira menotolkan antiseptic di bibirnya yang pecah.


"Sakit, ya?" tanya Leira penuh rasa kekhawatiran.


"Bukan sakit, tapi perih!" Jawab Nicholas jujur.


"Maaf!" Ucap Leira lirih.


Alissa memperhatikan aktivitas Leira dan Nicholas dari kejauhan. Sebenarnya, dia ingin mendekat dan membantu mengobati luka Putranya. Namun Niko melarang Alissa, dengan alasan tidak ingin mengganggu kedekatan sepasang muda-mudi tersebut.


"Sudah selesai!" Leira kembali menutup kotak P3K yang telah selesai di gunakan.


"Terima kasih ya, Leira!" Ucap Nicholas sambil menggenggam tangannya Leira.


"Kamu itu ngomong apa sih, Nichol? Harusnya aku yang berterima kasih sama kamu! 'Kan kamu begini juga, gara-gara aku!" Ucap Leira murung.


Nicholas memberanikan diri mengelus pipi Leira yang putih mulus dengan tangan sebelah kirinya karena tangan yang kanan masing menggenggam tangannya Leira.


"Ini semua demi kamu, Ra. Aku rela ngelakuin ini semua juga, demi melindungi kamu dari laki-laki brengsek itu." Kata Nicholas lembut namun terkesan kasar pas di akhir kalimat.


"Sudahlah, Nichol! Biarkan saja, Alex memilih jalan hidupnya sendiri!" Leira menarik nafas panjang ketika mengatakan hal itu.


Nicholas mengangguk dan melepaskan genggaman tangannya serta membiarkan Leira pergi menyimpan kotak P3K di tempatnya semula.


"Kurang ajar!" Alex menyaksikan semua yang terjadi antara Nicholas dan Leira. Hatinya semakin terasa sakit, dan matanya kini memerah karena menahan amarah di dalam dadanya.


"Ayo kita pulang, Lex!" Wibowo menarik tangan Alex agar mengikutinya ke halaman depan.

__ADS_1


"Jika urusan kalian sudah selesai, maka aku tidak bisa menahan kalian lebih lama lagi di sini!" Tegas Mila setengah mengusir keluarga Wibowo secara halus.


Jessica tidak merasa tersinggung sama sekali, dengan sikap Mila yang berubah drastis jadi membenci mereka. Wajar saja jika Mila melakukan hal itu, sikap Alex memang keterlaluan. Leira gadis baik dan sopan, tapi Alex malah mengkhianati Leira demi seorang gadis yang bernama Amoora.


Dan yang lebih parahnya lagi, mereka berdua sudah tidur satu ranjang. Jessica merasa malu sendiri membayangkan kelakuan Putranya bersama Amoora malam itu.


"Mbak Mila, sekali lagi kami minta maaf! Kami sekeluarga merasa bersalah atas kejadian yang tidak mengenakkan ini. Tapi percayalah Mbak, aku akan tetap menyayangi Leira seperti dulu." Jessica berkata dengan penuh kepedihan di dalam hatinya. Jika saja Alex tidak berbuat macam-macam, mungkin dia tidak akan merasa malu, dan juga merasa bersalah dengan Leira, ataupun Mila.


"Maaf Mbak, saya rasa, saya tidak perlu berkata apapun lagi sekarang. Jadi tolong, segera pergi dari rumah ini. Saya masih banyak pekerjaan di dalam." Ucap Mila dengan ketus.


Jessica akhirnya pergi dengan segudang kekecewaan di dalam hatinya.


Bukan kecewa karena sikap Mila yang kasar. Tapi kecewa kepada Putra semata wayangnya, Alex.


"Sudahlah, Mah! Mungkin ini sudah di takdirkan! Kita sebagai manusia, harus tetap menjalaninya dengan tabah!" Wibowo berkata penuh dengan kelembutan kepada Istrinya yang masih terlihat sedih.


"Ini semua gara-gara Alex, Pah! Kalau saja dia bisa menjaga nafsunya, mungkin Leira tidak akan menjauhi kita. Dan Mila juga tidak akan sebenci itu dengan Mamah!" Jessica setengah berteriak di dalam mobil yang melaju kencang membelah jalanan kota Jakarta.


"Om, apa tidak sebaiknya kita beristirahat dulu di rumahnya Moora?" Amoora menawarkan rumahnya sebagai persinggahan keluarga Wibowo. Ekspresi wajah Amoora nampak ceria, dan tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Gak sudi!" Tolak Jessica kasar.


Amoora menundukkan wajahnya ketika Jessica menatapnya dengan tatapan kebencian.


"Mahh!" Tegur Wibowo lembut kepada sang Istri.


Jessica tidak berkata apa-apa lagi. Dia kini memalingkan muka ke arah kaca jendela mobil, dan melihat keramaian di ibu Kota dari balik kaca jendela


"Alamat rumah kamu di mana, Moora? Biar Om antar kamu dulu kesana!" Ucap Wibowo dengan ramah.


Amoora tersenyum lembut ke arah Wibowo. Di keluarga Alex, satu-satunya orang yang masih menerima dirinya dengan baik hanyalah Om Wibowo, pikir Amoora.

__ADS_1


"Nanti di lampu merah belok kanan, Om." Jawab Amoora dengan senyum simpul di wajahnya.


__ADS_2